Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Dilema Aruna


__ADS_3

"Kata tante Bella, kamu ngga nemenin Kiano?" mama.Aruna langsung menginterogasinya. Beliau sengaja datang sebelum.jam makan siang ke rumah sakit Aruna setelah mendapat telpon dari calon besannya.


Untung saja perawat Uci sudah pamit duluan makan siang dengan perawat baru yang tampan. Perawat pindahan dari rumah sakit pusat.


"Kan Aruna kerja, ma," ngeles Aruna. Padahal dalam hati dia mau bilang kalo pacarnya yang lain datang lagi menjenguknya. Ngga mungkin, kan, Aruna melihat adegan mesra dua orang menyebalkan itu.


"Ya udah, pulang jam empat kamu langsung ke sana. Mama sama papa lagi sibuk ngurusin hotel dan katering buat acara nikahan kamu," jelas mama ringan tapi membuat Aruan sangat kaget sampai menutup mulutnya.


"Kok, nikah? Bukannya tunangan dulu, ma."


"Sebenarnya mau tunangan dulu. Tapi melihat kalian berdua sudah lengket seperti itu, mama dan papa memaksa orang tua Kiano segera menikahi kamu," jelas mama masih dengan nada ringan dan santai.


Rahang Aruna rasanya hampir saja jatuh. Kepalanya langsung pening.


Kiamat sudah dekat?


"Kakek dan nenek Kiano juga sangat sangat setuju. Bahkan kakakmu dan suaminya sudah membantu mengurus daftar undangan. Kamu dan Kiano tinggal terima beres saja," tandas mama Aruna layaknya bos yang sedamg memimpin rapat. Harus mendapat say yes dari peserta rapat.


"Runa ngga mau ma. Runa ngga mau nikah sama Kiano," tolak Aruna dengan bibir bergetar.


Tuhan, ini hidupnya. Mengapa semua oramg selalu mengaturnya, batinnya menjerit.


"Tidak ada penolakan. Kamu mau kakek Kiano dapat serangan jantung? Kalo itu sampai terjadi, papi Kiano akan memutuskan kerja sama dengan perusahaan tempat papa kamu bekerja. Serelahnya papa kamu bisa di pecat. Itu yang kamu mau?" tegas mama Aruna galak. Matanya pun sampai melotot. Kedua tangannya berkacak pinggang.


Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Kenapa harus dia disalahkan kalo itu terjadi?


Aruna merasa dunia ngga adil dengannya. Mengapa waktu kakaknya menikah, semua lancar dan sangat menyenangkan. Tanpa ancaman apa pun. Tapi giliran dirinya? Dia seperti bukan akan menikah, tapi malah akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.


Apa Aruna tahan pada menjadi istri dari lelaki yang banyak di puja kaumnya secara terang terangan. Bahkan Kiano juga melayani mereka. Di mana harga dirinya akan diletakkan?

__ADS_1


Apa nanti bisik bisik tetangga melihat nasibnya yang tragis, yang selalu di dua in, bahkan di tigain suaminya?


Tidak! Tidak! batin Aruna terus menjerit jerit. Tapi dia bagai burung yang sudah di penjara dalam sangkar. Ngga bisa kemana mana lagi.


Dia butuh seseorang untuk menculiknya. Tamara. Aruna sangat butuh bantuan Tamara.


*


*


*


"Tamara, lo pokoknya harus nolongin gue," pinta Aruna begitu telponnya tersambung ke Tamara.


"Ada apa Runa? Urgent ya?" tanya Tamara heran.


"Gue ke tempat lo ya. Gue numpamg tempat lo di Jakarta," pinta Aruna langsung. Dia hanya akan membawa tas kecilnya. Soal pakaian gampang, dia tinggal beli saja. Pokoknya dia harus pergi sekarang.


Telinga Aruna menangkap suara panggilan yang biasa dia dengar di sambungan telpon Tamara.


"Kamu lagi di bandara?" tanya Aruna shock. Bisa gagal rencananya.


"Iya, gue mau terbamg ke Korea. Mau tanding di sana," jelas Tamara yang langsung membuat Aruna lemas.


