Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Glen Mulai Curiga


__ADS_3

"Aku mau ke toilet," pamit Nadia masih dengan raut kesalnya.


"Oke," sahut Glen merespon, dia melirik Regan yang hanya diam saja dan hanya memutar mutar cangkir kopi yang baru saja disesapnya.


Nadia pun pergi setelah melemparkan tatapan kesalnya pada Reno yang ngga mempedulikannya.


Begitu Nadia menjauh, Glen menatap Reno heran.


"Lo kenapa? PMS?" sarkas Glen menyindir.


Reno ngga menjawab. Sejujurnya dia sangat shock melihat keberadaan Rain yang menjadi kasir. Setelah lebih dari seminggu lamanya ngga pernah bertemu.


Bahkan Reno yakin kalo Rain sudah memblokir nomernya. Dia pernah mencoba menghubungi Rain karena setelah kejadian itu dia pernah mencari Rain di kampusnya. Tapi ngga ketemu, kemudian mencoba menelponnya. Ngga tersambung.


"Ternyata Rain mau jual keperawanannya untuk membayar biaya operasi papanya," cicit Glen sambil menatap Rain yang masih sibuk ngelayani pembeli di kasir.


DEG


Jantung Reno seakan menampar keras dadanya sampai dia merasakan sakit.


Glen tau dari mana? batinnya dengan netra kini terfokus pada Glen.


"Kalo saja dia terus terang, gue pasti akan membayar berapun yang dia butuhkan. Ngga perlulah gue ambil keperawanannya. Anggap aja gue kerja di dinsos," cicit Glen lagi masih menatap Rain.


"Untunglah udah ada yang menolong tanpa dia harus menjual keperawanannya," tambah Glen lagi bercerita.


Reno makin terdiam, tanpa bisa berucap sepatah kata pun.


Dia masih kaget dengan kenyataan yang barusan dia dengar.


Apalgi dia sudah sangat kejam pada Rain akibat kemarahan bodohnya.


"Gue jadi teringat dengan ucapan Kiano. Mungkin ngga, sih, Rain anak Pak Ruslan? Bukannya Pak Ruslan juga punya anak perempuan?" sambung Glen penuh tanya sambil menatap serius pada Reno.


"Mungkin saja kebetulan ceritanya sama," jawab Reno datar.


"Tapi ini terlalu kebetulan, ya," ucap Glen lagi.

__ADS_1


"Banyak kebetulan terjadi di sekitar kita," balas Reno lagi.


Hatinya tetap ngga percaya kalo Rainlah anak perempuan yang di maksud Kiano.


Glen ngga menyahut.


"Mana Regan? Kok, belum muncul?" tanya Glen sambil melihat jam tangannya .


"Masih di jalan katanya," balas Reno kemudian memyesap kopinya. Netranya kini beradu pandang demgan Rain, tapi sesaat kemudian Rain memalingkan pandangannya.


Tapi Reno terus menatap Rain tanpa menyadari Glen menyorotnya mulai curiga akan interaksi aneh keduanya.


Ada apa dengan mereka? batin Glen.


*


*


*


Regan membiarkan pegangannya telepas. Bibirnya tersenyum nakal.


"Kenapa dilepas?"


"Kakak sepertinya salah paham. Aku bukan seperti Vani. Kebetulan aja kami sedang bersama karema tugas kuliah," jelas Dinda hati hati.


"Aku tau kamu beda," jawab Regan tenang sambil fokus menyetir.


"Karena itu aku menghindarimu," lanjut Regan terus terang.


Dinda terpana mendengarnya.


Apa benar yang dia.katakan, batin Dinda ngga percaya.


"Ternyata walau sudah menghindar tetap saja bisa ketemu kamudi butik mamaku," tawa Regan renyah.


Juga kita ketemu lagi, batin Dinda menambahkan. Dia pun masih diam ngga menyahuti Regan. Hanya menjadi pendengar yang baik dengan detak jantung semakin cepat

__ADS_1


"Hari ini pun aku iseng ke kampus kamu. Ngga begitu berharap bisa bertemu kamu, sih. Apalagi kita ngga saling menyimpan nomer hape. Tapi nyatanya kita bisa bertemu dengan amat mudah."


Kali ini Regan menatap Dinda lekat membuat gadis itu gugup karena kepergok sedang menatapnya. Wajahnya merona. Terasa sangat panas sampai ke telinga.


"Seakan akan kita sudah ditakdirkan," ucap Regan penuh arti.


Dada Dinda terasa bergemuruh, seolah ada badai dengan skala tinggi yang sedang mengamuk dengan sangat hebat.


"Kamu tau, sikapmu sangat menggoda. Tapi aku berusaha menahannya. Padahal aku ingin sekali mengecup bibir merah kamu," keluh Regan seperti frustasi dengan netra terus mengintimidasi Dinda.


Saat ini mobilnya berhenti di lampu merah. Regan pun mendekatkan jempol tangannya ke arah bibir Dinda. Jempol tangannya mengusap bibir Dinda, agak ditekan dengan lembut. Kemudian berbalik diusapkannya ke bibirnya.


"Cukup manis."


Jantung Dinda mau melompat karenanya.


Pesona laki laki ini terlalu kuat, batin Dinda ngga tenang. Benar benar ngga tenang. Dia merasa sudah mulai terbenam dan ngga bisa melarikan diri lagi.


Setelah lampu berubah hijau, Regan kembali menjalankannya. Sekarang.suasama hening menyelimuti mereka.


Dinda masih termangu akibat perlakuan ngga terduga dari Regan.


Regan menghentikan mobilnya di parkiran kafe yang menjual aneka kopi dan makanan ringan. Kafe yang cukup luas dan sudah sangat terkena akan rasa kopimya yang enak.


Regan meliriknDinda yang masih diam membisu di sisa perjalanan mereka.


Kafe tempat Rain bekerja? batin Dinda setelah mengenali kafe tersebut.


"Ayo kita turun," kata Regan sambil melepas seat beltnya. Dinda pun melakukan hal yang sama.


Keduanya pun membuka pintu mobil.


Regan membiarkan Dinda untuk jalan duluan. Dia mengikutinya dari belakang dengan kedua tangan dimasukkannya ke dalam saku celananya.


*Mengapa aku seperti terobsesi dengannya?


Sulit. Pasti akan sangat sulit jika sering berdekatan dengannya*, batinnya mengeluh.

__ADS_1


__ADS_2