Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Dinda yang galau


__ADS_3

"Rain," panggil Dinda yang langsung mendekat ke arah Rain yang mulai longgar, ngga sesibuk tadi. Sementara Regan melambaikan tangannya pada Glen dan Reno yang tersenyun lebar.padamya.


"Kamu, kok, bisa sama Kak Regan," bisik Rain penuh selidik karena melihat Regan yang berjalan mendekat.


"Ketemu di kampus, trus diajak ke sini," jawab Dinda balas berbisik.


"Kamu pesan apa, Dinda?" tanya Regan yang sudah sanpai di dekatnya.


Nafas Dinda agak tercekat, baru kali ini Regan memamggil namanya. Terdengar agak dimanjakan.


Dinda kembali mengutuk daya halunya yang super tinggi.


"Teh red velvet aja, kak," katanya sambil membuka pengunci tasnya.


",Aku aja yang bayar," cegah Regan. Kemudian mencentang pesanan mereka dan memberikan dua lembar uang berwarna merah pada Rain.


"Makasih," ucap Dinda canggung. Mengingat kejadian tadi di mobil.


"Kembaliannya kasih ke Dinda aja," ucap Regan sambil berlalu pergi.


Rain dan Dinda saling tatap.


"Kak Regan kelihatannya baik," analisa Rain sambil memberikan kembaliannya pada Dinda.


"Hemm," guman Dinda.


"Aku nemenin kamu, ya," pinta Dinda agak memohon.


"Janganlah. Sudah sana kamu bergabung dengan mereka," tolak Rain merasa ngga enak hati.


Dinda menggigit bibirnya. Dia benar benar risih berada di dekat banyak laki laki tanpa ada satu orang pun perempuan. Lagian dia berhijab, apa nanti kata orang yang melihatnya dikerubungi laki laki.


"Itu tunamgan Reno," tunjuk Rain saat melihat Nadia yang sedang berjalan mendekati meja para lelaki itu. Lidahnya berat memanggil kak untuk Reno.


"Serius itu tunamgan, Kak Reno?" tanya Dinda ngga percaya. Sangat cantik dan anggun.


Terlihat serasi, batinnya menilai.


Apa ini perjodohan bisnis? batinnya lagi.


"Tadi aku barusan diberitau Kak Glen," jelas Rain berusaha ceria. Menutupi perasaannya yang terluka.


Dinda ngga tau apa yang telah terjadi antara dia dengan Reno.


"Dekat sama mereka paling cuma dianggap selingan, Dinda. Soalnya mereka sudah punya jodohnya masing masing," kata Rain seakan memberitau agar Dinda ngga terlalu jauh melangkah.


Dia ngga rela kalo Dinda sampai mengalami hal buruk sepertinya. Walaupun dia dapat melihat Kak Regan agak berbeda. Tapi who knows?


Dinda tercenung. Mungkin benar apa yang dikatakan Rain. Setelah pertemuan di butik, mamanya cukup banyak bercerita tentang Regan.


Kalo papanya Regan sangat kaya raya. Papa dan Mamanya sudah berpisah dan sekarang sibuk dengan perusahaan masing masing.


Mungkin saja nanti Regan akan dijodohkan. Kata mama, kekayaan keluarga Regan jauh di atas keluarganya. Walaupun bagi Dinda kehidupan keluarganya sudah sangat lebih dari cukup.


Dinda melihat Regan yang menatapnya kemudian melambaikan tangan padanya. Memberi isyarat agar Dinda mendekat.


Dinda mengalihkan tatapannya pada Rain.

__ADS_1


"Ayuh, Rain," ajak Dinda lagi memohon.


Rain menggelengkan kepalanya.


"Bentar aja gabungnya, Rain. Kasian, kak Glen," bujuk Dinda ngga menyerah.


"Ngga ada yang bisa gantiin aku jadi kasir. Din. Aku ngga enak, lagian ntar sore kita juga mau latihan, kan?" kata Rain mengingatkan.


"Iya," ucap Dinda mengerti.


"Udah sana," usir Rain dengan senyum di wajahnya.


Dinda hanya mengangguk dan berjalan terpaksa menghampiri Regan dan teman temannya.


*


*


*


"Ciye ciye.... sepertinya akan terjadi pesta pernikahan beruntun," tawa Glen, ketika Regan sudah berada di dekat mereka. Reno pun tertawa.


Dengan tenang Regan duduk di kursi kusong di sebelah Reno.


"Kok kalian bisa bareng?" tanya Reno kepo.


