Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Sang penakluk


__ADS_3

CEKLEK


Tamara masih saja terkejut kalo mendengar suara pintu yang terbuka. Pakaian yang berada di tangannya hampir saja berjatuhn


Apalagi kini yang muncul Alva. Udara di kamar terasa pengap.


Biarpun sudah menghabiskan malam malam panas di Dubai bersama Alva, tetap saja Tamara masih sungkan dan malu.


"Bisa buatkan aku kopi?" pinta Alva sambil duduk di atas tempat tidur. Dia sedang melihat Tamara yang sibuk merapikan pakaian mereka di lemari Alva.


Selama seminggu mereka akan menginap di rumah mama Alva.


"Ya," ucap Tamara sambil beranjak keluar.


Rasanya bisa menarik nafas sepuasnya saat sudah berada di luar kamar.


Tamara pun beranjak ke dapur. Mama dan Papa Alva sedang menghadiri pesta pernikahan salah satu putri rekan bisnis mereka. Jadi di rumah hanya tinggal mereka berdua saja. Sedangkan para pelayan sudah berada di kamar masing masing.


Tamara masih cukup bingung dengan kabinet yang terdapat di dapur. Karena mama Alva ngga pernah mengijinkannya masuk ke dapur.


"Panggil aja pelayan." Gitu kata mama Alva


Tamara ngga berani membantah. Dia yang biasa mandiri, jarang menyusahkan para pelayan di rumahnya. Dapur adalah tempat favoritnya. Di rumah mamanya atau bahkan di apartemennya.


Walaupun tomboy, Tamara cukup mahir memasask. Bukan hanya masak air atau mie. Tapi Tamara sudah sangat bisa memasak makanan berat. Sup, kare, rica rica bahkan rendang.


Di rumah hanya dialah si tomboy yang selalu membantu mamanya di dapur setelah kedua kakaknya menikah dan ikut tinggal bersama suami suami mereka.


Padahal dulunya mereka selalu memeriahkan dapur dengan menu menu baru.


Tapi di rumah Alva, Tamara sulit melakukannya. Larangan mama Alva membuatnya akhirnya menyerahkannya pada pelayan.


Untunglah ketemu juga kopi saset capucino setelah cukup lama mengubek ngubek kabinet.


Tamara pun menyalakan kompor dan memasak air panas untuk menyeduh kopi.


"Lama banget?" suara Alva terdengar cukup dekat.


DEG


Tamara kembali tersentak kaget. Dia masih belum terbiasa kalo Alva muncul tiba tiba.


"Kok, kamu ngga manggil Bi Rani?" tanya Alva mendekat. Dia tadi sebenarnya sudah cukup lama.melihat Tamara kebingungan di depan kabinet dapur.


"Sudah tidur," jawab Tamara gugup saat menyadari langkah Alva yang kian mendekat.


Di kamar aja sana. Ngapain ke sini, usir Tamara dalam hati.


"Airnya sudah mendidih," ucap Alva mengagetkan Tamara lagi.


Air yang berada di panci kecil itu sudah menampakkan titik didihnya.


Tamara kembali mengumpat dalam hati karena ngga menyadarinya.


"Eh, iya," tukasnya sambil menuangkan air panas itu ke cangkir yang sudah berisi bubuk capuccinonya.

__ADS_1


"Terimakasih," kata Alva kemudian meraih sendok.kecil di tangan Tamara dan mengaduk kopinya sendiri.


Kemudian dengan ngga acuh, Alva menyandarkan bokongnya di meja dapur dan menyesap kopinya.


Tamara yang merasa tugasnya sudah selesai memutuskan untuk pergi.


"Bisa masakin mi instan? Mumpung mami belum pulang," ucap Alva menahan langkah Tamara.


Tamara menatap dua bungkus mie yang berada di atas meja di dekat


Kok, bisa.ada mi? batinnya heran.


"Tadi Glen yang bawa. Kalo ada mami kita ngga dijinkan makan mi."


Tamara menatap Alva tajam sesaat mendengar kalimat laki laki itu.


Gawat, apa dia menikah dengan anak mami?


Ingin sekali Tamara menepuk jidatnya. Ngga ada dalan cita citanya menikahi laki laki manja. Tapi sekarang, inilah nasibnya.


Tanpa kata Tamara pun kembali memasak air dengan panci kecil yang berberda.


Alva terus mengamatinya sambil menyesap kopi panasnya perlahan.


Ngga nyangka, bisa juga di dapur. Bisa masak yang lain ngga ya? batinnya memuji. Malah muncul ide jahilnya untuk mengerjai Tamara.


Tamara tau kalo dia diperhatikan. Dia berusaha tetap cuek.


