Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Hati Yang Cukup Menegangkan


__ADS_3

"Kiano kenapa?" tanya Tanara heran. Dia duduk di kursi yang agak jauh dari Aruna agar pasiennya ngga sungkan.


"Ngga tau kenapa. Tapi seperti ada yang dia sembunyikan," ucap Aruna sambil melihat daftar penyakit yang sedang diderita pasien yang akan masuk ntar.


"Aku jadi penasaran," tanya Tamara kepo. Dia memusatkan tatapannya pada Aruna.


"Katanya aku harus hati hati sama pasien. Aneh, kan? Memangnya pasienku bisa apa? Mereka ke sini karena ingin berobat," ucap Aruna sambil menatap Tamara minta pembenaran kalo Kiano sudah keterlaluan.


Tamara terdiam.


"Memang aneh," katanya kemudian. Tapi dalam otaknya mulai bermunculan pikiran pikiran buruk. Jantungnya pun berdetak kencang.


Ngga mungkin Kiano memberi warning seperti itu jika ngga ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang mereka belum tau.


"Di luar banyak yang jaga, kan?" tanya Tamara mulai paham akan jalan pikiran Kiano.


"Banyak, ada empat sampai lima orang. Orang orang papi. Orang orang Kak Athar udah aku suruh ngga usah aja. Kasian Kak Athar sama kak Al. Apalagi Kak Al sedang hamil, butuh banyak perhatian," jelas Aruna panjang lebar.


Tamara terdiam. Dia jadi ingin memastikan keselamatan Aruna dengan cara memeriksa para pasien itu satu per satu sebelum masuk ke ruamgan sahabatnya. Apakah bawa senjata tajam atau malah bawa senjata api. Tapi Tamara ngga mungkin ngomong terus terang dengan Aruna.


Kiano aja dibantahnya, apalagi dirinya.


Kadang dia ngga abis pikir dengan jalan pikiran Aruna yang terlalu polos. Susah banget curiga sama orang lain.


"Aku keluar bentar. Mau pipis," pamit Tamara yang diangguki Aruna.


Begitu Tamara membuka pintu, suster Uci sudah berdiri di depannya.


"Mba Tamara mau keluar? Saya mau manggil pasien," kata suster Uci agak kaget.


"Oh, engga jadi. Panggil aja pasiennya," kata Tamara sambil melirik pasien yang antri.


Ada lima, batinnya mulai menghitung dan memperhatikan. Pada pake masker, jadi Tamara susah melihat ekspresi mereka.


Dia pun masuk lagi. Lebih bahaya membiarkan Aruna sendiri di dalam, walaupun ditemani susternya.


"Ngga jadi pipis?" tanya Aruna heran.


"Ngga."


"Jangan ditahan Tamara, nanti bisa infeksi saluran kemih. Bahkan kamu nanti bisa kena gagal ginjal," jelas Aruna sesuai dengan pengetahuan kedokterannya.


"Alaaa..., baru sekali ini aja," bantah Tamara sekenanya.


"Nanti bisa pipis batu loh. Kamu mau pake kateter? Sakit loh Tamara," kata Aruna mengingatkan, sekaligus menakuti.


"Nggak lah Aruna. Ini juga tiba tiba ngga jadi aja. Udah hilang rasa pengen pipisnya," ngeyel Tamara mulai sebal karena diceranahi soal kesehatan.


"Ya, terserah kamu lah. Aku cuma memberitau," kesal Aruna karena Tamara ngga menurut.

__ADS_1


Tamara tertawa kecil melihat Aruna menyerah.


"Tuh, suster kamu mau ngantar pasien," tukas Tamara begitu melihat Suster Uci mauk ke.ruangannya bersama seorang pasien.


"Ohi iya. Silakan bu," ucap Aruna ramah pada pasien langgannannya, seorang ibu seumuran mamanya.


*


*


*


"Claudya, jangan mempersulit diri sendiri. Kalo ketahuan, susah buat kamu lepas dari penjara," panik Sasya memperingatkaan. Saat ini keduanya sudah dalam perjalanan menuju bandara. Tapi Tamara minta Sasya membelokkan arahnya ke rumah sakit tempat Aruna bekerja.


"Aku tau. Tapi rasanya aku ingin memberi dia sedikit saja pelajaran," kata Claudya ngeyel.


"Lupakan Kiano dan istrinya. Kamu berhak untuk hidup yang lebih baik," Sasya mencoba menasehati.


"Nggak. Aku nggak bisa, Sya," tolak Claudya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Kamu sendiri apa bisa melepaskan Kiano begitu saja? Apalagi kalian sangat dekat," pancing Claudya memanasi.


