Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tamara dan Alva Kabur


__ADS_3

"Tanara mana?" tanya Aruna kebingungan karena sudah ngga melihat keberadaan Tamara. Bahkan Alva juga udah ngga ada.


Bukannya tadi mereka berdansa bersama?


Kiano juga ikut mencari keduanya karena melihat kepanikan Aruna. Tapi yang membuat dia merasa ada sesuatu yang janggal karena melihat sahabat sahabatnya yang sedang berkunpul dan tertawa dengan girang.


Ada apa dengan mereka? batinnya curiga.


Kemudian Kiano menarik tangan Aruna pelan agar mengikutinya ke tempat sahabat sahabatnya berada.


"Mereka kenapa? Terlihat sangat senang?" tanya Aruna berbisik sambil mengarahkan matanya pada sahabat sahabat Kiano yang masih saja berderai derai tawanya.


"Mungkin menang jackpot," jawab Kiano asal membuat Aruna tersenyum tipis.


"Kalian lihat Alva?" tanya Kiano tanpa basa basi.


Mereka pun menghentikan tawa, tapi masih menyisakannya di wajah masing masing.


"Kelihatannya sudah pulang," jawab Arga cepat.


"Tamara ikut dengan Alva?" Aruna ikut bertanya.


"Sepertinya begitu," ujar Reno dengan cengiran di wajahnya.


"Tapi Tamara sudah janji mau pulang sana aku," sangkal Aruna ngga percaya.


Tadi pun waktu Aruna melihat Tamara yang berdansa dengan Alva bahkan sampai rangkulan mesra begitu, membuatnya merasa kalo matanya sudah menderita minus dan dia harus segera pergi ke dokter mata.


Apalagi sekarang, tanpa melihat dan hanya mendengar kata kata dari sahabat Kiano yang sering bohong. Dia akan lebih sulit lagi percaya.


"Iya, Aruna. Aku juga lihat, kok," tambah Arga meyakinkan.


"Aku dari tadi di sini aja, ngga dansa sama siapa pun," lanjutnya lagi memberi alibi.


"Tapi kenapa....?" Aruna ngga melanjutkan ucapannya. Maksudnya kenapa Tamara mau maunya pulang bareng laki laki yang paling disebalinya selama ini. Walaupun itu calon suaminya yang expirednya bulan depan.


"Mereka bentar lagi mau nikah. Mungkin mencoba saling dekat, mungkin," cetus Glen juga dengan sedikit senyum usilnya.

__ADS_1


"Iya, Tamara udah gede juga. Ngga usah dikhawatiri. Paling nanti dia kabari kamu," tambah Regan tenang.


Oh iya. Aku telpon aja, batinnya sambil mengambil ponsel dalam tas kecilnya.


Tangannya sibuk menelpon Tamara, tapi sepertinya ponselnya off. Berkali kali Aruna menelpon tapi ngga juga bisa kesambung.


Sementara Aruna sibuk dengan ponselnya, Kiano menatap Regan dan yang lainnya penuh selidik. Cengiran di wajah wajah mereka belum.juga hilang.


Mungkin karena berhasil mengerjai Alva, batin Kiano menebak.


"Berhasil lo?" bisik Kiano kemudian tersenyum mirimg pada Regan.


"Of course," balas berbisik Regan kemudian tersenyum lebar.


"Kayak cacing kepanasan," timpal Arga tergelak pelan.


"Swear. Gue suka banget ngelihatnya tadi," tambah Reno kemudian saling ber tos dengan Glen.


"Ponsel Tamara ngga bisa dihubungi," cetus Aruna cemas membuat mereka kembali memasang tampang serius.


"Tenang aja, Aruna. Aman Tamara sama Alva," tukas Glen ringan.


"Amana apanya? Malah bahaya, kan," ketusnya galak membuat mereka jadi tergelak


"Sudah sayang. Kamu, kan, lagi hamil. Nanti Reno yang nyari Alva sama Tamara," bujuk Kiano sambil mengedipkan sebelah matanya pada Reno.


"Assiaap," tegas Reno patuh dengan sikap seperti prajurid dengan mengangkat tangannya seolah menerima perintah dari komandannya.


Syukurlah, batinnya lega karena Reno fast respon.


"Sekarang kita pulang, ya. Kamu harus istirahat. Nanti malam, kan, ada pesta di rumah kakek," kata Kiano memgingatkan.


Keluarga besar mereka menyelenggarakan pesta syukuran atas kehamilan Aruna. Juga bersyukur karena sudah melewati dengan baik baik saja hal hal bahaya baru baru ini.


"Oh iya," balas Aruna tersadar.


"Kalian jangan lupa datang ntar nalam," kata Kiano mengingatkan sahabat sahabatnya.

__ADS_1


"Aassiaapp!" Kali ini mereka semua berlagak sama seperti yang dilakukan Reno tadi. Aruna hanya memggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan kekanakan orang orang dewasa ini.


"Ayo, kita pulang. Mungkin ponsel Tamara sekarang lowbat," bujuk Kiano lagi.


"Ya, baiklah," kata Aruna mengalah, kemudian membiarkan Kiano merangkulnya melangkah pergi.


"Kiano.... Tunggu," panggil Natasha cukup keras tapi Kiano menulikan pendengarannya dan terus melangkah pergi


"Dia manggil kamu tuh," ketus Aruna sebal.


"Jangan dihiraukan. Aku sama dia ngga ada urusan apa apa lagi," bujuk Kiano lagi berusaha meredam kekesalan Aruna.


"Kiano....."


"Eh, kamu apa apaan, sih, Reno," protes Natasha jengkel karena tangannya ditarik Reno hingga dia ngga bisa mengejar Kiano.


"Kamu itu yang apa apa an," marah Reno.


"Apa kamu ngga udah ngga laku lagi sampai harus ngejar ngejar suami orang," sindir Reno sinis.


"Huh, lepas!" ketus Natasha sambil menghempaskan tangan Reno.


"Dengar, ya, aku masih ada urusan sama Kiano yang belum selesai," kata Natasha penuh tekanan.


"Jangan lebay deh, lo. Lo beruntung ngga abis diunboxing sama Kiano. Coba sama kita kita. Udah tinggal ampas lo," gertak Glen ikut membantu Reno


Natasha tercekat mendengarnya. Wajahnya memerah.


Kemudian tanpa kata dengan wajah panas menahan malu, Natasha pun berbalik arah meninggalkan Glen dan teman temannya.


"Heran gue. Selalu dicuekin Kiano di Inggris juga,, masih saja berharap lebih " komen Glen kesal melihat tingkah Natasha.


Sejak peristiwa Claudya, Glen sekarang merasa ilfeel melihat kelakuan perempuan yang selalu agresif dengan Kiano.


Reno malah terkekeh bersama Arga dan Regan.


"APA?" seru Glen kesal karena merasa sekarang ketiga sahabatnya sedang mengejeknya.

__ADS_1


Tapi balasan yang didapatnya malah tawa ketiganya yang makin menjadi, seolah baru aja disiram dengan bensin.


"Sialan," umpat Glen misuh misuh, jengkel.


__ADS_2