
BUGH
Aruna membalikkan tubuhnya dan dia langsung pucat ketika mendengar suara benda keras yang jatuh di belakangnya.
"Kiano!" serunya shock sambil berlari menghampiri Kiano yang sudah tergeletak di lantai. Ngga sadarkan diri.
"Bagaimana ini," gumam Aruna panik karena ngga mungkin bisa mengangkat tubuh Kiano sendirian
Akhirmya Aruna meletakkan kepala Kiano.di pangkuannya sambil mengusapnya.
"Kiano, bangunlah," panggil Aruna dengan suara bergetar.
Aruna memijat kepala Kiano pelan. Jantungnya berdebar ngga menentu.
"Kiano, bangunlah. Jangan seperti ini," panggil Aruna makin panik karena Kiano masih belum membuka matanya.
"Kiano," panggil Aruna lagi dengan masih tangannya memijat kepala Kiano. Suaranya kini berubah tersendat. Dia membutuhkan hpnya. Tapi sayangnya tasnya tadi terjatuh ketika dia bergegas menghampiri Kiano.
Aruna makin panik, ngga ada yang bisa dia dilakukan. Aruna meletakkan jari telunjuknya di depan hidung Kiano.
"Hangat," desisnya ketika merasakan hawa yang keluar dari cuping hidung Kiano.
Kemudian tanpa ragu Aruna meletakkan kepalanya di dada Kiano. Aruna menghela.nafas lega. Dia masih merasakan detak jantung Kiano.
Aruna menghapus keringat di kening Kiano.
"Kamu itu harus istirahat dulu. Jangan kerja," gumam Aruna sambil mengusap lembut rambit tebal Kiano.
"Kalo gini, kan, aku yang jadi susah. Mana kamu berat lagi," lanjutnya sambil memejamkan mata. Berharap semoga akan ada yang datang dan menolong mengangkat tubuh Kiano.
CEKLEK
"Syukurlah," bisik Aruna lega mendengar suara pintu yang di buka.
"Aruna, Kiano kenapa?" tanya Regan yang bergegas masuk bersama Arga.
"Kiano pingsan," jelas Aruna membuat keduanya saling berpandangan sesaat.
"Bisa tolong angkat Kiano ke tempat tidur? Dia harusnya masih istirahat," pinta Aruna yang diangguki keduanya.
"Oke," sahut Regan. Bersama Arga, Regan mengangkat tubuh tinggi kekar Kiano menuju kamar tidurnya .
Aruna sempat terkesima ketika membuka pintu kamar tempat Kiano beristirahat. Sangat mewah. Wajar saja, karena hotel ini bintang lima. Lantai teratas hotel ini berisi kamar kamar pribadi Kiano dan teman temannya.
"Aruna, apa Kiano ngga apa apa?" tanya Arga khawatir karena masih belum sadar juga.
"Bentar," kata Aruna.sambil pergi mengambil tasnya..Dia pun mengeluarkan botol minyak amginnya.
__ADS_1
Aruna pun mendekatkan ke hidung Kiano sampai beberapa lamanya hingga Kiano tersadar.
Kelopak matamya.membuka perlahan dan tatapan pertamanya mengarah pada Aruna yang berada di dekatnya yang kini tersenyum lembut dengan mata berkaca kaca.
"Syukurlah kamu udah sadar," seru Regan dan Arga bersamaan, kemudian keduanya kompak nyengir.
Kiano melirik kedua temannya. Dia berusaha mengingat. Tapi genggaman Aruna di jari jarinya membuat Kiano balik menatap Aruna.
Apa dia khawatir?
Dada Kiano berdebar. Dia masih ngga percaya.
"Sebaiknya kamu istirahat," kata Aruna pelan sambil menarik tangannya yang menggenggam jemari Kiano erat sejak tadi.
Kiano menahannya membuat keduanya saling pandang.
"Ehem," goda Regan membuar Aruna mengalihkan tatapannya. Arga tersenyum lebar.
"Besok besok aja kerjanya. Kamu mau batal nikah," ledek Arga membuat Kiano menatapnya kesal. Tapi Arga malah tertawa karena tau candanya tadi telak memukul hati Kiano.
"Sekarang aja udah diundurkan," tambah Regan ikut meledek.
"Lebih baik kalian pergi," geram Kiano kesal. Kepalanya masih terasa pusing.
"Oke oke. Aruna kita pamit ya. Kalo dia pingsan lagi di lantai ditinggal aja," tawa Regan berderai derai sebelum pergi bersama Arga yang juga sama tergelaknya.
