
Reno sengaja lembur di perusahaan miliknya dan teman temannya. Hatinya lebih tenang di sini.
Bahkan dia kini menjadi tempat curhat Glen, padahal dia juga butuh tempat curhat, sama seperti Glen.
Tapi Reno ngga seberani Glen yang bisa sangat berterus terang. Reno yakin, jika dia berterus terang tentang Rain, bukan hanya hujatan yang dia dapat. Pasti tabokan keras. Glen pasti akan memaki maki dirinya karena sudah bertindak seperti penjahat sadis.
"Lo yakin ngga ngapa ngapain Meti?" Reno menatapnya ngga yakin.
Dalam keadaan sadar bisa saja terjadi apalagi dalam keadaan mabok.
"Just kissing, may be," jujur Glen. Tapi dia pun ngga ingat, bagian apa saja yang sudah dicium bibirnya.
Dia terlalu mabok berat, begitu juga Meti. Hanya saja kadang kadang muncul bayangan bayangan samar di kepalanya.
Dia seakan melihat dirinya berpelukan setelah mengunci pintu. Dirinya yang menenpelkan tubuh Meti di pintu.
Hanya itu yang bisa dia ingat. Selebihnya nol.
Reno hanya menyeringai. Dia ngga pantas menghakimi Glen. Dia bahkan lebih buruk dari itu.
"Menurut lo, Alva bakalan marah ngga kalo dengar cerita gue?"
Reno terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Mungkin bukan hanya marah."
"Itu yang mengganggu pikiran gue," tukas Glen frustasi. Dia menggusar rambutnya hingga tampak lebih berantakan.
Ya, kalo.Alva tau, Glen pasti akan dihajarnya abis abisan. Karena bagi Alva, Meti itu adiknya, walau tanpa ikatan darah.
"Gue ngga akan cerita ke Alva," janji Reno.
"Makasih," sahut Glen sambil menganggukkan kepalanya, sedikit lega. Tapi tetap saja masih gelisah.
"Nurut lo apa gue harus nikahin Meti?"
Reno tercekat mendengarnya. Kata kata Glen seakan menampar jiwanya.
Apa gue harus nikahin Rain kalo dia hamil? Kalo ngga, berarti gue bebas ngga nikahin dia?
Dia lebih bajingan dari pada Glen.
"Ren, gimana nurut lo? Oh iya, lo bentar lagi nikah, ya, sama Nadia," senyum Glen.
Nadia
Mendengar namanya saja Reno ngga terusik.
"Jadi beneran lo belum apa apain Nadia? Cium mungkin?" jiwa kepo Glen kumat lagi. Rasa stresnya sedikit berkurang jika dia ngga memikirkan masalahnya lagi.
"Gue memang ngga niat nyentuh dia," ucap Reno datar membuat Glen tergelak.
"Padahal dia sesuai dengan kriteria yang lo suka. Cantik, pintar dan seksi."
Reno hanya nyengir saja.
Tapi memang itu kenyataannya. Sebelum menyentuh Rain, Nadia memang kriteria yang selalu dia minati.
Tapi karena Nadia dia harus menikah, tentu saja Reno belum mau pada waktu papinya menunjukkan fotonya.
Papinya waktu itu hanya meminta dia mencoba dekat. Kalo cocok, bisa terus. Kalo ngga, berhenti saja. Lagian Nadia yang suka berinisiatif mencarinya.
Reno mematuhi larangan papinya yang akan langsung menikahi Nadia jika dia melakukannya hal yang biasa dia lakukan dengan perempuan lainnya. Reno ngga membantahnya. Dia mengikuti pernainan papinya sambil mencari Rain yang susah untuk dijumpainya setelah kejadian itu.
Tapi dia merasa ditipu papinya. Sekarang mereka semua malah memaksanya menikahi Nadia cepat cepat, padahal ngga ada apa pun yang terjadi pada dirinya dan Nadia.
__ADS_1
Tapi dengan Rain beda ceritanya. Dia sama seperti Glen yang merasa bersalah. Bedanya Glen ngga ingat sudah melakukan apa pun dengan Meti. Tapi dia sangat mengingat apa yang dia lakukan karena sudah memaksa Rain.
"Gue salut sama lo, bisa bertahan sama Nadia. Apa junior lo lagi bermasalah?" canda Glen masih tergelak.
"Enak aja. Gue normal tau!" sentak Reno kesal. Glen tambah tergelak mendengarnya.
Hanya ngga mood, batinnya menambahi.
Sekarang Glen malah tertidur di sofanya. Setelah mengungkapkan keresahannya, baru Glen merasa sangat mengantuk.
Reno bangkit dan menuju kursi kerjanya, membiarkan Glen beristirahat.
Pesan dari kakaknya membuat keningnya berkerut.
Papi nungguin kamu.
Reno ngga membalasnya. Jika hanya ingin bicara masalah hubungannya dengan Nadia, Reno langsung merasa malas menemuinya.
Papinya seenaknya saja melanggar perkataannya sendiri. Dia sudah masuk perangkapnya. Papinya memang berniat menjodohkannya dengan Nadia sejak awal.
*
*
*
"Malam itu sengaja Reno pulang hampir pukul satu dini hari.
Dia ingin menghindari papinya dan segala omongan beliau tentang Nadia.
KLIK
Reno nyaris berjingkat setelah dia menekan saklar kamarnya, saat kamarnya menjadi terang benderang, papinya ternyata duduk di tempat tidurnya.
