
Tamara merasa langkah kakinya sangat berat karena harus mengikuti mama dan papanya menjenguk Alva pagi ini.
Laki laki songong itu masih tertidur ditemani mami dan papinya. Bahkan ada Glen di sana sambil memainkan ponselnya, pura pura ngga melihat keberadaannya.
"Hai, Tamara," sapa mami Alva spontan menghampiri dan memeluk Tamara erat.
"Ya, tante," balas Tamara sopan.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Sudah mendingan?" tanya mami Tanara dengan wajah senangnya.
"Sudah, tante," jawab Tamara sopan.
"Syukurlah," ucap mami Alva masih dengan wajahnya yang berseri seri.
Beliau merasa di balik sikap ngga peduli putranya pada Tamara, Alva menaruh perhatian tersembunyi padanya. Apalagi mendengar cerita Glen kalo Alva luka begini karena melindungi Tamara yang akan terkena peluru.
"Maaf, nih, kita baru jenguk," sapa mama Tamara kemudian bergantian memeluk calon besannya.
Mama Tamara terkekeh.
"Ngga apa apa, mba. Tamara juga butuh istirahat," kata mami Alva sangat mengerti.
Sementara papi Alva dan papa Tamara mulai disibukkan dengan obrolan bisnis.
Glen yang merasa terabaikan, memutuskan untuk peegi ke kantin sambil menunggu Reno yang katanya juga akan datang menjenguk Alva.
"Tante, Om, saya mau ke kantin dulu, ya," pamit Glen sambil berdiri dari duduknya.
"Oke oke," balas Papi Alva sambil menganggukkan kepala dan tersenyum mengerti.
"Tante dan Om mau nitip sesuatu nggak?" tanya Glen ketika sudah membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Ngga, Glen," balas mami Alva.
"Oke, tante," ucapnya sambil menutup pintu.
Tangannya meraih ponselnya dan melihat lihat isi pesannya saat ada notifikasi pesan yang masuk.
Dia menghela nafas kesal saat mengetahui bukan dari Reno.
"Kamppret," makinya kesal.
"Kak Glen?"
Glen mengangkat wajahnya ketika mendengar suara sapaan yang centil centil manja.
Meti? Batinnya terlonjak kaget. Radar bahayanya langsung berdiri.
"Kamu mau jenguk Alva?" tebak Glen langsung.
"Bubur pelet?" ledek Glen terkekeh membuat keceriaan Meti menghilang.
BUGH
Meti memukul lengan Glen keras saking kesalnya.
"Pelet apaan, sih," rajuknya marah membuat Glen tambah tergelak gelak karena gemas melihat tingkah anak kecil yang kebelet nikah ini.
"Kesel dengan Kak Glen. Meti mau langsung nemuin Kak Alva aja sebelum calon nyebelinnya datang," ketus Meti sambil melangkah pergi meninggalkan Glen.
Eh, batin Glen tersadar dan langsung menghentikan tawanya.
Dia pun langsung meraih tangan Meti dan memaksanya mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Kak Glen! Meti mau dibawa kemana?" seru Meti tamabah kesal.
"Temenin Kak Glen makan, yuk, ke kantin."
"Nggak mau!" sentak Meti sambil memghempaskan tangan Glen hingga pegangannya terlepas.
Kuat juga kalo si kecil ini ngamuk, batin Glen terkekeh.
"Percuma," ucap Glen membuat langkah Meti yang akan memutar tubuhnya tertahan.
"Kenapa?" tanya Meti heran dengan tatapan penuh selidik.
"Alva baru saja dibawa ke lab," dusta Glen menyakinkan.
"Emang Kak Alva kenapa sampai harus cek lab?" tanya Meti mulai panik.
Apa lukanya infeksi? batinnya mulai menebak cemas.
Hati Glen bersorak karena Meti udah masuk perangkapnya.
"Temanin Kak Glen dulu ke kantin..Baru Kak Glen mau cerita," jawab Glen cuek sambil memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan Meti.
Jujur Glen deg degan karena belum mendengar suara langkah sepatu hak tinggi Meti menyusulnya.
Meti masih mikir mikir, antar percaya dan engga. Sampai akhirnya melihat Glen yang mulai menjauh.
Kak Glen terlihat ngga bohong. Kalo dia bohong pasti noleh noleh, batin Meti menarik kesimpulan.
"Kak Glen!" panggilnya dengan suara centilnya sambil memperceoat langkahnya menyusul Glen.
Glen melengkungkan garis bibirnya dengan perasaan senang karena mendengar langkah langkah heels Meti yang menyusulnya.
__ADS_1
Taktikmya berhasil, hampir saja Glen bersiul saking senangnya.