"Lebih baik kamu tidur. Atau kamu mau makan dulu?" tanya Aruna membuat Kiano membuka matanya lagi dan menatapnya.
Ya, dia lapar. Lapar perhatian dokter di depannya.
Seakan mengerti, Aruna membantu mendudukkan Kiano dengan satu tangannya yang masih digenggam Kiano.
"Lepasin. Aku mau ambil buburnya," pinta Aruna dengan wajah merona.
Kiano tersenyum tipis. Mengangkat tangan Aruna dan mengecupnya lembut.
Jantung Aruna serasa berlompatan begitu merasakan kecupan Kiano di kulit punggung tangannya. Matanya sampai terpejam, seolah meresapi yang Kiano lakukan.
Kiano tersenyum melihatnya.
"Tadi mami bawa bubur," kata Kiano mengagetkan Aruna.
Mata Aruna seketkka terbuka. Wajahnya serasa dipanggang saking malunya.
"Em, iya," sahutnya cepat sambil membalikkan tubuhnya. Meredakan debaran jantungnya yang semakin ngga menentu.
Dengan tangan agak bergetar, Aruna mengambil mangkok bubur di atas meja.
__ADS_1
Masih hangat, batinnya ketika memegang bagian luar mangkok itu. Lalu membawanya ke dekat Kiano.
Kiano tersenyum melihat tangan Aruna yang bergetar.
"Aku makan sendiri," tukas Kiano sambil mengambil mangkok di tangan Aruna. Dan langsung menyuapkan pada dirinya sendiri.
Aruna menghembuskan nafas pelan, rasanya lega. Aruna ngga yakin bisa memegang mangkok itu cukup lama. Perasaannya masih ngga menentu.
"Nih, buburnya enak," ucap Kiano sambil menyodorkan sesendok buburnya di depan bibir Aruna yang spontan membukanya.
Keduanya saling bertatapan ketika Aruna menerimanya.
"Kamu juga perlu makan," tukas Kiano dengan sudut bibir ke atas.
Wajah Aruna masih memerah saat berusaha menelan bubur itu yang terasa nyangkut di tenggorokannya. Dia pun cepat mengambil minum.
"Minta minumnya," kata Kiano sambil meraih gelas yang di pegang Aruna. Dengan mata saling bertatapan, Kiano meneguk air putih di gelas bekas bibir Aruna. Membuat Aruna terpaku.
"Kapan jadinya kita nikah?" tanya Kiano setelah Aruna mengambil gelas di tangannya dan menaruhnya di meja.
"Nunggu kamu sembuh." Aruna mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dari tadi jantungnya berdebar ngga menentu.
"Aku sudah sembuh."
Mata Aruna melirk kesal pada wajah datar di depannya.
Baru aja tadi pingsan, batin Aruna mencibir.
"Makanya kamu nemenin aku di sini," ujar Kiano yang pahan kalo Aruna mengatainya dalam diam.
Aruna ngga menjawab, tangannya meraih mangkok bubur Kiano yang udah abis. Kiano membiarkannya dan hanya menatap Aruna.
Aruna merapikan selimut Kiano yang masih duduk menyandar.
"Kiano, kamu apaan, sih," jerit Aruna ketika Kiano menarik tangannya hingga ttubuhnya terjatuh di samping Kiano.
Kiano ngga menjawab. Dia malah menyandarkan Aruna di sampingnya dan meletakkan kepalanya di bahu Aruna.
"Aku ngantuk," katanya ngga peduli akan reaksi kaget Aruna. Kiano pun memejamkan mata dengan hati senang.
Kamu akan aku taklukan Aruna, batin Kiano yakin. Rasanya penyakitnya akan cepat sembuh jika selalu berdekatan dengan Aruna.
Aruna menghela nafas kesal dengan sikap pemaksa Kiano. Aruna sama sekali ngga tenang dengan aroma maskulin Kiano yang terhampar di sekitarnya. Jantungnya berdebar ngga menentu. Aruna takut Kiano dapat merasakannya.
"Tidurlah," ucap Kiano sambil menurunkan kelopak matanya dengan sebelah tangannya. Bahkan tangan itu terus menahan kelopak mata Aruna yang ingin terbuka. Mungkin karena lelah, Aruna pun tertidur pulas di samping Kiano.
Dengan hati hati Kiano memindahkan kepala Aruna ke bahunya. Kiano merapikan selimutnya agar sebagian tubuh Aruna juga tertutupi. Dengan lembut dia mengecup pipi Aruna yang sudah terbang ke alam mimpi.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Aruna," bisiknya sebelum memejamkan matanya.