
"Aku capek," kata Tamara sambil menyandarkan kepalanya di dada Alva.
"Ya," sahut Alva sambil mengecup kening Tamara.
Kemudian dia bangkit sambil menggendong Tamara keluar dari jacuzi. Meraih handuk dan menutupi tubuh Tamara.
Alva .merasa sangat senang karena berhasil menaklukan Tamara. Tamara luar biasa. Dia ngga merasa lelah sekalipun.
Alva mendudukkan Tamara yang terlihat sangat lemas di tempat tidur mereka.
Wajarlah, dia melakukannya berkali kali. Malaha tadi agak kasar. Tapi jangan dirinya salahkan sampai berbuat di luar koridornya.
Wajah dan suara s*eksi Tamara membuatnya ketagihan.
"Aku ambil baju kamu dulu."
Alva sudah ngga canggung menggunakan aku kamu dengan Tamara.
Tamara hanya mengangguk sambil mengelap tubuhnya.
Wajahnya terasa panas saat Alva masih mengamatinya dengan nakal.
"Ngapain, sih," ucap Tamara malu dan agak ketus.
"Kamu malu? Ngga perlu lah. Udah aku lihat semua," kekehnya membuat wajah Tamara jadi manyum dan tambah merona.
Bahkan dengan santai Alva melilitkan handuk di pinggangnya membuat Tamara memalingkan wajahnya.
Alva kembali terkekeh geli. Dia pun berjalan ke arah koper dan membukanya.
Matanya bersinar nakal.saat melihat lingerie yang ada.di sana.
"Kamu sungguhan mau pake imi?" canda Alva sambil menunjukkan lingerie di tangannya pada Tamara.
Mata Tamara membesar, reflek dia menggelengkan kepalanya.
Pasti mama nih, omelnya dalam hati.
"Boleh juga buat nanti malam," canda Alva lagi penuh maksud. Sekarang dia sudah ngga takut takut lagi. Kucingnya sudah ngga mencakarnya lagi, sudah jinak.
"Apaan, sih," kesal Tamara karena malu kemudian melemparkan Alva dengan bantal kepala yanga ada di dekatnya.
Alva tertawa sambil memyambutnya.
__ADS_1
Kemudian dia terdiam membuat Tamara menatapnya heran.
"Kenapa?"
"Tadi aku lupa pake latex. Kalo langsung jadi anak, kamu ngga apa apa, kan?" tanya Alva agak ragu.
Tamara jadi terdiam.
Dia juga lupa tadi mengingatkan Alva. Padahal Alva sudah menyiramnya sangat banyak, berkali kali.
Melihat reaksi Tamara yang terkejut dalam diamnya membuat Alva menjadi ketar ketir lagi.
"Ka kalo kamu belum mau punya anak, aku nanti pake sarung," ujar Alva gugup.
Sialan, kenapa gue jadi gugup, umpatnya kesal dalam hati.
Tamara masih diam. Dia bingung melihat reaksi Alva yang kelihatan merasa bersalah lewat tatapan dan gestur tubihnya.
"Kamu... mau punya anak?" tanya Tamara ragu.
"Kalo kamu ngga keberatan."
Tamara menggelengkan kepalanya.
Tamara mau punya anak dengannya. Cihuiiii, soraknya dalam hati.
Dia pun langsung mendekati Tamarra dengan lingerie di tangannya.
"Lagi yuk?" bujuk Alva merayu.
"Nanti aja. Aku lapar," tolak Tamara sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh, iya, iya. Aku pesan makanan dulu," katanya tersadar. Kemudian Alva memesan makanan dari hotel.
"Maaf, aku lupa kalo kamu belum makan."
"Kamu juga, kan?"
"Aku belum lapar. Soalnya lebih enak makan kamu," jawab Alva tergelak.
Dan lagi lagi dia menangkap bantal yang dilemparkan Tamara dengan wajah kesal.
"Serius."
__ADS_1
"Alva! Nyebelin banget, tau ngga, sih," seru Tamara jadi tambah kesal kemudian melemparkan bantal gulingnya ke arah Alva yang lagi lagi menyambutnya.
"Sana pake baju," titahnya kesal karena Alva masih betah dengan handuk kecil di pinggangnya.
"Iyaa," gelak Alva saat menjawab.
"Ini buat nanti, ya," katanya pantang menyerah sambil meletakkan lingerie itu di atas tempat tidur.
Tamara berdecak kesal.
Aku pingin istirahat sesudah makan. Kenapa dia ngga ngerti, sih, geram Tamara dalam hati.
*
*
*
"Kiano, apa Tamara aman saat bersama Alva?" tanya Aruna ketika Kiano mengajaknya makan siang di kantin rumah sakitnya.
Kiano yang hendak menyuap baksonya jadi berhenti di depan mulutnya.
"Amanlah, sayang. Kan udah jadi suami," jawab Kiano kemudian melanjutkan memasukkan bakso ke dalam mulutnya.
Aruna menyuapkan bakmie ke mulutnya dengan sumpit. Tapi pikirannya ngga tenang. Tamara bersama Alva selama seminggu di Dubai.
"Alva ngga akan macam macam," kata Kiano setelah menelan baksonya.
Paling satu macam, tambahnya sambil menahan senyum.
Harusnya yang dikhawatirkan Alva. Bukan Tamara, batinnya lagi.
"Apa nanti aku perlu menelponnya?"
Aruna sangat mengkhawatirkan keselamatan Tamara di dekat buaya itu.
Kiano menjawil dagu Aruna membuatnya berdecak kesal.
"Jangan diganggu, sayang. Tunggu aja Tamara telpon, ya," putus Kiano kemudian memgambil sumpit di tangan Aruna dan menyuapkan bakmie itu ke mulut istrinya.
Aruna pun menganggukkan kepalanya.
Lagian apa yang bisa Alva lakukan dengam Tamara. Sahabatnya itu fighter yang tangguh. Pasti Alva akan dihajarnya jika berani macam macam.
__ADS_1
Setelah memikirkan itu barulah Aruna merasa tenang.