Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Kentang


__ADS_3

"Malam ini ke club ya. Pusing kepala gue," usul Reno setelah dia, Glen dan Arga keluar dari ruang meeting.


"Gue ngga bisa. Keluarga Qonita mau makan malam di rumah," tolak Arga sambil melepas jas Reno yang dipinjamnya.


"Makasih jasnya," sambungnya lagi sambil mengulurkan jasnya ke Reno.


"Kok, bisa jas lo kusut gitu. Untung gue punya serep jas di kantor," omel Reno sambil menerima jasnya. Arga hanya tertawa sebagai respon.


Untung saja Reno memiliki jas cadangan di ruangannya. Tapi Arga ngga akan pernah menceritakan kenapa jasnya bernasib apes.


Reno untungnya ngga memaksanya memberikan jawaban, tapi malah menatap Nova yang berada ngga jauh di sampingnya.


"Di laundry tempat biasa," katanya sambil mengulurkan jasnya ke Nova.


"Siap, pak," sahut Nova sambil menerimanya.


"Lo dipastiin nikah sama Qonita?" sergah Glen ngga percaya.


Lo, kan, belum move on, protesnya dalam hati.


"May be yes, may be no," jawab Arga santai.


"Lo slow banget. Ya, ngga apa juga, lo sama Alva nikah duluan. Gue sama Glen nyusulnya kapan kapan," gelak Reno. Glen juga ikut tertawa bersama Arga.


Dalam hati Arga ngga yakin akan menikahi dosen yang galak itu. Anehnya si dosen, kok, mau maunya menerima perjodohan ini. Arga masih menunggu itikad baik Qonita untuk menolaknya.


Harusnya Qonita langsung memutuskan perjodohan begitu Arga hanya akan mungkin memberikannya lima persen saja dari hatinya.


Tapi tadi pagi dia terpaksa menjemput Qonita atas titah ibu negara. Dan sang dosen pun ngga ada tanda tanda mau menolaknya atau melaporkan tindakan pelecehan yang dia lakukan tadi.


Dia spontan saja tadi, tapi efeknya masih terasa sampai sekarang. Dia jadi terus mengingatnya dan membayangkan hal hal yang liar.


Tanpa sadar Arga membuang nafasnya kasar.


"Gue cabut dulu, ya. Mau ada urusan lagi," pamit Arga sambil masuk ke ruangannya.


"Oke, gue juga mau tiduran bentar. Nanti malam gue ikut lo ke club," ucap Glen. Meeting kali ini sangat melelahkan.


"Oke," balas Reno senang.


Mereka pun berpisah dan memasuki ruangan masing masing.

__ADS_1


Reno yang barusan membuka pintu ruangannya sambil membuka kotak pesan di ponselnya, jadi kaget membaca isi salah satu pesan dari nomer baru.


08225466xxxx


Mas Reno, saya Rain. Saya minta nomer mas sama Vani.


08225466xxxx


Mas, saya mau jual perawan saya 200 juta. Saya tunggu jawabannya. Urgent


Di bayangan Reno muncul bayangan Rain. Gadis itu tinggi, putih, rambutnya panjang bergelombang dan dadanya,,,, ehem.


Teringat lagi akan kata kata Glen kalo Rain masih virgin.


Tapi kenapa dia ngga jual sama Glen? Reno membatin heran.


Hampir dua jam dikacangin pesan itu. Jangan jangan tawarannya sudah kadaluarsa.


Pikiran Reno yang berat dan kusut juga panas karena rapat yang jelimet, membuatnya butuh penyegaran lahir batin. Apalagi dapat yang virgin. Dua ratus juta kecil buatnya.


Reno tersenyum sendiri membayangkan pasti gadis ini baru memulai karirnya di dunia gelap.


Akan dia ajarkan agar bisa menjadi profesional.


Dia pun mengirimkan pesan agar gadis itu datang ke kamar tempat dia bersama Glen kemarin.


Reno pun tersenyum senyum membayangkan akan mendapatkan yang virgin. Hanya waktu SMA saja, beberapa kali Reno memperolehnya. Tapi setelah kuliah dan kerja, nggak pernah lagi. Semakin matang para perempuan itu sudah semakin susah mereka menjaga mahkotanya.


Reno masih mengingat betapa seksinya gadis yang bernama Rain itu. Dan pasti sudah matang di usia melewati angka dua puluhan. Pasti akan sangat menyenangkan.


Reno membuka dompetnya. Bibirnya tersenyum lega, masih tersisa dua sarung saktinya. Dia bisa menikmati gadis itu dalam waktu yang lebih lama.


Pikiran pikiran ngeres dalan otaknya membuat bagian penting bawahnya menegang.


Sabar jun, lo akan masuk ke sarang yang belum pernah dimasuki siapa pun, batinnya mengekeh.


Dia pun meraih kunci motornya, karena dia ingin secepatnya terbang bersama gadis itu.


Tapi langkahnya terhenti saat akan menarik handle pintu ruangannya.


Ponselnya bergetar, dia pun segera melihat notifikasi pesan yang masuk.

__ADS_1


08225466xxxx


Maaf


Reno menggeram marah.


"AAARRRGGG!" teriaknya marah sambil menggenggam ponselnya sangat erat. Ingin rasanya dibanting ponselnya saat ini juga, tapi dia teringat banyaknya jadwal meeting dan pesan pesan penting.


"Siaaaalaaaan!" teriaknya lagi frustasi. Kepalanya sudah sangat berdenyut.


Dengan terpaksa dia pun ke kamar mandi yang ada di ruangannya untuk menuntaskannya.


Awas aja kalo ketemu lagi. Berani beraninya mempermainkan juniorku.


Reno menggeram lagi.


DUG


DUG


DUG


Dia pun meninju beberapa kali dinding kamar mandi untuk mendapatkan pelepasannya.


"SIIAAAALLL!"


Mulutnya ngga henti hentinya memaki.


Dia ngga terima. Belum pernah ada seorang perempuan pun yang menolaknya di saat saat akhir.


Gadis ini berani sekali!


Kembali Reno menggeram sampai akhirnya benar benar tuntas.


Pusing di kepalanya hilang sudah, tapi kemarahannya masih berkobar dalam dadanya.


Harga dirinya direndahkan.


*Gadis sialaaan*nn!!!


Ngga henti hentinya Reno menyumpahi gadis itu. Gadis yang memberikannya harapan palsu.

__ADS_1


__ADS_2