Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Dua Bucin


__ADS_3

Kiano, Aruna dan Reno berjalan beriringan setelah keluar dari ruangan papanya Rain. Papa Reno sudah duluan karena ada janji dengan kliennya.


Masih teringat papinya sempat bertanya saat dalan perjalanan ke rumah sakit tadi.


"Ada yang aneh sama kamu," ucap papi Reno sambil menatap putranya dengan tatapan serius.


"Apa, **P**a?" tanya Reno berusaha santai. Seolah ngga menyembunyikan apa pun.


"Kamu udah puas menikmati masa muda?"


Reno tertawa.


"Menikah itu urusan berdua seumur hidup. Kamu ngga bisa lagi bertingkah seperti belum punya pasangan," jelas papinya sabar karena Reno sepertinya belum serius menanggapi ucapannya.


"Reno paham, Pap. Seperti Kiano, Alva dan Regan, Reno juga bisa kayak mereka. Paling engga aku punya tiga teman yang sudah nikah," sahutnya masih dalam.tawanya.


"Maksudnya?"


"Buat ngontrol tingkah aku, Papi, kalo nanti aku lupa udah punya istri," kekehnya lagi. Sangat santai tanpa beban.


Papanya hanya menggelengkan kepalanya. Berharap nantinya kalo anaknya bisa serius dan menjadi laki laki yang bertanggung jawab.


"Kenapa kamu lebih milih Rain dari pada Nadia? Kamu lebih milih anak kecil dari pada gadis dewasa," komentar papi kemudian menyandarkan punggungnya di jok mobil. Matanya pun terpejam.


Kali ini tawa Reno langsung reda.


"Kalo papi pilih siapa?"


Papi membuka matanya dan menatapnya aneh.


"Mana mungkin Papi yang milih. Ya kamulah yang punya perasaan sama siapa di antara mereka berdua."


"Aku lebih suka Rain, Pi."


"Ya udah. Rain aja," ucap papi sambil memejamkan matanya lagi.


"Pesan papi, jangan sakiti anak gadis orang."


"Iya, Pi," janji Reno serius. Tanpa Reno sadar, papinya tersenyum tipis mendengarnya.


end


"Nadia gimana?" tanya Kiano sambil menoleh pada Reno.


"Aku udah nyuruh orang orang papi buat ngawasin dia," sahut Reno sambil menatap ponselnya yang bergetar.


Baru aja ada pesan masuk dari pengawalnya yang ngawasi Nadia.


Nona Nadia lagi di mall, bos.


Reno tersenyum, kemudian membalas chat itu.


Oke.


Kiano melirik Reno bentar dengan terus merangkul Aruna.


"Bucin dia," bisik Kiano di telinga Aruna.


Aruna tersenyum.


"Kayak kamu," balasnya berbisik.


Kiano tersenyum sambil mengelus perut istrinya yang mulai tampak membuncit.

__ADS_1


"Nanti kamu pulangnya seperti biasa?" tanya Kiano sambil melirik jam di tangannya. Ngga lama lagi ada pertemuan dengan klien baru.


"Iya. Kamu ngga usah ngantar aku. Udah dekat ruangan aku, kok," sahut Aruna lembut.


Kiano menggeleng.


"Aku harus pastikan kamu sampai di ruangan kamu demgan selamat," kata Kiamo bersikeras.


Reno yang telinganya sangat tajam, mendengar dengan jelas bisik bisik keduanya


"Lo yang bucin akut," decih Reno menyindir.


"Masalah buat lo?" sarkas Kiano.membalas dengam menyatukan dua ujung alisnya.


"Hemmm," dengusnya.


"Lo tunggu aja di parkiran. Gue mau antar Aruna dulu," kata Kiano saat mereka hampir berada di persimpangan koridor rumah sakit.


"Oke. Oh iya, Aruna, terimakasih, ya?" ucap Reno dengan melebarkan cengirannya


Aruma yang mengintip dari bahu Kiano hanya mengangguk dan balas tersenyum.


"Kamu mau hadiah apa Aruna?" tanya Reno sengaja memancing kecemburuan Kiano, yang memang saat inu menyorotkan matanya penuh peringatan. Tapi Reno cuek aja.


"Hadiah? Buat apa?" tanya Aruna polos, ngga ngerti kenapa Reno mau memberikannya hadiah.


"Tadi, kan, lo udah nolongin gue di depan orang tua Rain," jelas Reno tetap ngga peduli dengan sorot netra peringatan Kiano yang bertambah tajam.


Gue, kan, ngga bermaksud menggoda Aruna, bela Reno dalam hati.


Cemburu lo ngga lihat lihat sikon, cibirnya dalam hati.


"Ngga usah, makasih," tolak Aruna masih dengan senyum ramahnya.


"Oke, deh. Lo nggak ngidam? Gue bisa bantu Kiano beli...." ucap Reno ngga takut, tapi kini ucapannya terpotong oleh sentakan Kiano.


"Gue suaminya. Gue yang bakal beliin apa pun yang istri gue mau" tandas Kiano agak galak.


