
"Kamu ngga apa apa?" tanya Reno melihat tubuh Rain gemetaran saat mereka sampai di parkiran mobil.
Rain hanya menganggukkan kepalanya tanpa suara.
Reno melepas jasnya yang basah oleh tumpahan jus stroberi yang disiramkan Nadia yang sebenarnya ditujukan buat Rain.
Saking kagetnya, Nadia sampai mematung dan hanga bisa memandang keduanya melangkah pergi meninggalkannya sendiri.
"Jas kamu, kak?" ucap Rain ngga enak karena gara gara melindungi dirinya, jas mahal Reno jadi basah. Padahal mungkin saja nanti Reno ada meeting.
"Yang penting kamu ngga apa apa," kata Reno sambil membuka bagasi mobil, menaruh jas kotor itu ke dalam paper bag kosong yang selalu ada di mobilnya.
"Ayo, aku antar kamu dulu," ucap Reno sambil membukakan pintu mobil untuk Rain.
Rain menurut. Setelah menutup pintu mobil, demgan agak berlari Reno memutari mobilnya.
Firasatnya mengatakan kalo bentar lagi Nadia akan menyusul.
Reno ngga takut sama Nadia, hanya saja dia ngga ingin gadis terlihat lebih menyedihkan lagi dengan kemarahannya yang menggebu gebu.
Dan benar saja, begitu mobil Reno keluar dari parkiran kafe, Nadia keluar dari kafe dengan setengah berlari
"Kak, itu Kak Nadia," ucap Rain sambil melihat ke arah Nadia. Rain ngga tega melihat mata itu yang habis menangis. Bahkan Rain melihat sendiri tangan Nadia yang mengusap kedua matanya.
"Biarkan saja," pungkas Reno tenang.
Kenapa.dia berbohong. Katanya akan melepas dengan suka rela jika aku menolaknya. Cih, pembohong, umpat Reno.
Bahkan dia kini jadi khawatir tentang Rain. Nadia bisa melakukan kebalikan dari ucapan ucapan lembutnya. Buktinya tadi.
Tanpa sadar Reno menghela nafas panjang. Tapi dia ngga mau membuat Rain khawatir.
Reno terus melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah butik berlantai tiga yang nampak sangat mewah. Bahkan sudah ada beberapa mobil mewah yang parkir di sana.
"Ayo," kata Reno sambil membuka pintu mobilnya. Rain menurut.
Reno meraih tangannya dan menariknya yang ragu ragu berjalan mengikuti Reno memasuki gedung butik itu. Satpam dan para pegawai yang mereka lewati mengangguk hormat dan tersenyum sangat ramah.
"Mas Reno mau cari apa?" tanya salah satu pegawai wanita menghampiri Reno.
"Jas limited buatan tante," jawabnya sambil terus berjalan semakin dalam. Seakan sudah tau dimana tempat jas itu berada.
"Ada mas, saya tunjukkkan," kata pegawai itu kemudian menuntun Reno berbelok ke salah satu ruangan yang berisi jas jas mewah.
Selama masuk Rain menatap ngga berkedip koleksi pakaian yang terdapat di sana. Dia sempat membaca nama butik ini.
La Bella
Itu adalah butik yang sudah terkenal sampai ke negara negara eropa. Bahkan beberapa model terkenal di dunia merekomensasikannya. Harganya pasti sangatlah mahal.
"Halo Reno sayang," sapa seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik. Dan langsung memeluk Reno.
__ADS_1
Reno tertawa senang.
"Kok, kamu ngga sama anak manja itu?" tanya wanita itu setelah melepaskan pelukannya.
Kini perhatiannya beralih pada Rain yang tersenyun kikuk.
"Halo, cantik sekali," sapanya hangat. Pujiannya terdengar sangat tulus. Bukan basa basi.
"Cantik ya, tante," sambung Reno bangga masih dengan tawa lepasnya.
"Beneran ini pacar kamu?" Wanita itu menatap Reno ngga percaya.
"Iya, dong, tante."
"Waduh, kalo gitu tinggal anak manja itu yang belum punya gandengan, ya," tawa wanita cantik itu lagi.
