Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Pergi untuk Selamanya


__ADS_3

Sean datang disaat yang tepat. Dia langsung menemui Felix yang terlihat pertama kali. Ini merupakan pertemuan pertamanya setelah puluhan tahun tidak pernah bertemu.


"Felix?" sapa Sean.


"Kak, kamukah itu?" Felix mendekati kemudian memeluknya. Hanya sebentar lalu dilepaskan lagi.


"Iya, Om Denzel?" Sean melirik pria tua yang tak jauh dari keberadaan Felix. Sean belum bertemu dengan anak Dizon yang akan menjadi keponakan menantu di keluarganya.


"Sean, apa kabar?" tanya Denzel.


"Baik, Om. Oh ya, di mana Glenda dan calon suaminya?" Sean memang belum pernah bertemu. Semenarik apa lelaki itu sampai keponakannya tertarik.


"Masih bersiap. Sebentar lagi petugas pernikahan akan datang. Maaf, Kak, ini sangat mendadak. Mama tiba-tiba drop dan harus dilarikan ke sini. Padahal, pernikahan Darsh masih beberapa hari lagi," jelasnya. Dia tak enak hati sudah merubah rencana pernikahan seenak keluarganya.


"Tak masalah. Bagaimana kondisi tante Carlotta?"


"Setelah masuk ke ruang rawat, dia meminta kami untuk melangsungkan pernikahan hari ini juga. Pernikahan Darsh adalah permintaan terakhirnya. Sekali lagi aku mohon maaf padamu, Kak. Orang tua Glenda kemungkinan baru sampai besok malam bersamaan dengan kakakku."


Seorang gadis mendekati Felix dan bermaksud memberitahukan kalau petugas pencatat pernikahan telah datang. Ya, dia adalah Jillian Damarion.


"Dad, petugasnya sudah datang. Mom memintaku untuk memberitahu," ucap Jillian.


"Siapa gadis ini, Felix?"


"Dia putriku, Kak. Jillian Damarion. Jill, perkenalkan dirimu pada Om Sean!" ucap Felix.


"Jillian, Om." Jillian mengulurkan tangannya untuk menjabat pria paruh baya itu.


"Sean Armstrong. Om-nya Glenda," balas Sean. Pria paruh baya itu langsung melepaskan jabatan tangannya.


Bersamaan dengan itu, Glenda dan seorang lelaki yang sudah bisa ditebak bahwa itu adalah putranya Dizon Damarion. Mereka sudah siap dengan gaun pengantin dan diikuti oleh petugas pencatat pernikahan. Selain itu, Kayana juga muncul paling belakang.

__ADS_1


Harapan Kayana untuk bertemu dengan Callista nampaknya sia-sia. Dia hanya melihat kedatangan Sean saja. Maklum, puluhan tahun tidak bertemu.


"Om Sean," sapa Glenda.


"Glenda, apa kabar? Kamu terlihat cantik dengan gaunmu," balas Sean.


"Kak Aqua dan Aunty Call tidak ikut?" Glenda sangat berharap, walaupun itu tidak mungkin. Sean sudah mengatakan kalau datang sendiri.


"Tidak, lain waktu saja aku akan mengajaknya. Om langsung dari kantor. Tidak sempat untuk menjemput mereka."


Setelah mengobrol sebentar, akhirnya semua orang yang berada di situ masuk ke ruang rawat. Ruangan itu sangat luas dan Carlotta terbaring lemah di brankar perawatan. Dia hanya bisa melihat dan tidak mampu lagi untuk berbicara. Air matanya lolos begitu saja dari sudut matanya. Darsh mewujudkannya keinginannya.


Darsh dan Glenda sudah berdiri berdampingan. Tak menunggu lama, petugas pencatat pernikahan memulai melangsungkan proses pernikahan sampai akhirnya keduanya dinyatakan resmi.


Semua orang yang ada di ruangan itu mengucap syukur karena telah selesai menikahkan Glenda dan Darsh. Petugas pencatat pernikahan pun langsung meninggalkan ruang rawat itu.


Jangan lupakan fotografer dadakan untuk mengabadikan momen mendadak tersebut adalah Jillian Damarion. Dia langsung bergabung mendekati mommynya.


Carlotta nampak meminta Darsh dan Glenda mendekat. Wanita tua renta itu menggenggam kedua tangan cucu dan cucu menantunya. Sejenak, kebahagiaan terpancar di wajah wanita tua itu. Dia masih sempat menyatukan kedua tangan yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri. Matanya yang memancarkan kebahagiaan itu tiba-tiba meredup dan terpejam. Tangannya terlepas dari dua tangan yang disatukan.


