
Rain berjalan pelan menyusuri sepanjang trotoar. Tadi dia mampir di sebuah minimarket dan membeli segelas kopi panas. Sambil duduk di teras minimarket dan menikmati kopi panas, Rain melihat ke arah jalanan dengan tatapan kosong.
Hari sudah menjelang siang. Cuacanya cerah, tapi ngga begitu panas. Ada angin semilir yang berhembus.
Rain menatap ponselnya. Inginnya menelpon Dinda, minta dijemput. Tapi kondisinya cukup berantakan.
Rain menutupi mata bengkaknya dengan kaca mata hitamnya. Rambutnya yang masih sedikit basah di gerainya.
Rain kembali meneguk kopinya hingga kini tinggal separuh.
"Ngopi sendirian, apa enak?" tegur seorang laki laki yang juga memegang gelas kopi dan langsung mengambil tempat duduk di depannya.
"Kak Glen?" kaget Rain ngga menyangka saat melihat laki laki itu di depannya. Untung gelas kopinya sudah diletakkannya di atas meja.
Laki laki yang pernah menawarnya.
"Hai," sapa Glen ramah. Kemudian meneguk kopimya.
"Kok, maen di daerah sini?" tanya Glen heran. Karena daerah ini dekat dengan hotel mereka dulu.
Rain hampir tersedak salivanya sendiri. Tentu saja KakGlen tau daerah ini.
"Tawaran kamu masih berlaku?" goda Glen dengan mimik becandanya.
Rain tersenyum.
"Sudah ngga, kak," jawabnya ringan.
"Sayang sekali," balas Glen pura pura kecewa, kemudian tanpa dikomando mereka berdua tertawa bersama.
Rain merasa cukup terhibur dengan kehadiran Glen.
"Aku waktu itu terpaksa, kak. Papaku mau operasi, tapi ngga ada biaya," jawabnya jujur.
"Ohya? Kenapa ngga jujur aja?" tanya Glen sedikit menyalahkan. Kalo tau alasannya dia pun ngga akan memanfaatkan. Bahkan dia akan menolong.
Rain ngga menjawab. Hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Masa iya, sih, ada yang mau nolong orang yang baru dikenal. Nanti aku dikira nipu, kak," ucap Rain perlahan.
"Iya juga, sih," kekeh Glen tanpa beban.
Tapi keningnya mengernyit ketika mendapati gadis itu seperti meringis, walau hanya sebentar.
"Kamu lagi sakit?" tanya Glen menghentikan tawanya dan menatap cemas.
"Sedikit," katanya jujur, ketika merasakan denyutan di bagian sensitifnya. Walau sebentar.
Salepnya mungkin sedang bereaksi, tambahnya membatin.
"Mau diantar ke klinik?" tanya Glen spontan.
"Ngga usah, kak. Udah ngga lagi," tolak Rain sambil menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah."
Keduanya kembali menyesap kopi masing masing.
"Sekarang papa kamu sudah dioperasi?" tanya Glen ingin tau.
"Sudah, kak," senyum Rain terlihat cukup lebar.
"Ada dokter di rumah sakit yang tiba tiba membantu saat melihat mama menangis," lanjut Rain jujur. Hatinya masih terharu jika mengingat kebaikan dokter Aruna. Yang ngga mengenalnya tapi mau memberikan sejumlah uang yang sangat besar untuk membantunya.
"Dokternya baik sekali, ya," ucap Glen sedikit menyindir.
"Dia bahkan mencarikan aku kerjaan paruh waktu," cerita Rain senang tanpa sadar kalo laki laki di depannya ini sedang menyindirnya.
Kamu polos sekali, batin Glen mencela
"Dokternya ngga minta imbalan apa apa?" tanya Glen memastikan.
Rain menggeleng. Memang dokter Aruna ngga meninta balasan apa apa.
"Dokternya tua atau muda?" tanya Glen penasaran.
__ADS_1
"Muda."
"Laki atau perempuan? Kamu bikin aku penasaran."
Rain tertawa lepas.
"Kalo laki kenapa, kalo perempuan juga kenapa, kak?" Rain malah mengajak Glen bermain tebak tebakan.
"Kalo laki, mungkin bentar lagi dia minta imbalan ke kamu. Kalo perempuan, kenalin dong. Siapa tau jodoh," kekeh Glen setelah berkelakar.
Rain jadi makin tertawa mendengarnya. Sakitnya terasa berkurang.
"Sayang kakak udah telat. Dokternya udah nikah."
"Belum jodoh," kekeh Glen tergelak gelak.
"Kamu mau diantar pulang?" tanya Glen setelah cukup lama mereka tertawa bersama.
"Ngga usah, kak, aku mau pesan taksi online saja," tolak Rain sambil membuka aplikasi taksi online di ponselnya.
"Kok, baru pesan?" Glen menatap kopi Rain yang sudah tinggal sepertiga gelas karton itu.
"Sengaja, mau ngabisin kopi dulu," balas Rain dengan sudut bibir melengkung ke atas.
"Oooh."
Glen menghabiskan kopi yang mulai hilang panasnya karena cukup lama dia anggurin
"Teman kamu yang namanya Vani, mau maen kuda kudan sama aku. Kata Reno maennya yahut," kata Glen ringan.
Wajah penuh senyum Rain berubah sendu mendengar nama Reno disebut.
Dia memang bajingan, umpatnya dalam hati.
"Ya udah, aku pergi dulu, ya," pamit Glen sambil berdiri.
"Ya kak."
__ADS_1
Rain hanya tersenyum sambil menatap punggung Glen yang kini menjauh. Laki laki itu memarkirkan mobilnya persis di depan minimarket tempat mereka ngobrol.