Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tamara dan Perasaannya


__ADS_3

"Buru buru pulang?" goda Kiano yang sengaja masuk ke ruangan Alva tanpa mengetuk pintu dulu.


"Ya," sahutnya ngga acuh.


"Tadi jadi makan siang bareng sama Tamara?' tanya Kiano kepo dengan mata dan bibir penuh senyum.


"Jadilah," sahut Alva santai.


"APA?! Lo makan siang sama calon istri lo?" sergah Reno kaget. Saat ini dia sedang berdiri di depan pintu ruangan Alva yang terbuka lebar.


"Iyaaa! Kenapa, sih, heboh banget," sahut Alva kesal.


Kekagetan Reno berubah menjadi gelak tawa. Dia pun melangkah memasuki ruang Reno. Kiano berusaha menahan tawanya,tapi senyum lebar tetap tersungging di bibirnya.


"Berarti Tamara udah jinak, ya," sela Reno masih saja tertawa. Membuat Alva nyengir.


Terbayang kediaman Tamara saat dirinya membetulkan rambut dan mencubit pipinya. Tadi dia reflek saja melakukannya walau dengan perasaan was was.


"Lihat muka lo sepertinya Tamara sudah jinak," kekeh Reno lagi ketika melihat raut wajah Alva.


Kiano pun juga langsung bisa menebak yang sama seperti Reno.


"Siapa yang udah jinak?" tanya Arga yang juga ikutan masuk dengan Regan dan Glen


Ketiganya yang akan pulang jadi terusik saat mendengar suara tawa Reno di ruang Alva yang terbuka lebar.


"Eh, gimana kabar perjodohan lo?" tanya Kiano mengalihkan topik ketika melihat Arga.


"Nunggu besok lah," jawab Arga santai.


"Gue bingung, lo ngga gitu respon sama yang ini. Padahal oke loh buat lo," tutur Kiano berusaha mempengaruhi.


Sampai kapan Arga akan setia pada kekasihnya yang sudah meninggal? Orang tuanya juga pasti ingin lihat Arga nikah dan hidup bahagia.


"Menurut lo si bu dosen oke?" Arga balik bertanya. Baginya penilaian Regan dan Kiano bisa punya nilai tambah.


"Oke banget buat lo," tegas Kiano membuat Arga terdiam.


Kiano ngga memaksakan lagi oendapatnya. Sudah cukup dia eberikan pendapatnya. Kini dia berbalik menatap Reno.


"Mahasiswi mahasiswinya oke oke?" pancing Kiano ketika melihat Reno sudah berhenti tertawa.


"Lumayan" jawab Glen dengan senyum smirk membuat Reno juga tersenyum smirk saat mereka saling pandang penuh makna.


"Lo gimana tadi Regan?" ledek Reno membuat Glen tertawa. Mengetawai kesialan nasib Regan.


"Lo berdua unboxing?" seru Alva kesal.


"Mereka masih kecil bro," sambungnya mencela tapi ngga mengurangi frekuensi tawa mereka.


"Mereka, kan, maniak," sinis Regan membuat Alva mendengus


"Gue pergi dulu, ya," pamitnya sambil ngeloyor pergi. Malas dia terlibat dalam obrolan ngga penting.


"Mau kemana?" tanya Arga heran.


"Jemput Tamara," sahut Alva lugas sambil terus melangkah pergi.

__ADS_1


Reno dan Glen sontak menghentikan tawa dan menatap bengong pada punggung Alva yang terus berlalu.


"Dia serius?" cetus Glen ngga yakin dengan pendengarannya.


"Maksud lo tadi yang jinak itu Tamara?" tanya Glen sambil menatap Kiano bingung.


"Tinggal kalian berdua yang perlu serius nyari pasangan. Ngga bosan apa unboxing yang ngga halal terus?" ceramah Kiano juga ikut pergi meninggalkan keempat temannya yang masih bengong.


"Gue mimpi kali dengar Kiano ngomong gitu," tukas Arga kemudian tersenyum mirimg.


"Dia, kan, udah tobat," kekeh Regan juga ikut melangkah keluar meninggalkan ruangan Alva. Arga pun mengikuti langkah Regan tanpa pamitan pada Reno dan Glen.


"Rasanya aneh dengar Alva nasehati kita," kekeh Glen akhirnya setelah kesadarannya mulai full.


"Hebat juga pengaruh Tamara," balas Reno juga melanjutkan tawanya.


Kini keduanya berjalan meninggalkan ruangan Alva sambil tertawa tawa dan ngga peduli tatapan para pegawai yang belum pulang.


Apalagi bagi para pegawai wanita, bos bos mereka sangat tampan dalam.keadaan tertawa begitu.


"


*


*


Tamara dengan segera memberesi meja kerjanya ketika sudah saatnya jam kantor berakhir. Hari ini dia diantar papanya metija berangakat kerja, dan papanya ngga tau dari mana mengatakan kalo dirinya akan dijemput Alva saat pulang.


Laki laki itu semakin seenaknya menggunakan power mama papanya agar dia menuriti kehendaknya, omel Tamara tanpa henti dalam hatinya. Wajahnya pun masih keruh setelah membaca pesan dari papanya.


"Tamara! Lo belum jawab pertanyaan kita tadi," todong Disa yang langsung duduk di depannya. Begitu juga Mita. Bahkan Ambar dan Yuyun yang ngga akrab juga sengaja berdiri ngga jauh untuk menguping.


Sebenarnya ngga banyak yang tau siapa Tamara. Hanya kelima temannya itu saja, itu pun baru baru ini juga mereka tau.


