Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Apesnya Tamara


__ADS_3

"Kamu ngapain ganti baju lagi?" tanya Kiano ketika melihat Aruna sudah berganti pakaian lagi.


Kiano kembali ke kamar karena akan mengambil pomselmya yang ketinggalan saat dia keluar setelah Aruna tadi menemui Tamara.


Aruna hanya memanyunkan bibirnya membuat Kiano mengerti. Saat ini Aruna mengenakan kaos leher tinggi.


Karena Tamara ngga punya syal, dan juga terlihat aneh jika sarapan pagi di.rumah memakai syal, Aruna memutuskan untuk mengganti dresnya.dengan kaos leher tinggi miliknya.


"Apa kamu ntar ngga kepanasan?" pancing Kiano memggoda. Sekarang Arunanya sudah mulai jinak.


"Gara gara kamu, kan," kesal Aruna. Dia teepaksa memgenakan kaos leher tinggi untuk menutupi bercak bercak biru yang berkilauan akibat ulah suami mesumnya.


"Jangan ditutupi, dong. Biar pada tau kalo kita sering berproses buat anak," kekeh Kiano santai.


Aruan menatap.Kiano tajam.


"Kenapa? Aku salah?" tanya Kiano masih dengan raut tawanya walaupun tawanya sudah usai..


"Salah besar. Kalo melakukannya terlalu sering begini, ****** kamu ngga dalam kualitas yang bagus."


"Kamu meragukan aku?" Kiano dengan mantap melanglah mendekati Aruna yang reflek berjalan mundur.


"Ayp, kita main lagi..Aku yakin bentar lagi dalam.rahim kamu akan berkembang calon anak kita," kata Kiano sambil menarik paksa Aruna dalam pelukannya.


Aruna terkesiap, terpesona sesaat akan tindakan Kiano yang membuat jantungnya berdebar kencang. Wajah mereka sangat dekat. Kiano pun semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna yang sudah memejamkan mata.


TOK TOK TOK TOK


"Kalian ngapain. Sarapan.dulu," seru mama Kiano kencang dari luar.


Karena kaget Aruna langsung mendorong tubuh Kiano hinga menjauh.


Kiano terkekeh saat pelukannya berhasil lepas. Wajah Aruna merona merah membuat Kiano tambah gemas.


"Kamu cantik kalo malu malu gitu," goda Kiano lagi membuat Aruna salah tingkah.


"Kita keluar sekarang sebelum mami mikir macam.macam."


Kiano menarik tangan Aruna dan menggenggamnya lembut dan mereka pun berjalan meninggalkan kamar menuju ruang makan.


Kehadiran pasangan muda itu membuat semuanya saling lirik pada kerah tinggi yang dikenakan Aruna dengan tatapan penuh arti. Bahkan bibir kakek Suryo tanpak tersenyum lebar.


Aruna yang ngerti spontan menunduk dengan wajah merah dan terasa sangat panas. Dalam.hati terus menyalahkan Kiano dan dirinya sendiri.


"Tenang saja. Mereka itu bahagia karena kita sebentar lagi akan memberikan cucu dan cicit," bisik Kiano santai.


Aruna hanya bisa menghela nafas. Ngga disangkanya Kiano yang dulu dikenalnya dingin, cukup frontal juga.


"Ayo, sayang, mami sudah masakin semua makanan yang .mengandung asam folat. Biar nanti calon bibit yang timbih semakin unggul," kata Mama Bela membuat suaminya, kakek dan nenek.Kiano jadi melebarkan senyimnya. Tamara pun ikut tersenyum.

__ADS_1


"Mau se unggul apa lagi, Mi. Aruna aja udah unggul bamget," balas Kiano santai membuat Aruna semakin ingin mencubit lengannya dengan kejam.


Dengan gaya khas gentlenya, Kiano mendoromgkan kursi buat Aruna duduk.


Sikap Kiano yang penuh perhatian selalu membuat Aruna goyah untuk marah padanya dalam waktu lama.


"Kamu itu kalo muji istrimu, jos banget," timpal mami Kiano membuat mereka akhirnya terkekeh.


Diam.diam.Tamara melirik Aruna yang terlihat makin salah tingkah. Tapi Tamara tau, sahabatnya bahagia bersama Kiano. Cinta sahabatnya sejak SMA masih berpendar pendar.di sepasamg matanya, walaupun selalu disangkalnya.


"Cepatlah buatkan nenek cicit, ya. Nenek udah ngga sabar lagi," tambah nenek Kiano dalam tawanya yang masih berderai. Tapi ucapannya terkesan menuntut.


"Tenang, nek. Mungkin bentar lagi ada kabar baik," jawab Kiano santai.


Uhuk uhuk uhuk


"Minum sayang," kata Kiano sambil menyerahkan segelas air mineral pada Aruna yang tersedak sampai terbatuk batuk mendengar ucapannya.


Tangan Kiano dengan lembut menepuk nepuk pundak Aruna agar batuknya reda.


