
"Sayang, bangun bentar," usik Kiano sambil meniup niup kuping istrinya yang masih tertidur nyenyak.
Kiano ngga tega juga untuk membangunkan Aruna, apalagi mereka baru saja menyelesaikan sesi kedua mereka yang sangat panas dan membara.
"Hemmm... Kiano, udah ya, aku ngantuk," tolak Aruna dengan masih memejamkan mata. Rasanya badannnya saat ini hampir luruh semua akibat genpuran Kiano.
"Ada Tamara," bisik Kiano dengan nakalnya mencubit puncak dada Aruna gemas.
"Kiano, sakit," desis Aruna antara sakit dan geli. Sensasi ini begitu memabukkan.
"Ada Tamara," kata Kiano lagi dan tambah usil terus mencubit cubit tanpa henti membuat Aruna terpaksa membuka matanya. Tangannya pun menepis tangan nakal Kiano.
"Tamara?" tanyanya sambil mendudukkan dirinya dengan menarik selimut menutup dadanya yang polos.
"Iya sayang.. Dia datang. Kamu mau menemuinya? Tapi Tamara bilang besok.juga ngga apa apa," balas Kiano dengan senyum miring di wajah tampannya.
"Kalo gitu, besok aja ya. Aku lemes. Nanti Tamara lihat aku kecapean gara gara kamu, pasti diledekin" kata Aruna kesal.
"Oke," ucap Kiamo, tapi senyum aneh terukir di bibirnya. Matanya menatap nakal pada dada Aruna yang tertutup separuh.
"Lagi, ya," pinta Kiano yang sudah bisa ditebak Aruna
"Tapi, aku udah capek, Kiano," tolak.Aruna memohon pengertian
"Kamu tau, kan, kalo menolak keinginan suami bakal.dapat dosa," ancam Kiano enteng.
Aruna menghembuskan nafas kesal.
Kenapa selalu itu yang jadi senjatanya, keluh Aruna dalam.hati.
Besok Aruna akan menanyai ustazah online yang sering dia dengar ceramahnya lewat ponsel. Aruna perlu dalil yang tegas agar Kiano ngga bisa terus menerus memaksanya.
"Kamu nikmati saja, oke.," kata Kiano gercep begitu melihat Aruna yang diam saja.
Akhirnya kamar pun penuh dengan ******* dan erangan panas dari keduanya. Aruna yang awalnya enggan karena lelah tapi seperti biasa takluk dan membalas apa yang dilakukam Kiano padanya. Aruna pun heran dengan dirimya. Ngga nyangka, ternyata dia menyimpan kenakalan dalam dirinya. Dan Kiano sangat ahli membangkitkannya.
Kembali keduanya meraih kenikmatan tanpa henti, bahkan Kiano ngga hanya sekali membuatnya terhempas dalam surga dunia, tapi berkali kali. Aruna pun melakukannya dengan amat sangat bahagia. Apalagi saat mendengar ungkapan ungkapan cinta yang diucapkan Kiano tanpa henti di telinganya.
"Aku mencintaimu Aruna."
"Aku sangat mencintaimu."
"Aku selalu mencintaimu."
"Aruna, cintaku. Istriku. Kesayanganku."
"Hah, hah, hah," hanya deru nafas memburu Aruna yang terdengar saat membalas pernyataan pernyataan cinta panas Kiano.
__ADS_1
*
*
*
"Apa tiap malam kalian melakukan itu?" tuduh Tamara ketika Aruna menemuinya di kamarnya usai dia melakukan shalat subuh.
Aruna ngga menjawab. Rambutnya yang masih basah sudah merupakan jawaban mutlak untuk Tamara.
"Aku lelah banget," aku Aruna jujur sambil.menyandar punggungnya di tempat tidur Tamara.
Sahabatnya pun hanya menggelengkan kepalanya heran.
Bisa bisanya Aruna jadi aneh begini. Tamara sempat melihat bercak berwarna kebiruan di leher Aruna yang cukup banyak.
"Apa Kiano sudah jadi drakula?" sinis Tamara mengejek.
"Drakuka?" tanya Aruna ngga ngerti.
"Lehermu, noma," tunjuk Tamara dengan matanya.
Aruna bergegas bangkit dan menatap lehernya di kaca rias Tamara
"Aaaah," jerit Aruna membiat Tamara terkejiut sambil memegang dadanya.
Aruna ngga menjawab. Pantasan tadi Kiano tersenyum senyum menatapnya.
Lagi lagi dia melakukan ini, batin Aruna kesal.