Suasana mulai mencekam, Kayana bergegas memanggil dokter. Sementara yang lain sudah mengosongkan ruangan. Jillian mengantarkan kakak sepupunya untuk mengganti pakaian. Sementara Darsh terduduk lesu di kursi tunggu yang berada di depan kamar perawatan. Dia menggenggam erat kedua tangannya. Berharap ada keajaiban tentang grandmanya.


Dokter sedang menangani kondisi grandma yang menurun itu. Semua yang berada di luar kamar sedang berdoa untuk memohon keajaiban agar grandma bisa sembuh.


"Darsh, percayalah! Grandma pasti sembuh," ucap Kayana menenangkan keponakannya.


"Aku pun berharap seperti itu, Tante," ucap Darsh.


Lama mereka berkutat dengan perasaan masing-masing. Glenda dan Jillian sudah kembali. Mereka membawakan minuman untuk semua orang yang berada di sana. Glenda memberikan sebotol minuman untuk Darsh.


"Terima kasih," jawab Darsh. Lelaki yang sudah menjadi suaminya itu tak langsung meminumnya. Dia meletakkan botol itu di sampingnya.

__ADS_1


Glenda tidak bisa memaksanya untuk lekas meminumnya. Mungkin saja perasaan Darsh sedang terluka karena kondisi grandmanya yang menurun. Sampai sekarang dokter belum keluar dari kamar perawatan.


Sean pun masih berada di sana. Dia sesekali berbincang dengan Felix untuk menguatkan pria itu. Semuanya sedang menanti jawaban dokter mengenai kondisi Carlotta.


Pintu ruang perawatan dibuka. Dokter keluar dan memberikan kabar yang mengejutkan.


"Maaf, Tuan Felix. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mama Anda tidak bisa kami selamatkan."


Semua yang ada di luar dan sedang menanti kabar itu dibuat terkejut. Kayana tidak bisa menahan air matanya. Entah, ini sudah ke berapa dia kehilangan. Carlotta adalah mama mertua yang baik. Kayana mendekati suaminya dan memeluk erat pria itu untuk memberikan kekuatan penuh.


"Sayang, kuatkan dirimu. Kami semua bersamamu," ucap Kayana.


Felix untuk pertama kalinya menitikkan air mata. Ini hampir tidak pernah terjadi selama kehidupannya. Dia kuat, tentu saja, Mama Carlotta sudah mendidiknya dengan sangat baik. Felix melepaskan pelukan istrinya.


"Kirim pesan ke Kak Olivia. Katakan padanya apa yang terjadi. Aku tidak bisa menyembunyikan ini terlalu lama," ucap Felix. Dia kemudian pergi untuk mengurus administrasi mamanya.


Darsh, dia terduduk dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Jillian maupun Glenda tidak berani untuk mengatakan apapun padanya.


Kayana paham situasinya. Dia tidak mungkin membiarkan hal ini berlarut-larut. Kayana harus menyuruh putrinya pulang untuk mengantarkan kakaknya.


"Jill, antarkan Kak Darsh dan Kak Glenda ke rumah. Sampaikan pada pelayan untuk menyiapkan segalanya." Kayana tak bisa melihat kesedihan Darsh yang seperti orang kehilangan arah. Terdiam dan tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Kak Darsh, ayo pulang! Mom-ku memintamu untuk pulang," ucap Jillian. Dia memberanikan diri untuk mengatakannya.


Tak ada jawaban. Namun, dia berdiri. Glenda yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya harus pamit dulu pada Om dan Tantenya. Apalagi Om Sean-nya juga masih di sana.


"Om, Glenda pulang dulu. Jangan lupa untuk mengabari Aunty Call dan Aqua," pamitnya pada Sean.


"Tentu, Sayang. Kamu yang kuat untuk menghadapi suamimu," pesannya.


"Pasti, Om. Grandpa, Tante Kay dan Om Felix, kami pulang dulu," pamitnya.

__ADS_1


"Hemmm," jawab Denzel. Yang lainnya hanya menjawab dengan anggukan.


Jillian dan Darsh lebih dulu masuk ke mobil. Sangat tidak sopan jika dia langsung pulang tanpa berpamitan. Ini merupakan awal yang pahit untuk Glenda. Bagaimana dia akan menghadapi suaminya untuk hari-hari selanjutnya? Dia memasrahkan diri untuk tetap berjuang apapun yang terjadi.


__ADS_2