
"Nurut kamu gimama Al? Bagus bagus ngga pilihan mami sama mamanya Tamara?" tanya mami Alva meminta pendaparnya saat mengeluarkan isi tiap paper bag dan menaruhnya di atas tempat tidur maminya.
Sengaja pagi ini Mami memanggilnya sebelum putra tunggalnya berangkat ke perusahaan dan menunjukkan hasil belanjanya bersama calon besannya kemarin.
"Iya, bagus, mi," ucap Alva ngga tertarik. Dia lebih tertarik untuk segera berangkat ke perusahaannya karena akan ada meeting penting.
Padahal Alva sudah memgatakan nanti aja melihatnya, tapi mami tetap aja memaksanya.
"Lihat, dong, Al," sergah maminya sambil menyodorkan sepasang sepatu dengan heels yang cukup tinggi.
"Bagus, kan?" tanya mami lagi dengan bangga. Pasti Tamara akan cantik sekali jika memakainya.
"Kenapa harus heels, sih, mam. Tamara itu pake yang ngga ada heelsnya aja biar dia lebih nyaman," protes Alva.
Alva memandang pada heels yang tipis itu dan membayangkan nasib Tamara yang buruk.
Pasti langsung patah, batinnya yakin.
"Tamara bisa kali pake heels. Tamara itu sempurna buat kamu. Dia cantik, bisa karate juga bisa masak. Mami, kan, tenang ngelepas kamu dengannya," semprot mami kesal karena Alva yang selalu saja memprotesnya.
Bisa masak? batin Alva ngga percaya.
Yang ada hancur lebur dapur karena tenaga saktinya, kecam.Alva lagi dalam hati.
"Kalo ini kamu pasti suka." Mami sudah mengubah ekspresi kesalnya saat mengambil isi dalan paper bag yang lain.
JRENG
Mata Alva membesar. Maminya menunjukkan tiga buah lingerie yang sangat tipis dan sangat tembus pandang.
Membayangkan Tamara dengan lingerie itu membuat bagian bawah sensitifnya berdenyut.
"Mami yakin dengan ukurannya?" cetusnya tanpa sadar.
"Yakinlah. Bahkan Tamara juga ikut waktu kita beli ini," kata maminya dengan wajah sangat senang
Apa? sentak Alva dalam hati.
Dia mau?
Apa nanti dia akan memakainya saat malam pertama? batin Alva diliputi banyak tanda tanya dengan denyut nadinya yang semakin cepat.
Alva memijat kepalanya. Dia harus segera pergi sebelum mami menunjukkan yang lebih parah dari ini.
Underwear Tamara!
"Mi, Al pamit dulu, ya," katanya sambil ngeloyor pergi.
"Tunggu, Al. Lihat dulu underwearnya," tukas mami sambil membongkar isi paper bag yang beliau maksud
Bener, kan!
"Mami simpan ajalah. Al pergi dulu, mam," serunya tanpa menoleh lagi.
Melihat lingerie aja sudah membuatnya berpikiran aneh. Apa lagi nanti kalo meliaht underwearnya, batin Alva mulai merasa kacau.
Alva menghembuskan nafas kuat kuat agar segala pikiran ngga benarnya lenyap dari kepalanya.
Apalagi akan menemani papi saat meeting nanti. Dia harus bisa fokus dan konsentrasi.
__ADS_1
Tapi sayangnya selama meeting, bayang bayang Tamara dengan lingerienya berputar putar terus di dalam kepalanya.
Untung papi Alva ngga begitu memperhatikan kalo pikiran putra semata wayangnya ngga tertuju pada rapat.
"Alva," panggil papinya setelah hanya tinggal mereka berdua saja di ruang meeting.
"Iya pi," sahut Alva dengan jantung berdebar keras. Takut papimya memarahinya karena tadi dirinya sering kelihatan bengong saat meeting berlangsung tadi.
"Ikut ke ruangan papi," titah papi sambil melangkah duluan.
Tanpa bamyak kata Alva menurut dan mengikutinya. Dalam hati dia bersyukur papinya ngga menegurnya soal rapat tadi.
"Kamu ke kantor Tamara, ya. Ini undangan buat teman temannya," kata papi sambil mengulurkan paper bag ketika sudah memasuki ruangannya.
"Kenapa ada di papi?"
"Asisten papi tadi yang ngambil di percetakan."
"Kenapa bukan asisten papi aja yang ngasih ke Tamara," cicitnya sambil menerima paper bag itu.
