
"Iya, Jill. Mau dijemput atau bagaimana?" tanya Justin.
"Aku naik taksi online saja, Kak. Tunggu aku di sana." Jillian kemudian mengakhiri sambungan teleponnya. Dia meminta kakak iparnya untuk membantu memesankan taksi online. Untung saja kakak iparnya itu selalu membawa ponselnya walaupun di rumah. Katanya untuk mengurangi rasa jenuh dengan sikap suaminya.
"10 menit lagi taksinya sampai."
"Terima kasih, Kakak ipar. Satu dua misi berjalan beriringan. Doakan aku dengan kak Justin lancar, ya?" Jillian mengambil tas kecil dan memasukkan beberapa perlengkapan penting. Uang, pasport, kartu pengenal, dan beberapa keperluan lainnya.
"Eh, kamu serius mau lanjut sama Justin?" tanya Glenda penasaran. Sepertinya Jillian mudah sekali berpindah hati.
"Maaf, kakak ipar. Menurutku lelaki yang mencintai kita perlu diperjuangkan. Walaupun rasanya melupakan Kak Frey itu menyakitkan, tetapi aku janji tidak akan menjadikan Kak Justin sebagai pelarian. Bisa dipecat aku jadi anak mommy!"
Glenda tertawa sejenak. Rupanya Jillian dan dirinya berada di titik pemilihan yang berbeda. Kalau Glenda sendiri suka dengan seseorang, maka dia harus bertahan dengan rasa cinta itu. Walaupun orang seperti Darsh sangat menyebalkan, tetapi Glenda tetap sayang.
"Maka dari itu, Jill. Aku dan kamu merupakan perempuan yang berbeda. Aku terlalu bertahan pada satu cinta."
"Ya, karena Kak Darsh menyukaimu, Kak. Kalian saling menyukai, tetapi Kak Darsh memang seperti itu sikapnya. Harap bersabar, ya," jelas Jillian.
Tak lama, taksi online yang ditunggunya telah tiba. Glenda mengantarkan Jillian ke depan. Setelah Jillian pergi, Glenda kembali lagi ke ruang tengah dan bertemu suaminya.
"Jillian kemana?" tanya Darsh. Dia melihat gadis itu keluar naik taksi online. Padahal hari sudah menjelang malam.
"Menemui Justin. Kenapa?"
"Kenapa kamu biarkan dia pergi sendirian? Bagaimana kalau bertemu orang jahat? Jillian belum paham tempat ini. Bisa saja kan dia kesasar ke mana. Kamu bagaimana, sih?" Jelas saja Darsh mengomel panjang lebar pada istrinya. Ini untuk pertama kalinya Glenda melihat Darsh sangat khawatir seperti itu.
"Darsh, aku heran sama kamu. Rasa khawatirmu terlalu berlebihan pada Jillian. Aku cemburu!" ucap Glenda. Dia sudah tidak bisa terus-terusan diam seperti ini.
"Kamu itu lucu! Jillian adik sepupuku. Wajar aku khawatir," balasnya.
"Aku istrimu! Aku juga butuh perhatian lebih seperti perhatianmu pada Jillian. Kenapa? Kamu marah sama aku? Oke, malam ini kita tidur terpisah!" ancam Glenda.
Wow, ancaman yang keterlaluan. Darsh baru saja masuk ke kantor beberapa hari. Bagaimana jadinya kalau dia harus tidur terpisah lagi? Apakah akan mengalami hal yang sama seperti sebelumnya? Darsh mulai mengkhawatirkan kondisinya.
"Tidak seperti itu, Glenda. Maksudku, aku khawatir pada Jillian karena ini sudah hampir malam. Kalau dia kenapa-napa, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku minta maaf." Darsh merendah. Dia berusaha untuk meredam ngambeknya sang istri.
"Jillian naik taksi online langgananku. Dia akan bertemu dengan Justin. Kamu pikir aku segila itu tega melepaskan Jillian tanpa pengawasan. Yang benar saja." Glenda masuk ke kamarnya. Dia memasang mode ngambek level akut, namun dia tidak tega membiarkan Darsh sendirian. Bukan karena Darsh, tetapi papa mertuanya. Bagaimana kalau Darsh tidak bisa masuk ke kantor? Glenda tidak bisa egois mengenai hal itu.
...🍒🍒🍒...
__ADS_1
Mal X terlihat sangat ramai. Anggap saja ini kencan pertama Jillian setelah sekian purnama ditinggalkan Frey tanpa pesan dan kepastian.
Maafkan aku, Kak Frey. Bukan maksudku untuk melupakanmu begitu saja, aku juga berhak melanjutkan kehidupan dan bahagia juga kan.
