Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Meti dan Tingkahnya


__ADS_3

"Mungkin Alva akan nginap semalam," jelas mama Alva pada calon mantunya, Tamara.


""Kamu hobi, ya, Al, nginap di rumah sakit cuma semalam. Seperti nginap di hotel aja," goda mama Meti terkekeh menbuat yang lainnya juga terkekeh dan tersenyum.


"Rumah sakit jadi hotel, tante, buat Alva," timbrung Reno gantian meledek.


Alva hanya diam saja, tapi wajahnya merengut kesal mendengar ucapan Reno.


"Calon pengantinnya udah babak belur duluan," gelak Glen tambah semangat mengejek sahabat yang terlihat mati kutu.


Apa karena ada Tamara? tawanya dalam hati ngga percaya.


Tapi ngga mungkin, bantahnya lagindalam hati.


Suasana rumah sakit tambah segar oleh gelak tawa.


Hanya Meti yang menampilkan wajah cemberutnya.


"Tamara, kamu juga harus banyak istirahat. Besok mungkin baru kamu akan ngerasa pegal pegal," kata mama Meti penuh perhatian


"Iya, tante," sahut Tamara patiuh. Sebenarnya Sekarang pun Tamara sudah merasakan tangan dan tubuhnya berdenyut. Cuma dia menahannya. Tamara pun menyandarkan tubuhnya di pinggiran sofa.


"Para calon pengantin harus fit. Kalo bisa jangan ada acara berantem berantem lagi," harap papi Meti.


"Betul," timpal papa Alva.


Semoga ini yang terakhir, batinnya. Hatinya begitu ngilu melihat tubuh anak kesayangannya luka luka dalam beberapa hari ini . Beliau sebagai orang tua saja ngga pernah menurunkan tangan keras pada Alva. Tapi orang lain seenaknya melukai putra satu satunya.


Yang lebih menyakiti hatinya, pelakunya orang yang sama, yang ayahnya sudah dianggap sahabat dalam bisnis bertahun tahun lamanya.


"Kak Alva mau minum? Meti ambilkan," kata Meti manja sambil melirik Tamara yang tampak cuek duduk di samping mami Alva.


Alva hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, sih, kakak jadi gagu. Padahal biasanya cerewet banget sama aku. Apa karena ada calon istri kakak itu," rajuk Meti manja, tapi matanya mengerling jahat pada Tamara.


Rasamya pengen Tamara jahit mata yang suka melirik marah padanya itu. Biar ketutup sekalian.


Aruna senyum senyum melihat reaksi gusar Tamara yang sudah ditahan tahannya sejak tadi. Dia jadi teringat pada sahabat adik Kiano dulu, Nabila, yang juga begitu centil pada Kiano dan membenci dirinya terang terangan.


"Tamara, jangan diambil hati, ya. Meti masih kecil dan sangat manja," ucap mama Meti dengan senyum gelinya. Sikap anak tunggalnya benar benar masih kekanakan. Makanya mama Meti ngga yakin kalo Meti akan bisa mengurus suaminya jika sudah menikah nanti. Apalagi dengan Alva, yang sama kekanakannya dengan putrinya.


Saat Alva menggagalkan perjodohan mereka, memang ada sedikit rasa kecewa Itu karena Alva sudah dianggap sebagai putranya sendiri dan cukup bertanggung jawab. Tapi rasa besar hatinya menyadari kalo keduanya lebih bahagia sebagai adik kakak saja membuatnya bisa menerima keputusan Alva.


Lagi pula Alva tetap baik dan perhatian terhadap Meti.


Tamara hanya mengangguk, berusaha menganggap kelakuan julid Meti bukan masalah besar baginya.

__ADS_1


Alva memijat keningnya melihat tingkah calon jodoh ngga jadinya, membuat sahabat sahabatnya saling melempar senyum mengejek untuknya.


"Meti, sudah jangan repor repot. Mending kasih kakak aja minumannya. Kak Glen haus, nih," goda Glen manja sambil.mengulurkan tangannya ke arah minuman yang akan Meti berikan oada Glen.


"Ngga, minuman ini khusus untuk Kak Alva," ketus Meti bersikeras dengan melototkan matanya. Memang minuman itu dia sengaja bawa dari rumah dan dikeluarkan dari dalam tasnya hanya untuk seorang Alva.


"Emangnya itu minuman apa?" pancing Reno ikut menggoda Meti.


"Ya ada, deh," sahut Meti berahasia.


"Jangan jangan udah kamu kasih pelet, ya, di minumannya," tawa Glen mengejek membuat wajah Meti seperti kepiting rebus.


"Enggaklah. Kak Glen ngawur," kilah Meti membantah sewot.


