Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Nasib Malang Alva


__ADS_3

"Alva kena batunya," kekeh Reno membuat Arga, Regan dan Glen juga ikut tergelak. Siang ini mereka janjian makan bersama di kafe Reno.


"Ngga nyangka Alva ngga bisa berkutik," gelak Reno. Rsaanya ingin srkali melihat wajah songong sahabatnya yang beribah kecut.


"Salahnya menolak Meti," sambut Arga juga masih terkekeh.


Harusnya Alva memang bersama Meti. Meti gadis polos yang gampang dibohongin Alva. Apalagi gadis sudah jadi bucin dengannya.


"Padahal Meti juga cantik banget, seksi lagi. Gue aja yang mau ddeketin Meti nyaris di hajar sama dia," sambung Reno mengadu.


"Apa dia ngga sadar sudah suka lebih dari adik dengan Meti?" tambah Regan dengan asumsinya.


Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya. Perlakuan Alva yang posesif teehadap Meti, sama seperti dirinya terhadap Aira adiknya. Apa lagi yang mendekati Meti sejenis Reno yang dia sudah kenal luar dalam kebejatannya.


"Lo memang ngga tertarik dengan Tamara, Gan?" tanya Glen kepo di sela tawanya.


Regan masih terkekeh ngga menjawab


Entahlah, dia juga bingung. Sempat berdebar ngga menentu ketika kkakek Kiano menjodohkannya waktu itu. Tapi sekarang perasaannya biasa saja (?). Dia belum.mau terikat. Perceraian orang tuanya membuatnya trauma akan pernikahan.


Apalagi papinya yang sudah tiga kali menikah dan tiga kali cerai. Sedangkan maminya betah hidup menjanda hingga kini. Dia dan adiknya Aira lebih memilih ikut tinggal bersama maminya dari pada dengan papinya.


"Kalo dengan lo, Gan, gue yakin rumah tangga kalian bakal adem ayem. Tapi kalo dengan Alva, gue ngga bisa bayangin gimana nasib dia di tangan Tamara," gelak Reno. Regan dan Arga ngga menanggapi hanya kekehan mereka saja yang terdengar.


Tamara gadis yang baik. Rasa kesetiakawanannya dengan Aruna sangat patut diacungkan jempol. Tapi Regan belum siap berkomitmen untuk waktu sekarang. Sama seperti ketiga temannya ini. Bahkan dia yakin, Alva pun kalo jadi menikahi Tamara, itu akan sangat terpaksa dia lakukan.


"Untung kita ngga ada di sana. Sekarang kata Kiano, Alva terus merengek padanya, minta tolong dibatalin perjodohannnya," gelak Glen ngga berkesudahan. Reno pun sampai memegang perutnya saking terpingkal pingkalnya membayangkan wajah melas Alva.


"Gue kasian sama nasib Alva besok kalo udah ijab kabul. Dapat jatah malam pertama ngga, ya," cicit Arga ngga tahan ingin mengeluarkan pendapatnya di sela sela tawanya.


"Dapat tendangan, sih, iya," sambar Glen ngakak. Pecah sudah, mereka semua juga tergelak mendengar kata kata Glen.


Memang akan mengenaskan nasib Alva jika jadi menikah dengaj Tamara.


*


*


*


"Claudya akan bebas," kata Dika Artha Mahendra ketika mampir ke ruang kerja putranya.


"Serius, pi?" tanya Kiano ngga percaya. Susah payah mereka menjebloskan Claudya ke penjara, tapi dengan mudahnya dia akan dibebaskan.


"Karena Aruna dan Alva baik baik saja, Claudya juga punya daftar rekam jejak yang baik selama ini, jadi dia bisa secepatnya dibebaskan dengan jaminan sejumlah uang," jelas Dika Artha Mahendra tenang.

__ADS_1


Kiano mengepalkan tangannya kuat kuat, menahan kemarahannya.


"Papi Sasya juga ikut membantu. Beliau punya saudara kuat yang bisa membuatnya jadi mudah membebaskan Claudya."


"Om Indra?" kembali Kiano dibuat kaget.


Dika Artha Mahendra menarik nafaas panjang dan menghembuskannya perlahan. Seakan ada beban berat dalam rongga dadanya


"Ya. Beliau sakit hati karena kamu menolak Sasya," tegas Dika Artha Mahendra. Beliau pun ngga nyangka sahabatnya akan sakit hati karena penolakan Kiano. Karena beliau pikir semua akan berjalan seperti biasa.


"Haah." Kiano menghembuskan nafas kesal.


"Kiano hanya menganggap Sasya sebagai teman saja. Ngga ada rasa apa pun," aku Kiano jujur.


Dia pun ngga pernah ngajak Sasya tidur bareng. Hanya kissing dan sedikit touch saja. Dia masih muda, wajarlah kalo dulu dia sempat nakal. Tapi semua perempuan yang dekat dengannya hanya merasakan sentuhan bibir dan tangannya saja. Ngga lebih.