Jillian sengaja menunggu Justin di depan pintu masuk Mal supaya lebih mudah. Kalau menghambur ke dalam, takutnya mereka akan berselisih jalan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Justin menuju ke pintu masuk Mal. Dari kejauhan sudah nampak gadis yang sebentar lagi akan mengisi hari-harinya. Justin tersenyum senang. Kesabarannya sebentar lagi akan membuahkan hasil.
"Jill, lama menunggunya?" tanya Justin ketika baru saja sampai.
"Tidak, Kak. Aku juga baru turun dari taksi."
"Lain kali kalau mau ke mana-mana, jangan naik taksi. Berbahaya! Apalagi kamu pendatang," ucap Justin.
"Tidak masalah, Kak. Ini aku dipesankan taksi online oleh kakak ipar. Mungkin sudah langgangan."
"Syukurlah kalau begitu. Ayo masuk! Ini pertama kalinya kamu jalan-jalan di sini, kan?"
"Iya, Kak."
Justin dan Jillian berjalan beriringan menuju pusat perbelanjaan. Sebenarnya tujuan Jillian untuk membuat kakak sepupunya itu berubah.
"Mengenai apa, Jill?"
"Kak Darsh."
Justin heran. Mengapa Jillian akan membicarakan kakak sepupunya itu? Apa sebenarnya yang terjadi? Justin akhirnya mengajak Jillian ke Kafe yang ada di Mal itu. Setelah berbincang, Justin akan membelikan sesuatu untuknya.
"Kita pesan kopi dulu ya? Apa kamu menyukai kopi?" tanya Justin ketika baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi Kafe.
"Boleh. Aku tidak terlalu suka kopi, tetapi mencobanya tidak masalah untukku."
Justin memesan dua cangkir kopi yang berbeda. Satunya memang kopi hitam favoritnya, sementara dia memesankan cappuccino untuk Jillian.
"Aku pesankan cappuccino saja. Aromanya kamu pasti suka. Oh ya, apa yang ingin kamu bicarakan mengenai Bosku? Apa ini tentang pemecatanku?"
"Ish, Kak Justin bicara apa? Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, tetapi tentang Kak Darsh sendiri."
Justin tersenyum. Sebenarnya Darsh ada masalah apa sampai Jillian harus menemuinya seperti ini.
__ADS_1
"Kenapa dengan Bosku? Apa dia membuat ulah lagi?"
"Bukan berulah, Kak. Lebih tepatnya, Kak Glenda itu kesal. Jadi laki kok tidak romantis sekali!"
Justin menertawakan ucapan Jillian sampai gadis itu refleks menutup mulut lelaki itu dengan kedua tangannya. Justin terkejut dan menatap mata gadis itu cukup lama. Jillian pun melakukan hal yang sama. Perlahan gadis itu melepas tangannya.
"Maaf, Kak," ucapnya lirih.
"Hemm, tidak masalah. Apa yang ingin kamu katakan tadi?"
"Tidak jadi, ah. Nanti Kak Justin menertawakanku lagi," jawabnya.
"Janji! Aku tidak akan tertawa lagi."
Dua cangkir kopi yang dipesan mendarat sempurna di meja mereka. Jillian keburu menghirup aroma cappuccino itu terlebih dahulu baru melanjutkan pembicaraan.
"Bagaimana? Aromanya menyenangkan, bukan?"
"Iya, Kak."
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Jillian menyeruput sedikit saja cangkirnya.
"Ayo, aku dari tadi menunggumu."
"Oke, Kak." Jillian mulai menceritakan bagaimana sikap kaku kakak sepupunya itu. Dia berniat untuk membantu kakak iparnya agar suaminya mau berubah. Namun, Jillian tidak mampu melakukannya seorang diri. Dia butuh bantuan Justin.
Setelah mendengarkan seluruh cerita Jillian, Justin nampaknya sedang berpikir. Dia harus memikirkan ini dengan matang dan jangan sampai membuat Darsh salah paham. Walaupun terlihat ringan, demi merobohkan kulkas empat pintu itu ternyata membutuhkan banyak orang.
"Jill, aku tidak bisa langsung memberikan rencana apa yang akan kita ambil. Aku akan memikirkannya dulu. Kalau perlu, aku akan meminta bantuan Owen."
"Baiklah, Kak. Tidak masalah. Setidaknya aku sudah membantu kakak ipar."
Walaupun alasan Jillian jelas untuk membantu kakak iparnya, namun malam ini dia merasa bahwa dekat dengan Justin bukan hal yang rumit. Justru lelaki itu terlihat lebih dewasa saat bersamanya. Untuk pertama kalinya, Jillian bisa merasakan nikmatnya kopi dengan lelaki yang mungkin akan menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya.
...🍒🍒🍒...
Hai hai hai, maafkan hari ini Emak lagi khilaf. Oh ya, sambil menunggu update untuk hari esok, yuk kepoin karya keren milik teman Emak.
__ADS_1