
Secara kebetulan, tender di menangkan Perusahaan Athar dan Arga.
Tapi karena tender ini bernilai ratusan milyar, kedua perusahaan itu menggandeng rekanan.
Arga tentu menggandeng perusahaan Regan dan adiknya Regan, sedangkan Athar menggandeng perusahaan Arik yang awalnya hanya menemani Athar. Bahkan akan mengajak perusahaan Kiano, karena mereka satu misi.
"Kita sukseskan pekerjaan ini," tegas Athar pada Arga yang menyambut uluran tangannya sambil tersenyum hangat.
"Iya, bang" balas Arga ngga kalah hangat.
"Aku juga akan mengajak perusahaan Kiano," kata Athar terus terang.
"Oke, bang," balas Arga senang. Juga Regan. Pasti kerjasama ini akan sukses.
"Ayo, gue traktir," ajak Arik sambil melangkah duluan diikuti Athar.
"Oke," balas Regan yang juga mengikuti keduanya dari belakang. Begitu juga Arga. Tapi saat melihat punggung Arik, pikirannya mulai resah. Dia ngga ingin merusak hubungan hanya karena wanita. Kalo bang Arik ternyata pacarnya Qonita, dia akan mengalah.
"Tanyakan saja, dari pada kepikiran. Kita kerja bareng dia. Jangan sampai sampai lo kerja setengah hati," saran Regan berbisik.
Arga menganggukkan kepalanya. Setuju dengan pendapat Regan. Salah paham ini harus segera diluruskan sebelum berkembang semakin liar.
"Kalian ikutin kita ya," ujar Athar sambil memasuki mobilnya bersama Arik.
"Oke, bang," balas Arga yang berjalan menyusul ke mobilnya bersama Regan.
Dan mobil Athar pun meluncur duluan disusul mobil Arga.
"Rik, nurut gue, lo terus terang sama Arga kalo kalian sepupu," kata Athar mengutarakan pendapatnya.
Dia dapat melihat aura curiga Arga akan pernyataan mereka tadi. Begitu juga tatapan curiga dari Arga ke Arik.
__ADS_1
"Pengen gue kerjain sebenarnya. Tapi rasanya lebih baik Qonita aja yang gue kerjain," tawa Arik lepas mengingat wajah manyun adik sepupunya yang manja.
Athar hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan bapak satu anak yang ngga ada berubahnya.
"Tapi memang lebih menyenangkan klo mengerjai Qoni. Al juga suka," balas Athar ikut tertawa sambil memgingat istrinya yang juga sama usilnya dengan dirinya jika itu menyangkut Qonita.
"Oh iya, lo mau ngajak Melvin?" tanya Arik setelah tawa mereka mereda.
Athar menggeleng.
"Melvin pasti juga ngga mau kalo ada Kiano di projek ini."
"Sekarang dia masih di Dubai?"
"Ya."
Suasana di antara mereka menjadi hening. Setelah beberapa hari dadynya meninggal, Melvin membawa maminya ke Dubai. Sedangkan Claudya masih mendekam di dalam penjara.
Mata Arga terbelalak melihat Arik yang baru keluar dari mobil memeluk seorang anak perempuan kecil dengan pipi temben sambil tertawa tawa. Bahkan Athar juga ikut mencubit pipi gemas anak perempuan itu.
Anak perempuan tadi berlari dan melepaskan pegangannya dari seorang wanita yang sangat cantik ke arah Arik, dan kini mendekati mereka.
"Bang Arik sudah punya anak?" kaget Regan membuatnya urung membuka pintu mobil. Kini dia menatap Arga dengan tatapan lega.
"Kayaknya lo salah paham. Mungkin Bang Arik masih ada hubungan keluarga dengan Qonita," kata Regan kemudian membuka pintu mobilnya.
"Gue rasa begitu."
Jadi selama ini gue udah salah mengira? batin Arga konyol.
Beban pikirannya menguap, bahkan Arga kini merasa malu telah punya pikiran aneh terhadap Qonita.
__ADS_1
"Hebat juga lo bisa cemburu cukup parah dengan Qonita," tawa Regan mengejek sebelum menutup pintu mobil.
Tapi Arga cuek mendengarnya
Ada sekelumit rasa senang di hatinya mengetahui dosen judes itu bukan pacarnya Bang Arik.
Keduanya pun menghampiri keempat orang itu.
"Sayang, ini Arga, calon suami Qonita," kata Arik memgenalkan istrinya pada Arga.
Syukurlah dia ngga perlu repot repot menjelaskan hubungan Qonita dengannya. Untung saja istri dan putri kecilnya juga makan di restoran sea food ini, yang merupakan tempat favorit mereka.
"Wah, ngga disangka bisa ketemu juga. Soalnya Qonita ngga mau mengenalkan calon suaminya sama aku," tawa renyah istri Arik menyambut uluran tangan Arga.
"Dia ngga mau kamu bully," kekeh Arik membuat istrinya dan Athar tergelak.
Arga dan Regan tersenyum hangat. Keduanya saling pandang dan Arga semakin yakin kalo mereka adalah keluarga.
Arga kembali merutuki kebodohannya yang sempat cemburu dan marah pada Qonita. Padahal gadis itu melakukannya tanpa disadarinya dan telah membuat hati Arga kepanasan sendiri.
"Halo Om, Aku Zizi," ucap Zizi pede mengenalkan diri. Anak perempuan kecil.itu masih betah digendongan dadynya.
"Hai juga, Zizi. Nama Om, Arga. Ini teman Om. Namanya Om Regan," balas Arga dengan senyum hangatnya. Regan juga ikut tersenyum menatap gemas pada si kecil yang cantik dan lucu itu.
Perasaannya terasa aneh. Dengan adik tirinya yang juga masih balita, Regan sama sekali ngga merasakan apa apa. Kosong. Padahal adik tirinya juga sama gendutnya dengan Zizi.
"Mami, Zizi suka, Om omnya tampan tampan," puji Zizi dengan senyum mengembang lebar menambah gemas yang melihatnya.
Mereka semua pun tertawa lepas melihat kepolosan bocah balita ini.
"Tante Qoni bisa kalah saingan dengan kamu," gelak Arik sambil mengacak sayang rambut ikal putrinya. Istrinya pun mendekat dan mencium pipi putrinya dengan gemas.
__ADS_1