"Kamu baru pulang?" tanya papinya sambil melirik jam dinding di kamarnya.
Bisa bisanya berada di dalam kamarnya, sungutnya dalam hati.
Tau aja kalo dia menghindar, batinnya lagi
"Tadi banyak kerjaan," bohongnya sambil masuk ke kamarnya.
"Papi masih mau terus di sini? Aku mau mandi," usir Reno halus.
"Ya mandi saja. Papi tunggu," kata papinya cuek sambil tiduran lagi di tempat tidur Reno.
Reno menatap papinya kesal sebelum masuk ke kamar mandi.
Sengaja Reno mandinya lebih lama dari biasa. Hampir sejam. Bahkan dia hampir ketiduran di bath up kalo saja tadi ngga hampir kelelep.
"Kamu biasa mandi lama begini?" tanya papinya sambil menyesap kopinya.
Bau kopi yang harum memasuki indera penciuman Reno.
"Papi cuma buat secangkir?" Reno balik bertanya. Ide baru pun muncul untuk menghindari papinya yang ngga tau kenapa malam ini nampak ngotot sekali ingin berbicara dengannya.
"Iyalah."
"Aku buat kopi dulu ya, pi," kata Rebo dengan sebelah tangan masih mengusap rambutnya dengan handuk. Dia pun hendak beranjak keluar kamar.
"Duduk," sergah papi dengan nada yang ditekan
"Aku bikin kopi dulu, pi."
"Duduk Reno. Sudah berapa jam kamu telantarin papi. Kamu ngga kasian."
__ADS_1
Reno tertawa lepas karena ketahuan triknya.
Dia pun duduk di dekat papinya.
Papinya memutar cctv dirinya saat bersama Rain melalui ponselnya.
Reno tercekat. Dia mengira akan membahas Nadia, ternyata Rain.
Reno merutuki kebodohannya yang ngga menyadari keberadaan cctv itu.
"Jelaskan. Kamu punya hubungan apa dengan putrinya Pak Ruslan Dintara," tegas papi. Bahkan papi menyingkirkan handuk di tangan Rain.
"Apa penting buat papi tau. Aku juga bentar lagi akan menikah dengan Nadia," jawab Reno cuek.
Papinya menghela nafas.
Papinya menarik tangan Reno, dan meloloskan cincin pertunangan di jarinya.
"Kita batalkan pertunangan ini."
Haaah. Reno ngga percaya akan semudah ini penyelesaiannya.
"Kamu sudah tiduri anak perempuan itu, kan?" tebak papi sangat tepat.
Reno hanya bisa menganggukkan kepalanya.Tatapan papinya sangat menghipnotisnya.
"Haaah!" Papinya membuang nafas kesal. Kemudian bangkit dari duduknya.
"Kamu bawa cangkir kopi papi ke dapur. Cuci," perintah papinya sebelum pergi.
Reno hanya mendengus.
Sukanya nyuruh nyuruh, batinnya sedikit kesal. Hanya sedikit, karena perasaan lega kini memenuhi rongga dadanya.
Bibir Reno tanpa sadar tersenyum.
*
*
*
Rain bersyukur karena hanya muncul satu garis merah yang sangat jelas. Bahkan dia sudah menggunaka pada dua alat test pack dari lima yang diberikan Reno.
Rain pun sempat memfotonya dan langsung mengirimkan pada Reno agar dia ngga perlu menemuinya di perusahaannya.
Rain sudah ingin tutup buku tentang Reno. Memulai lembaran baru. Rain yakin masih ada laki laki yang mau dengannya walaupun udah ngga virgin lagi.
Laki laki di luar sana juga banyak yang brengsek dan mereka bisa mendapatkan perenpuan baik baik. Why not. Dia harus tetap percaya diri dan masih banyak bagian dari dirinya yang masih berharga.
Sekarang yang harus dia lakukan belajar sungguh sungguh di perusahaan papanya dan menyelesaikan skripsinya secepat mungkin.
Seminar mereka bertiga, dia, Vani dan Dinda berhasil dengan sukses. Sekarang mereke bertiga jarang bertemu karena kesibukan skripsi masing masing.
Rain pun mencucinya dengan bersih dua test pack tadi, kemudian menyimpannya bersama tiga alat test pack yang belum dipakai.
Buat apa pake lima lima begitu. Sama aja hasilnya, pikir Rain.
Saat ini dia berada di apartemennya. Mama masih menemani papanya di rumah sakit. Kata dokter beberapa hari lagi papanya boleh pulang.
Rain merasa vitamin penyubur kandungan itu hanya akal akalan Reno yang ingin lepas dari tanggung jawab karena sudah merusaknya. Dia hanya ingin membuat hatinya tenang dengan memastikan ketakhamilannya. Mengurangi rasa bersalahnya karena sudah memberikannya pil pencegah kehamilan setelah melakukannya tanpa pengaman. Perasaan Rain rasanya sakit sekali.
Kalo sudah mau nikah, ya udah nikah aja sana. Jangan ganggu ganggu aku lagi, batinnya kecewa dan nyeri.
Sebegitu ngga berharganya dia sampai harus diperlakukan seperti ini. Walaupun di awalnya sempat punya niat menjadi sugar baby, tapi, kan, dia sudah mencancelnya. Rain merasa Glen laki laki yang baik, yang tau dirinya merasa bimbang dan ngga memaksanya.
__ADS_1
Mungkin ini dosa karena niat awal yang ngga baiknya.
Air mata Rain menetes pelan.