Awalnya mereka kaget, ngga menyangka punya teman anak orang kaya raya, karena penampilan Tamara jauh dari barang branded.


"Yang mana?" tanya Tamara berusaha sabar. Dia harus segera berada di parkiran sambil menunggu calon suami yang akan datang menjemputnya.


"Laki laki tadi siapa?" desak Disa lagi.


"Anak teman mama," jawab Tamara berdusta.


"Haah? Maksudnya, kamu lagi mau dijodohin?" seru Mita kaget membuat pqra penguping makin mempertajam pendengarannya karena topik yang panas.


"Ngga tau," jawab Tamara malas. Tanpa sadar dia menatap Wahyu yang saat ini terus menatapnya. Di sebelahnya juga ada Ongki dan Gery yang juga sama sedang menatapnya.


Tamara juga melirik Ambar dan Yuyun.


Tamara menghembuskan nafas kesal. Ini yang dia ngga suka. Kenapa kalo yang lain punya pacar, tanggapannya biasa saja. Ini dia baru sekali dilihat mereka diantar laki laki, keponya ampun ampunan.


"Minggir, aku mau pulang," kesal Tamara sambil menyenggol pundak Disa yang ngga memberi jalan. Sampai gadis itu mundur selangkah karena ngga siap ditabrak Tamara.


"Tamara, lo mau kemana?" seru Mita hendak mengejar, tapi Gery dan Ongki menghadang langkahnya dan juga Disa.


"Kalian apaan, sih," ketus Disa sebal.


"Iya, minggir," kata Ambar ikutan sebal. Dia tadi melihat Wahyu agak berlari memgejar Tamara.

__ADS_1


Insting gibahnya yakin akan ada yang lebih panas lagi beritanya.


"Heh, kamu ngapain ikutan?" marah Mita melihat si biang gosip ada di dekat mereka.


"Sama seperti kalianlah. Kita juga pengen tau siapa yang antar Tamara tadi," tak kalah ketus Yuyun menjawab.


Huuuh, Disa dan Mita mendengus kesal. Mata mereka juga melihat Wahyu yang kini menjejeri langkah Tamara.


"Wahyu ngapain?" Disa menatap Mita heran


"Iyah, ngapain dia? Masa mau kepo kayak kita juga?" balas Mita ngga abis mikir.


Gery dan Ongki ngga berkata sepatah kata pun. Tugas mereka mengamankan Wahyu yang sedang membawa misi buat nikung.


Semenatara Tamara akhirnya sampai juga di teras kantor. Dia memadang kesal ke arah parkiran.


Ternyata belum datang. Huh, batinnya kesal.


"Tamara, bisa kita bicara sebentar?"


Eh?


Tamara menatap kaget saat melihat Wahyu kini sudah berada di sampingnya. Saking seriusnya melarikan diri dari teman teman keponya, dia ngga menyadari kehadiran Wahyu.


"Sorry, ngagetin, ya?" tanya Wahyu sambil tersenyum dan agak salah tingkah.


"Ya, sih," jawab Tamara jujur. Tapi kini matanya mengarah ke pintu masuk parkiran, menunggu laki laki kurang ajar itu datang.


"Kamu lagi nunggu dijemput?" tanya Wahyu yang melihat kegelisahan di mata Tamara.


"Iya."


Wahyu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan lahan.


"Tamara," panggilnya pelan dengan jantung yang dipompa semakin kencang.


"Ya?" tanya Tamara heran melihat sikap Wahyu yang ngga kayak biasanya.


Kenapa laki laki ini sepertinya gugup, batin Tamara menilai.


"Kamu... kamu mau ngga... jadi istri aku?"


Wahyu menghembuskan nafas lega karena akhirnya bisa mengucapkan kata kata yang sudah ditahannya sejak lama.


Sudah dua tahun Wahyu memperhatikan Tamara, dan saat akan mengungkapkan perasaannya itu, dia jadi ragu karena tanpa sengaja tau siapa keluarga Tamara.


Awalnya Wahyu berpikir Tamara hanya gadis biasa, sama sepertinya. Anak pegawai pemerintahan, tapi ternyata Tamara anak pengusaha sukses dan kaya raya.


Wahyu jadi imsecure dan menahan kata sakti itu dalam hatinya. Dia takut ditolak karena perbedaan kekayaan dan pasti gaya hidup yang jauh sekali.


Memang Tamara sangat sederhana, makan pun biasa saja, kadang di warteg, lesehan, dan sesekali mereka makan bareng di kafe atau restoran mahal.


Setelah tau kalo Tamara berbeda dengannya, walaupun insecure, Wahyu tetap memantau Tamara dalam radarnya. Dan selama ini aman aman saja. Gadis itu masih belum.punya kekasih.


Atas dorongan Gery dan Ongki, Wahyu akan menyatakan perasaannya, akhir bulan ini, karena sudah berhasil membayar lunas sebuah rumah yang cukup besar sebagai maharnya pada orang tua Tamara.


Ketika melihat laki laki yang mengantar Tamara, sepertinya mereka sama sama darj kalangan atas, Wahyu langsung patah hati. Tapi Gery dan Ongki terus mendorongnya untuk menyatakan perasaannya pada Tamara. Sebelum lebih terlambat lagi, begitu kata keduanya. Makanya Wahyu memberanikan diri mengutarakan perasaannya. Dia serius, ingin menikah dengan Tamara.

__ADS_1


Tamara bengong mendengarnya. Dia sama sekali ngga nyangka Wahyu akan menembak hatinya. Di kala perasannya lagi gusar ngga menentu, Wahyu malah menambah benamg kusut pikirannya.


__ADS_2