Tadi saat mandi, Aruna ngga sempat memperhatikan kondisi tubuhnya di cermin yang berada di kamar mandi.
Untung saat berjalan ke kamar Tamara, Aruna ngga menemukan siapa pun
Jika saja ada yang melihatnya bagksn sampai menegurnya seperti Tamara, Aruna pasti akan lebih malu lagi.
Mana sekarang dia menggunakan dres tampa kerah. Jejak bibir Kiano sangat terlihat jelas. Tidak hanya satu. Mengapa saat Kiano melakukannya dia ngga menyadarinya? Aruna kembali merutuki kebodohannya abis abisan.
"Bentar lagi aku bakal dapat ponakan," ledek Tamara mengejek.
Aruna hanya merengut mendengarnya. Kemudian dia .menelungkupkan tubiunya di tempat tidur.
"Udah tertangkap, ya, pelakunya?" tanya Tamara mengalihkan topik pembicaraan. Dia sempat mendengar percakalan Glen dengan teman tenannya.
"Iya. Sudah ku tebak dari awal, pasti Claudya," jawab Aruna yang masih betah dengan posisinya. Dia sangat ngantuk saat ini. Tapi dia memaksakan dirinya pergi ke kamar Tamara. Dia ngga mau berada dalam keadaan sadar di dekat Kiano.yang pasti akan memangsanya lagi.
"Gadis itu nekat," respon Tamara dengan menggeleng gelengkan kepalnya.
__ADS_1
"Kenapa.yang suka sama Kiano gadis gadis yang frontal?" cibir Aruna mengejek, tepatnya mengejek suaminya yang sedang ngga bersamanya.
"Termasuk kamu?" kekeh Tamara perlahan.
"Aku ngga, ya," tangkis Aruna sombong.
"Iya, karena kamu pemenangnya," sahut Tamara lagi di sela kekehannya.
"Pemenang apaan," dengus Aruna jadi kesal, ingat taruhan yang dilakukan Kiamo bersama teman temannya.
"Jadi istrinya, kan," gelak Tamara ngga bisa lagi menahan tawanya membuat Aruna makin kesal melihatnya.
Memang, sih. Setelah sekian lamanya waktu terbuang tanpa harapan dan hanya berisi kemarahan dan kesedihan, malah takdir.dengan mudahnya menyatukannya lagi dengan Kiano, batinnya mengakui.apa yang dikatakan Tamara.
Kalo boleh jujur, Aruna masih ngga percaya diri bisa dicintai begitu besar oleh Kiano.
Apalagi gadis gadis cantik yang selalu berada di sekeliling Kiano, bukan kaleng kaleng. Ada yamg model, selebgram dengan ratusan ribu followers, CEO perusahaan terlenal dan kaya raya. Bahkan salah satunya hampir mencelakakannya.
Memgingat lagi usaha Kiano untuk bersamanya membuat dadanya selalu berdebar debar ngga menentu. Ada perasaan senang dan bangga menyelusup di sana.
"Apa situasinya sekarang sudah aman?" tanya Tamara setelah tawanya usai.
"Semoga."
"Aku akan menemanimu beberapa hari di rumah sakit," tegas Tamara membuat Aruna tersenyum.
"Tamara, kamu baik banget," puji Aruna tulus .
"kayak sama siapa aja," sahut Tamara ringan.
"Maaf tadi malam ngga bisa menemui kamu," ucap Aruna merasa bersalah. Malah dia bergulung gulung dengan Kiano.
"Ya, kamu, kan, sibuk," ledek Tamara lagi.
Aruna membalasnya dengan tawa kecilnya, agak malu.
"Kamu ngga nginap di resort?"
"Aku udah booking, tapi kamumya ngga ada di resort," sinis Tamara tanpa mau berterus terang. Dia bingung gimana harus memulai ceritanya. Membahas musibahnya yang sangat memalukan
"Iya, maaf ya," ucap Aruna lagi yang hanya dibalas semyum tipis Tamara.
" Kamu sendirian ke sini?"
Reflek Tamara menggelengkan kepalanya.
"Awalnya dengan teman teman. Tapi ngga tau mereka nginap dimana," kata Tamara jujur. Peristiwa Alva merusak semua rencananya. Dia bahkan sudah memblack list nama salah satu sahabat Kiano itu. Si kurang ajar itu sudah melecehkannya dengan amat sangat. Tamara ngga akan memaafkannya
__ADS_1
Jangan sampai bertemu lagi, harapnya dalam hati.