Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Aisha dan Melvin


__ADS_3

"Gimana kabar tante?" tanya Athar dengan raut bahagia melihat kedatangan Melvin.


"Tambah membaik. Mami tiga hari lagi ulang tahun. Apa kamu bisa datang?" tanya Melvin agak ragu.


Arik menatap Athar yang terdiam.


"Gue boleh datang, nggak?" timbrung Arik memecah kekakuan yang menyelimuti mereka.


"Tentu boleh," kata Melvin dengan senyum tipisnya.


"Kalo Almira ngga kasih ijin, ngga apa apa," ucap Melvin mengerti karena melihat Athar belum menjawab.


"Gue akan datang bersama Arik," putus Athar cepat. Ngga mungkin dia tega ngga datang. Hampir tiap tahun dia dan Almira datang ke acara ulang tahun mami Melvin.


Tapi Almira sempat marah berat padanya karena kasus Aruna akibat perbuatan Claudya, adik Melvin. Dia terlibat juga soalnya.


Tapi Almira pasti akan membolehkannya pergi. Athar sangat yakin karema kemarahan Almira ngga pernah lama. Apalagi menyangkut mama Melvin.


"Oke," sahut Melvin senang karena maminya selalu menanyakan kabar Athar dan Almira.


"Almira sudah hamil besar. Dia cepat merasa lelah," sambung Athar merasa ngga enak.


"Gue ngerti. Lo sama Arik yang datang udah bikin gue dan mami senang. Aris juga bakalan datang," tukas Melvin ringan. Dia ingin memperbaiki hubungan yang sedikit retak akibat ulah adiknya yang sudah tiada.


"Aris si laki laki yang ngga laku dan berubah jadi pedofil?" kekeh Arik.


Melvin dan Athar yang mendengarnya juga terkekeh.


"Gara gara dia naksir anak SMA. Ada ada saja. Beneran jadi pedofil," tambah Athar dengan kekehan maksimalnya.


Arik dan Melvin pun tambah terkekeh.


"Dari bodyguard jadi pacar. Boleh juga rencana Om Dika," sambung Arik.


Oleh papi Kiano-Dika Artha Mahendra, Aris diminta menjadi pengawal putri satu satunya rekan bisnisnya. Gadis SMA itu jadi pendiam setelah kehilangan maminya yang meninggal akibat kecelakaan.


Bahkan gadis itu juga pernah hampir diculik dan akan dijadikan sandera untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang sangat besar dari papinya.


Karena sering berduaan, dan keduanya juga good looking, akhirnya keduanya malah jadinya pacaran. Untung saja Om Dika dan papi gadis itu merestui. Malah papi gadis itu sangat senang karena putrinya ada yang menjaga dengan sangat terpecaya. Apa lagi relasi papi Kiano sangat sibuk dan kurang bisa memantau aktivitas putri tunggalnya.


"Aris beruntung dia. Jadi mantu pewaris grup yang kaya raya," gelak Melvin.


"Mungkin ntar lagi dia minta pensiun sama Om Dika," Athar pun menambahkan dan semakin membuat mereka tergelak.


Saat sedang tertawa itu mata Melvin menangkap sosok Aisha yang sedang berbincang akrab dengan seorang laki laki muda dan tampan. Aisha emang ngga sendiri, ada Almira yang menemani.


Tapi Melvin merasakan dadanya panas. Dia bingung kenapa harus marah di saat dia sudah berusaha ngga berhubungan lagi dengan Aisha.


Ya, Melvin sengaja menghilang dari peredaran Aisha. Dulu perasaannya murni tertarik tanpa ada embel embel apa pun. Tapi kehilangan dady dan adiknya yang begitu tragis membuat hatinya.ngga setulus dulu menyukai Aisha.


Melvin tau adiknya yang salah. Melvin sudah berusaha menerimanya dengan lapang dada. Tapi hatinya berubah sempit jika mengingat Aisha. Padahal maminya begitu tegar ingin melupakan segala luka beberapa bulan yang lalu. Mami bahkan selalu menyebut Almira karena merasa bersalah. Sering menanyakan apakah Almira dan keluarganya sudah memaafkan keluarga mereka?


