Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Masih di kafe


__ADS_3

"Oke, Pa," sahut Kiano sambil menyimpan ponselnya ke saku celananya. Dengan santai dia melangkah menghampiri teman temannya yang sudah selesai menikmati makan malam mereka dan mulai sibuk dengan ponsel masing masing. Seperti dirinya barusan yang ditelpon papinya.


"Ada masalah?" tanya Regan setelah Kiano duduk di sampingnya.


"Papi berhasil mengungkapkan penipuan tender Om Ruslan."


"Siapa Om Ruslan?" tanya Reno tertarik.


Seperti pernah dengar, batinnya.


Alva yang baru saja memutus secara sepihak telpon dari maminya juga mengalihkan tatapannya pada Kiano. Dia lebih suka fokus ke topik Kiano dari pada topik ngga jelas maminya.


Padahal dari pertama sudah dia katakan terserah maminya dan mama Tamara tentang pernik pernik pernikahannya. Dia terima beres saja.


Pusing dia harus bertanya pada Tamara tentang apa yang dia suka dan engga. Belum tentu juga gadis itu akan menjawab dengan jujur.


Bukannya maminya akan lebih mudah mendapatkan informasi dari mama Tamara tentang apa saja kesukaan putrinya termasuk ukuran pakaian luar dan dalamnya?


Alva belum mau bilur bilur dan bengkak bengkak lagi akibat pertanyaan maminya. Padahal bengkak dan bilur karena menyelamatkan Aruna baru saja sembuh. Pasti Tamara akan menghajarnya dan memakinya sebagai laki laki kurang ajar jika dia menanyakan ukuran dan merk underwear yang biasa dia pakai.


Dia masih belum kehilangan akal sehatnya. Padahal itu bukan kemauannya. Alva tanpa sadar menghela nafas panjang.


"Om Ruslan Prameswara yang ketipu milyaran itu ya?" tebak Arga. Dia sempat tau kasusnya dari papanya.


"Iya, penipunya sudah tertangkap. Sayangnya sebagian uangnya sudah ludes. Tapi syukurlah masih ada yang bisa diselamatkan," kata Kiano menjelaskan.


"Aries yang mengurusnya," tebak Glen yakin. Karena laki laki itu andalan papi Kiano.

__ADS_1


"Betul," jawab Kiano dengan segaris senyum di bibirnya.


Anak sahabat papinya itu selalu bisa bergerak cepat. Baru sehari Kiano melaporkan pada papinya. Atas suruhan papi, dalam sehari juga Aries bisa membongkarnya.


"Kasihan, kata papi mereka terancam bangkrut," cetus Alva.


Kabar kebangkrutan mendadak keluarga Ruslan Prameswara cukup menghebohkan juga.


"Lo kenal dekat dengan Om Ruslan? Kabarnya dia punya seorang anak perenpuan. Apa lo pernah dijodohkan dengannya?" kekeh Glen menuduh.


Reno dan Alva pun terkekeh. Arga menipiskan bibirnya.


"Sembarangan," bantah Kiano ngga terima.


"Tapi, kok, papi lo mau bantu sampai sebegitunya? Papi lo kenal akrab?" tanya Regan kepo.


"Secara ngga sengaja. Aruna meminta tolong aku membayarlan biaya operasi dan pengobatan Om Ruslan. Dia ngga tega melihat istri dan putrinya menangis karena belum mendapatkan biaya operasi," kata Kiano kemudian tersenyum senyum mengingat momen lucu waktu Aruna menangis.


Glen merasa dejavu. Seperti pernah mendengar kata kata biaya dan operasi. Tapi dia lupa pernah mendengarnya di mana.


Tapi Glen ngga ingin memeras ingatannya terlalu keras lagi untuk mengingatnya. Cukup saat meeting yang sangat sangat menyebalkan itu saja.


"Kenapa kamu senyum senyum?" sergah Alva mencibir.


Apa pun yang diminta Aruna pasti akan dilakukan Kiano. Kalo Aruna suruh nyungsep pun pasti akan dilakukannya, hinanya dalam hati.


"Gue mengira Aruna menangis karena ada yang berbuat jahat padanya. Ternyata bukan itu," kekeh Kiano yang hanya ditanggapi dengan cibiran oleh Alva dan Glen.

__ADS_1


Reno pun meliriknya mencela, ngga dikiranya Kiano bisa sebucin ini dengan Aruna.


Arga dan Regan hanya tersenyum tipis melihat reaksi teman temannya terhadap polah Kiano yang sudah benar benar terbenam di rawa rawa yang sudah ngga bisa diselamatkan lagi.


"Syukurlah sekarang keadaannya semakin membaik. Sementara papi meminta Lilo yang mengurus bisnisnya sampai beliau sembuh," jelas Kiano yang ngga memperhatikan reaksi sahabat sahabatnya yang merendahkannya.


Dia sibuk mengingat wajah Aruna saat itu. Sungguh cantik dan menggemaskan. Kiano kembali tersenyum membuat sahabat sahabatnya semakin mencibir ke arahnya.


"Syukurlah kalo begitu, ya. Gue memang brengsek, tapi gue ngga suka nipu nipu dalam bisnis," tegas Reno yang diangguki Glen.


"Iya, biarpun kita brengsek, tapi kita ngga doyan uang haram," tambahnya lagi.


"Jadi maen perempuan ngga haram, ya," ledek Arga membuat Alva tersentil. Dia pun berada dalam zona Glen dan Reno. Hiper.


"Itu, kan, suka sama suka," kilah Glen enteng.


"Betul," sahut Alva membenarkan.


"Ingat, ya, gue ngga maen paksa," tambah Glen lagi sangat santai membuat Kiano, Arga dan Regan menggelangkan kepalanya mendengar pembelaan diri Glen. Sedangkan Alva tergelak.


Reno terdiam. Mulutnya jadi kaku untuk digerakkan. Kata kata Glen mengingatkan kebejatannya pada Rain.


Ya, dia sudah memaksa gadis itu, batinnya ngga tenang.


Padahal dia dulunya ngga begitu. Reno sama seperti Glen dan Alva. Jika perempuannya ngga mau, ngga akan mereka lakukan dengan paksaan.


Tapi kenapa dia sangat kejam terhadap gadis itu? Padahal dirinya pertama untuknya.

__ADS_1


Reno menghembuskan nafas kasar. Untung sahabat sahabat nya ngga memperhatikan tingkah anehnya.


__ADS_2