Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Obrolan Receh


__ADS_3

"Oke, Pak Kiano, senang bekerja sama dengan perusahaan anda," ucap Claudia sambil mengulurkan tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum manis.


Kiano membalas uluran tangan itu dengan enggan.


"Sama sama."


"Mungkin kita bisa makan malam?" tawar Claudia sambil memperat jabatannya.


Glen, Alva dan Reno tersenyum miring mendengarnya. Sudah pasti incarannya Kiano. Heran, padahal mereka ngga kalah ganteng.


"Bisa diwakilkan dengan direktur direktur di perusahaan ini," tolak Kiano diplomatis sambil menarik jari jari tangannya dalam genggaman Claudia.


"Oww,,, begitu ya. Mungkin kapan kapan," katanya ngga menyerah.


"Saya sudah menikah," kata Kiano langsung. Dia ngga suka berbasa basi. Bisnis ya bisnis. Hanya itu yang dia lakukan selama ini.


Claudia tertawa garing menutupi rasa malunya karena terus ditolak.


"Oke oke. Saya mengerti," responnya cepat.


"Kalo begitu, saya pergi dulu," pamitnya kemudian tersenyum pada para sahabat Kiano sebelum.melangkah keluar dari ruangan yang mulai terasa pengap.


"Gila, tuh cewe, bodynya assoooiiyyy" seru Glem setelah Claudia menutup pintu.


"Kayak gini baru tipe gue," sambung Reno kemudian tergelak.


"Sayangnya yang dia suka bukan lo," sindir Arga terkekeh.


"Cewe gitu biasa. Tinggal kita aja yang maju terus, sikat," pungkas Alva super yakin.


"Dia belum kenal kita bro," bela Glen ngga terima diremehkan.


Perempuan seperti itu memang tipenya. Cantik, modis, seksi. Itu poin wajib buatnya. Walupun ada istilah don't judge a book with the cover, tetap aja Glen membutuhkan penampakan luar yang menarik dan estetik.


Kiano ngga berkomentar apa apa. Dia menyibukkan diri dengan laptopnya. Sedari dulu tiap ada klien perempuan yang mendekatinya, dia akan menyerahkan oada para sahabatnya .


Kiano ngga suka mencanpurkan masalah bisnis dengan asmara. Bisa melibatkan perasaan dan kerjasama akan berantakan nantinya. Padahal untuk menjalankan kerja sama terlalu banyak aspek yang harus dipertanggungjawabkan.


Apalagi sekarang ini dia sudah punya istri yang dia dambakan. Susah payah bisa mendapatkan Aruna, jangan sampai Aruna cemburu dan ngga mempercayainya lagi. Aruna yang sudah menjadi candu buatnya ngga akan dibiarkannya pergi lagi.


Kiano pun memgetikkan pesan buat Aruna.


Sorry baru ngabari. Aku udah di kantor.


Bibirnya tersenyum melihat tanda centang biru yang datang dengan cepat.


Aruna

__ADS_1


Oke.


Gitu doang? Kiano ngga terima. Dengan hati mendadak terasa panas, Kiano mulai mengetikkan pesan lagi. Jika saja dia sendirian di ruangan, pasti akan langsung ditelponnya istri yang suka mempermainkan suasana hatinya.


Kamu sama si sialan itu?!!


Aruna selalu membuat perasaannya ketar ketir. Saat ditiduri, dia bersikap pasrah dan mendamba dirinya. Tapi saat saat seperti ini Aruna selalu bersikap cuek. Ingin rasanya Kiano merekam adegan panas mereka agar laki laki brengsek itu tau gimana Aruna sebenarnya saat bermesraan dengannya.


Kiano merasa dirinya seoerti bocah SMA yang takut kehilangan Aruna dan ngga ingin ada satu laki laki pun yang bisa mendekati Aruna. Posesif. Dia benci dirinya yang gampang cemburu jika itu menyangkut Aruna.


Aruna


Engga


Kiano tanpa sadar tersenyum. Hanya balasan sesingkat itu sanggup memadamkan haww panas dalam hatinya.


Glen dan sahabat sahabatnya yang lain saling pandang dengan senyun miring di bibir melihat wajah Kiano yang berubah ubah ekspresinya dengan cepat. Dari senang terus mengerut dan sekarang berbalik senang lagi.


"Gila, ada yang bucin, nih," sarkas Glen lantang membuatnya dan sahabat sahabatnya tergelak gelak.


