Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tamara dan Keluarganya


__ADS_3

"Syukurlah kamu ngga apa apa," ucap mama Tamara sambil memeluknya penuh khawatir. Mereka baru saja akan menyusul Tamara di ruang Alva di rawat.


Tamara tersenyum senang melihat kedatangan keluarganya. Dia pun balas memeluk wanita cabtik yang sudah melahirkannya .


"Kan, Helen udah bilang, pasti ngga apa apa dia," timpal kakak tertuanya dengan senyum lebar. Kemudian mengacak rambut adik bungsunya gemas.membuat Tamara cengengesan.


"Tetap aja mama khawatir, Helen. Apalagi dia akan menikah sebulan lagi," kesal mamanya sambil menjitak kepala anak perempuan tertuanya. Helen hanya tertawa menanggapinya.


Mendengar ucapan mamanya membuat senyum Tamara jadi ciut.


Dia masih ngga yakin kalo harus segera menikah. Apalagi dengan laki laki yang bukan tipenya.


"Kamu memang anak papa yang super," sahut papa Tamara balas merangkul Tamara bangga.


Tamara tertawa kecil mendengar pujian papanya.


Setelah mendapat kabar dari calon mama besannya, keluarganya pun langsung menjemputnya ke rumah sakit. Beruntung mereka bertemu di parkiran saat Tamara bersama Kiano dan Aruna akan memasuki mobil Kiano.

__ADS_1


Mereka bisa tersenyum lega melihat Tamara masih baik baik saja.


"Aruna, Kiano, kalian juga baik baik saja, kan?" tanya mama Tamara beralih pada Aruna dan Kiano. Tatapan matanya berubah cemas melihat Aruna yang duduk di kursi roda.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya mama Tamara sambil menghampirinya.


"Aruna hamil, ma," cetus Tamara memberitahu.


"Alhamdulillah. Selamat ya sayang. Tante senang mendengarnya," sambut mama Tamara dengan maata penuh binar.


"Kamu akan jadi papa, Kiano," ucap papa Tamara sambil menepuk pundak Kiano pelan dengan perasaan bangga.


"Makasih, Om," balas Kiano dengan senyum lebarnya. Sejak mengetahui Arunanya hamil, kebahagiaan begitu penuh di rongga dadanya. Kiano udah ngga sabar memberitahu mami, papi, kakek dan neneknya berita bahagia ini.


"Selamat ya, Aruna, Kiano. Semoga kalo abis nikah Tamara juga langsung hamil, jadi anak kalian bisa jadi sahabat seperti kalian," canda Davina membuat mereka semua tertawa sedang Tamarra hanya bisa mendelik ke kakak nomer duanya.


Mereka tiga bersaudara. Kak Helen bekerja sebagai staf akunting di bank nasional, Kak Davina membantu papanya mengelola bisnis dan dirinya yang beda sendiri sebagai atlet dan menjadi pegawai negeri sipil di bidang kemenpora.

__ADS_1


Kedua kakaknya sudah menikah, dan sudah memberikannya masing masing seorang ponakan yang lucu, gendut dan menggemaskan.


Awalnya Tamara merasa lega, karena orang tuanya sudah cukup sibuk dengan kehadiran cucu cucunya dan ngga memaksanya untuk menikah. Tapi ngga disangka, malah kini sudah menjadwalkan tanggal nikahnya begitu cepat hanya karena ada yang melamar dirinya. Tamara ngga henti henti merutuki nasib apesnya.


"Mama sama papa mau jenguk Alva dulu, ya. Kamu mau ikut lagi nemuin calon suami kamu?" tanya mamanya sambil membawa parsel buah buahan di tangannya.


"Nunggu di mobil aja, ma. Tamara ngantuk," tolaknya kemudian menoleh pada Aruna dan Kiano


"Kalian hati hati pulangnya," ucapnya sambil melambaikan tangannya.


"Oke, kita pamit dulu ya, Om, Tante, Kak," pamit Kiano sambil membukakan pintu mobil untuk Aruna.


Papa Tamara membantu Kiano menahan pintu mobil, saat menggendong Aruna ke dalam kursi penumpang.


Kak Helen dan Kak Davina pun membantu melipat kursi roda Aruna dan memasukkannya ke bagasi.


"Hati hati," lambai mereka melepas kepergian Kiano dan Aruna.

__ADS_1


__ADS_2