
"Regan, gue mau minta tolong sama lo buat nge handle proyek kita bersama Claudya," kata Kiano ketika Regan berkunjung ke resortnya saat hampir tengah malam.
Untung saja Aruna sudah tidur akibat kegiatan panas mereka. Ngga tanggung tanggung, Kiano melakukannya sampai dua ronde. Padahal tadi saat istrinya sudah lemas dan jatuh tertidur, Kiano sudah bersiap akan melakukan fore play untuk melanjutkan ronde ketiganya.
Dia menjadi sangat mesum saat bersama istrinya. Kiano pun ngga bisa menahan hasratnya. Rasanya berbeda dengan para gadis yang dulu dikenalnya. Aruna sangat menggugah hasrat kelelakiannya.
Tapi gangguan datang dari Regan. Sahabatnya itu mendatanginya dengan wajah kusut. Perdebatannya dengan Glen siang tadi ternyata cukup mempengaruhi dirinya.
"Kenapa gue? Lebih baik Glen," tolak Regan sambil memandang ombak yang sedang bergulung gulung. Angin malam yang berhembus sangat menyegarkan.
"Glen jadi asisten Lo," kata Kiano sambil duduk di samping sahabatnya.
Regan menghembuskan nafas kesal.
"Harusnya gue agak mengerem kata kata gue," sesalmya. Ngga disangkanya Glen bisa se naif itu menanggapinya.
"Besok Glen pasti sudah normal lagi," kekeh Kiano santai.
"Semoga," harapnya dengan pandangan jauh ke dalam gelapnya malam.
"Tapi gue memang curiga sama Claudya," ucap Regan pelan.
"Gue juga."
Regan menoleh dan menatap Kiano sebentar sebelum terkekeh.
"Arga juga curiga," tambah Regan senang karena mendapat satu lagi pendukungm
Kiano menganggukkan kepalanya.
"Sebelum kejadian itu, paginya Claudya menemui Aruna di rumah sakit. Kata Aruna, Claudia seperti marah karena pernikahan kami," cerita Kiano.
"Claudya harus kita awasi," tandas Glen.
"Tentu saja," jawab Kiano setuju.
Saat ronde pertama usai, mereka pun berbicara dari hati ke hati. Kiano berhasil membuat Aruna menceritakan tentang kedatangan Claudya ke ruangannya.
"Apa aku ini perebut kekasih orang?" *tanya Aruna polos membuat Kiano tertawa.
"Aku malah ngga mengenalnya," kekeh Kiano santai.
"Tapi kenapa dia marah?" Aruna mengerucutkan bibitnya kesal.
"Orang ganteng sudah biasa banyak yang naksir," kekeh Kiano lagi, kali ini sambil mengacak acak rambut Aruna gemas karena melihat Aruna memcibir sinis.
"Lagi, yuk?" Tanpa menunggu jawaban Aruna, Kiano kembali menerkamnya seperti singa lapar*.
__ADS_1
"Aruna, apa belum ketahuan siapa yang mau menabrak kalian?" tanya Tamara masih sangat khawatir.
Sejak mengetahui apa yang sudah terjadi pada Aruna, Tamara pun bersikap sama seperti Kiano. Begitu juga orang tua, mertua, dan kakak Aruna. Selalu menelponnya. Tapi memang tidak seekstrim Kiano yang menelponnya tiap jam.
Bahkan orang tua dan mertuanya sudah menemuinya dengan penuh kecemasan. Aruna sampai ngga tega melihat mamanya sampai menangis dan meminta Aruna untuk cuti kerja dulu saja agar selalu bersama Kiano. Karena mereka lebih tenang jika Kiano di dekat Aruna.
Setelah Kiano, Athar dan papa mertuanya menjamin keselamatannya dengan memberikannya cukup pengawalan, barulah mama bisa tenang.⁰
"Belum."
Terdengar dengusan sebal Tamara.
"Heran, hebat banget sampai sekarang bisa belum ketahuan," geram Tamara.
Pasti bukan orang sembarangan, duganya dalam hati
"Tapi beberapa hari ini aman aman aja. Mungkin orangnya udah insaf," sahut Aruna santai. Dia hanya ingin menenangkan Tanara, walau dalam hatinya ngga yakin akan kebenaran ucapannya sendiri.
"Aruna - Aruna. Mana mungkinlah dia insaf. Besok sore abis tanding, aku langsung ke resort kamu. Aku udah booking hotel suamimu," kata Tamara panjang lebar dengan nada gemas.
Ni anak pikirannya lurus aja. Udah ada org jahatin sampe segitunya masih juga belun sadar, batinnya mengomel.
Aruna tertawa.
"Santai, Tamara. Kiano dan Kak Athar sudah nyiapin banyak pengawal. Gila aja kalo masih berani," tukasnya di sela deraian tawanya.
"Syukurlah. Tapi gue tetap akan ke tempat lo. Jagain lo lah dua sampai tiga hari. Tangan gue udah gatal mau ninju orangnya kalo ketemu," ngeyel Tamara penuh semangat.
"Iya - iya," sahut Aruna masih santai dalam tawanya. Dalam hati dia merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Tamara.
