
"Aauww!" seru Regan kesakitan ketika dia terlalu memaksa mengangkat sebelah tangannya yang berada di dekat perban, agar bisa lebih jauh lagi meluncur ke bawah tubuh Dinda yang masih dilapisi baju panjangnya yang sudah tersingkap kemana mana.
"Mas, kamu ngga apa apa?" tanya Dinda tersadar dan menjadi panik mendengar jeritan kesakitan Regan dan wajahnya yang terlihat sedang menahan sakit yang amat sangat.
Regan masih belum menjawab, tapi wajahnya masih meringis.
Dinda pun memasang kembali kancing kancing bajunya yang terlepas dan merapikan pakaiannya yang sudah nenperlihatkan auratnya, sebelum turun dari atas ranjang Regan.
Dia mengamati perban di bahu bagian bawah Regan yang sedikit memerah.
Kemudian Dinda membetulkan posisi tangan Regan perlahan.
"Sakit ya?" tanyanya lirih.
Regan hanya mengangguk sambil memejamkan mata dengan ringisan di wajahnya
"Jangan aneh aneh dulu makanya," ucap Dinda khawatir campur malu
Dinda pun menyalahkan dirinya yang juga lupa kalo kondisi Regan belum baik baik saja.
Regan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan untuk mengurangi rasa sakit.yang masih terasa.
"Aku udah ngga apa apa," kata Regan setelah beberapa saat kemudian.
Dia tersenyum saat melihat wajah Dinda yang masih merona. Tadi dirinya hilang kendali karena mendengar erangan dan d*esa*han Dinda yang tertahan. Sampai lupa kalo tangan di sisi bahu yang terluka itu ngga bisa digerakkan dengan cepat.
"Perlukah aku panggilkan dokter?" Dinda menatap cemas pada perban yang sedikit memerah itu.
"Ngga usah. Ayo, tidur di sampingku. Aku ngga akan mengganggumu malam ini," bujuk Regan lembut.
Dinda menganggukkan kepalanya. Dia pun membaringkan tubuhnya ke.sisi dada Regan yang ngga dperban.
__ADS_1
"Ayo kita tidur," kata Regan kemudian mengecup kening Dinda dan membelai puncak kepalanya.
Jantung Dinda semakin cepat berdebar. Dia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur di dada Regan yang terasa nyaman.
Sementara itu Regan mengutuk dalam hati ketika melihat bayangan bayangan di balik gorden yang bergerak pergi.
Dasar tukang intip, makinya kesal dalam hati.
Kelakukan sahabat sahabatnya memang ajaib. Dulu di malam pertamanya Kiano dan Aruna. Sekarang.dl malam pertama dirinya dengan Dinda.
Regan yakin, pasti aktor pengintip itu tetap sama. Alva, Reno dan Glen.
Sementara di luar aktor aktor pengintip itu menahan tawa mendengar seruan Regan yang cukup keras.
"Sudah gue bilang, ngga bakal bisa unboxing malam ini. Luka cukup parah gitu," gelak Alva tertahan.
"Ngga sabar amat," ucap Reno juga dengan tawa yang ditahan.
"Regan paling kasian. Malam pertama paling cuma kiss bibir doang," tambah Glen sambil memegang perutnya yang sakit karena menahan tawa akibat membayangkan nasib apes Regan junior.
"Kissing kissing juga udah rejeki besar buat Regan. Tau sendiri, kalo belum nikah Dinda mana mau dicium Regan," sarkas Reno.
Arga dan Kiano ngga berkomentar apa apa. Tapi keduanya setuju dengan kata kata ketiga orang geblek itu. Senyum lebar pun menghiasi bibir keduanya.
Kali ini Regan salah. Aktor pengintip itu bertambah dua orang lagi. Kiano dan Arga. Dua orang yang ngga bakal dia sangka sangka.
Aruna, Tamara, Rain dan Qonita yang menatap pasangan mereka dengan kesal, tapi ngga dipedulikan. Kelimanya asyik sendiri dengan ulah jahil mereka. Laki laki dewasa yang masih kekanakan.
"Bubar bubar, gue udah ngga tahan mau ngakak," kata Glen sambil berjalan cepat menjauhi kamar Regan. Setelah cukup jauh dia pun melepaskan tawa kerasnya. Begitu juga Reno dan Alva.
"Ehem, ehem. Maaf mas, jangan berisik. Ini rumah sakit," tegur seorang dokter laki laki yang sedang melewati mereka bersama dua orang perawat perempuan.
__ADS_1
"Eh, maaf, dok. Tapi sebentar saja ya," tawar Glen dalam tawanya yang sulit untuk berhenti
"Iya, dokter. Sekali ini saja," pinta Reno di sela.tawanya.
Alva cuek aja meneruskan tawanya.
Dokter itu hanya menghela nafas sambil pergi.
Jeritan Regan sangat menggelikan.
Harusnya tadi direkam suara jeritan Regan, pasti akan sukses besar kalo di upload, batin Glennya sedikit menyesal.
Nantinya rekaman itu bisa dibuatnya untuk mengejek sahabatnya itu.
*
*
*
Riko masih berada di kantin rumah sakit sendirian. Dia ngga enak untuk.bergabung dengan teman teman Regan yang usianya lebih tua beberapa tahun dari pada dirinya.
Sedang kan orang tua kakak tirinya, bersama kakek dan nenek serta Aira sudah pulang sejak dari tadi. Begitu juga keluarga Dinda.
Lagian dia pun masih merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Regan.
Saat papa tadi menjelaskan apa yang terjadi pada Regan, Riko sudah memutuskan untuk pergi. Dia malu berada di dekat orang orang yang selalu disakiti hatinya oleh mamanya.Tapi suara kakek menahannya. Tumben laki laki tua itu ngga langsung mengusirnya. Tapi malah tetap memberikannya kesempatan untuk tinggal di rumahnya.
Riko menghembuskan nafas kasar. Tadi adik tirinya yang masih balita diajak papanya untuk tinggal di rumah kakeknya. Dia ngga tau pergi kemana Tante Meli - ibu balita itu. Papa ngga menjelaskan apa apa.
Kini mamanya berada di dalam penjara. Riko ingin menemuinya, tapi dia ngga akan tega menolak permintaan mamanya agar segera dikeluarkan dari penjara. Dia sudah kehilangan hak istimewanya sebagai anak papa dan mama. Akan sulit membebaskan mamanya, karena kuasa sepenuhnya ada di tangan neneknya.
__ADS_1