"Hentikan, Vin," cegah Athar saat tau kemana arah mata Melvin menyorot.


Arik menghela.nafas.


Parah kalo Melvin suka sama Aisha, batinnya mendadak puyeng.


Melvin tersenyum miring. Pasti Aris juga akan melakukan hal yang sama.


"Dia memang cantik. Gue malah pesan kebaya buat mami padanya," kata Melvin jujur.


"Kalo lo suka tanpa indikasi yang lain, pasti direstui," dukung Arik.


"Itu masalahnya. Kadang gue suka ngerasa marah kalo ngelihat Aisha. Padahal dulu gue cukup tertarik dengannya," kata Melvin jujur.


Athar terdiam. Dulu aja saat dia membantu Melvin, Om Dika sempat memarahinya dengan halus.


Apa lagi ini Melvin yang ingin memacari putri kesayangan Om Dika. Apa ngga langsung kiamat. Belum lagi Kiano yang mungkin akan mengamuk kalo nantinya Melvin mempermainkan kakak perempuan tersayangnya.


"Wajar, sih, kalo perasaan lo udah berubah," kata Arik memaklumi.


Kembali Melvin menatap Aisha yang sekarang sedang ngobrol akrab dengan laki laki yang sudah Melvin tau namanya. Laki laki yang juga terkenal di dunia bisnis. Armita sudah ngga berada di sana lagi.


Athar hanya bisa menghela nfas. Teringat kata kata Melvin dulu, sebelum segala peristiwa tragis itu terjadi.


"Dady mengajakku menemui putri rekan bisnisnya. Om Dika Artha Mahendra."


"Aisha maksud lo?" senyum menguar di wajah Athar. Dia setuju jika sahabatnya pedekate dengan Aisha.


"Dia cantik dan manis. Gue rasa gue mulai suka," jawan Melvin jujur."


Melvin sudah tertarik dengan Aisha sejak lama, Athar tau itu.


Dulu dia mendukung, tapi sekarang terlalu bamyak yang harus dia pertimbamgkan.


"Om Dika bakal merestui gue nggak, kalo gue deketin putrinya?" tanya Melvin dengan seringai nakalnya.


"Lo serius?" Athar kali ini menatap Melvin tajam, seakan ingin tau kebenaran isi hati sahabatnya.


"Pinginnya," seloroh Melvin dengan senyum miringnya.


"Gue mau beraksi dulu," sambungnya sambil berjalan meninggalkan Athar dan Aris yang agak bengong menatap pumggung Melvin.


"Apa.dia udah mulai gila?" tanya Arik sambil berkacak pinggang.


"Mungkin."


Athar yang sudah cukup lama mengenal Melvin mulai mengamati pergerakan Melvin dengan sangat serius.


Melvin dengan tenang melangkah mendekati Aisha yang terlihat kurang nyaman mengobrol dengan laki laki muda yang seusia mereka.


"Hai, Ron," sapa Melvin pada lawan ngobrol Aisha.


Aisha yang baru menyadari Melvin yang kini sudah di dekatnya, mengalihkan tatapannya pada pudingnya. Jantung berdegup keras.


"Apa kabar bro?" balas laki laki yang dipanggil Ronal ngga kalah ramahnya.


"Baik gue. Lo sendiri gimana kabarnya?"


"Gue juga baik. Sukses proyek lo yang di Dubai. Keren banget," puji Ronal dengan senyum lebarnya.


Aisha yang merasa bisa melarikan diri, mulau mengambil langkah perlahan untuk menyingkir.


"Honey, mau kemana?"


Tubuh Aisha membeku.


Dia manggil aku?

__ADS_1


"Wuuiiih, ini pacar lo. Pantasan tadi Aisha agak sungkan ngobrol dengan gue. Tau kalo di awasi," kekeh Ronal ringan, sama sekali ngga marah. Malah dia menunjukkan rasa bersalah karena sudah menggoda pacar temannya


"Santai, bro," kekeh Melvin menyambuti. Hatinya tambah senang melihat lirikan penuh kekesalan dari Aisha.


