Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Eksekusi


__ADS_3

"Terima kasih ya, Tamara. Om sebagai papinya Alva merasa beruntung karena Alva punya teman seperti Tamara juga seperti sahabat Alva lainnya," sahut papi Alva lembut.


Alva memang beruntung memiliki teman teman yang peduli padanya. Padahal papinya sangat tau watak semena mena putranya. Apalagi Tamara, papi Alva sepertinya ngga pernah mengenalnya.


Mantannya? batinnya mencoba menebak.


Gadis di depannya juga cantik dengan rambut pendek seperti polwan yang selalu viral di tivi.


Tapi sepertinya ngga mungkin, sangat jauh dari kriteria putranya dari gadis gadis yang selalu digosipin dengannya.


"Iya, Alva sangat beruntung punya kalian," tambah papa Meti sambil tersenyum pada Tamara dan ketiga sahabat Alva.


"Boleh Om minta bukti rekaman CCTV nya? Om akan suruh anak buah Om ikut mencari, biar lebih cepat," kata papi Alva sambil menoleh pada Regan. Beliau sudah ngga sabar untuk membalas siapa yang berani menganiaya putra kesayangannya.


"Saya kirim ke ponsel, Om, ya," ucap Regan sambil mengeluarkan ponsel dan mengirimkannya beberapa rekaman itu pada papi Alva.


"Oke. Om tinggal ya. Om mau lihat Alva," pamitnya begitu mendapat notifikasi beberapa pesan dari Regan.


"Oke, Om," sahut Regan. Sedangkan Glen dan Arga mengangguk sopan.


"Aku sampai kapan di sini?" tanya Tamara kesal ketika kedua laki laki paruh baya itu memasuki ruangan Alva.


Ketiganya saling pandang.


"Tunggu sebentar lagi, ya. Ini masih bahaya buat kamu,Tamara," ujar Arga mencoba memberi pengertian.


Tamara mendengus kesal. Dia sudah sangat capek. Perjalanannya, menolong Alva, membuat tubuhnya membutuhkan istirahat sekarang.


Regan segera mengangkat telponnya yang bergetar. Omnya yang di kepolisian mengabarkan sudah menemukan pemilik SUV yang di maksud. Sekarang Omnya dan beberapa polisi akan melakukan penggeledahan.


Yang membuat Regan tercenung adalah nama pemilik.SUV itu. Dia menatap Glen yang juga menatapnya. Begitu juga Arga.


Glen juga baru saja mendapat telpon dari kepala pengawalnya, begitu juga Arga, Om Bari sudah mengabarinya tentang identitas kepemilikian para pengawal yang mengeroyok Alva. Dan Glen tau, dia salah telah membela Claudya lebih dari sahabat sahabatnya.


Ngga lama kemudian Kiano pun menelpon. Dan mengatakan hal yang sama. Bang Athar dan Aries sudah memastikan kalo Claudya lah dalang di balik tabrakan Aruna dan susternya.


"Apa? Sekarang Alva gimana?" tanya Kiano cemas. Ngga disangkanya Alva masuk rumah sakit karena dikeroyok.


"Sudah ngga apa apa. Tamara yang menolongnya," jelas Regan.


"Tamara?" tanya Kiano heran dan bingung.


Kok bisa, batinnya sambil melirik Aruna yang sudah terlelap. Istrinya itu gampang sekali terlelap, padahal Kiano baru memulai ronde pertamanya.

__ADS_1


"Sekarang Tamara di rumah sakit. Gue ngga mungkin ngelepas dia pulang ke hotel sendirian. Apalagi Aruna sama lo ngga di resort," tukas Regan sambil melirik Tamara yang sedang memejamkan matanya sambil duduk menyandar di kursi tunggu.


"Tahan Tamara. Sekarang keadaan cukup genting. Om Herman pasti melakukan banyak cara untuk membalas kita kalo putrinya tertangkap," tegas Kiano. Tanpa disadarinya, Tamara jadi terlibat dalam urusan mereka yang berbahaya.


"Oke."


"Kalian hati hati, ya," pesan Kiano merasa khawatir.


"Beres, jangan khawatir. Om Bari dan pengawalnya akan segera ke sini," ucap Regan santai.


"Ya, salam buat Om dan Tante," kata Kiano sebelum memutuskan sambungan ponselnya.


Regan menatap Glen yang duduk menyandar dengan tangan di belakang kepalanya. Matanya pun terpejam.


