Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Pertemuan Dadakan


__ADS_3

"Darsh, kamu mau kemana?" tanya Frey. Dia merasa tidak nyaman untuk mengobrol berdua saja dengan Jillian.


"Mengambil kunci mobilmu. Jadi tukar atau tidak?" Darsh sengaja membuat Frey kelabakan.


"Tentu. Aku tunggu di sini."


"Baiklah. Jill, temani sahabat kakak, ya. Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan," ucap Darsh.


"Iya, Kak. Jangan lama-lama, ya," pinta Jillian. Dia juga merasa tidak nyaman mengobrol dengan orang yang baru dikenalnya.


Darsh sengaja masuk ke kamarnya untuk mengirim pesan pada Glenda. Beberapa kali dia mengabaikan gadis itu. Mungkin saja Glenda sedang kesal saat ini.


[Hai, maaf mengganggu.]


Hanya pesan itu yang mampu dikirim Darsh padanya. Dia bukan tipe pria romantis yang bisa merayu dengan sangat lihai.


Darsh merebahkan diri di ranjangnya. Dia malas terjebak pembicaraan antara Frey ataupun Jillian. Darsh rasanya membayangkan bagaimana mereka berkomunikasi untuk pertama kalinya.


Tring.


Ponselnya berbunyi. Darsh mengambil dan langsung membacanya. Pesan balasan dari Glenda.


[Maaf sudah mengganggumu. Jika ada waktu, aku ingin berbicara sebentar denganmu.]


Deg!


Glenda memang berbeda. Walaupun gadis itu sangat penasaran padanya, tetapi tidak seperti beberapa gadis yang ditemuinya. Mereka terlalu agresif.


[Kapan?]


Darsh mengirim pesan balasan. Dia berharap bisa memperjuangkan gadis itu dengan caranya. Bukan dengan sikapnya yang berpura-pura romantis itu.


[Sore ini, sepulang bekerja. Jika kamu berkenan datang, temui aku di restoran ZA.]


Darsh nampaknya sedang memikirkan caranya masuk ke sana. Bukankah di sana banyak rekan kerja gadis itu? Kenapa malah memintanya bertemu di restoran? Rasanya sangat aneh, tetapi mungkin ini yang terbaik untuk keduanya.


[Baiklah.]


Darsh bergegas ganti baju dan mengambil kunci mobil Frey. Dia berencana pergi memakai mobil jeleknya. Sebelum keluar rumah, dari dalam pasti ada saja pertanyaan yang harus di jawabnya. Dia bertemu Mamanya di ruang tengah.


"Darsh, kenapa buru-buru? Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Mamanya.


"Izin bertemu Glenda, Ma," pamitnya.

__ADS_1


Olivia tersenyum. Rupanya hubungan Darsh mengalami perkembangan dengan gadis itu.


"Hati-hati. Ingat, jangan permainkan perasaan anak orang. Mama juga wanita, kalau Papamu mempermainkan perasaan Mama, bagaimana pendapatmu?"


Mama benar. Tentu saja aku sebagai anaknya akan merasa kesal.


"Iya, Ma. Aku langsung berangkat, ya." Darsh bergegas ke depan. Dia melihat Jillian dan Frey mulai asyik mengobrol.


"Darsh, kamu mau ke mana?" tanya Frey.


"Ada urusan penting. Ini kuncimu, mana kunciku?" Darsh menyerahkan kunci mobil milik Frey dan bertukar dengan kunci miliknya. "Lanjutkan saja. Kalau kamu mau pulang, jangan lupa pamit pada Mama."


Darsh buru-buru. Dia sengaja datang lebih awal untuk sekedar duduk dan menikmati makanan lezat khas restoran itu. Kali ini Darsh sengaja tidak membawa apapun untuk diberikan kepada Glenda. Dia hanya datang membawa diri. Darsh semakin penasaran apa yang akan dibicarakan gadis itu.


Halaman restoran nampak begitu lengang. Sepertinya suasana tidak terlalu ramai atau mungkin karena jam makan siang telah berlalu. Hari menjelang sore, sebentar lagi adalah pertukaran shift selanjutnya. Darsh segera memarkir mobil jeleknya ditempat yang agak sepi. Lebih tepatnya hanya ada beberapa mobil di sana.


Darsh bergegas turun. Tak lupa, dia memakai kacamata hitamnya yang sudah disiapkan. Dia sengaja tampil casual tidak seperti beberapa pagi yang terlihat wah menurutnya.


Darsh sengaja memilih tempat duduk yang sama ketika pertama kalinya datang ke restoran itu. Di sana dia melihat beberapa pelayan yang mulai mendatangi setiap meja untuk melayani pelanggannya.


"Mau pesan apa, Tuan?" tanya salah seorang pelayan.


"Pesan minuman ini saja." Darsh menunjuk daftar menu di depannya. Bayangan untuk memakan makanan lezat nampaknya sudah dilupakan.


