Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Pertemuan Yang Menyebalkan


__ADS_3

"Aisha ngga ikut ngurus perusahaan?" tanya Herman Permana ramah.


Gadis yang selisih umurnya dengan Kiano hanya dua tahun mengurai senyum tipisnya.


"Engga, Om," jawab Aisha sopan.


"Aisha lebih suka mengembangkan perusahaannya sendiri," kekeh papi menambahkan..Herman Permana pun ikut tertawa..Sedang kan Melvin, Kiano dan Claudya mengulaskan senyum tipis.


"Aku selalu suka dengan anak muda yang selalu bersemangat tanpa memanfaatkan fasilitas orang tuanya," pujinya penuh makna.


Melvin dan Claudya juga memulai usaha mereka sendiri sebelum bergabung dan mengelola perusahaan keluarga.


"Begitu juga diriku. Jadi mereka sudah cukup mengenal dunia bisnis dan sudah lumayan paham dengan halangan halangan yang ada di depannya," tambah papi Kiano yang setuju dengan jalan pikirin relasi bisnisnya.


"Istriku pasti senang bertemu dengan putri sulungmu. Sayangnya mereka berdua memilih untuk belanja bersama. Menghabiskan hasil kerja kita," kekeh Herman Permana membuat suasana terasa hangat dan nyaman.


Dika Artha Mahendra pun tergelak. Baru dirinya ketahui kalo istri istri mereka berteman dalam kelonpok sosialita.


Kiano memperhatikan Melvin sesaat sebelum menyesap kopi panasnya.


Laki laki ini yang akan dijodohkan dengan Kak Aisha? Apa papinya ngga salah?


Kiano tentu saja sudah cukup tau tentang sepak terjang Melvin, pengusaha muda yang sangat sukses di luar negeri. Ngga jauh bedanya dengan Glen, Alva dan Reno sebagai penjahat kelamin.


Melvin balas melihatnya dan seperti Kiano, menakar laki laki yang disukai adiknya dengan detil.


Wajarlah kalo Claudya menyukainya. Apa benar dia sudah menikah? Batinnya ngga percaya.


Melvin pun menyesap kopinya perlahan kemudian melirik Aisha yang duduk dengan tenang.


Melvin tau rencana dadynya segaja mengajaknya ikut serta untuk alasan berkenalan dengan putri temannya. Padahal hanya untuk memuluskan niat Claudya agar bisa berdekatan dengan Kiano, adik.dari gadis yang akan dikenalkannya.


Melvin ngga abis pikir. Adiknya ngga mempedulikan status Kiano yang sudah beristri. Kelakuannya mrmbuat Melvin jengah. Sebagai cassanova, dia malu melihat adiknya yang sangat cantik dan digilai banyak laki laki tampan dan kaya, bertingkah seperti pelayan yang ngga dianggap.


Apa ini karma karena perbuatannya memainkan hati dan tubuh mantan kekasihnya yang ngga kehitung dengan seenaknya?


"Kiano, steak di sini enak lho," kata Claudya tanpa sungkan menyuapkan potongan potongan steak ke dekat mulut Kiano.


"Aku bisa makan sendiri," tolak Kiano kemudian memotong sendiri steak di platenya.


"Coba dulu aja. Ayo," paksa Claudya dengan manja dan terus mendekatkan potongan steak itu.

__ADS_1


Jika ngga mengingat ada papi dan kakaknya, sudah ditepisnya steak itu.


Pandangan semua.orang terarah pada Kiano dan Claudya. Berbeda dengan Herman sang dady, Melvin sudah sangat gerah melihat sikap kekanakan adiknya.


"Tidak perlu," tolak Kiano tegas dengan menjauhkan wajahnya tanpa mempedulikan perasaan malu Claudya.


"Buat kakak aja," sambar Melvin pada steak yang posisinya juga dekat dengannya. Claudya menatap kakak tersayangnya dengan mata yang berkaca kaca. Sangat malu tentu saja perasaannya saat ini.


Dirinya berpikir, walaupun dengan sangat terpaksa Kiano pasti akan menerima suapannya. Padahal dia sudah menyuruh pengawalnya mengambil foto foto kedekatannya dengan Kiano. Dan mengirimnya ke istri Kiano yang menyebalkan. Biar dokter miskin itu cemburu dan meminta cerai.


Herman terkekeh berusaha mencairkan suasana tegang yang mendadak mengungkungi mereka.


"Claudya terbiasa begitu di rumah. Mungkin dia sudah menganggap Kiano bagian dari keluarganya," ucapnya dalam.


Dika Artha Mahendara juga terkekeh walau agak garing.


Kiano ngga bereaksi apa pun, tetap tenang mengunyah potongan steak yang disuapnya sendiri.


"Claudya seperti putri bungsuku, Nita. Manja tapi perhatian," katanya memuji agar Claudya ngga kehilangan muka.


"Begitulah kelakuan anak anak muda. Mereka lebih mengutamakan emosi dari pada logika," respon Herman santai.


