
Reno yang akan keluar dari mobilnya jadi terdiam. Matanya menatap tajam pada seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari lift sedang menuju ke arahnya.
Nadia? Ngapain dia ke sini?
Hati Reno jadi ngga tenang.
Ini adalah perusahaan Rain. Ngapain dia ke sini?
Bahas proyek?
Reno menggelengkan kepalanya.
Ngga mungkin.
Reno menatap Nadia yang semakin mendekat. Tapi Reno yakin, gadis itu ngga akan tau ini mobilnya. Karena ini adalah mobil abangnya Alvin yang belum pernah digunakannya saat bersama Nadia. Dan kacanya pun cukup gelap sehingga akan sulit bagi orang yang ada di luar untuk memastikan apakah ada atau engga orang di dalamnya.
Nadia berhenti tepat di mobil yang berada di depannnya. Tanpa sadar kalo ada yang mengawasinya, gadis itu langsung pergi meninggalkan basemen perusahaan Nadia.
Setelah mobil Nadia diyakini Reno sudah keluar dari sana, Reno pun membuka pintu mobilnya.
Reno masih merasa aneh dengan kedatangam Nadia ke perusahaan Rain.
Apa.dia sudah tau ini perusahaan Rain? tebaknya membatin dengan perasaan ngga enak.
Memikirkan mungkin telah terjadi sesuatu yang buruk pada Rain, membuat Reno melangkah setengah berlari ke.arah lift.
Begitu sampai di lantai yang dituju, pintu lift pun terbuka. Masih seperti tadi, Reno berjalan setengah berlari melewati Mona yang terkejut melihat kehadirannya.
"Tunggu, Pak Reno," tahan Mona dengan suara agak keras. Gadis itu segera bangkit berdiri untuk menyusul Reno.
Tapi Reno dengan ngga mempedulikannya terus melangkah cepat mendekati ruangan Rain. Dia pun membuka cepat pintu ruangan Rain dan mendapati gadis itu terkejut melihatnya.
"Pak Reno, anda ngga boleh masuk" ucap Mona pelan. Tapi dia sudah terlambat. Saat ini bosnya sedang saling berpandang pandangan dengan kekasihnya yang tadi memberi pesan padanya ngga menerima tamu.
Rain memberikan isyarat agar Mona keluar dari ruangannya melalui matanya.
Tanpa berkata apa pun, Mona pun berjalan keluar meninggalkan ruangan bosnya dan mrnutup pintunya.
"Apa.yang terjadi? Kamu habis menangis?" kaget Reno sambil menghampirinya setelah Mona keluar dan menutup pintu.
Reno sempat tertegun saat bertatapan dengan mata yang agak bengkak dan berwarna merah. Wajah Rain pun tampak sembab.
Apa karena Nadia? batinnya curiga.
Reno pun merengkuh Rain dalam pelukannya. Tangis gadis itu kembali pecah.
"Ada apa? Apa yang sudah terjadi?" tanyanya lembut sambil membelai rambut Rain.
Reno pun membiarkan Rain yang terus menangis di pelukannya.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
"Tadi Nadia ke sini ngapain?" tanya Reno setelah melihat Rain mulai tenang. Bahkan gadis itu sudah membasuh wajahnya
Rain hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.
"Ya udah, akan aku tanya langsung padanya," kaa Reno cuek.
Gadis itu ngga akan bisa menghindar, batinnya kesal.
Apalagi.yang dia mau, bukannya dia ngga rugi sedikit pun.
Rain menatap Reno dengan perasaan yang campur aduk. Tetap bersama Reno atau melepaskannya.
"Kak Reno......" panggil Rain ragu. Perhatian Reno akhir akhir ini sedikit mengubah persepsi Rain akan kebrengsekan Reno.
"Ya?" Reno menatap lembut Rain yang duduk di sampingnya.
Rain mengalihkan tatapannya ke arah lain.Tak kuat bersitatap dengan mata nakal yang kini malah menatapnya dengan lembut dan dalam.
Reno menggenggam jari jari tangannya membuat Rain kembali menoleh padanya.
"Aku takut," ucapnya tersendat. Tapi ingatan tentang kata kata Nadia membuat hatinya bergetar. Dia sangat takut kalo nantinya Nadia melaksanakan ancamannya.
