
"Regan dansa dengan siapa?" tanya Natasha. sambil menajamkan matanya pada wabita yang dirangkul Regan dengan mesra.
Reno yang menjadi lawan dansanya menyimpan keterkejutannya saat melihat arah yang ditunjukkan Natasha.
Regan? Batinnya heran, kemudian matanya memutar di lantai dansa dan menenukan Alva yang juga sedang berdansa dengan wanita lain.
Senyum Reno langsung terkembang
Bakalan seru nih, batinnya senang. Dia suka keributan dan menjadi semangat untuk memprovokasi Alva nantinya.
Aruna yang juga sedang berdansa dengan Kiano menatap Tamara ngga percaya.
'Ada apa?" tanya Kiano yang merasakan istrinya agak terkejut.
"Tamara berdansa dengan dengan Regan," bisiknya.
Kiano mengikuti arah pandang istrinya, dan dia jadi tersenyum kala pandangannya melihat Alva yang sedang menatap tajam Regan dan Tamara.
"Regan hanya menolong Tamara. Alva juga berdansa dengan gadis lain," jelas Kiamo yang sudah samgat paham watak Regan.
Aruna berdecih kesal.
"Aku lebih suka Regan saja yang menjadi suami Tamara," kesalnya membuat Kiano tertawa kecil.
Dia mentowel ujung hidung Aruna gemas.
"Regan susah untuk berkomitmen. Tapi Alva juga baik sebenarnya," balasnya sekaligus membela Alva membuat Aruna memanyunkan bibirnya.
"Kamu mendukung Alva sama Tamara?"
"Kamu lupa kalo Alva melimdungi Tamara sampai terkena peluru?" ujar Kiano mengingatkan.
"Iya sih."
Tapi tetap saja Aruna ngga terima dengan sikap fuckboy Alva. Itu pasti sangat menyakitkan hati Tamara. Apalagi kedua papa mereka juga hadir di pesta. Apa tanggapan mereka ntar.
Kepala Aruna berdenyut dengan banyaknya pikiran yang berkecamuk.
"Jangan terlalu dipikirkan,kamu sedang hamil. Cukup pikirkan calon anak kita dan aku saja, oke. Mereka sudah dewasa," kata Kiano bijak seolah mengerti apa yang sedang Aruna pikirkan.
"Ya," jawab Aruna menurut. Dia oun menyandarkan kepalanya di dada Kiano.
"Wanita tadi siapa?"
"Wanita mana?"
"Yang tadi dekatin kamu," kesal Aruna tapi masih menempelkan kepalanya di dada Kiano. Rasanya nyaman.
Waduh, batin Kiano. Kirain Aruna sudah lupa.
"Teman waktu di Inggris."
"Teman tidur, ya," tuduh Aruna tajam.
Kiano sedikit melengak merasakan nafas panas Aruna yang berhembus di dadanya.
"Dulu, sih. Tapi perjaka ku hilangnya sama kamu, kok," jelas Kiano agak grogi takut disenprot Aruna lagi.
__ADS_1
Ngga terdebgar pertanyaan Aruna lagi. Kiano muiai bisa memghilangkan kegugupannya.
"Kamu bohong," tuduh Aruna beberapa menit kemudian.
"Enggak. Aku jujur soal itu. Aku memang cukup brengsek, tapi itu dulu. Apalagi waktu itu aku di Inggris," kata Kiano mengaku.
"Dia cantik gitu masa kamu ngga suka?".Aruna masih ngga perxaya. Hatinya tetap aja sakit walaupun tau itu masa lalu Kiano.
"Aku, kan, dari dulu cuma sukanya sama kamu."
"Gombal."
Tanpa sadar bibir Aruna tersenyum.manis dengan dada mengembang.
"Serius," tegas Kiano lagi berusaha meyakinkan Arina
"Nga bohong, kan?"
"Enggak."
Kiano pun mengeratkan rangkulannya di pinggang Aruna karena ngga mendengar suara Aruna membantahnya lagi.
Tamara berusaha tetap tenang, bahkan kini matanya beradu pandang dengan netra Alva. Seeprti sudah di atur, posisi mereka seperti membentuk garis diagonal.
Kenapa dia seperti marah? Padahal dia sendiri yang duluan gatal, kesal Tamara membatin.
"Alva sudah melihat?" tebak Regan karena merasa debaran jantung Tamara yang mulai ngga berirama.
"Kamu tau?" kaget Tamara sambil.mengalihkan tatapannya pada Regan yang sedamg tersenyum.
"Kita kipas kipas dia agar tambah panas," ujar Regan ringan.
"Kenapa?" tanya Regan heran melihat tatapan Tamara
"Ngga pa pa," ucap Tamara sambil menunduk malu.
Regan tertawa kecil.
"Aku ingin bantu kamu menghadapi Alva," jelasnya pelan,.