Arga yang tadinya ikut mendengar percakapan Regan, menatapnya sambil menggelengkan kepala. Regan mengerti, mereka akan membiarkan Glen sendiri.


*


*


*


"Kamu kenapa bisa ceroboh?!" marah Herman Permana pada putrinya.


Kini mereka sudah berada di salah satu ruangan di dalam kantor polisi.


"Dady, tolong aku," isak Claudya dalam takutnya. Dia ngga mau berada dalam sel walaupun atas kekuasaan papinya, dia bisa mendapatkan sel istimewa.


Papi menghela nafas kasar. Beliau sendirian menemani putrinya. Sedangkan Melvin menunggu istrinya di rumah yang jatuh pingsan karena penangkapan putri mereka oleh polisi yang tiba tiba.


Selusin pengacara terbaik sudah beliau kerahkan. Masalahnya kejahatan putrinya cukup banyak. Ada tiga keluarga kaya raya dan berkuasa yang ngga mungkin akan melepaskan putrinya begitu saja.


Yang ngga disangka ternyata istri Kiano adalah adik ipar dari salah satu putra Banyunugroho. Bahkan para pengawal putrinya melakukan hal ceroboh dengan menganiaya putra tunggal dari Rifki Kurnia. Tuntutan berlapis pun dilayangkan pada putrinya.


Banyunugroho dan Rifki Kurnia adalah relasi bisnia beliau, sama seperti Dika Artha Mahendra. Beliau bahkan sudah mendapat kabar penghentian kerja sama dari tiga rekannya itu.


Herman tidak mempermasalahkan kerugian yang dirinya terima, tapi nasib putrinya yang akan berada dalam penjaralah yang dia pikirkan. Pasti putrinya akan mendapat tuntutan yang sangat lama.


Herman menghembuskan nafas kasar. Ternyata putrinya tidak sepintar yang dia bayangkan.


*


*

__ADS_1


*


"Jadi kamu mendengar pengawal itu akan mencelakakan Kiano?" sergah Glen langsung kesal.


Begitu Alva tersadar, dia langsung meminta dipanggillkan teman temannya.


Alva merasa gerah karena Meti selalu saja memeluk tangannya yang ngga diinfus


"Karena itu kamu buntuti? Kamu terlalu nekat," semprot Glen lagi. Hampir saja nyawa Alva melayang karena kecerobohannya.


"Gue ngga nyangka kalo dia bawa teman banyak," kilah Alva membela diri sambil berusaha menarik tangannya yang terus digenggam erat Meti.


"Meti, bisa lepaskan. Kakak mau minum," ucapnya berusaha menahan kekesalannya. Karena di ruangan tersebut ada orang tuanya dan orang tua Meti, juga teman temannya. Hanya satu orang yang ngga terlihat.


Dia sudah pulang? batinnya agak kecewa.


Teringat kembali perbuatan gilanya yang memeluk, mencium dana mere*mas tubuh Tamara.


Dia seksi juga, tanpa sadar senyum miring tersungging di bibirnya.


"Kak Alva, kenapa senyum senyum. Suka, ya, Meti pegang tangannya," goda Meti membuat mereka yabg ada di situ tersenyum, bahkan sahabat sahabatnya terlihat senang dengan senyum mengejeknya.


Senyum Alva pun menyurut.


Lain yang dia bayangkan, lain yang merasakan.


Dia berusaha tetap sabar.


"Tamara mana?"tanyanya mengalihkan perhatian.


"Tamara? Kakak yang tadi?" seru Meti kesal.


"Iya."


"Dia siapanya Kak Alva?" tanya Meti marah.


"Dia pacar kakak," jawab Alva cepat tanpa memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Baginya saat ini Meti harus patah hati dan melupakannya sebagai calon suami.


Regan, Arga dan Glen sama ternganganya dengan Meti.


Kamu, asem banget, Al, rutuk Arga kesal campur geli.


Dasar nekat, Glen pun ikut mengumpat.

__ADS_1


Regan menghembuskan nafas kasar. Heran dengan Alva yang ngga ada kapok kapoknya, padahal sudah dihajar Tamara.


"Kak Alva bohong!" teriak Meti kencang bercampur tangis. Untung saja saat ini Alva sudah dipindahkan ke kamar yang superr VIP dengan dinding yang tebal hingga suara teriakan Meti ngga akan mengganggu pasien lainnya.


__ADS_2