Kembali papi Kiano hanya tertawa menanggapinya.


Sememtara Aisha meliriknya sambil mengulum senyum. Dia sadar, kalo saat ini Melvin merasa sangat kesal.


"Minum, kak," kata Claudya yang langsung memberikan air mineralnya.


Melvin meneima sambil mengacak rambut adiknya dengan sayang membuat rasa percaya diri Claudya bangkit lagi.


"Makasih, honey," ucap Melvin setelah meneguk minumannya dan membuat potongan steak itu lolos melewati kerongkongannya.


"Minggu ini, Melvin akan menerima undangan pernikahan putri bungsu dari wakil presiden. Aisha bisa kah menemani Melvin?" tanya Herman mengalihkan topik.


Kini semua pasang mata menatap Aisha yang baru saja akan menyuapkan potongan steak ke mulutnya. Tangannya yang lagi menggantung segera diturunkan.


"Saya terserah Melvin, Om," sahutnya sopan. Setelah penolakan Kiano, Aisha terpaksa mengikuti kehendak Om Herman Permana agar suasana tetap kondusif.


"Kalo kamu ngga keberatan, saya akan menjemput kamu. Di rumah atau di perusahaan kamu?" tanya Melvin langsung.


Gadis di depannya sangat cantik. Walau usianya sudah hampur tiga puluhan, hasrat petualangnya mulai menggelitiknya. Bukankah sangat menyenangkan bersama seorang gadis yang sudah menjelma menjadi wanita yang sudah sangat matang.

__ADS_1


"Di rumah saja," kata Aisha sambil menatap Melvin sebentar kemudian mengalihkannya ke arah lain. Tatapan mata laki laki di depannya seperti menghipnotisnya.


"Oke, nanti saya akan memberi kabar," katnya sopan.


Bermain sebentar boleh juga, batinnya.


Dika Artha Mahendra menepuk bahu putrinya membuatnya menoleh.


Aisha tersenyum, dia tau kalo papinya sangat berterimakasih padanya.


Hanya Kiano yang merasa agak cemas. Dia yang selama ini selalu cuek dengan pergaulan kakaknya, kini menerapkan status siaga.


"Sebenarnya Claudya diundang juga. Tapi dia bingung mau pergi dengan siapa," pancing Herman Permana santai.


"Kalo bisa sama Kiano aja, dady. Sekalian kita promosikan hotel yang akan kita bangun," sela Claudya cepat.


"Proyek bersama itu ya, sayang?" tanya Herman Permana berusaha mengintimidasi Kiano. Dirinya akan membantu putrinya mrndapatkan Kiano.


Rupanya mereka mendapatkan undangan pernikahan Kiano melalui istrinya. Tapi ngga begitu menanggapi karena sedang liburan di Dubai bersama keluarganya. Sekarang beliau baru merasa menyesal.


"Iya, dady. Ajang seperti ini merupakan promosi gratis yang berkelas," kicau Claudya penuh semangat.


"Saya memang akan datang. Tapi bersama istri saya," tolak Kiano cepat.


"Biar ngga ada gosip liar, Pak Herman. Apalagi anak saya baru saja menikah," kata Dika Artha Mahendra ikut menjelaskan. Beliau menangkap aura kesal Claudya karena sudah berkali kali mendapat penolakan Kiano.


"Tapi kamu, kan, direktur utamanya, Kiano," ngeyel Claudya.


"Di perusahaan, saya dan sahabat sahabat saya bergantian menjadi direktur," jelas Kiano lugas.


"Hebat juga. Berarti kalian saling percaya ya," puji Melvin.


"Kita bersahabat sejak SMA. Bahkan ada yang SMP," jelas Kiano lagi.


Melvin manggut manggut, tapi dalam hati dia kagum ada persahabatan selama itu. Dia sendiri ngga pernah mempercayai siapa pun, kecuali dady, mami dan adik manjanya Claudia.


"Regan atau Glen bisa menemani anda," lanjut Kiano lagi. Dia ingin cepat mengakhiri pertemuan yang ngga bermutu ini. Tapi dia juga takut dianggap ngga sopan. Apalagi prinsip konyok dadynya agar selalu menghargai klien walaupun sangat menjengkelkan.


"Aku maunya sama kamu," kata Claudya keras kepala membuat Melvin menghembuskan nafas kesal. Adiknya yang terlalu dimanja, beginilah efek negatifnya.


"Gimana kalo Kiano dan istrinya juga mengajak Claudya. Claudya bisa mengobrol santai, kan, karena sesama perempuan," usul Herman agak memaksa.

__ADS_1


"Om, kalo boleh, Claudya bersama saya dan Melvin aja. Saya juga ingin mengenal Claudya lebih dekat," kata Aisha mengambil alih kewajiba Kiano. Aisha tau saat ini dalam otak adiknya pasti sudah menyemburkan banyak asap.


__ADS_2