Tapi Glen sudah ngga bisa menghentikan tawanya, begitu juga Reno, Regan dan Alva.


Sedangkan Kiano hanya mengusap bahu Aruna lembut.


"Semoga kamu terbiasa, ya, sayang. Teman temanku rada gila," ucapnya pelan demgan wajah sumringah.


Aruna hanya balas menggenggam tangan Kiano di bahunya sambil mengangguk.


"Tamara, mungkin kamu ingin ngomong dengan Alva?" tanya Regan setelah tawa mereka usai.


"Ngga ada," bantah Tamara sambil menggelengkan kepalanya.


"Dia ngga serius sama Kak Alva. Harusnya, kan, nanya gimaana keadaan Kak Alva," cela Meti sinis.


Anak ini, batin Tamara terusik.


Kamu beruntung karena orang tua kamu ada di sini. Kalo engga, udah habis gue smackdown,r rutuk Tamara dalam hati. Udah gatal rasanya tangannya untuk menampol mulut yang ngga pernah sekolah itu.


"Kalo Kak Alva sama Meti, Meti pasti akan urus kakak sampai sembuh," kata Meti lagi membuat yang mendengarnya pada meringis akan keagresifan Meti.


*l


*


*


Akhirmya Meti pulang juga bersama mami dan papinya. Walaupun enggan dan terus menolak karena ingin bertahan di samping Alva, tapi syukurlah orang tuanya berhasil memaksanya.


"Lo kasih obat apa sampai Meti posesif banget sama lo," ledek Arga lega karena Meti dan celotehannya sudah menghilang.


Alva ngga menjawab, hanya mendengus kesal. Tapi Alva pun mulai merasakan sakit kepalanya berkurang setelah kepergian Meti.


"Tante, Om, kami pamit pulang dulu, ya Aruna harus banyak istirahat. Tamara juga," ucap Kiano sambil mendekati mami Alva yang berada di samping anaknya.

__ADS_1


"Lo seperti punya istri dua," kekeh Glen kurang ajar. Reno pun ikut ngakak.


Bacot, maki Kiano kesal dalam hati. Sementara Aruna hanya tersenyum berbanding terbalik dengan Tamara yang mendelikkan matanya kesal pada Glen.


"Oiya, hati hati. Jaga calon mantu, Om, ya," sahut papi Alva dengan senyum renyahnya.


"Iya, Om. Ini Aruna juga lagi hamil," ucap Kiano bangga.


""APA?"


"SERIUS LO?"


"Benih lo akhirnya berhasil juga."


Sial, maki Kiano mendengar kata kata ngga sopan daro sahabat sahabatnya


"Selamat kalo begitu ya, Kiano, Aruna," ucap mami Alva sambil memeluk Aruna penuh sayang.


Setelah kejadian buruk ini, ada kabar bahagia yang datang.


"Terima kasih, tante," balas Aruna tulus.


"Selamat Kiano. Cucu pewaris Mahendra ini pasti akan tumbuh jadi anak yang kuat," kata papi Alva sambil menepuk nepuk pundak Kiano bangga.


Kiano tertawa. Harapannya juga begitu. Menjelang kehadirannya saja banyak bahaya yang sudah dialami Aruna.


"Selamat bro," tukas Regan dan Arga bersamaan.


"Gue juga yakin seperti Om," tambah Arga serius. Anak itu dalam kandungan saja sudah banyak mengalami hal hal hebat.


"Sama, gue juga yakin. Ponakan gue akan tumbuh jadi laki laki yang kuat," timpal Glen. Reno yang di sanpingnya manggut manggut setuju.


"Makasih bro. Tapi lo tau dari mana anak gue laki laki," tanya Kiano heran dengan tebakan Glen. Belum juga sebulan umur calon bayi mereka. Bahkan dokter pun belum tau jenis kelaminnya.


"Yakin aja gue," pungkas Glen sangat pede kemudian tergelak.


Kiano dan yang lainnya pun ikut tergelak mendengarnya.


"Tinggal nunggu ponakan dari Alva Tamara, nih," goda Reno membuat wajah Tamara seperti kepiting rebus.


Tamara hampir saja terbatuk Tapi Alva malah sudah.


Uhuk uhuk uhuk


"Minum, Al," ucap maminya sambil menyodorkan gelas berisi air mineral pada Alva.


"Gue ngomong benar, kan," kata Reno tambah senang mengganggu Alva yang anehnya bisa ngga membalasnya sama sekali.

__ADS_1


Meti benar, Alva jadi gagu. Mulut pedasnya hilang sudah. Mungkin karena ada Tamara? batin Reno penuh tanya.


Ngga mungkin, bantahnya lagi dalam hati.


__ADS_2