
Olivia kembali ke dapur menyiapkan makan malam untuk kedua jagoannya. Dia ditemani pelayan senior.
"Bi, bawakan teh hangat ini ke meja suamiku, ya. Dia jarang meminum kopi akhir-akhir ini. Mungkin sudah bosan bekerja dari pagi hingga malam hari," ucap Olivia.
"Iya, Nyonya."
Setelah semua hidangan selesai dan terhidang di meja makan, Darsh dan Dizon sudah berada di sana. Keduanya tak pernah berbicara kecuali saling memerlukan.
Olivia mengambil piring makan suaminya dan mengisinya dengan beberapa makanan porsi kecil. Sambil menyelesaikan rutinitasnya, Olivia ingin mengatakan kabar baik untuk Darsh.
"Darsh, Papamu sudah setuju memberikan waktu untukmu. Dengan catatan, selama seminggu kamu juga ikut ke kantor bersama Papa. Apa kamu keberatan?" ucap Olivia.
Hampir aku melupakan itu. Bagaimana caranya aku mendapatkan informasi tentangnya? Apa aku datang ke sana langsung dan meminta berkenalan padanya? Mungkin dengan mengatakan, hai perkenalkan namaku Darsh. Siapa namamu? Apa kita bisa berteman? Ck, itu bukan tipeku sekali. Hemm.
"Darsh, kenapa diam? Apa kamu tidak setuju?" tanya Mamanya.
"Iya, Ma. Aku setuju." Darsh mulai menikmati makan malamnya. Makanan yang dibuat Mamanya selalu saja enak. Dia butuh seorang wanita yang bisa memenuhi segala kebutuhannya.
Ah, mikir apa aku? Usiaku masih muda. Mana mungkin aku memikirkan pernikahan dini.
Darsh melanjutkan makan malamnya dengan perasaan yang tidak menentu. Sekelebat bayangan Glen terus saja menghantui dirinya.
"Ma, apa aku diizinkan untuk menikah muda?" tanya Darsh.
Seketika Papa dan Mamanya menghentikan aktivitas makannya. Dia memandang putranya dengan tatapan tidak senang. Olivia pikir, dia hanya akan mengenal Glen terlebih dahulu. Mengingat usia Darsh belum dua puluh lima tahun.
"Mama dan Papa tidak akan setuju, Darsh. Menikah bukan sekedar main rumah-rumahan, Nak. Butuh komitmen kuat untuk berjalan beriringan. Mama dan Papa memang sangat telat sekali untuk menikah dan itu tidak akan Mama izinkan terjadi padamu. Bukan berarti untuk saat ini kamu bisa menikah. Minimal umur dua puluh lima tahun, Mama akan mempertimbangkannya," ucap Olivia panjang lebar.
Mereka melanjutkan makan malamnya dalam diam. Setelah ini, cinta pertamanya pasti akan memberikan ceramah khusus untuk dirinya. Darsh, jangan begini. Darsh, jangan begitu. Mamanya selalu memberikan perhatian setiap harinya. Itulah yang membuat Darsh sangat beruntung.
Dizon lebih dulu selesai. Dia masih berada di posisinya.
"Jangan berpikir untuk menikah muda sebelum kamu bisa memegang perusahaan Papa dan membuatnya semakin berkembang. Ingat, sebentar lagi Jillian akan terjun ke perusahaan Om Felix. Gadis itu sedang dipersiapkan untuk menjadi penerus perusahaan Damarion. Jangan sampai kamu mempermalukan Papa karena kalah dengan Jiliian," ucap Papanya.
Sepertinya Mama dan Papanya sangat kompak untuk mengurus Darsh. Walaupun Papanya jarang dirumah, tetapi perhatian pria paruh baya itu sangat luar biasa.
__ADS_1
Darsh dan Jillian memang tidak pernah bersaing. Papanya hanya memberikan contoh jika Darsh adalah seorang laki-laki dan jangan sampai kalah dengan perempuan.
"Mama setuju usul Papamu. Kamu harus menjadi CEO yang luar biasa agar calon istrimu tidak kecewa."
Darsh memang anak kemarin sore yang harus dipaksa bekerja di perusahaan Papanya. Tidak ada alasan lain untuk menolak, karena pewaris DD Corporation hanyalah Darsh Damarion. Perusahaan yang mulai dirintis Papanya sejak pindah ke tempat yang baru.
Darsh terdiam. Dia masih memikirkan kelanjutan rencananya untuk mendapatkan informasi tentang Glen.
