Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Alva dan Tamara


__ADS_3

Alva masih menatap wajah Tamara yang keruh dengan hati ciut.


Apa dia masih marah? batinnya sesekali melirik istrinya.


Alva menghela nafas.


"Kamu masih marah?" tanya Alva agak takut takut.


Beristrikan Tamara membuat Alva memiliki berbagai macam perasaan. Kadang seperti ini, takut, tapi kadang kadang seperti pelindung perempuan lemah seperti di kasus Aruna waktu di rumah sakit, tapi kadang kadang perkasa apalagi kalo berada di tempat tidur. Seakan dialah raja penakluknya.


Tapi di saat rasa takut menyergapnya begini, sangat membuatnya ngga nyaman.


Masalah coklat sampai segitu marahnya, decihnya membatin.


Alva yang meyakini hanya masalah itu saja yang ada diantara mereka, membuatnya merasa kalo Tamara lebih kolokan dari Meti.


Soal foto saat ini dia merasa sangat aman, karena Arga ngga tanggung tanggung memback upnya sampai dengan membentuk tim.


Dia sangat berterimakasih pada tindakan preventif Arga.


"Hemm!" dengus Tamara jengkel.


Dasar ngga peka, batin Tamara sewot.


"Kita makan malam dulu, ya," ucap Alva untuk membuatnya bisa mengambil hati Tamara.


Dia akan membujuknya sampai singanya menjadi kucing yang menggemaskan lagi.


Tamara ngga menjawab.


Ngga jauh di depannya ada streetfood yang membentang di sepanjang jalan.


Alva kadang mampir di situ bersama Glen dan Reno kalo mereka sedang bosan 'minum' di club.


Sekarang Reno pun sedang sibuk mengawasi Nadia. Sedangkan Glen sedang ke luar kota bersama orang tuanya.


Alva menyeringai saar Glen curhat akan dijodohkan.


Entah sudah berapa kali dia menggagalkan perjodohannya. Tapi orang tuanya ngga pernah bosan melakukannya lagi dan lagi.


Alva pun memarkirkan mobilnya kemudian melirik Tamara yang masih diam. Tapi Alva bisa sedikit tersenyum melihat mata gadis itu yang bersinar memperhatikan stand stand penjualan yang bertebaran di sepanjang jalan itu.


"Yok," ucap Alva sambil melepas seatbeltnya.


Tanpa melihat Tamara dia pun membuka pintu mobilnya dan sedikit berlari memutar ke arah Tamara.


Tamara yang sedang melepaskan seatbealtnya menatapnya bingung dari kaca depan mobil.


"Ayo," ucap Alva sambil membukakan pintu mobilnya.


Wajah Tamara merona saat Alva melindungi kepalanya begitu dia keluar dari dalam mobil.


Perutnya tiba tiba terasa mulas karena merasa ada ribuan kupu kupu yang terbang dari sana.


Alva pun merengkuh bahu Tamara dan sebelah tangannya lagi di letakkannya di saku celananya.


"Kamu mau sosis bakar?" tanya Alva ketika mereka sampai di stand yang menyajikan makanan korea..


"Iya," sahut Tamara agak gugup. Lihatlah, hanya dengan sedikit perlakuan romantisnya, kemarahan Tamara sudah menguap begitu saja.


"Dua. Oh iya, mau pedas ngga?" tanya Alva sambil menoleh pada Tamara yang tenyata sedang menatapnya.

__ADS_1


"Ya," sahut Tamara sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Alva tersenyum. Jantungnya berdebar ngga seirana. Dia merasa kalo dirinya dan Tamara adalah dua bocah SMA yang sedang jatuh cinta.


'Dua yang pedas," kata Alva saat memesan.


Menyesal juga dulu Alva ngga mengenal Tamara waktu SMA.


Seingatnya Tamara hanya selalu bersama Aruna. Kemana mana mereka berdua. Dan tentu saja Alva mengingat kalo Tamara adalah pengawal Aruna. Dia selalu membela Aruna ketika Monika dan teman temannya memgganggunya.


Alva tersenyum. Rasa setia kawan Tamara mengingatkannya dengan sahabat sahabatnya. Mereka pun selalu bersama. Ngga ada orang lain yang bisa masuk ke dalam circle mereka.


Alva melirik Tamara lagi yang masih memperhatikan jajanan di street food lainnya seperri anak kecil. Tanpa sadar Alva tersenyum.


Ngga perlu tas mewah, sepatu mahal buat membujuk Tamara agar ngga marah lagi. Padahal dulu mantan mantannya yang ngambek baru akan manja lagi jika Alva sudah memberikan akses mereka untuk memesan tas atau sepatu limitted edition.


Tapi Alva berjanji nanti dia akan mengajak Tamara untuk memborong seluruh isi mall yang berisi tas dan sepatu *branded.


Kucingnya yang manis*, batin Alva gemas.


Dua sosis ukuran jumbo pun udah selesai di panggang. Keduanya menikmatinya sambil memperhatikan orang orang yang lewat.


"Mau lagi atau yang lain?" tanya Alva ketika sosis mereka sudah habis.


"Hotdog?" tanya Tanara ragu.


