Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Preewed Arga


__ADS_3

"Lo serius kita preewed di sini?" tanya Arga sambil menatap air terjun yang ada di lereng gunung ini.


Jalan ke sini cukup terjal. Mereka tadi berjalan kaki dan mobil hanya bisa diparkir setengah kilo dari sini. Untung waktu SMA, dia bersama Regan sering melakukan hiking bersama ke gunung. Jadi cukup paham tentang medannya.


Hanya saja karena sudah lama ngga melakukannya, rasanya kedua kakinya cukup pegal juga.


Bahkan gadis keras kepala yang awalnya sangat semangat memaksakan kehendaknya melakukan preewed di sini sudah terengah engah nafasnya.


Yang Arga kasiankan adalah para kru. Walaupun rata rata laki laki, tapi bawaan mereka ngga bisa dibilang enteng. Sedangkan kru perempuan mungkin sudah banyak kali mengumpat di belakangnya karena mendapatkan customer seperti Qonita.


"Bagus, kan, pemandangannya," tukas Qonita sok asik.


Di depan mereka ada kolam yang menjadi tempat tampungan air terjun di atas sana. Airnya sangat jernih hingga dasarnya terlihat jelas. Pasti juga sangat dingin jika nekat nyebur di sana.


Curug ini masih cukup alami. Entah dari mana Qonita mendapat inspirasi gilanya ini


"Terus lo mau nyebur? Mau jadi mermaid?" sinis Arga melihat kekeras kepalaan gadis itu. Padahal dia sudah terlihat sangat lelah, tapi tetap saja menampakkan diirinya yang sok kuat.


Mereka berangkat subuh subuh agar ngga ngga terkena macet. Dan kini jam delapan pagi dengan susah payah bisa sampai di pinggir kolam air terjun ini.


Sekarang para kru sedang mengeluarkan peralatan yang tadi dibawa dan sedang memasangnya sesuai keperluan


"Kalo iya, kenapa?" tantang Qonita galak.


Bener bener, ya.


Mami!


*I**ni bukan calon istri penurut. Tapi pembangkang, omel Arga dalam hati*.


"Ya udah, nyebur sana," ketus Arga sambil melangkah pergi meninggalkan gadis keras kepala ini.


Padahal sekaramg jamannya sudah sangat teknologi banget. Ngga perlu lah ke temoat aslinya. Tinggal cari foto yang bagus terus foto di situ. Editan sekarang juga canggih canggih.


Demi apa coba dia terpaksa memundurkan semua skejul hari ini dan besok besoknya bakal sibuk sangat parah.


Arga membuang nafasnya kuat kuat untuk membuang kekesalan yang membuat dadanya sesak.


Sambil duduk di kursi kecil yang diberikan oleh salah satu kru, dan setelah meneguk air mineralnya hingga setengah, dia pun menatap sekelilingnya.


Curug ini sangat indah. Masih dikitari pohon pohon besar sehingga udara yang dihasilkan sangat segar. Juga nyaman. Arga akui itu.


Kalo hanya ingin mengexplore curug, sih, Arga ngga keberatan. Karena dulu dia sering melakukannya bersama Regan. Kadang kadang Kiano dan Glen ikut juga. Minus Alva dan Reno yang lebih suka hiking ke luar negeri. Ke tempat mewah yang ngga melelahkan.


Tapi saat itu mereka cukup membawa ransel kecil yang berisi tenda yang minimalis dan bisa dilipat sangat tipis, dan beberapa botol air mineral dan makanan instan.


Bawaan yang ngga merepotkan.


Tapi saat ini, bawaan para lru sangat luar biasa. Apalagi pemberitahuan yang mendadak tanpa persiapan fisik sama sekali. Benar benar melelahkan.


Arga pun melepas sepatu dan kaos kakinya. Dia merendam kedua telapak kakinya setelah kebih dulu melipat celana panjangnya hingga selutut. Dinginnya air seakan menjadi terapi yang mengembalikan kesehatan kakinya.


BYUURRR!!

__ADS_1


Arga dan beberapa kru melotot ke arah suara gebyuran air akibat jatuhnya bongkahan yang sangat berat.


Qonita dengan santainya berenang sambil telentang dengan memejamkan matanya.


Mata Arga terpaku kuat tanpa bisa dia alihkan.


"Kelihatannya sangat menyenangkan, ya."


"Iya."


"Jadi pengen berenang juga."