Tamara mengangkat wajahnya dan tatatpan mereka kembali bertemu.
"Kamu udah ada rasa, kan, dengan Alva?" todong Regan membuat Tamara reflek menggelemgkan kepalanya, menyangkal.
Regan kembali tertawa kecil.
"Kailan terlalu tinggi gengsinya," tukas Regan santai.
Haah? Ngga mungkin, bantah Tamara. Apalagi laki laki itu. Ciiiih.
"Tetaplah begini. Kurasa Alva sudah mulai panas," kekeh Regan sambil terus bergoyang lembut dengan Tamara yang ngga menjawabnya lagi.
Alva yang awalnya hanya menemani kedua wanita itu makan soto, meninggalkan Tamara yang sedang makan begitu saja.
Begitu musik dansa mengalun lembut, Lira langsung menaruh mangkok sotonya dan mengajak Alva turun untuk berdansa.
"Aku duluan, ya, Nya," pamitnya dengan senyum lebar di bibirnya. Anya menatapnya kesal karena kalah start.
__ADS_1
Alva ngga menolak. Dia suka dicintai dan direbuti wanita wanita cantik Bukan dianggurin seperti saat bersama Tamara.
Alva pun memeluk Lira dengan mesra yang tentu saja membuat Lira tambah semangat bergoyang.
Baru bergoyang beberapa waktu, matanya melebar melihat Tamara berdansa dengan Regan.
Kenapa si kekar itu mau saja berdansa dengan Regan, rutuknya dalam hati.
Apa dia benar benar menuruti saranku agar bersama Regan. Wooiii, aku ngga jadi masuk penjara, umpaatnya lagi dalam hati dengan hati panas.
Alva terus mengawasi Tamara sampai mata mereka berdua bersitatap. Alva pun mengirimkan sinyal perang dalam tatapannya. Tapi yang membuat Alva tambah naek darah Tamara melengos ngga peduli malah kini keduanya berbicara sangat dekat, seakan akan Regan hendak mencium calon istrinya.
Gila, mereka sedang apa? batin Alva frustasi. Kini malahan Tamara ngga lagi menatapnya tapi malah terus menatap Regan.
Tanpa sadar Alva menghembuskan nafas kasar saking marahnya.
"Ada apa?" tanya Lika heran melihat wajah Alva yang terlihat mengeras.
"Maaf, Lira. Aku mau ketemu calon istriku," kata Alva sambil melepaskan rangkulannya.
"Calon istri? Kamu serius?" tanya Lika ngga percaya dan kecewa. Dikiranya berhasil mendapatkan perhatian Alva, tapi nyata?
"Ya, maaf," kata Alva kemudian berjalan gagah menghampiri Tamara da,n Regan.
Reno yang dari tadi terus mengawasi Alva bersorak girang dalam hati.
Yesss! Panas lo, kan, ejek batinnya sangat senang.
"Ehem," ucap Alva pura pura batuk membuat Regan dan Tamara menghentikan dansa mereka.
"Ada apa?" tanya Regan tanpa melepaskan rangkulannya di pinggang Tamara. Wajahnya tetap santai menatap kemarahan dalam mata Alva.
Tamara sendiri yang akhirnya menjauhkan dirinya dari Regan. Dia ngga suka situasi ini. Apalagi beberapa orang di situ memfokuskan mata pada mereka.
"Aku ingin berdansa dengan calon istriku," jawab Alva tegas membuat Regan menahan tawanya.
Dia berhasil.
"Oh, gimana Tanara?" tanya Regan memberikan Tamara pilihan.
"Aku udah capek," tolak Tamara sambil akan melangkah pergi
"Ngga bisa. Kita berdansa sebentar, ya," bujuk Alva.
Regan mundur teratur sambil menyembunyikan senyum lebarnya.
Kini hanya ada Tanara dan Alva.
"Nggak," tolak Tamara judes.
Alva membuang nafas kesal. Kemudian tanpa diduga dia menarik Tamara dalam pelukannya membuat Tamara kaget dan terlambat bereaksi untuk menolak.
Kini Alva sudah menggotyang tubuh mereka dengan sangat mesra diiringi tatapan tajam yang menhunjam ke dalam manik mata Tamara.
Wajah Tamara merona. Dia merasa dirinya seolah terbakar akibat goyangan goyangan Alva. Tadi saat bersama Regan, dia hanya merasa risih saat mereka bersentuhan.
Ini beda, batinnya yang terus saja ikut bergoyang sesuai ritne Alva. Tapi jangan tanya, debaran jantungnya seakan bertalu talu.
__ADS_1
Tamara pun bisa merasakan debaran keras jantung Alva yang memukul keras dadanya berulang kali.
Kenapa jantung laki laki ini juga berdetak ngga normal seperti miliknya?