Aruna menahan senyum gelinya mendengar nada kesal dalam suara Kiano.


"Gue, kan, cuma mau bantu ringanin tugas lo," bela Reno lagi. Ngga peduli sudah secara sacara sadar membuat Kiano jengkel.


"Lo ngomong lagi, ngga bakal gue bantuin," ancam Kiano galak.


"Eh, jangan, dong," sergah Reno dengan senyum miringnya.


"Sorry, sorry, kalo lo jadi marah. Gue pergi ya. Daag Aruna," ledek Reno sambil setengah berlari, pencegahan, siapa tau Kiano akan menendangnya.


Kiano hanya menatap kepergian Reno tambah kesal. Sempat sempatnya dia melambaikan tangannya pada Aruna sebelum berjalan cepat meninggalkan dia dan Aruna.


Harusnya gue hajar bokongnya, umpat Kiano menyesal membiarkan Reno pergi dalam keadaan baik baik saja.


"Sudah, jangan marah," kata Aruna lembut sambil mengusap tangan Kiano yang menggandengnya.


Kiano tersenyum sambil menatap Aruna yang juga tersenyum padanya. Kekesalannya jadi betkurang.


"Kamu benar. Dia memang brengsek."


"Jangan ngomong gitu, Kiano. Aku, kan, lagi hamil. Anak kita bisa dengar loh," larang Aruna lembut.


"Eh, iya. Maaf banget, sayang," ucap Kiano tersadar.


Dia pun mengelus perut Aruna sangat lembut.

__ADS_1


"Maafkan papi, ya, sayang," ucapnya menyesal.


Padahal sebisa mungkin Kiano sudah bertingkah laku baik di depan calon bayi mereka.


"Pasti dimaafkan. Papinya orang baik, kok," sahut Aruna dengan senyum manisnya.


Kiano pun mengembangkan senyum senangnya.


"Ngga sabar nunggu dia lahir," ucap Kiano yang kini melepaska pegangannya pada lengan Aruna. Menggantinya dengan memeluk bahunya.


Sebentar lagi mereka akan tiba di ruangan Aruna.


"Iya."


Keduanya saling tatap dengan mata yang penuh binar. Padahal masih menunggu lima bulan lagi. Rasanya sudah ngga sabar.


"Nanti malam, aku boleh nengokin, ya?" pinta Kiano dengan mata sayu. Penuh dengan hasrat.


Lagi? batin Aruna grogi. Wajah Aruna semakin merona. Dia sangat mengerti maksud ucapan suaminya.


"Aku janji, bakal pelan pelan," balas Kiano dengan menatap Aruna semakin berhasrat.


Aaarrgghhh, Andai **s**aja bisa sekarang, seru Kiano membatin frustasi.


Padahal tadi malam dirinya juga sudah menjenguk bayi mereka.


"Iya," sahut Aruna salah tingkah. Dia masih saja malu jika mengingat malam malam panas yang selalu mereka lakukan.


Walau malu, tapi dia selalu menginginkannya. Hanya saja dia ngga bisa mengungkapkannya sejelas.dan seterang Kiano.


Dia malu tapi mau.


Aruna suka bingung dan stres dengan perubahan sikapnya sekarang.


Dulu dia sangat antipati terhadap Kiano, Tapi sekarang malah membiarkan Kiano melakukan apa saja dengan tubuhnya. Mengexplorenya tanpa sisa.


Gilanya lagi dia selalu merasa rindu saat menunggu Kiano akan melakukannya.


Kiano mengantarkan Aruna sampai masuk.ke.ruangannya.


Dua orang perawat yang berrada di sana seakan mengerti, kemudian meninggalkan ruangan.


Tanpa membuang waktu Kiano mengecup bibir Aruna untuk menyalurkan hasrat yang sudah memenuhi kepalanya.


"Emmpphh... Aku masih ada pasien, Kiano," lirih.Aruna memberitau.


"Sebentar saja," mohon Kiano sambil menghisap lembut bibir Aruna.


Aruna menahan d*es*ahan yang hampir saja keluar. Ada sekitar sepuluh menit mereka melepaskan ga*irah mereka.


"Aku pulang, ya, nanti aku jemput," kata Kiano sambil memasangkan kembali tiga kancing kemeja Aruna yang tadi dilepasnya.


"Ya," jawab Aruna dengan suara gemetar. Tubuhnya masih lemas karenanya.


Kiano mengecup kening Aruna sebelum meninggalkan ruangan Aruna.


Dua orang perawat perempuan yang berada di luar, menatap kepergian Kiano penuh senyum dan kagum akan ketampanan suami dokter Aruna.


Sambil menuju tempat parkir, Kiano sudah berencana untuk menghajar Reno yang sempat membuatnya kesal tadi.


Tapi pesan dari Reno yang baru saja masuk membuatnya tersenyum miring.


Dia sudah tau rupanya.....

__ADS_1


Reno mengabarkan kalo dirimya sudah berada dalam taksi online. Tidak jadi bareng dengannya.


__ADS_2