Mereka juga sangat rela melakukan itu dengannya. Bahkan meminta lebih. Tapi Kiano ngga pernah mengabulkannya. Perjakanya hanya untuk istrinya, Aruna. Gadis yang dulunya gendut, lucu, tapi sekarang bermetamorfosis menjadi cantik dan seksi.


"Papi mengerti," balas Dika Mahendra.


Cinta ngga bisa dipaksa. Dari awal Dika Mahendra sudah menegaskan pada Indra dan sahabat sahabatnya yang lain, yang akan menjodohlan putri putri mereka pada putra tunggalnya.


Beliau menerima siapa pun pilihan Kiano dan ngga akan melakukan intervensi apa pun. Karena Kiano yang akan menjalani kehidupan berumah tangganya, seumur hidupnya.


"Om Indra dan keluarganya butuh waktu untuk bisa menerima keputusan kamu," kata papi bijak.


"Kamu ngga usah khawatir. Setelah keluar dari penjara, Claudya akan pindah ke Inggris , bersama Sasya," ucapnya setelah terdiam beberapa menit. Beliau pun menepuk lembut bahu putranya


Ngga disangkanya, Aruna membawa banyak perubahan pada Kiano. Anaknya menjadi lebih tenang dan mulai hangat, juga yang paling disukainya, Kiano menjadi lebih bertanggungjawab akan bisnis dan keluarga.


Siapa yang akan mengira, Kiano Artha Mahendra berubah menjadi penyayang dan sangat peduli serta takut kehilangan Aruna. Memgingat kisah cinta mereka di mulai sejak SMA, semakin membuat beliau kagum. Ngga disangkanya, putranya bisa sedalam dan selama itu mencintai Aruna. Tanpa disadari, beliau menarik garis senyumnya lebih lebar.


Kiano terdiam, ngga berkomentar apa pun akan pernyataan papinya. Perasaannya ngga serta merta lega tapi malahan tetap tambah khawatir. Mencemaskan keadaan Aruna yang ngga bisa diawasinya dua puluh empat jam.


"Tenanglah. Aruna akan tetap dijaga pengawal papi. Dia aman," tandas papi meyakinkan.


"Makasih, pi."


"Yang papi sekarang pikirkan kakak kamu, Aisha."


Kening Kiano berkerut mendengarnya.


"Karena belum nikah?" tebak Kiano sangat tepat karena papinya menganggukkan kepalanya.


"Papi ngga berharap Kak Aisha berjodoh dengan Melvin, kan?" sarkas Kiano yang hanya dibalas papinya dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Jujur, papi suka sama Melvin. Track recordnya bersih. Hanya saja dia terlalu banyak teman wanita," kekeh papi membuat Kiano mencibir kesal.


"Tapi karena kejadian Aruna, papi sudah mencoretnya sebagai kandidiat," sambung Dika Artha Mahendra cepat.


Ngga mungkin dia berbesan dengan orang yamg punya hubungan darah dan telah berusaha mencelakakan menantunya.


"Syukurlah. Tapi nurut Kiano, biarkan saja Kak Aisha mencari sendiri jodohnya, pi," usul Kiano senang dengan keputusan papinya.


"Kakakmu sekarang sudah dua puluh sembilan tahun. Mamimu sudah nyap nyap setiap ketemu papi," keluh Dika Artha Mahendara membuat Kiano menarik sedikit senyim tipisnya. Apalagi saat ini Kiano melihat papinya memijit mijit keningnya.


Pasti permintaan maminya untuk mencarikan jodoh buat kakaknya membuat papinya jadi pusing berat.


*


*


*


"ARUNA! Mati kamu. Mati!" seru Claudya sambil menarik pelatuk pistol silver milik dadynya.


**DOR


DOR


DOR**


Aruna tergeletak bersimbah darah di ruang prakteknya. Claudya menatapnya puas.


TOK TOK TOK!


Claudya hampir saja menjatuhkan pistol di tangannya. Khayalannya buyar seketika. Dengan cepat dia menyimpan lagi pistol itu ke dalam tas kecilnya.


Dengan tergesa gesa, dia pun membuka pintu.


Maminya berdiri di depannya dengan senyum lembut. Wajahnya masih terlihat pucat.


"Kamu lagi ngapain?" sapa.wanita paruh baya itu sambil meraih tangan putrinya perlahan.


"Mami, kok, ngga di kamar?" tanya Claudya cemas, karena maminya terlhat masih lemah dan pucat.


"Mami kangen kamu," ucap maminya sambil melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan kamar Claudya.


"Aku juga, mi," katanya sambil menempelkan kepalanya di bahu maminya manja. Setelah beberapa hari berada di dalam sel, akhirya tadi siang Claudya dibebaskan. Dia sudah kembali ke rumah.


"Temani mami makan, ya."

__ADS_1


"Ya, mami."


__ADS_2