Papa dan mamanya pasti akan sangat kecewa mendengarnya. Rain juga sangat mengkhawatirkan kesehatan keduanya.
Rain merasa Nadia menuduhnya setiap hari tidur bersama Reno. Padahal.hanya waktu itu saja.
Mata Rain kembali berkaca kaca.
Melihat reaksi Rain yang seperti orang ketakutan, Reno seakan tau apa yang sudah diperbuat Nadia pada Rain.
"Nadia ngancam kamu?" tanya Reno sambil menatap Rain tajam.
"Emmm...." gumam Rain pelan. Matanya pun dialihkan lagi ke tempat lain. Menghindar.
"Kamu ngga usah takut. Aku pasti akan ngelindungi kamu," janji Reno berusaha menenangkan Rain.
"Kak Nadia..... dia akan mengatakan pada papa dan mama.... kalo kita..... kalo kita sering tidur bareng," ucap.Rain lirih dengan dada bergemuruh menahan sesak.
"Apa yang bisa aku sangkal?" Rain merasakan suaranya tercekat.
Kemudian menatap.Reno dengan mata yang memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Mama dan papa pasti akan merasa.kecewa."
"Aku.... aku takut mereka sakit."
Kali ini air mata Rain mengalir lagi.
__ADS_1
Reno memeluknya. Dia terdiam. Rahangnya mengeras.
Ini semua salahnya. Dia yang memaksa Rain.
Reno menyesali kebodohannya.Tapi percuma hanya mengingat kesalahannnya. Dia harus segera menyelesaikannya.
"Apa yang dia minta?" tanya Reno sambil menatap wajah Rain yang kembali penuh air mata. Reno dapat merasakan tubuh Rain yang gemetar
Reno pun mengusap air mata Rain. Tangannya lanjut mengusap bibir yang cukup tebal dengan jarinya. Bibir yang membuatnya sangat bersemangat untuk menemui Rain.
Tanpa menunggu jawaban Rain, Reno menempelkan bibirnya pada bibir Rain dengan lembut. Ngga lebih dari itu. Cukup lama. Reno hanya membutuhkan doping sebelum pergi.
*
*
*
Di sinilah Reno sekarang berada. Di kamar rawat inap Pak Ruslan Dintara bersama papinya. Bahkan Kiano pun digeretnya untuk ikut bersamanya. Dengan Aruna tentu saja. Keduanya akan dijadikannya saksi penguatnya
Untung saja papi dan Kiano ngga lagi ada meeting. Aruna lagi ngga ada operasi dan pasiennya udah pulang semua.
Jadi mereka bisa meluangkan waktu untuknya dengan santai.
"Lo ngga berani ngadepin sendiri?" sarkas Kiano ketika Reno meminta bantuannya. Sengaja mendatanginya ke perusahaan.
"Paling engga lo bisa meyakinkan Om Ruslan kalo gue laki laki baik baik. Kan, dia taunya lo laki laki yang baik," jawab Reno memohon.
Kiano mendecih. Bukan Reno namanya kalo engga memanfaatkan kesempatan di depan matanya.
"Oke, kalo lo memang serius sama Rain, gue bantu," putus Kiano melegakan Reno.
Reno tau Kiano pasti akan membantunya. Hanya dia harus sabar saja mendengar sedikit kenyinyiran sahabatnya. Tetapi tetap masih mending Kiano dari pada Glen atau Alva. Yang pasti keduanya akan lebih panjang mencerewetinya.
"Ajak Aruna ya?" pinta Reno dengan tatapan puppy eyesnya.
"Kenapa Aruna harus ikut?" heran Kiano.
Ngelunjak nih, anak, batin Kiano kesal.
"Sebagaii penguatlah bahwa gue bukan laki laki brengsek."
Kiano tergelak mendengarnya.
"Bagi Aruna, lo tuh brengsek banget tau."
"Ya, jangan gitulah. Ini kan demi kesehatan om Ruslan juga. Paling engga kalo om Ruslan agak sesak karena pengakuan gue, Aruna bisa cepat cepat menolong,"
TUK
__ADS_1
"Dasar," maki Kiano setelah menjitak kepala Reno yang hanya nyengir.
Papinya yang dia datangin, tanpa banyak kata menyahuti ajakannya menemui Om Ruslan di rumah sakit. Menurut papimya, beliau juga belum ada waktu menjenguk ''calon besan"nya di rumah sakit.