Claudia merasa sangat kesal. Sudah beberapa hari ini dia menahan diri. Menahan kecemburuan dan kemarahan.
Kiano menyerahkan segala kendali urusan kerja sama mereka pada temannya, Regan. Memang ngga ada perjanjian tertulis harus Kiano yang menangani kerja sama mereka.
Apalagi para pengawalnya selalu mengirimkan video kemesraan Kiano.saat mengantar dan menjemput Aruna. Bukan salah mereka, tapi itu adalah permintaannya.
Dadanya merasa terbakar. Kiano yang selama ini setau Claudya selalu bersikap acuh ngga acuh dan dingin terhafap perempuan. Apa lagi saat melihat interaksi Kiano bersama Sasya. Kiano selalu menunjukkan sikapnya yang datar.
Kenapa bisa berbeda sekali?
Saking penasarannya, Claudia menyelidiki masa lalu Kiano dan Aruna. Hingga menemukan jawaban kalo mereka berdua pernah bersekolah di SMA yang sama. Tapi yang anehnya keduanya ngga pernah ada isu pacaran. Bahkan Aruna saat itu adalah anak SMA bertubuh yang cukup gendut.
Ngga mungkin Kiano menyukai perempuan gendut begitu, sarkasnya dalam.hati. Karena Claudya ngga mendapatkan info apa pun tentang kedekatan mereka waktu SMA.
Tapi Aruna bertransformasi. Lebih tepatnya bermetamorfosis menjadi kurus setelah dia menjadi dokter.
Menurut informan yang Claudya terima, keduanya senpat bertemu saat SMA mereka mengadakan reuni. Dan Kiano mulai terlihat aktif mendekati Aruna setelah acara reuni itu hingga akhirnya mereka menikah.
__ADS_1
Claudia merasa sangat kesal, mengapa dia bisa kecolongan seperti ini. Claudya berpikir selama ini Sasya lah saingan terberatnya. Ternyata dia salah besar. Sasya pun sangat shock dengan pernikahan Kiano.
Claudya menghembuskan nafas kasar. Sekarang sangat sulit mendekati Aruna yang dijaga berlapis lapis pengawal. Belum lagi Kiano yang lebih protektif pada istrinya.
Ada rasa iri dalam relung hatinya. Hanya seorang dokter dari kalangan orang biasa bisa membuat Kiano, putra pengusaha konglomerat yang sangat terkenal tertarik dan bereaksi berlebihan.
Harusnya Kiano lebih tertarik pada model seperti Sasya atau model yang merangkap CEO seperti dirinya.
Kiano juga sepertinya menghindari bertemu dengannya. Mungkin dokter miskin itu sudah meracuni pikiran Kianonya.
Claudya mendengus kesal.
Tiba tiba telponnya yang di atas meja bergetar.
Dady? batinnya heran ketika melihat nama si penelpon.
"Ada apa dady?" tanya Claudya langsung. Moodnya benar benar lagi jelek.
"Kenepa? Gagal dekati Kiano?" kekeh dadynya mengejek.
"Dady sudah tau malah nanya," sahut Claudy ngambek membuat dadynya tertawa.
"Dady ada kabar gembira buat kamu," ucap dadynya setelah puas menggoda anak gadisnya.
"Kalo bukan Kiano, aku malas, dad," tolaknya kesal.
Herman, sang dady, kembali tertawa.
"Datanglah ke hotel Palaze. Dady nunggu kamu bersama Kiano," kata dady penuh arti.
"Dady serius?" kaget Claudya sangat senang.
"Yes, cepatlah. Mereka lagi on the way."
"Mereka?" Dahi Claudya berkerut.
"Kalo sama istrinya, aku malas, dad," tolaknya ngambek.
Herman kembali tertawa.
"Kiano bersama kakak dan papanya. Cepatlah. Damdan yang cantik," titah dadynya sambil menutup sambungan telponnya.
Wajah cemberutnya kembali bersinar lagi. Dengan cepat dia pun keluar dari ruangannya, menuju butik langganan. Setelah memakai baju seksi dan terlihat anggun, Claudya pergi ke hotel yang dimaksud dadynya.
Kiano merasa malas mengikuti pertenuan ini. Apalagi Claudya seperti tanpa malu selalu berusaha berada di dekatnya.
Kiano berusaha sabar, karena sepertinya pertemuan ini akan berlanjut dengan perjodohan Melvin, kakak laki laki Claudya dengan kakak perempuannya, Aisha.
__ADS_1
Walaupun para orang tua itu membicarakan proyek, tapi Kiano dapat menangkap hal yang tersembunyi.
Sangat aneh kakaknya yang ngga tertarik dengan perusahaan keluarga dilibatkan dalam pertemuan ini. Kakaknya adalah seorang desainer gaun pengantin. Dia punya perusahaan sendiri. Bukan perusahaan besar, tapi kakaknya sangat menikmatinya. Saking sukanya dengan pekerjaannya, kakaknya belum juga berpikir untuk menikah. Mungkin karena itu membuat mami dan papinya khawatir. Padahal Kiano melihat kakaknya enjoy saja walau tanpa pendamping.