Setelah makan malam, Darsh masuk ke kamarnya. Dia sepertinya sedang dilanda kebingungan yang luar biasa. Sementara Papa dan Mamanya baru saja masuk ke kamarnya.
"Kenapa Darsh berubah?" tanya Dizon.
"Dia tidak berubah, sayang. Dia tetap manis sepertimu. Dia berusaha meyakinkan perasaannya pada gadis itu. Kamu tau sendiri, kan. Putramu itu tidak gampang jatuh cinta sepertimu. Mungkin dia mengatakan seperti tadi karena takut kehilangan gadis itu. Itu hal wajar menurutku," balas Olivia.
"Apa dia gadis kaya? Maksudku dari kalangan orang berada?" tanya Dizon.
Olivia menggeleng. Pertanyaan suaminya membuat Olivia galau. Dia sudah berjanji pada Darsh untuk membujuk Papanya.
"Dia gadis biasa, sayang. Apa kamu tidak setuju? Apakah kamu akan seperti Papa mertua? Lihatlah Kayana, wanita itu berjuang sangat keras sampai bisa diterima Papa mertua. Apa kamu akan sama persis dengannya?" ucap Olivia.
"Jangan samakan aku dengan Pria itu. Aku tidak mungkin akan mempersulit putraku. Yang benar saja, Papa terlalu pemilih! Aku tidak memilih, tetapi jodoh datang begitu saja," ucap Dizon.
"Hemm, baiklah. Aku akan ke kamar putramu." Olivia hendak keluar kamar, tetapi dicegah oleh suaminya.
"Tunggu! Katakan padanya hanya seminggu. Setelah itu, fokus menjadi CEO muda paling sukses," pesan suaminya.
"Siap, sayang. Putramu pasti bisa mengerti."
Olivia menuju ke kamar putranya. Dia berharap secepatnya Darsh menyelesaikan urusannya dengan Glen.
Apa aku minta Darsh langsung menemuinya saja. Mungkin bisa bertukar nomor ponsel. Supaya Darsh juga lebih mudah untuk memantau gadis itu. Bukan ide buruk.
Tok tok tok.
Tak ada jawaban. Olivia langsung saja masuk dan melihat putranya baru saja keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Darsh, maaf Mama langsung masuk. Mama sudah mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. Mama pikir, kamu sedang tidur," ucapnya.
"Aku baru mau tidur, Ma. Besok aku ikut Papa ke kantor." Darsh naik ke ranjang king size-nya.
"Darsh, urusanmu dengan Glen selesaikan dalam waktu satu minggu. Mama menyarankan padamu untuk meminta nomor ponselnya supaya kalian lebih mudah untuk berhubungan. Itu tidak akan mengganggu pekerjaanmu, Darsh."
"Aku tidak yakin jika gadis itu mau memberikannya, Ma. Tatapan matanya seperti tidak suka padaku," ucap Darsh.
"Berusahalah. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan Papamu. Buat Glen bertekuk lutut padamu dan setelah itu kamu bisa kembali bekerja dengan tenang."
Ucapan Mamanya benar. Seminggu adalah waktu yang cukup untuk mendekati Glen. Tak ada mustahil jika mau berjuang.
"Ma, doakan putramu. Aku akan memperjuangkan calon menantu Mama," ucap Darsh penuh keyakinan.
"Hemm, anak tunggal Mama ternyata bisa jatuh cinta juga," ledek Mamanya.
"Darsh belum jatuh cinta, Ma. Hanya sekedar kagum padanya. Apakah Mama dulu sepertiku?" selidik Darsh.
"Tidak, sayang. Mama dan Papamu mengenal cinta di usia kami yang sudah hampir empat puluh tahun."
Rasanya butuh perjuangan untuk seorang Olivia mengalami satu kali kegagalan hampir menikah. Sekarang, dia tidak ingin putranya mengalami hal yang sama.
"Mama mendukungmu. Lekaslah tidur dan pikirkan cara apa untuk memulai hari pertama mengejar calon menantu Mama. Ingat, jangan sampai lepas! Tidurlah, Nak." Olivia mengelus pucuk kepala putranya kemudian kembali ke kamarnya.
Darsh masih merencanakan pendekatan pada gadis itu sebelum dirinya terlelap.
Besok hari pertama mengejar Glen. Semoga berhasil.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hai kakak readers yang kece badai... Yuk mampir di karya teman Emak yang ceritanya nggak kalah keren, loh...
Cus langsung kepoin karya Author Chika Ssi. Jangan lupa masukkan fav, kasih kembang atau kopi. Tetapi sebelum itu, jangan lupa dibaca ya... Terima kasih... 😍😍😍😍
__ADS_1