"Dia mah banyak gandengannya, tante. Cuma yang tetap aja belum," balas Reno juga tertawa. Mengetawai sahabatnya.
Rain menatap dengan rasa penasaran pada keduanya yang sangat akrab seperti ibu dan anak.
Tapi kenapa Reno memanggilnya tante?
"Oh iya, ini mamanya kak Glen. Tante, ini Rain," kata Reno memperkenalkan.
Oooh pantasan kak Reno akrab banget, batin Rain.
"Kamu kenal anak tante juga?" senyum ramah selalu tersungging di bibirnya.
"Kenal, tante."
Beliau senang bisa bertenu dengan Reno yang baginya seperti kembaran Glen. Jangan lupakan Alva. Bagi para orang tua itu, Reno, Glen dan Alva adalah kembar tiga karena sifat mereka yang sangat mirip. Manja dan suka seenaknya.
"Sabar tante. Glen kayaknya bentar lagi," ucap Reno dengan senyum rahasianya.
Dia tentu belum bisa cerita karena sudah terikat janji dengan Glen.
"Benar, ya, Reno," ucap mama Glen penuh harap.
"Bener tante."
Keduanya tertawa lagi.
Seperempat menit kemudian.
"Kalian nyari apa?"
"Nyari jas?" sambung mama Glen lagi karena melihat keduanya berada di koleksi jasnya.
"Iya, tante. Nanti Reno ada meeting."
"Oke. Ini koleksi terbaru tante," ucapmya sambil menunjukkan koleksi jas mewahnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau dress?" tawar mama Glen yang melihat Rain hanya diam saja sambil melihat Reno memilih jas.
"Reno dulu aja, tante," tolaknya halus.
"Iya, pilih aja yang kamu suka," ucap Reno setelah menemukan jas yang dia suka.
Rain hanya tersenyum.
Mama Glen menatap pegawai wanita yang tadi mengantar keduanya.
"Ambilkan koleksi dress selutut dengan brokat di dada, ya, Nina," ucap mama Glen lembut.
Sekali lihat saja beliau sudah tau dress apa yang bisa menampilkan daya tarik pacar Reno.
"Yes, mam."
Pegawai itu pun pergi.
Rain menatap canggung sementara Reno sedang mencoba jas yang dipilihnya.
"Hadiah dari tante, ya, karena kamu pacar Reno. Sepertinya Reno serius," tukasnya lembut.
Wajah Rain merona karena malu.
"Kamu cantik banget," puji mama Glen lagi. Tulus.
"Tante, yang ini aja. Aku kelihatan tambah ganteng, kan," ucap Reno mengalihkan perhatian keduanya.
"So Perfect," puji mama Glen sambil mengangkat kedua jempolnya.
Rain pun terpesona melihatnya. Laki laki yang mengaku jadi pacarnya ini memang sangat ganteng dan berkharisma dengan jas baru yang dikenakannya.
"Tambah cinta, kan, kamu?" goda Reno membuat wajah Rain tambah panas dan jadi salah tingkah. Mama Glen tertawa kecil.
Mereka terlihat serasi, pujinya dalam hati.
Ngga lama kemudian pegawai wanita tadi datang dan membawa dua buah dres dengan warna yang sangat manis. Yang satu merah muda, dan yang satu lagi warna lilac.
"Kamu suka yang mana?" tanya mama Glen saat melihat Rain tanpak terpesona melihat dress itu.
"Lilac aja. Aku lebih suka," tukas Reno memberi pendapat.
"Kamu setuju sengan Reno?"
Rain mengangguk. Memang dari tadi warna lilac sudah mencuri hatinya.
"Kamu pacar yang penurut. Semoga Glen dapat yang seperti kamu," harap mama Glen sambil memberi kode pada pegawai wanitanya agar menyimpan dress yang dipilih ke dalam paper bag.
Tapi dalam hati Reno meringis mendengarnya.
Jika saja tante tau pilihannya gadis manja yang suka meledak ledak.
__ADS_1
Mereka berdua pun pamit karena sebentar lagi Reno juga harus mengikuti meeting bersama papimya.
Dia.akan jadi lebih penurut karena papinya sudah menudahkan jalannya bersama Rain