Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Bye, istri


__ADS_3

"Weleh, yang baru pulang honeymoon," nyinyir Ambar iri.


Ngga disangkanya Tamara beneran menikah. Dengan laki laki yang paling diinginkan para perempuan. Bahkan mereka baru pulang dari bulan madu.


"Bawel aja. Nih, makan coklat," cetus Disa sambil menyodorkan kotak coklat yang sudah terbuka.


"Oleh oleh," seru Yuyun senang.


"Keren kamu Tamara. Bisa ke Dubai," seru Mita ikut bahagia.


"Sepi kantor ngga ada kamu," ucap Disa tulus. Dia pun ikut berbahagia untuk Tamara.


Ambar ngga berkata apa apa lagi selain mulai menikmati coklat yang diberikan Disa.


"Tamara, aku minta sekotak, ya. Buat makan di sana sama anak anak," ucap Gery yang mendekati mereka sendirian.


"Wahyu sama Ongky kemana?" tanya Mita heran, karena biasanya Gery muncul bersama Wahyu dan Ongky.


"Ada di sana," ucapnya ngga acuh.


Tamara memberikan dua buah kotak coklat.


"Weleh weleh..... dikasih dua " sorak Gery kesenangan.


"Makasih banyak, Tamara cantik," pujinya sambil melangkah pergi.


"Ada maunya aja di puji cantik," celutuk Mita yang dibalas tawa Gerry.


Tamara hanya tersenyum saja.


"Cerita, dong, Tamara. Kok, bisa kamu kenal Alva?: tanya Mita sangat penasaran.


"Iya, secara susah loh kenal sama most wanted begitu," tambah Disa.


Ambar juga mendekat bersama Yuyun. Pingin dengar langsung dari sumbernya.


Tamara menghela nafas melihat teman temannya sudah fokus menatapnya ngga sabar.


Mereke begitu mengidolakan si brengsek yang sudah menjadi suaminya. Bahkan memberikannya malam malam yang panas.


Eh. Tamara malah ngelantur.


"Kami teman waktu SMA," ucap Tamara membuat mereka melongo.


"Kalian satu SMA?" kaget Ambar. Ngga nyangka dengan keberuntungan Tamara.


"Keren Tamara. Setau aku SMA itu elit dan mahal, kan," sela Disa.


"Gitulah," jawab Tamara malas. Selama ini Tamara ngga pernah bercerita apa pun tentang dirinya. Mereka pun ngga pernah nanya.


Statusmya sebagai anak pengusaha pun baru baru juga mereka ketahui.


Sekarang mereka jadi kepo karena pernikahannya dengan Alva.


Kemumgkiman ke depannya privasinya akan menghilang.


Tamara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Setelah SMA, kan, kalian kuliah, trus lulus, kerja di tempat berbeda. Kok, bisa ketemu lagi? Apa kalian masih selalu berhubungan?" tanya Ambar bak waratawan.


Mulai, kan, wawancaranya.


"Sahabatku itu menikah dengan sahabatnya Alva. Karena itu kami jadi sering bersama," jelas Tamara menjeda sambil melihat wajah wajah serius mereka, seakan yang keluar dari mulutnya adalah berita yang sangat penting.

__ADS_1


"Sahabatku dokter, nikah sama Kiano. Mereka tuh selalu berenam, Kiano, Alva, Reno, Glen, Regan, dan Arga. Sampai kini kami cukup dekat."


Malas banget harus menyebut nama nama.laki laki yang dulunya dianggapnya brengsek semua. Ngga punya hati karena menjadikan Aruna sebagai objek taruhan.


Ambar pun speachless. Yang lain pun menatap penuh arti dan iri saat Tamara menyebutkan circle most wanted.itu dengan lengkap.


Pasti sangat menyenangkan masuk dalam circle mereka.


"Oh, Kiano ya. Katanya dia paling tampan," ujar Disa yang sempat melihat foto ke enam laki laki most wanted itu. Sayangnya mereka bukan orang orang yang suka publikasi.


"Tapi yang lain juga ngga kalah keren. Suami Tamara, misalnya," sambung Mita lagi.


"Iya. Mereka memang keren keren semua," celutuk Yuyun membenarkan.


"Apa mereka semuanya sudah punya pacar atau menikah?" Yuyun ikut kepo. Dia sudah menghabiskan tiga buah coklat oleh oleh Tamara.