"Aruna, kamu ngga apa apa?" tanya mami Kiano khawatir.


"Hati hati makannya sayang," ucap nenek Kiano ngga kalah khawaturnya.


Dengan susah payah Aruna menggelengkan kepalanya


"Ya sudah. Kita makan dulu, ngobrolnya nanti saja," kata kakek Suryo memutuskan.


Kadang Aruna sangsi, apa ini Kiano yang dulu dia taksir dan dipujanya waktu SMA. Rasanya bukan seperti ini.


Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di ruang keluarga. Hanya saja terjadi keheranan karena Alva bersama orang tuanya berkunjung dalam.waktu sepagi ini.


Kiano menatap heran pada Alva yang juga menatapnya resah dan bingung. Dia terlihat cukup sehat padahal baru saja mengalami pengeroyokan hebat.


Apa otaknya mengalami pergeseran?


Kiano menatap ponselnya heran, karena Regan, Glen, Arga dan Reno sama sekali mgga memberikannya pesan apa pun.


Tamara sendiri menatap Alva penuh kesal. Kenapa pagi indahnya dinodai dengan kedatangan laki laku kurang ajar ini.


Melihat wajah Alva yangg tegang, Kiano yakin akan terjadi suatu hal yang luar biasa di pagi hari ini.


"Maaf mengganggu, Om," ucap papa Alva sambil menyalim tangan Kakek Suryo dan istrinya. Begitu juga Alva.


"Ada apa kalian kemari pagi pagi begini?" tanya Kakek Suryo heran.


"Begini, Kek, Dika, kami ada urusan sedikit dengan Tamara," kata papa Alva mengurai maksud kedatangannya.


"Saya, Om?" tanya Tamara terkejut, ngga menyangka. Hatinya merasakan firasat buruk.

__ADS_1


"Iya, Tamara," sahut mama Alva lembut.


Orang tua Kiano dan kakek nenek Kiano saling pandang.


"Ada apakah?" tanya mama Kiano ngga bisa menahan rasa penasarannya.


"Iya, ada apa Rifki?" tanya papa Kiano juga ngga kalah penasarannya.


Sekilas beliau melirik wajah Alva yang tegamg dan wajah Tamara yang tampak kesal dalam bingungnya.


"Kami ingin melamar Tamara buat Alva," kata papi Alva to the point.


"APA?!"


Nggak hanya Tamara yang kelihatan shock, Aruna pun begitu. Bahkan mami Bella sempat ternganga saking kagetnya.


Kiano langsung melayangkan sorot bingung ke arah Alva yang kini sudah menundukkan kepalanya dalam dalam.


Ada apa ini? batin Kiano sambil melirik istrinya. Istrinya menatap Tamara yang wajahnya kini keruh.


Kiano ngga tau, ulah apa lagi yang sudah diperbuat Alva. Mengapa harus membawa bawa Tamara segala.


"Kalian apa ngga salah tempat. Harusnya, kan, ke oramg tua Tamara jika ingin melamar," kata papi Kiano mengoreksi.


"Betul, tapi kami ingin memastikannya dulu," sahut papi Alva.


"Memastikan apa?" tanya kakek Suryo ngga sabar.


Papi Alva menarik nafas panjang. Istrinya pun sudah terlihat gelisah.


"Kata Alva, dia mau bertanggungjawab atas Tamara."


JEDDEEERR!


Rasanya ada petir yang sangat keras, menampar gendang telinga Tamara membuat dia terpaku.


"Tamara? Mak maksudnya apa?" tanya Aruna terbata. Dapat Aruna lihat wajah Tamara yang tambah keruh.


Ngga mungkin, kan? Aruna ngga berani meneruskan pikiran buruknya.


Aruna yakin, sahabatnya ngga mungkin tertarik dengan Alva, apalagi sampai melakukan hubungan suami istri. Alva bukan tipenya Tamara.


*Laki laki ini sudah gila. Apa maksudnya bertanggung jawa*b, batin Tamara mengumpat kesal.


"Tamara sayang? Bisa jelaskan apa yang sudah terjadi?" tanya mami Kiano lembut dan tetap tenang walau dalam hati sudah penuh prasangka buruk. Tapi juga ragu nelihat sikap Tamara yang juga terkejut. Seakan akan merekqa semua terkena prank.


"Ngga terjadi apa apa antara kami, Om, Tante," sahut Tamara setelah mengatur nafasnya agar tetap tenang, dan meredam emosinya.


"Kata Alva, dia......," suara mami Alva mengambang. Rasanya kurang pantas mengumbar aib calon mantunya di depan banyak orang.

__ADS_1


"Ngga terjadi apa apa, tante. Sungguh, saya ngga berdusta," ucap Tamara agak frustasi. Harga dirinya dipertaruhkan. Teganya laki laki songong dan manja ini mempermalukan dirinya di hadapan keluarga besar Aruna.


__ADS_2