Sasya terdiam. Kalo ikutkan hati, pada saat tau Kiano akan menikahi gadis lain, Sasya akan mengamuk. Dia pun udah ada niat untuk melabrak Kiano saat akad.


Tapi tangisan mamanya membuat dia berusaha menekan kegilaannya dari patah hati. Apalagi kakaknya dengan rela melepaskan kerjaan kerjaannya yang sangat berharga hanya sekedar untuk menemaninya. Agar dia ngga merasa sendiri dan ditinggalkan.


"Claudya, kamu ngga kasian dengan mami mu? Ku dengar jantungnya sempat bermasalah?" bujuk Sasya lembut, berusaha mengetuk hati terdalam Claudya agar menguburkan keinginan jahatnya.


"Bisakah kita mampir ke kafe langganan kita. Aku ingin menikmati minuman di sana sebelum benar benar pergi," kata Claudya sambil menatap jauh ke balik kaca depan mobil.


"Oke, waktu penerbangan kita juga masih cukup lama," balas Sasya riang.


Lega mendengar ucapan Claudya yang secara ngga langsung akan ikut dengannya ke Inggris dan membatalkan niat jahatnya.


*


*


*


Dua jam sebelum Claudya berangkat ke bandara bersama sama dengan Sasya.


"Ya, saya mengerti," jawab Claudya lemah. Dia pun meletakkan ponselnya.


Agensinya yang di Inggris baru saja menelpon kalo kontraknya di beberapa majalah fashion yang cukup terkenal.di sana di putus. Bahkan pihak agensinya pun harus merogoh kocek cukup dalam untuk membayar pinalty yang sangat besar jumlahnya dalan euro.


Begitu juga beberapa fashion show nya dengan beberapa model dunia yang sudah cukup terkenal, dibatalkan begitu saja


Wajahnya yang menjadi model beberapa produk iklan pun kontraknya diputuskan mendadak, dan kembali harus membayar sejumlah uang yang sangat besar.

__ADS_1


Karir modelnya habis sudah. Kejahatannya yang hanya beberapa hari baru terkuak, sudah di ketahui di negara tempatnya terkenal sebagai model dari asia yang cantik, santun, kaya, dan seksi.


Tapi kenapa dadynya mendukungnya ke Inggris bersama Sasya. Apa mereka belum tau kabar pemutusan kontraknya?


Claudya menghembuskan nafas marah.


Mengapa keluarganya ngga bisa memback up kabar dirinya?


Baru sekali ini dia melakukan kejahatan kecil.


Claudya menatap foto dokter miskin itu yang sudah terdapat tiga lubang di bagian kepala dan dadanya. Setelah menyimpannya dia pun keluar dari kamarnya karena pintunya diketuk berkali kali.


Claudya tetap tenang, karena kamarnya berperedam.


Ternyata maminya yang menemuinya.


"Kamu jadi ke Inggris?" tanya maminya setelah mereka selesai makan.


Claudya menatap wajah maminya yang masih pucat tapi nampak.cemas.


"Iya, mi."


Maminya tersenyum. Ada perasaan lega menyusup dalam dadanya.


"Mami senang mendengarnya. Kamu berhak untuk hidup yang lebih baik," kata maminya dengan nafas agak tersengal.


"Mi, jangan banyak bicara dulu," larang Claudya agak cemas melihat keadaan maminya


"Mami ngga apa apa. Mami akan cepat sehat," janjinya sungguh sungguh sambil mengelus rambut putri kesayangannya.


Claudya ngga menjawab,nhanya diam memperhatikan wajah maminya dengan tatapan ngga terbaca.


*


*


*


"Ada apa mi?" tanya Melvin heran karena maminya menelponnya.


"Kamu harus segera pulang," ucap maminya dengan nafas tersengal.


"Kenapa Mi? Claudya jadi ke Inggris, kan?" tanya Melvin sambil melangkah keluar dari bandara. Melvin bermaksud menemui adiknya yang akan berangkat ke Inggris.


"Mami punya firasat aneh," desis maminya ngga tenang.


Melvin terdiam..Dia melirik jam di tangannya. Memang belum saatnya adiknya tiba di bandara. Penerbangannya masih sejam lagi


"Oke, mami ngga usah khawatir. Melvib yang tangani," katanya sambil melangkah mebuju mobilnya yang sedang mendekat.

__ADS_1


"Mami percayakan sama kamu," kata mami mulai tenang kemudian memutuskan sambungan telponnya.


__ADS_2