
Reno memukul jidatnya cukup keras kala menyadari sesuatu hal yang tadi dia lupakan saat bersama pasangan suami istri tukang palak itu.
DUK!
"Dasar bodoh!" sentaknya sambil menendang keras ban mobilnya bagian depan.
Dia sudah berada di samping mobilnya yang diparkir di basemen saat ingatan itu datang tiba tiba.
"Sial! Papi, kan, udah tau kalo gue udah nidurin Rain," makinya kasar.
"Bodoh!"
"Bodoh!"
Malah dengan bodohnya dia udah transfer lagi lima puluh juta ke sepupu lacnatnya itu.
Ketipu abis abisan dia. Udah dibohongin soal vitamin penyubur kandungan sampai membuat dia gelisah dan ketakutan sendiri. Malahan dia dengan suka rela memberikan uangnya pada nyonya perampok yang sedamg hamil itu.
"Aaaahh... bodohnya!" serunya jengkel.
Senoga anak lo cewe semua, ngga ada yang cowo. Gue kutuk lo! sumpah serapahnya dalam hati. Mangkel benar Reno dikerjain sepasang suami istri yang ngga ada akhlak itu.
Harusnya sebagai suami, Derry menasehati dan mencegah perbuatan jelek istrinya yang sedang hamil itu. Bukannya malah mendukungnya.
Dasar pasangan sinting!
Reno pun menghela nafas kasar.
Rain lagi ngapain, ya? batinnya bertanya.
Oh iya, pasti di perusahaannya lah ya. Kan ba,yak draft pekerjaan proyek yang harus dia kerjakan, batinnya kemudian tersenyum senang.
Mungkin setelah mencium sedikit bibirnya bisa membuat marahnya hilamg.
Memikir sampai ke sana dan sambil membayangkan bibir Rain, hasratnya jadi naik. Bibir Reno mengulaskan senyum mesumnya.
Akhirnya dia pun membuka pimtu mobilnya dan melajukannya ke perusahaan Rain.
*
*
*
"Nona Rain, ada yang mau ketemu," ucap Mona setelah memasuki ruangannya.
"Siapa?" tanya Rain dengan wajah suntuk, karena sedari tadi mengerjakan draft untuk proyek yang sudah dibantu Lilo.
Sebenarnya dia lagi malas menerima tamu. Tapi siapa tau tamu yang penting.
"Namanya Nadia."
DEG
Mendengar nama itu membuat jantung Rain berdetak keras.
__ADS_1
Masih segar dalam ingatannya kemarahan Nadia di kafe.
"Suruh masuk. Tapi Mona, tolong berjaga di dekat pintu masuk ruanganku, ya," pinta Rain dengan sorot agak takut.
Takut Nadia membuat keributan di saat dia sendirian saja di ruangannya.
Kalo Mona berjaga di dekat pintunya, setidaknya keadaannya akan cukup aman.
"Kenapa, nona?" Mona menangkap ketaknyaman saat dirinya menyebut nama Nadia dan memintanya untuk menunggunya.di balik pintu.
"Ngga apa apa. Tapi tolong tunggu di dekat pintu ruanganku, ya," pintanya lagi.
"Ya, nona," jawab Mona
dengan senyum di wajahnya.
"Kalo ada apa apa, nona Rain bisa tekan bel itu. Langsung terhubung ke sekuriti," ucap Mona memberitau sebelum pergi
"Oh iya," jawabnya lega, dia melupakannya. Karena mendengar nama Nadia, dia jadi panik dan pikirannya mendadak buntu.
Rain menunggu dengan jantung semakin berdebar ngga menentu.
Gadis itu muncul. Dia masuk ke ruangannya kemudian menutup pintu ruangan Rain.
Kini tatapannya menyorot tajam. Rain mencoba tetap tenang walaupun dia mulai merasa takut. Karena sepertinya Nadia memiliki emosi yang meledak ledak.
Rain sedikit meyesal ngga meminta Mona menemaninya di dalam ruangannya saja tadi.
"Ternyata kamu putri dari Om Ruslan dari PT Konstruksi Gemilang. Bukan sekedar anak kuliahan dan kasir kafe. Pantas kamu berani mendekati Reno," sindir Nadia sinis tapi dengan nada teratur.
Rain ngga menjawab. Hanya terus mengamati tingkah laku Nadia.
Nadia menatapnya dengan sorot benci. Saat pengawalnya yang dimintanya untuk menyelidiki siapa Rain, Nadia jadi sangat terkejut dengan informasi yang diberikan pengawalnya itu setelah menyelidikinya selama satu hari penuh.
Ternyata gadis itu putri tunggal Ruslan Dintara yang memiliki banyak perusahaan yang bergerak dibidang pembangunan apartemen dan advertising. Sempat hampir bangkrut karena ditipu rekan bisnis. Tapi dengan cepat bangkit lagi. Sekarang putrinya menjadi CEO menggantikan sementara papanya yang masih belum sehat.