Terdengar ucapan ucapan halus dari beberapa kru yang ada di dekatnya.


Arga pun berdiri dan tanpa tanpa ragu membasahi kakinya sampai ke tengah dan mulai berenang perlahan mendekati Qonita yang belum menyadari kehadirannya.


Untungnya momen momen spontan ini langsung di jepret dan direkam beberapa kru yang sudah punya insting kuat dalam menampilkan hasil foto dan video yang spektakuler dan menakjubkan.


Apalagi keduanya bukan berakting tapi melakukannya dengan alami.


Arga pun ikut menelentangkan tubuhnya perlahan di samping Qonita. Matanya terpejam merasakan kesegaran air yang masih asli dari puncak gunung.


"Enakkan?" bisik Qonita tanpa membuka matanya. Rupanya dia sudah menyadari kehadiran Arga.


"Ya," jawab Arga jujur.


Terbebas dari suasana macet, kerjaan yang ngga ada abisnya serta buruknya udara di kota besar, curug ini menjadi tempat healing yang sangat sangat mereka butuhkan.


"Pernah pergi ke sini?" tanya Arga ingin tau.


"Tapi tadi kelihatan kepayahan," sarkas Arga menyindir.


"Namanya udah lama ngga bermain di alam bebas."


Tanpa sadar bibir Arga tersenyum mendengar sungutan bernada kesal itu.


Matanya terbuka dan melirik Qonita yang juga sedang meliriknya.


"Kita berenang sampai ke sana. Yang menang boleh minta apa aja," ucap Arga sambilnmenunjuk batas yang akan menjadi tempat finis mereka.


"Siapa takut," balas Qonita dan dengan cepat membalikkan tubuh dan menggerakkan kedua tangan dan kakinya menjauhi Arga.


"Curang," kekeh Arga kemudian bergerak menyusul.


Qonita hanya melambaikan tangannya mengejek.


Aktivitas mereka pun direkam dan di foto para kru.


Para kru pun yang awalnya mengeluh dan mengumpat, kini tertawa tawa melihat kelakuan kedua anak konglomerat yang terlihat uwu dan labil.


"Setelah ini aku juga mau berenang."


"Iya, kelihatannya sangat menyenangkan."

__ADS_1


"Aku hanya ingin berendam."


"Hahaha...."


"Hahaha...."


Para kru itu pun saling melempar kata dengan riang.


Kegiatan membuat preewed kali ini menjadi sangat menyenangkan.


*


*


*


Setelah tiga jam berlalu keduanya kini sudah berganti dengan pakaian yang kering.


Sekarang para kru yang gantian menikmati dinginnya air gunung yang sangat menyegarkan.


"Makanlah," ucap Arga sambil mengulurkan sekotak makanan beserta sebotol air mineral.


"Terimakasih."


Arga pun duduk di sanping Qonita sambil melihat keriuhan para kru yang sangat bergembira di dalam air.


"Kelihatannya mereka ngga jadi menyesal sudah ke sini," ucap Arga sambil membuka kotaknya dan mendapati menu nasi, paha ayam bakar, sambal dan lalapan kemangi serta mentimun.


"Tentu saja," sahut Qonita sombong sambil menggigit paha ayam bakarnya.


"Jangan lupakan hadiahku," kata Arga mengingatkan Qonita akan kemenangannya tadi.


Walapun Qonita sudah berlaku curang demi mengalahkan laki laki memyebalkan di sampingnya ini, tetap.saja dia ngga mampu mengalahkan kecepatan kaki dan tangan Arga.


Bahkan laki laki mesum ini tertawa tawa ketika melewatinya. Dia pun ngga bermaksud menang telak, hanya ingin menunjukkan jarakmya yang sudah terlewati.


Dasar menyebalkan.


Qonita sangat kesal karena ngga bisa melampauinya lagi, padahal jarak mereka cukup dekat.


Dasar egois. Mau menang sendiri, omelnya tiada henti dalam hati.


Dan dia terjebak dalam ucalannya sendiri. Pasti laki laki ini akan meminta yang aneh aneh. Menyesal juga sudah memberikannya kesempatan.


"Hemm..." dengus Qonita pura pura ngga peduli.


"Lo ngga tanya gue minta apa?"


"Malas."


Arga tertawa, untung dia uidah menelan dengan sempurna kunyahannya.


"Akan gue pikirkan nanti," jawabnya di sela tawanya.

__ADS_1


Qonita meliriknya kesal sambil manyun.


__ADS_2