Panas, nona? ledek Melvin dalam.hati.


"Gue mau dansa dulu, ya, bro. Sorry nih," ucap Melvin santai. Aisha kembali mempertajam lirikannya pada laki laki itu.


Ronal terkekeh.


"Oke, oke."


Ronal pun melangkah pergi masih dengan tawa renyahnya.


"Ayo, sebelum ada yang mengganggu calon istriku lagi," kata Melvin kemuidian menggamdeng tamgan Aisha.


"Eh," bingung Aisha sambil menaruh piring kecilnya sisa puding di atas meja. Dengan agak terpaksa Aisha mengikuti langkah Melvin.


Melvin pun memeluk pinggang Aisha dan menaruh tangan gadis itu di pundaknya.


"Apa ini kurang nempel?" canda Melvin sambil mengikuti irama slow yang sedang dimainkan.


"Hem," dengus halus Aisha dan dia bersyukur masih ada sedikit jarak antara dirinya dan Melvin.


"Masih belum bisa terima jadi pacar?" canda Melvin lagi dengan sinar mata menggoda


Aisha menggumankan kata kata yang ngga jelas.


"Kalo jadi istri aja gimana?" senyum manis terkembang di bibirnya. Matanya menatap lembut pada wajah yang nampak.kaget akibat kata katanya.


"Aku serius," kata Melvin lagi karena belum juga mendengar jawaban Aisha.


"Oke, oke," ucap Melvin mengerti akan respon diam dan ngga acuh Aisha.


"Tiga hari lagi mamaku ulang tahun. Aku akan kirimkan undangan resminya. Kalo kamu hadir, artinya kamu setuju jadi istriku.Tapi kalo, ngga datang, aku ngga akan mengganggumu lagi."


Dasar bodoh! Pasti aku akan ambil pilihan kedua, batin Aisha merasa lucu dengan sikap Melvin. Walau ada sedikit kecewa karena Melvin ngga terlalu menginginkannya.


Tapi biarlah, lebih baik begini. Mereka ngga mungkin jadi pasangan kekasih. Apalagi suami istri.


Melvin menatap Aisha tajam. Bibirnya tersenyum mirimg ketika melihat ada sedikit riak kecewa di mata gadis itu.


"Aku meralat ucapanku. Datang ngga datang kamu tetap harus jadi istriku," kata Melvin dengan senyum kemenangan tersungging di bibirnya.


Dada Aisha berdesir, ada rasa senang merayapi hatinya. Tapi dia menyembunyikannya melalui sorotan juteknya. Melvin tersenyum lebar.


*


*


*


"Arga, aku ngantuk," kata Qomita sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arga.


"Oke, karena tamu tinggal dikit, aku antar kamu istirahat," putus Arga ngga tega melihat wajah lelah Qonita.


Keduanya pun berpamitan pada kedua orang tua mereka.


"Hati hati ntar maennya. Jangan buru buru."


"Jangan langsung tidur, Qoni."


Candaan candaan dan tawa dari kedua orang tua mereka membuat wajah Qonita merona. Dia melirik Arga yang tetap tenang.


Kenapa dia tenang sekali? batin Qonita kesal.


Untung saja gaunnya malam ini ngga ada ekornya. Kalo jatuh kesandung, dia bisa mati gaya.


Sepanjang jalan menuju kamar, mereka hanya membisu. Tapi ngga dengan hati Qonita, yang gradak gruduk.


Begitu sampai di kamar hotel, jantung Qonita berdebar sangar keras


Apa kah sekarang saatnya? batinnya ngga tenang.


Qonita terpana melihat Arga melalui pantulan cermin di depannya saat dia sedang membersihkan sisa make up di wajahnya. Jepit jepit dan hiasan rambutnya sudah dia lepaskan. Rambut kecoklatannya mulai tergerai indah.


Laki laki itu dengan santai melepas jas dan kemejanya. Tapi begitu Arga akan melorotkan celana panjangnya, tanpa sadar Qonita menjerit.


"AAAAHH!"


Arga jadi menghentikan gerakannya.