"Sampaikan pada pelayan Glen. Seseorang sedang menunggunya," ucap Darsh. Dia tidak ingin berlama-lama di sana. Banyak pasang mata yang akan memandangnya. Sudah cukup menghadapi tiga gadis penggoda itu dan tidak akan bertambah lagi.


"Baiklah. Mohon ditunggu, ya." Pelayan itu langsung kembali ke tempatnya.


Tak lama, muncul orang yang beberapa hari diabaikannya.


"Darsh? Kamukah itu?" tanya Glenda.


"Hemm. Maaf aku sangat sibuk," jawabnya.


"Tidak mengapa, Darsh. Kamu orang sibuk, yah. Untung saja kamu datangnya hampir pergantian shift, jadi tidak masalah aku menemuimu langsung."


Darsh mencuri pandang dibalik kacamata hitamnya. Glenda dengan jarak yang begitu dekat benar-benar terlihat sangat cantik dan manis.


"Iya, Glen. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Darsh.


Ish, memang aslinya tidak romantis. Lucu juga menghadapi lelaki model sepertinya.


"Oh, aku hanya ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih atas beberapa barang yang kamu kirimkan untukku. Aku sangat menyukainya," jawab Glenda dengan semringah.

__ADS_1


"Iya, sama-sama," jawab Darsh sangat singkat.


Beberapa saat mereka terdiam. Glenda tidak bisa melihat dengan jelas keseluruhan wajah Darsh. Terhalang kacamata hitamnya itu. Dari rahang kokohnya memang dia lelaki yang sangat tampan.


"Darsh," panggil Glenda.


"Hemm."


"Aku mau--"


"Silakan, Tuan," ucap pelayan yang mengantarkan minuman padanya.


"Terima kasih," jawab Darsh.


"Ehmm, minumlah terlebih dahulu, Darsh," ucap Glenda. Sebenarnya dia ingin mengatakan tentang kelanjutan hubungannya. Walaupun bagi Glenda ini terlalu cepat, setidaknya ada kejelasan.


Darsh mengambil gelas itu kemudian menyedot minumannya sampai tinggal separo. Dia memang sangat kehausan.


"Lanjutkan," perintah Darsh setelah meletakkan gelasnya.


"Darsh, maaf. Ini mungkin terlalu cepat untukmu. Aku juga bukan gadis yang gampang untuk menjalin hubungan. Sebenarnya tujuanmu mengirimkan beberapa barang itu untuk apa?" tanya Glenda. Dia tidak ingin terlalu lama terlibat sesuatu yang tidak pasti.


Darsh terdiam. Dia harus memikirkan cara yang tepat untuk membalas ucapan gadis itu.


"Ehmm, aku hanya ingin mengenalmu, Glenda. Apa itu cukup untuk menjawab pertanyaanmu?" Darsh sepertinya masih memainkan teka-teki menghadapi gadis itu.


"Maaf, Darsh. Mengenal dalam tanda kutip, sebagai apa? Teman, sahabat, atau kekasih?"


Darsh benar-benar pusing. Glenda memang bukan tipikal gadis agresif. Buktinya dia lebih menjaga jarak dengan Darsh. Glenda ternyata tipe gadis yang berkomitmen untuk memperjelas hubungannya.


"Kenapa kamu tanya seperti itu?" protes Darsh.


"Darsh, sebelumnya aku minta maaf. A-aku sudah terlanjur mengatakan pada rekan kerjaku jika kamu adalah kekasihku," ucapnya lirih. "Maafkan aku, ya. Maaf sekali karena mereka berlomba-lomba ingin mengejarmu. Aku hanya takut kalau kamu akan merasa tidak nyaman ketika berkunjung ke restoran ini. Sekali lagi aku minta maaf," Glenda tertunduk. Baru pertama kalinya mengenal lelaki itu, dia sudah berani mengatakan kebohongan di depan teman-temannya.


Darsh malah tersenyum memandang gadis itu. Untung saja dia tertunduk. Jika tidak, harga diri Darsh dipertaruhkan sebagai lelaki kaku nan dingin itu. Darsh malah menyukai keluguan gadis itu. Dugaannya tidak salah. Darsh lelaki pertama yang mendekatinya. Itu sangat jelas terlihat dari gelagatnya yang malu-malu seperti itu. Ah, Darsh rasanya ingin melompat karena bahagia. Dia tidak akan lagi dikejar gadis-gadis genit macam tiga gadis itu. Darsh tertarik padanya karena Glenda sangat berbeda.


😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍


Hai Akak readers. Emak mau merekomendasikan karya yang baru netas. Cus kepoin ceritanya. Jangan lupa mampir, favoritkan dulu, baca, like dan jangan lupa komentarnya.


Misi Menyelamatkan Hati by Author Matahari Malam.


Terima kasih. 😍🙏🏻

__ADS_1



__ADS_2