Alva pun menaruh kopinya yang tinggal separuh, kemudian mengambil piring datar. Dia langsung menggunting plastik bumbu mie itu dan menuangkannya ke piring.


Kemudian menyodorkan piring itu pada Tamara yang sudah merebus mienya.


Iya, iya. Cerewet banget, sih, batin Tamara sewot.


Tamara mentiriskan mie itu ke piring dan memberikannya ke Alva.


"Kok, ngga diaduk," protes Alva.


"Mau nyari sendok dulu," ucap Tamara sambil.menahan kesal.


"Pake sumpit aja," tunjuk Alva memberi tau.


"Ambil empat sumpitnya. Kita makan bareng," titah Alva ketika melihat Tamara hanya mengambil dua sumpit saja.


Tamara sempat terdiam sebelum melakukan pintanya Alva.


"Aku ngga gitu lapar," kata Alva sambil menaruh mi di atas meja, kemudian menggeser kursi di sampingnya agar Tamara duduk di dekatnya.


Dengan canggung Tamara memberikan Alva sumpitnya.


Jarak mereka terlalu dekat. Tamara jadi susah bernafas lagi.


Keduanya pun mengaduk mie dalam diam.


Alva memutar mie cukup besar dalam sumpitnya dan memberikannya pada Tamara.

__ADS_1


"Terlalu banyak," tolak Tamara sambil melirik kesal.


Alva tersenyum menatap wajah yang kesal tapi juga merona itu.


Gugup ya? batinnya nakal.


Alva pun mengurangi mienya dan menyuapkannya pada Tamara. Tepatnya memaksa Tamara agar menerima suapannya.


Tamara memalingkan wajahnya dari Alva sambil berusaha keras menelan mie yang rasanya begitu sulit melewati kerongkongannya.


Alva menampilkan smirknya melihat Tamara yang grogi, dan menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


Ternyata ngga susah juga naklukin Tamara.


Dia ingin tertawa mengingat betapa besar kekhawatiran teman temannya akan nasibnya di tangan Tamara.


"Udah nelannya belum?" tanya Alva sambil mendekatkan lagi sumpitnya yang berisi mie.


Tamara yang baru saja menelan makanannya, kini terpaksa membuka mulutnya lagi. Padahal dia lebih suka makan sendiri.


Tamara heran dengan dirinya yang gampang diintimidasi Alva.


Tatapan Alva yang begitu dekat, juga nafas bau kopinya, membuat jantung Tamara berdegup ngga menentu.


Alva pun ngga nyangka, Tamara yang garang di luar ternyata sangat lumer saat berdekatan dengannya.


Mengingatnya yang tanpa kesulitan berhasil meniduri Tamara, membuatnya ingin melakukannya lagi.


Setelah Tamara menelan mienya dengan susah payah, dia makin terkejut dengan keberadaan wajah Alva yang semakin dekat.


"Ada saos di bibir kamu," ucap Alva serak. Tatapannya berubah sayu.


Tamara makin berdebar. Dia tau tanda tanda ini.


Tanpa menunggu jawaban Tamara. Alva menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir Tamara.


Malah sebelah tangannya menarik tengkuk Tamara semakin mendekat, membuatnya semakin dalam mengecup bibir itu.


Jangan lupakan sebelah tangannya yang dengan nakal masuk ke.dalam kaos Tamara dan bergerilya di sana.


Tubuh Tamara hanya bisa tersentak sentak tanpa bisa memprotes apa yang dilakukan Alva, suaminya.


Setelah agak lama berciuman, Alva pun menjauh. Dia menatap Tamara yang kini menatapnya sayu.


Alva pun memberikan gelas kopinya pada Tamara membuat gadis itu tersadar dan menyesapnya sedikit.


Kemudian Alva menghabiskan kopi itu sambil terus menatap Tamara yang menunduk, seakan sedamg menahan gairahnya.


Alva sudah memancingnya. Dia sangat pro dalam hal ini. Alva tau saat tadi melepaskan bibir dan tangannya dari Tamara, gadis itu dalam mode hampir dituntaskan. Tapi jadinya garing.


Alva akui Tamara sangat hebat dalam pengendalian diri. Ngga seperti perempuan perempuannya dulu yang akan langsung menyambarnya dan memohon mohon padanya.


Tamara kini malah bangkit berjalan meninggalkannya menuju kulkas.


Kemudian gadis itu meneguk air mimeral yang dingin itu tanpa mempedulikan Alva yang sedang tersenyum miring melihatnya. Dia pun menghampiri Tamara, dan meraih botol yang masih menyisakan sedikit air, dan ganti meneguknya.

__ADS_1


Keduanya kini saling bertatapan.


"Yuk, ke kamar," ucap Alva sambil membuang botol air mineral yang sudah habis ke tempat sampah.


__ADS_2