"Apa, sih?" Arga pura pura kesal. Tapi kemudian dia langsung menjatuhkan celananya yang sudah dalam posisi nanggung dengan senyum nakalnya yang terbit di bibirnya.


Qonita menutup matanya karena malu.


"Aku masih pake boxer. Lihat aja kalo ngga percaya," pancing Arga dengan suara menggodanya.


"NGGAK!" teriak Qonita ngga percaya.


Arga terkekeh.


Kemudian Qonita tambah deg degan dan merinding merasa risleting di punggungnya mulai diturunkan perlahan.


Tangan Arga mulai menyibak lengan gaun itu dan menurunkannya perlahan.


Qonita semakin menahan nafasnya. Apalagi tangan laki laki kurang ajar itu mulai menggenggam dua puncak sensitifnya, dan mengelusnya, bahkan mere*m*asnya lembut.


Qonita ngga tahan dengan sensasinya. Bibirnya pun meloloskan de*s*ahannya.


Qonita pun ngga segan menyebutkan nama Arga dengan suara serak serak basahnya.


Arga membalikkab tubuh Qonita, kemudian mengecup lembut dan lama bibir mungil setengah terbuka itu. Kedua tangannya pun aktif menjelajahi titik titik sensitif Qonita.


Beberapa kali Qonita melenguh. Kulit mereka pun saling bergesekan akibat gairah yang membakar keduanya.


Arga sangat rakus menikmati Qonita yang begitu pasrah dalam dekapannya.


"Argaa... pelan pelan.... aaahh. Aku.... aku belum pernah .... aaahhhh.... Arga.... Nooo....," jerit Qonita saat Arga mulai menggigit puncaknya.


Mata Arga semakin ditutupi kabut gairah yang sudah ngga bisa ditahannya lagi akibat rintihan Qonita.


Arga pun mulai menggendong tubuh polos itu.


Mata keduanya saling tatap dengan sayu.


"Mandi?" bisiknya sambil melamgkah tanoa menunggu jawaban Qonita.


Kulit Qonita semakin merinding karena hembusan nafas panas Arga di salah satu telinganya.

__ADS_1


*


*


*


"Arga kemana?" tanya Alva yang baru sadar ketika ngga melihat Arga dan Qonita berada di pelaminannya lagi.


"Belum malam udah ngga tahan dia," tawa Glen.


"Hajar teroos," gelak Reno.


Mereka memisahkan diri dari pasangan mereka.


Sementara Kiano dan Regan masih mesra berdansa dengan pasangan mereka.


*


*


*


Entah sudah beberapa kali Aisha mengganti gaun yang akan di pakainya ke pesta ulang tahun mama Melvin. Di atas tempat tidurnya sudah teronggok banyak sekali gaun yang sudah dikenakan, tapi dibukanya lagi.


Dua hari yang lalu undangan resmi itu datang di antarkan asisten Melvin ke butiknya.


Tapi laki laki itu sama sekali ngga mengirimkannya pesan.


Aisha ragu, apakah kalo dia datang maka dia akan tampak menyerahkan dirinya pada laki laki itu.


Tapi kata kata maminya kalo ada supir yang sedang menunggunya membuatnya bingung. Apalagi supir itu membawa amplop merag jambu.


Norak sekali, batin Aisha mengejek sekaligus senang. Tapi dia berusaha menahan ekspresinya di bawah tatapan penuh selidik maminya.


'Siapa?" walaupun curiga, tapi hati mami sangat senang karena Aisha mulai menanggapi serius laki laki yang tertarik padanya.


"Teman, mam."


"Hemm...... ya udah, dandan yang cantik. Kamu dadakan, sih, mami ngga sempat pesan gaun, kan?"omel maminya panjang lebar sambil melihat lihat koleksi gaun putri tunggalnya.


"Ini bagus. Kamu belum lernah memakainya, ya?" pilih mami pada gaun merah marun dengan leher bulat yang sedikit memamerkan bahu putihnya.


"Nanti Aisha pilih sendiri. Mami keluar, ya," usir Aisha sambil mendorong pelan maminya agar meninggalkannya sendiri di kamar.


"Kamu malu, ya?" goda mami sebelum Aisha menutup pintu kamarnya.