"Lo ke kampusnya ya? Bilang aja lo rindu," kekeh Glen lagi mengejek.


Tapi hatinya mengumpat sedih. Dia ditinggalkan sendiri sementara semuanya sudah punya pasangan.


Bahkan Alva sepertinya ngga jadi kabur meninggalkan Tamara seperti rencanannya.


"Lo tau Glen, gue baru kali ini bingung dengan hati gue," kata Alva malam itu.


"Kenapa dengan hati lo?" Glen menatap heran


Alva ngga langsung menjawab.


Bayangan laki laki yang selalu saja berada di dekat Tamara saat dia menjemputnya selalu membuat hatinya panas.


"Menurut lo, hati kita bisa setia sama satu perempuan?"


Alva sengaja bertanya pada Glen. Kalo ada Reno pun dia juga ingin bertanya begitu. Tapi Reno lagi sibuk, ngga bisa menyusulnya ke rumah Glen. Soalnya mereka bertiga sama. Players sejati.


Ganti Glen yang terdiam. Dia juga ngga tau. Sulit juga baginya saat ini untuk fokus pada satu perempuan untuk saat ini.


"Mungkin kalo kita sudah ketemu yang kita suka, kita pasti setia," jawan Glen setelah membuat otaknya berpikir lagi


"Mungkin. Tapi gue belum yakin Tamara yang gue mau."


Glen mendelik.


"Kalo gitu lo lepaskanlah."


"Nggak bisa. Gue ngga mungkin ngasih kesempatan pada laki laki itu," sentak Alva geram.


"Laki laki mana? Tamara punya pacar?" Glen menatap Alva ngga percaya.

__ADS_1


"Nggak. Tqpi laki laki itu selalu di dekat Tamara saat gue jemput."


"Lo marah?" pancing Glen sambil menatap rahang Alva yang mengeras..


"Gue ngga cemburu. Cuma kesal. Gue benci diri gue yang plin plan," marahnya sambil mengusap wajahnya kasar.


Glen tersenyum.


"Mungkin aja Tamara rumah lo," ucap Glen penuh makna.


Alva ngga menyahut, tapi tetap belum yakin.


PUK


"Lo mikir apa?" tanya Reno sambil menepuk bahu Glen cukup keras.


Hampir saja Glen jatuh dari kursinya.


"Asem!" maki Glen kesal, tapi Reno dan Regan kompak nyengir.


"Kata papi gue, lo berdua bakal dijodohkan," cetus Reno. Dia menatap lagi ke arah Rain.


Hatinya terasa nyaman melihat gadis itu tersenyum. Sangat berbeda ekspresinya hari itu. Takut dan menangis tanpa henti.


"Lo jangan mengarang cerita " sentak Glen ngga percaya.


Regan hanya menatap Reno dan mengikuti arah tatapan matanya.


Kenapa dia melihat Rain dengan sedih? batin Regan curiga.


Dia sama sekali ngga menganggao serius ucapan Reno.


"Itu kata papi gue. Lo tanya sendiri aja," balas Reno sekenanya sambil terus menatap Rain. Tadi gadis itu ketahuan melihatnya.


"Nanya daddy? Ya ngga mungkinlah," geram Glen menahan kesal.


Jika bertanya malah akan memuluskan rencana daddynya untuk menjodohkannya.


Sama aja nyari penyakit, kilah Glen dalam hati.


"Lagi serius ya, ngobrolnya?" tanya Nadia yang sudah mendekat. Dia pun duduk di dekat Glen. Matanya menatap pada Regan yang sepertinya ngga asing.


Regan menatap penuh tanya pada Glen dan Reno.


Siapa? batinnya mengirimkan telepati pada keduanya.


"Nadia, tunangan Reno," respon Glen menjawab setelah telepati itu diproses di dalam kepalanya.


"Nadia," kata gadis cantik itu mengulurkan tangannya sebelum keterkejutan Regan hilang.


Di jodohkan?


"Regan," jawabnya sambil menyambut uluran tangan Nadia.


Gadis itu tersenyum manis setelah jabatan tangan mereka terlepas.


Dia teringat kalo Reno memiliki beberapa orang teman pengusaha. Dia baru mengenal Glen beberapa hari yang lalu. Sekarang temannya yang lain sudah muncul. Regan.

__ADS_1


Nadia bisa merasakan perbedaan karakter antara ketiganya.Kalo bisa memilih dia lebih menyukai Regan yang memiliki energi positif dari pada Reno yang penuh dengan energi negatif. Kasar, dingin dan sangat cuek.


__ADS_2