Satu satunya harapan. Penolong yang selalu dia andalkan. Kenapa kalo menyangkut Kiano, Tamara pasti ngga bisa bersamanya. Dulu waktu Kiano menyakiti hatinya, Tanara lagi ijin bertanding. Sekarang saat Aruna butuh kabur, Tanara lagi lagi akan pergi bertanding. Sepertinya nasibnya sudah dikutuk untuk selalu bersama Kiano tanpa Tamara bisa menolong. Entah dia atau Tanara yang dikutuk. Aruna menghembuskan nafas kesal.


"Runa, nanti kalo udah sampai, aku telpon balik. Aku sekarang mau masuk ke pesawat. Bye," ucap Tamara buru buru.


"Safe flight ya, Tamara," kata Aruna akhirnya. Dia pun memutuskan panggilan telponnya.


Haruskah menyerah?

__ADS_1


Aruna terduduk lemas di kursinya. Jam prakteknya sudah selesai. Suster Uci lagi lagi pamit duluan, karena perawat tampan itu menawarinya untuk mengantarkannya pulang. Pasti ngga di sia siakan sama suster centilnya itu.


Aruna menatap hpnya yang kini bergetar. Mamanya. Dia malas mengangkatnya. Pasti mamanya memintanya menjenguk Kiano. Padahal laki laki itu sudah ngga apa apa. Sudah sehat wa'alfiat Malah sudah bisa berjalan jalan sambil membawa tiang infusnya kemana mana.


Aruna pun melangkah keluar dari ruangannya. Berjalan perlahan. Udah beberapa hari ini dia ngga bertemu demgan dokter Farel. Tumben suster Uci ngga cerita apa apa tentang dokter Farel. Sekarang topik pembicaraan susternya adalah tentang perawat tampan itu.


Tapi langkah Aruna terhenti, dia langsung menempelkan tubuhnya di balik dinding. Di depannya dokter Farel sedang berbicara dengan papanya. Tapi raut muka keduanya sangat serius


"Kamu harus menikahi kekasihmu itu. Orang tua Alea juga bukan orang sembarangan. Mereka akan menanam saham yang besar untuk rumah sakit kita."


"Tapi pa..."


"Ngga ada tapi tapi. Alea juga sudah hamil. Kamu mau lepas tanggung jawab. Reputasi rumah sakit ini bisa hancur karena ulah mu yang ngga mau bertanggung jawab."


"Aku mengaku salah pa. Tapi aku menyukai dokter Aruna."


"Lupakan. Dokter Aruna juga akan menikah ngga lama lagi. Kamu bukan saingan calon suaminya."


Dokter Farel terkejut. Dia menghembuskan nafas kasar .


"Ngga mungkin, pa," bantahnya keras.


Papa dokter Farel menepuk bahu putranya lembut.


"Seandainya kamu tidak menghamili Alea, papa menyetujui pilihanmu. Tapi kamu sudah telanjur salah melangkah," tegas papa dokter Farel langsung beranjak pergi meninggalkan putranya yang berdiri mematung menyesali perbuatannya.


Aruna masih ngga bergerak dan memperhatikan dokter Farel yang kini menggusar rambutnya dan ngga lama kemudian melangkah mengikuti papanya.


Ngga disangka dokter Farel serius dengannya. Tapi dokter Farel juga bukan laki laki baik, dia suka jajan di luaran. Malah ada yang hamil. Ngga jauh beda dengan yang bakal jadi calon suaminya. Cuma calon suaminya belum.ketahuan aja sudah menghamili siapa.


Mengapa begini banget nasibnya, disukai laki laki yang mempunyai banyak kekasih. Padahal Aruna ngga ingin yang muluk muluk untuk kriteria calon suaminya. Cukup laki laki biasa asal setia. Ngga perlu kaya asal punya pekerjaan tetap. Punya rumah kecil juga ngga apa apa asal rumah sendiri. Apa terlalu berlebihan keinginannya. Aruna menghembuskan nafas kesal.

__ADS_1


Kasian juga dokter Farel, harus menikah karena saham. Tapi dia juga salah dan harus bertanggung jawab. Kasihan anak yang dikandung Alea. Wajarlah kalo gadis itu selalu sinis dan marah marah dengannya. Pasti dia kalut. Menunggu kepastian dokter Farel untuk bertanggung jawab yang terus ditunda, sementara perutnya akan terus membesar.


__ADS_2