Mami curigaan banget.


Aisha sudah dua kali mencoba gaun itu. Tapi dia merasa ngga yakin. Karena waktu mendesain gaun itu dia membayangkan akan menggunakannya saat pergi bersama kekasihnya.


Ngga mungkin, kan, Aisha menganggap Melvin kekasihnya.


Kemudian dia pun mencoba gaun yang lainnya lagi. Tapi tetap saja matanya tertuju lagi pada gaun merah marun itu.


Biarlah, batinya akan menebalkan wajahnya jika nanti maminya kembali menggodanya.


Akhirnya sang supir yang ternyata asisten Melvin ketika mengantarkan undangan sudah meninggalkankannya di atas root top hotel.


Root top hotel itu sudah di desain dengan sangat indah dan mewah. Bunga bunga hidup mendominasi hiasannya.


Saat Aisha termangu karena ragu untuk melangkah ke depan sebuah meja yang sudah di kelilingi beberapa oramg, sebuah sapaan yang sangat dia kenal menyapanya.


"Nona?"


"Aris? Kamu di sini?"


Keduanya saling kaget karena ngga menyangka akan bertemu di tempat ini.


Ingatan Aris langsung travelling pada status sosial media Melvin.


Malam ini, aku sangat menunggumu, sweetheart.


Aris menggelengkan kepalanya.


Gimana kalo bos besar tau? Aris langsung bingung.


"Jangan bilang papi," bisik Aisha seakan tau apa yang Aris pikirkan.


Aris tambah pusing. Jika terbomgkar sama.bos besarnya, ngga hanya kemarahan sang bos besar yang akan dia hadapi, tapi papanya juga karena ngga enak hati dengan sahabatnya


Melvin bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Aisha. Begitu juga tamu yang lain.


Aisha sadar kini betapa mumetnya Aris. Athar dan Almira juga ada di sana dan sedang menatapnya dengan tatapan ngga percaya.


Selain itu ada dua tamu lainnya yang ngga begitu dikenal Aisha


Seorang wanita cantik yang mengenakan gaun desainnya kini menatapnya dengan sangat hangat.


Melvin melangkah mendekati Aisha yang hanya mematung.


"Lo ngga maenin nona gue, kan," hardik Aris pelan setengah mengancam.


"Gue serius," kata Melvin sambil mengulurkan tangannya pada Aisha.


Agak ragu Aisha menyambutnya, apalagi tatapan Aris cukup mengintimidasinya.


"Mami mau kenalan," ucap Melvin sambil menarik lembut Aisha yang diikuti Aris di belakangnya.


"Mam, ini Aisha. Putrinya Om Dika," kata Melvin to the.point membuat Aisha dan para tamu yang ada sama sama menahan nafas. Takut akan reaksi yang ngga diinginkan dari Mami Melvin.


Hening.


Senyap.


"Dia calon istri Melvin, mam," ucap Melvin lagi memecahkan suasana sunyi ini.


Para tamu semakin ngga kuat untuk bernafas sambil menatap Melvin dan Aisha bergantian.


Aisha pun.hanya bisa diam, ngga tau harus bereaksi gimana lagi terhadap laki laki yang suka berbicara seenaknya ini.


"Cantik sekali," puji Mami Melvin setelah memindai Aisha sangat dalam. Tanpa ragu beliau memeluk Aisha erat. Matanya terasa memanas. Perasaannya menghangat Seakan dia meneluk putrinya yang sudah tiada kembali.


"Maafkan keluarga tante, sayang. Tolong terima Melvin," suara Mami Melvin bergetar penuh perasaan dan air matanya mengalir pelan di kedua pipinya.


Aisha hanya mengangguk. Dia menatap Melvin yang kini menyorotnya lembut. Seakan tergambar jelas masa depan mereka di sana.


Para tamu pun menghembuskan nafas lega. Bahkan mata mereka pun berkaca kaca. Suasana terasa mengharu biru.


***

__ADS_1


Udah.ya... Sekuelnya lagi dipikirkan hehehe... Makasih ya.... Sehat selalu...♡


__ADS_2