"Oke," jawab Alva setuju dan kembali merengkuh bahu Tamara. Mereka berjalan pelan menuju stand hotdog.


Suasana mulai mencair di antar mereka. Bahkan mereka sudah menghabiskan masing masing tiga hotdog.


"Kamu ngga lapar lagi?" tanya Alva saat mereka kini duduk santai sambil menyeruput jus mereka.


"Ngga, udah kenyang banget," tolak Tamara.


Alva pun membuka jasnya


"Ngga bau, kok," katanya sambil menyanpirkan jas itu di bahu Tamara.


Tamara hanya tersenyum


"Tadi cewe yang kita ketenu di Dubai nyamperin aku ke kantor," kata Tamara membuka topik yang sejak tadi menjadi kekesalannya.


"Oh ya? Kamu diapain sama dia?" tanya Alva kaget campur cemas. Matanya pun menatap Tamara penuh ketelitian.


Tamara malah tertawa lepas.


Ngga mungkinlah dia terluka.


Alva tersadar, kemudian balas tertawa menyadari kebodohannya.


"Pasti dia ya, yang udah kamu apa apain."


Tamara ngga menjawab,tapi terus saja tertawa mengingat ekspresi cewe itu yang hampir jatuh terjengkang kalo saja ngga ada mobil dan kaca spion yang menahannya.


Harusnya aku merekamnya, batinnya jahat.


"Dia menunjukkan foto foto yang sudah dia cetak. Kayaknya, sih, sepuluh R," jelas Tamara setelah tawa mereka reda


"Oooh," sahut Alva dengan alis berkerut. Baru dia mengerti kenapa Arga sampai membentuk tim. Kata Arga tadi ada publish juga foto syur dirinya, tapi tim Arga dengan cepat mengatasinya.


"Aku harus ngasih Arga apa, ya. Dia sudah sangat berjasa banget," kata Alva sambil mikir

__ADS_1


"Berjasa?" tanya Tamara heran.


"Iya. Arga sampai bentuk tim biar foto foto itu ngga beredar," kata Alva menjelaskan.


"Ooo,' ganti Tamara yang berseru o. Pantasan saja sejak Tamara memantengi akun gosip, tapi ngga ada satu pun gosip foto syur Alva yang terexpose. Rupanya hasil kerja tim Arga.


"Berapa banyak mantan kamu di luaran sana? Apa Arga akan terus bisa membackup kamu?" tanya Tamara jadi kesal.


Sekarang dia beruntung karena Arga sudah berhasil mengatasi masalah ini. Tapi besok besok? batin Tamara speechless.


"Jangan khawatir. Aku akan menghired mereka. Sebagai pegawai tetap tentunya dan akan aku gaji sepantasnya," sahut Alva sungguh sungguh.


Kata kata Tamara membuatnya jadi berpikir, siapa tau nanti bakal ada lagi mantan mantannya yang sama idiotnya dengan Shina. Mau mempermalukan dirinya sendiri di depan publik.


"Hemm.'


Waduh, batin Alva ketar ketir lagi melihat mood Tamara sudah balik lagi seperti waktu di mobil.


Alva pun meraih tangan Tamara yang sempat terkejut dan akan melepaskannya. Tapi Alva telanjur sudah menggenggamnya sangat erat.


"Maaf," ucap Alva sungguh singguh.


Walau gugup, tapi Tamara tetap mempertahankan wajah juteknya.


"Dulu aku memang sangat brengsek. Tapi pernikahan ini bukan coba coba buatku. Aku serius. Aku hanya mau sekali saja menikah seperti mami dan papi," kata Alva sungguh sungguh. Mimik santainya sudah ngga ada lagi.


Jantung Tamara seakan berlarian


Apa dia ngga bohong?


Tamara masih belum bisa percaya. Sulit memberikan kepercayaan seratus persen. Apalagi Tamara sangat mengenal Alva.


"Kalo nanti aku melakukan kesalahan, kamu boleh hukum aku apa aja. Misalnya suruh nyanyi lagu potong bebek angsa, atau lagu balonku ada lima atau --."


BUGH BUGH


"Aduuh. Kamu tenaganya super bemget, sih, Tamara," ringis Alva bersungut. Sebelah tangannya mengelus bahunya yang dipukul dua kali dengan kuat oleh tangan mungil Tanara.


Memang dari dulu Alva sudah mengakui kekuatan Tamara.


Tamara menatap ke arah lain, ngga menjawab. Dia menyembunyikan senyumnya yang sudah ngga dapat dia tahan mendengar kata kata Alva.


Dasar suami manja.


Tapi netra Alva yang awalnya kesal menangkap senyum yang disembunykan Tamara


Sudut bibirnya pun dinaikkannnya sedikit.


Ngga apa. Pukul aja lagi. Aku rela asal kamu ngga marah, batin Alva senang.


*


*


*


Shina yang merasa kesal karena selalu saja gagal mengupload foto foto mesranya bersama Alva nyaris saja melemparkan ponselnya ke lantai.


"Siaalll!" makinya gusar.


Ngga disangkanya Alva mempunya ahli IT yang hebat.

__ADS_1


"Mungkin laen kali," gumam Shina mulai menyerah. Dia menyimpan kembali foto foto itu ke dalam laci meja riasnya.


__ADS_2