Hemm... decih Nadia dalam hati. Sebelum bangkrut pun, perusahaannya tidak ada apa apanya dibandingkan dengan perusahaan keluarganya. Tapi kenapa Reno memilih bersama gadis ini dan memutuskan dirinya yang kualitasnya lebih tinggi, membuat harga diri Nadia terusik. Apa lagi mereka sudah bertunangan.
Selera yang bodoh! makinya dalam hati.
"Sejauh apa hubungan kamu dengan Reno? Sudah tidur bersama?" sindir Nadia lagi. Hatinya masih sakit karena ditinggalkan. Keinginannya sekarang hanya untuk menyakiti gadis sok polos di depannya.
Raut wajah Rain sesikit berubah mendengarnya.
Apa dia tau? batin Rain mendadak resah.
Melihat Rain yang hanya diam saja dan reaksinya yang sedikit kaget, membuat Nadia tambah geram.
"Ternyata kamu hanya gadis murahan saja. Mau maunya ditiduri tanpa ikatan," tawanya mengejek. Berderai derai.
Perasaan Rain sakit mendengarnya. Rain mengingat lagi kejadian yang bukan keinginannya. Tapi paksaan Reno. Hal yang ingin selalu dia lupakan.
Padahal Rain ngga tau, Nadia mengucapkan itu dengan sakit hati yang teramat parah.
Jangankan ditiduri. Reno bahkan ngga pernah mencium pipinya. Apalagi bibirnya. Padahal dia sangat mendamba hal itu.
__ADS_1
Kenapa dengan gadis ini Reno mau melakukannya. Dia pun mendengar banyak selintingan gosip di luaran betapa hot nya Reno dengan gadis gadis yang dikencaninya.
Tapi laki laki itu sedikit pun ngga berminat dengan dirinya. Padahal dia sangat cantik. Tubihnya juga seksi.
Mengapa laki laki itu ngga menginginkannya. Ala dia ngga menarik di mata Reno?
Kenyataan yang ada di hadapamnya sangat membuatnya muak.
Mengingat lagi kejadian di kafe, Reno yang melindungi gadis ini dari siraman jusnya dan meninggalkannya sendiri. Berdiri sendirian ditonton pengunjung kafe. Sangat memalukan.
Dia ingin menemui Reno, bertanya, kenapa dia tega padanya.
Tapi laki laki itu menghindarinya. Bahkan yang memutuskannya pun bukan Reno. Tapi papi Reno yang langsung menemui papinya.
Anehnya papinya ngga marah. Malah kata papinya sendiri saat mengatakan pemutusan pertunangan mereka, dia harus bersyukur karena Reno ngga menyentuhnya.
Nadia hanya bisa diam dan menangis di kamarnya.
"Kak Nadia, kakak ngga perlu ikut campur dalam urusan hidupku," ucap Rain dengan suara bergetar. Saat ini dia sedang menahan tangisnya.
"Apa yang akan terjadi pada papamu kalo tau putri yang dibanggakannya sudah sering ditiduri laki laki dengan bebasnya," sinis Nadia. Bibirnya tersenyum kejam.
Rain tersentak mendengarnya.
"Aku dengar papa kamu habis operasi jantung ya. Hemm... gimana, ya kalo dia tau kelakuan amoral anaknya," senyum sinis Nadia melebar.
"Apa mau Kak Nadia?" tanya Rain dengan mata yang memanas.
Gotcha! Ngga disangkanya anak ini gampang ditakut takuti, batinnya senang.
"Tinggalkan Reno. Terserah kamu mau pake alasan apa," tegas Nadia sambil bangkit dari duduknya.
Dia pun membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Rain yang sedang menatapnya dengan tubuh bergetar dan air mata yang mau tumpah.
"Aku tunggu sampai besok," katanya tanpa menoleh. Nadanya terdengar mengancam, kemudian membuka pintu dan agak kaget melihat sekertaris Rain berdiri di sana.
Tanpa mempedulikannya, Nadia terus melangkah pergi demgan hati senang.
Sebentar lagi Reno akan kembali padanya dan gadis itu akan menghilang.
Setelah gadis itu pergi, Mona dengan perasaan cemas masuk ke ruangan Rain.
Dia terkejut mendapati Rain sedang menangis sesenggukan.
"Nona, apa yang terjadi?" tanya Mona sambil mempercepat langkahnya mendekati Rain.
Mona pun memberikannya tisu yang diambil Rain dengan tangan bergetar. Dia pun menghapus air matanya.
"Gadis tadi siapa?" tanya Mona setelah melihat Rain mulai tenang. Perasaannya semakin khawatir.
"Susah aku jelaskan. Mona, terima kasih, ya. Tolong kalo ada yang mau menemuiku, katakan aku lagi ngga ada di ruangan," pintanya memohon.
"Baiklah," kata Mona lembut. Dia akan membiarkan Rain menenangkan dirinya dahulu. Bosnya yang masih muda ini terlihat sangat terguncang.
Perasaan Rain campur aduk. Takut dan kesal jika Nadia benar benar akan mengatakan pada papanya. Mungkin bukan hamya papanya yang tambah sakit, tapi bisa jadi mamanya juga. Mereka pasti kecewa terhadapnya.
__ADS_1