"Kamu, kan, calon suaminya," ucap papi sambil memggeleng gelengkan kepalanya.
Setidaknya beliau bersyukur karena Alva akan menikah dengan Tamara yang lebih dewasa. Jika bersama Meti, pasti mereka sebagai orang tua akan dibuat pusing tujuh keliling.
Meti yang manja bertemu Alva yang keras kepala. Bisa huru hara setiap hari.
"Alva pergi, Pap," pamitnya sambil melangkah keluar ruangan papinya.
"Hati hati."
Ketika akan memghampiri motornya, ada notifikasi pesan dari Glen.
Seperti biasa Alva menunggangi motor sport kesayangannya untuk ke kantor Tamara.
Suasana pekarangan kantor Tamara mulai rame karena bertepatan dengan jam istirahat makan siang.
Alva pun membuka helmya dan menelpon Tamara, masih duduk di atas motornya.
Dering pertama ngga diangkat.
"Sok sibuk amat ngga angkat panggilan gue," gumamnya dengan berdecak kesal.
Derimg kedua juga ngga diangkat.
Dengan kesal Alva menelpon lagi.
"Lo ngga angkat, gue pulang," kesalnya lirih dengan wajah masam.
"Ada apa?" suara Tamara terdengar ngga ramah, seperti biasa.
"Gue di parkiran. Cepat lo keluar," perintahnya tanpa.basa basi.
Hening, ngga ada jawaban.
"Aku ngga lagi di kantor."
"Haah! Lagi dimana?" tanya Alva kesal.
Ijin kek kalo mau pergi pergi. Gue ini bentar lagi jadi suami lo, batinnya kesal.
__ADS_1
"Lagi di gedung pelatihan. Ngawasi pertandingan."
"Sama laki laki itu?" tanya Alva curiga.
"Wahyu maksudnya?" tebak Tamara sambil melirik Wahyu yang ada di sampingnya. Selain itu juga ada Disa, Mita, Gerry, dan Ongki.
"Sama dia ya?" marah Alva mulai ngga bisa menahan diri.
"Sama yang lain juga. Kamu ada perlu apa?" tanya Tamara agak heran. Udah beberapa hari mereka ngga ketemu, karena harus merampungkan pekerjaan sebelum hari pernikahan tiba.
"Kenapa, sih, lo ngga bilang bilang. Gue udah jauh jauh ke sini," sentak Alva kesal.
"Kamu juga ngga ngabarin mau datang," kilah Tamara ngga mau disalahkan.
TUTS
Dengan kesal Alva memutuskan telponnya.
Alva menghembuskan nafas dengan kesal.
Dia pun mengenakan helmmya dan melajukan motornya ke kafe tempat Glen berada. Dia butuh tempat buat curhat.
Tapi saat melihat ngga hanya ada Glen di situ, bahkan juga ada Reno dan Regan dan dua orang gadis cantik berbeda tampilan, mood kesalnya makin menampakkan di wajah manyunnya.
Ngga mungkin dia curhat di dengar dua perempuan itu.
"Calon pengantin tiba," kekeh Glen menyambut kedatangan Alva di depan pintu masuk kafe.
"Lo kenapa? Salah minum obat?" kecam Glen karena mendapati wajah sahabatnya yang manyun.
"Mereka.siapa?" tanya Alva malas meladeni omongan Glen.
"Yang pake hijab, Dinda, calon istrinya Regan. Yang satu lagi Nadia, calon istri Reno," jelas Glen sambil merangkul bahunya berjalan mendekati meja mereka.
Alva sampai menghentikan langkahnya saking kaget mendengar kata kata yang Glen ucapkan.
"Lo serius itu pacar Regan?" tanya Alva sambil menatap Glen penuh selidik.
Cantik, sih. Apa selera Regan sudan berubah? batinnya heran.
"Lagi otewe," kekeh Glen lagi.
Kini pandangannya beralih pada Nadia.
"Beneran Reno dijodohkan?"
"Tuh, buktinya," sahut Glen santai.
Alva kembali menghembuskan nafasnya.
Dia terlambat tau perkembangan teman temannya. Kerjaan kantor dan acara pernikahannya menghabiskan banyak waktunya untuk bersenang senang.
"Tamara mana?" tanya Glen heran yang ngga melihat kehadiran Tamara.
"Jangan sebut namanya. Bikin kesal aja," ketus Alva galak.
Glen tertawa mendengarnya.
"Mau nikah malah marahan," kekehnya lagi ngga peduli dengan lirikan tajam Alva padanya.
__ADS_1