Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Hari Yang Berganti


__ADS_3

"Rain, kamu kelihatan pucat?" tanya Dinda setelah lebih dari seminggu ngga ketemu. Bahkan tugas mereka sempat tertunda.


Untung Dinda sudah menyelesaikannya karena tinggal tiga puluh persen bersama Vani.


Mereka berdua juga mengerti kalo Rain harus menemani orang tuanya di rumah sakit.


"Mungkin kurang tidur," jawab Rain dengan senyum tipis di bibirnya.


Setelah kejadian kelamnya Rain sengaja menginap di apartemennya untuk beristirahat total. Terpaksa Rain membohongi mamanya dengan mengatakan ada tugas ke luar kota bersama teman temannya. Agar mamanya ngga mencarinya ke apartemennya.


Padahal Rain mengurung diri di kamar beberapa hari dengan hanya memesan makanan secara online.


Sekujur tubuhnya sangat remuk. Bahkan Rain juga sempat demam.


Beruntunglah setelah beristirahat total selama tiga hari, tubuhnya sudah mulai pulih. Dan bekas bekas ciuman yang membiru sudah mulai memudar.


Hampir tiap malam Rain menangisi keadaan tubuhnya yang sudah diperlakukan dengan sangat kejam oleh Reno.


Laki laki itu benar benar sangat kelaparan. Rain pun sudah memblokir nomernya setelah kejadian itu. Ngga penting untuknya lagi.


Dia akan mencoba melupakannya. Hidupnya dan keluarganya pun mulai membaik. Perusahaan papanya sudah mulai bangkit lagi walaupun sudah ngga sebesar dulu. Rain sangat berterimakasih pada dokter Aruna dan suaminya yang sudah sangat menolong keluarganya. Sangat total dan tanpa meminta balasan apa pun.


Sudah hampir seminggu ini Rain bekerja dengan sungguh sungguh sebagai kasir di sebuah kafe yang menyajikan berbagai jenis kopi dan makanan kecil. Dia ngga mau dokter Aruna yang sudah merekomendasikannya mendapat citra buruk.


Sementara roda kehidupannya belum berada di atas lagi, Rain akan mandiri. Ngga akan menyusahkan mama dan papanya lagi.

__ADS_1


Rain merasa tenang menjalani hari harinya karena sudah ngga bertemu dengan pembuat mimpi buruknya.


"Nanti kamu kerja di kafe?" tanya Vani yang ikut duduk di dekat mereka.


"Iya."


"Kalo gitu kita latihannya di sana aja ya. Kita maju ngga lama lagi," kata Vani mencoba memudahkan Rain.


"Oke, makasih, ya," ucap Rain sangat berterimakasih.


Dia pun merasa bersalah karena membiarkan keduanya menyelesaikan tugas kelompok mereka.


"Gue.duluan, ya. Ada job," kata Vani sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sama siapa lagi?" tanya Dinda jengah. Dia merasa berdosa karena membiarkan Vani selalu melakukan zina.


DEG


Rain menyembunyikan rasa bencinya mendengar nama Reno di sebut.


Dinda hanya diam ngga bereaksi. Setelah pertemuan mereka di kantor mamanya, mereka belum pernah bertemu lagi.


Dinda merasa aneh dengan suasana hatinya saat ini. Perasaan senang muncul begitu saja ketika tau Regan mengacuhkan Vani.


"Tapi keduanya ngga mau main lagi denganku. Sepertinya mereka punya aturan hanya maen sekali saja untuk wanita yang sama. Padahal tipsnya gede banget," keluh Vani cemberut.

__ADS_1


Dinda hanya tersenyum tipis, sedangkan Rain mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Ya udah, aku pergi dulu," katanya sambil melambaikan tangannya.


"Oke."


"Bye."


Dinda dan Rain menyahut sambil melambaikan tangannya pada Vani yang kini sudah melenggang pergi.


Dinda bingung melihat Vani. Kenapa mau melakukan hal yang bisa merugikan dirinya. Dia juga anak orang berada. Tapi sepertinya uang bukan tujuan utamanya.


Tapi ngga mungkin juga, kan, kalo Vani hiper? Menurut Dinda,Vani terlihat normal.


"Dinda, aku langsung ke kafe, ya," pamit Rain.


"Oke."


Keduanya pun berpisah.


Dinda meneruskan langkahnya menuju perpus. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di sana.


"Eh," kagetnya ketika Dinda merasa matanya ditutup tiba tiba oleh seseorang di belakangnya.


"Siapa? Lepasin," kesalnya sambil berusaha menjauhkan kedua tangan besar yang sedang menutup kedua matanya itu.

__ADS_1


Saat tangan itu terlepas dan Dinda berbalik , wajahnya bersemu merah. Jarak keduanya sangat dekat sekali. Regan tersenyum lebar padanya.


__ADS_2