"Nggak lama lagi kita akan punya keponakan," sambung Alva makin ngakak. Ngga ada abisnya rasa heran dalam pikirannya melihat sikap Kiano yang menurutnya norak. Apalagi untuk ukuran mereka, perempuan sangat gampang didapat. Jika bosan, cari yang lain aja. Itu prinsipnya sejak dulu.


Ngga ada istilah patah hati di kamus hidupnya. Perempuan cantik, pintar, kaya dan seksi bertebaran di sekitar mereka. Ngga perlulah harus pake hati.


"Yang pasti lebih dari satu," gelak Glen makin membahana.


"So pasti itu," balas Alva semakin sennag melihat wajah Kiano gusar.


Kiano menatap kesal sahabat sahabatnya. Bahkan Regan dan Arga yang minim ekspresi pun ikut mentertawakannya.


Kalian belum tau aja, umpatnya dalam hati.


Gue juga mau dapat istri setipe Aruna, batin Arga. Ngga dia utarakan. Bisa diamuk Kiano habis habisan. Apalagi sepertinya level kecemburuan Kiano sangat tinggi.


Dulu biar Aruna bertubuh agak gendut, tapi tetap cantik. Apalagi sekarang, jadi seksi. Arga menjadi geli sendiri dengan pikiran absurdnya.


"Berarti Aruna masih perawan ya," kata Glen iri setelah tawa mereka usai. Selama ini perempuan perempuan yang dikencaninya udah pada jebol semua.


"Yes," jawab Kiano bangga.


"Rejeki lo," kata Reno juga iri. Nasibjya pun sama seperti Glen.


Andai ketemu perawan, kan langsung dia nikahi, batinnya berkhayal.


Suster centil itu masih perawan ngga ya? batin Reno lagi, kali ini sambil nyengir karena membayangkan tingkah suster Uci.


"Mami gue nelpon. Pasti perjodohan lagi," sungut Alva sambil menggeser tombil yang berwarna hijau

__ADS_1


"Kasian," ejek Glen.


"Iya, mi," ucapnya tanpa mempedulikan tawa mengejek sahabat sahabatnya. Dia pun melangkah nemasuki kamar pribadi Kiano.


"Numpang kamar lo," katanya seolah meminta ijin, tapi sudah membuka pintu sebelum Kiano menjawab. Bahkan langsung saja memasuki kamarnya.


"Oh iya, gimana tentang perjodohan lo dengan Tamara?" ledek Reno sambil menetap Regan.


Regan langsung mendengus. Gara gara kakek Kiano yang langsung menelpon kakeknya, sekarang kedua orang tuanya selalu bertanya tanya tentang Tamara.


"Kenapa bukan Lilo aja, sih," sahutnya kesal membuat sahabat sahabatnya kembali tertawa.


"Gue jamin, si Tamara pasti perawan," ucap Glen yakin.


"Gimana ngga awet tuh perawannya, tiap ada laki laki yang mendekat pasti langsung dihajar sama dia," kekeh Reno sambil memegang perutnya yang berkedut karena ngga berhenti tertawa.


"Hati hati malam pertama lo. Bisa apes junior lo," ledek Glen lagi tanpa peduli dengan tampang kesal Regan.


"Sialan lo," makinya kesal.


*


*


*


Sememtara itu di samping sebuah mobil mewah di basemet hotel, Claudia sedang menatap para pengawal pribadinya dengan serius.


"Cari tau istri Kiano Arta Mahendra. Buat dia mengalami kecelakaan. Kalo sampai meninggal, itu lebih baik."


"Siap nona,."


Claudia pun memasuki mobilnya dan mengirimkan pesan pada dadynya.


Kiano sudah menikah, dad.


Ngga lama sebuah balasan pesan pun muncul di ponselnya.


Dady Tersayang


Kamu tau apa yang harus dilakukan.


Claudia tersenyum sinis. Dia pun memgetikkan pesan balasan buat dadynya.


Oke, dad


Padahal dadynya sengaja mewakilkan dirinya agar bisa menarik perhatian Kiano yang terkenal dingin. Ngga disangka, si dingin itu sudah menikah. Sungguh di luar dugaan. Dadynya sampai ketinggalan berita super penting seperti ini.

__ADS_1


Claudia jadi penasaran, perempuan mana yang bisa mencairkan hati yang bagai balok es itu. Dari grup perusahaan apa. Keluarga konglomerat mana yang dapat berbesan dengan keluarga Artha Mahendra yang sangat kaya raya. Dan kenapa pernikahan mereka ngga diexpose media. Banyak pertanyaan berseliweran di kepalanya yang membutuhkan jawaban segera.


Pasti ada sesuatu, batinnya yakin. Bibirnya mengulaskan senyum licik.


__ADS_2