"Yang belum nikah emm...." Tamara mencoba mengingat. Dan mereka pun menunggu dengan ngga sabar.


"Reno, tapi udah punya pacar. Arga juga sudah punya pacar. Hanya Glen yang single," info Tamara membuat mereka histeris


Tamara menghela nafas panjang.


*Nor*ak sekali.


Satu panggilan masuk membuat Tamara menjauh dari mereka. Teman temannya fokus menatapnya sambil menghabiskan coklat yang dibawanya.


"Ada apa?" tanya Tamara dingin. Dia masih kesal masalah empat kotak coklatnya yang sudah di rampok suaminya.


"Mungkin nanti akan ada berita ngga bener tentang aku," ujar Alva yang ngga peka akan suara datar istrinya. Karena baginya masalah baru yang akan muncul sangat serius.


"Berita ngga benar?" sindir Tamara tajam.


Memang ada berita ngga benar dari laki laki ngga benar? lanjutnya membatin.


"Berita lama. Sekarang udah basi," jelasnya santai.


"Oh."


"Semoga aja ngga muncul. Arga udah urusin."


"Hemm."


Ngapain kalo gitu telpon. Ngga penting juga, sungutnya dalam hati.


"Ya udah. Nanti aku ganti coklatnya. Jangan marah lagi, ya. Bye, istri."


Telpon pun putus.


Tapi efeknya masih berlanjut. Bukan soal coklat yang mau diganti. Tapi kata kata terakhirnya.


Bye istri.


Jantung Tamara berdegup sangat keras. Perasaan aneh begitu saja menjalar di dalam tubuhnya.


*


*


*


Alva memegang dadanya yang semakin berdebar aneh akibat ucapannya sendiri.


Bisa bisanya dia merayu Tamara, batinnya ngga percaya.

__ADS_1


Tapi seulas senyum menghiasi wajahnya.


Panggilan istri bagus juga, batinnya senang.


Papi pun sudah menghubungi rekan bisnisnya Arya Sutama, tentang alasan pembatalan kerja sama.


Tapi kata papi masalah foto jangan dibahas dulu. Senoga Arga bisa menanganinya.


Yang bisa papinya katakan hanyalah putranya ngga kepikiran punya dua istri.


Alva, sih, setuju saja dengan alasan papinya.


Matanya terpejam mengingat apa yang sudah dilakukan Tamara padanya.


Ngga disangkanya Tamara begitu joss banget. Kalah semua mantan mantannya.


Alva merasakan bagian bawahnya menegang.


Gila, cuma mengingat sudah bisa menimbulkan reaksi, omelnya dalam hati.


Malam ini dia akan meminta jatahnya lagi pada Tamara.


Alva tersenyum lagi sambil memejamkan matanya.


*


*


*


"Alva dan papinya sudah membatalkan proyek," kata Pak Arya sambil menatap putrinya lembut.


Beliau merasa ngga enak dengan sahabatnya. Bahkan papi Shina sudah membatalkan denda pinalty proyek tersebut.


Shina hanya diam.


"Lupakan Alva. Masih banyak laki laki yang pasti mau sama kamu, sayang. Kamu sangat cantik," kata papinya lembut.


Melihat putrinya yang masih terdiam, beliau pun berjalan mendekatinya.


"Papi yakin, Alva hanya debu yang langsung hilang ditiup angin."


Setelah menepuk bahu Shina lembut, Pak Arya pun keluar dari ruangan putrinya.


Shina masih terdiam. Selain shock karena papinya ngga bisa membantunya, juga dia jengkel karena bisa bisanya segala data di ponselnya hilang semua


Kamu pelakunya, kan, Al. Segitunya kamu melindungi istrimu yang ngga cantik itu, batinnya marah.


Dia pun meraih amploo coklat yang ada di mejanya.


Untung dia sudah sempat mencetaknya beberapa lembar.


Walau ngga sebanyak yang dia simpan di gallery ponselnya, tapi ini sudah lebih dari cukup baginya.


Shina mengambil dua lembar foto dari amplop coklat itu dan menyimpannya di tasnya.


Show must go on.


Shina pun beranjak meninggalkan ruangannya. Tujuannya sudah jelas, akan memperlihatkan dua foto itu pada Tamara.


Dia ngga mau perempuan itu seenaknya bisa memiliki Alva. Alva harus jadi miliknya. Dia akan berusaha keras.


Maaf pi, tapi debu itu sangat berharga, koreksinya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2