Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Tambatan Hati


__ADS_3

Darsh terpojok. Dia ingin secepatnya sampai rumah dan masuk ke kamarnya. Dia yakin, suasana rumah akan semakin ramai.


Sebelum memasuki area rumahnya, Grandma masih sempat membuatnya galau.


"Darsh, kalau kamu memang sudah menemukan gadis yang tepat, jangan tunda terlalu lama. Kamu harus siap untuk menikahinya. Jangan sampai seperti Papamu. Menikah di usia yang tak lagi muda. Lihatlah sekarang, dia memaksamu untuk menggantikan jabatan CEO-nya di usiamu yang belum genap dua puluh lima tahun itu. Maksimal tirulah Om-mu. Menikah diawal kepala tiga," jelas Grandma.


Darsh hanya tersenyum mendengar ucapan Grandma. Dia belum mau terlibat komitmen sebelum benar-benar siap.


Mobilnya mulai memasuki halaman rumahnya yang sangat luas itu. Darsh segera turun kemudian membantu Om Felix untuk membawa koper ke dalam rumah.


Olivia sudah menanti di teras rumahnya ketika mendengar suara mobil yang baru masuk.


"Selamat datang," sapa Olivia.


"Kakak ipar, apa kabar?" sapa Kayana. Wanita itu langsung memeluk kakak iparnya.


"Baik, Adik ipar. Bagaimana kabarmu?" tanya Olivia.


"Seperti yang Kakak lihat. Aku baik juga." Kayana melepas pelukan Olivia. Dia bergegas kembali ke mobil untuk membantu Mama mertuanya.


Jillian mendekati tantenya kemudian memeluk wanita paruh baya itu.


"Tante ... Jillian rindu sekali. Sudah lama tidak bertemu, ya?" ucap Jillian.


"Iya, sayang. Kamu semakin cantik saja," ucap Olivia. Wanita itu langsung melepaskan pelukannya karena harus membantu Kayana membawa Mama mertuanya masuk.


Felix lebih dulu membantu Papanya untuk masuk. Kemudian disusul Kayana dan Olivia yang membantu Mama mertuanya.


"Mama masih terus saja semangat," goda Olivia.


"Tentu, sayang. Demi cucuku, Darsh," jawab wanita tua itu.


Mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah. Olivia meminta mereka untuk makan terlebih dahulu, tetapi belum mau untuk ke meja makan. Mereka masih ingin melepaskan rasa kangen karena lama tidak bertemu.


"Silakan makan dulu. Aku sudah menyiapkannya bersama pelayan," ucap Olivia.


"Nanti dulu, Kak. Kami ingin melepas rasa rindu," tolak Felix.


"Oliv, apakah Darsh sudah mempunyai kekasih?" tanya Grandma.


Olivia yang ditanya merasa bingung. Pasalnya yang dia tahu dari putranya, lelaki itu baru saja mengenal seorang gadis. Entahlah, Olivia juga belum mengetahui dengan jelas kelanjutan hubungan putranya. Waktu yang diberikan pada lelaki itu akan berakhir beberapa hari lagi.

__ADS_1


Olivia mengkode Darsh agar lelaki itu saja yang menjawabnya.


"Ma, biarkan Darsh yang menjawab. Oliv tidak bisa menjelaskan," jawab Olivia.


"Kalau itu, jangan ditanya lagi, Oliv. Kami sudah mencecarnya dengan pertanyaan yang sama, tetapi dia tetap tidak mau mengaku," keluh Grandma.


Darsh malas memperdebatkan masalahnya ini. Lebih baik dia masuk ke kamarnya dan beristirahat di sana. Ada hal penting yang harus diselesaikan.


"Darsh, kamu mau ke mana?" tanya Mamanya.


"Darsh ke kamar dulu, Ma. Ada urusan penting," pamitnya.


"Hemm, cucuku itu selalu begitu," keluh Grandma. Dia melihat duplikat putranya dalam diri Darsh.


"Mama tidak usah kaget. Darsh dan kakak memang seperti itu," sahut Felix.


"Ayo makan dulu. Darsh juga sudah pergi. Anak itu akan betah berlama-lama di dalam kamarnya," ajak Olivia.


Grandma dan Grandpa tanpa banyak bicara langsung berdiri untuk menuju meja makan. Felix dan Kayana hanya membantu mereka untuk mencapai meja makan yang ketaknya tidak terlalu jauh dari ruang tengah.


Jillian ternyata sudah berada di sana sejak tadi. Dia melihat meja makan yang isinya sangat menarik itu.


"Aku menunggu kalian, Ma. Makan sendiri tidak nyaman," ucapnya. "Oh ya, Kak Darsh mana?"


"Kakakmu pamit ke kamar, Jill. Kamu tahulah kalau dia terpojok akan seperti apa alasannya," sahut Olivia.


Jillian tersenyum mendengar tingkah kakak sepupunya itu. Mereka mulai mengambil makanannya masing-masing dan langsung mulai makan. Sementara Olivia melayani mereka dengan sangat baik.


Disela-sela makan, Grandpa masih menanyakan Dizon yang belum kelihatan.


"Oliv, Dizon mana?"


"Masih di kantor, Pa. Aku sudah pesan padanya untuk pulang lebih awal. Entahlah sampai sekarang dia belum mengabari," jawab Olivia.


Tak butuh waktu lama, acara makan dadakan mereka itu selesai. Mereka masih betah berlama-lama di meja makan untuk melanjutkan obrolannya.


"Tante, memang benar ya, kalau Kak Darsh sudah memiliki kekasih?" tanya Jillian.


Olivia harus menjawab bagaimana lagi. Dia memang belum tahu hubungannya dengan gadis itu.


"Jangan tanyakan itu lagi, Jill. Kakakmu ini sudah punya tambatan hati. Doakan semuanya lancar, yah?" sahut Darsh yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia terlihat lebih cerah dari sebelumnya.

__ADS_1


Ada apa dengan Darsh? Terlihat sangat senang. Batin Olivia.


Darsh langsung bergabung dengan mereka di meja makan. Lelaki itu langsung mengambil beberapa makanan dan lekas memakannya.


"Wah, sebentar lagi Kakak punya menantu, ya?" goda Felix.


Darsh menatap Omnya dengan senyum menawannya. "Belum, Om. Aku masih muda. Tunggulah beberapa tahun lagi, aku akan menikahinya."


Mereka semua kompak mengucapkan selamat pada Darsh. Diam-diam, ternyata sudah mempunyai tambatan hati.


"Wah, selamat," ucap mereka.


Padahal aku tidak yakin kelanjutan hubunganku dengan Glenda. Ah, entahlah. Setelah acara di rumah selesai, aku akan menemuinya.


Darsh terdiam. Dia masih fokus pada makanannya. Setelah selesai, kini gilirannya membuat Jillian kepanasan.


"Ehm, Om Felix sudah punya pengganti CEO Damarion Corporation?" tanya Darsh.


Deg!


Semua orang fokus pada lelaki itu. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Darsh. Seharusnya Darsh juga sudah tahu kalau Jillian adalah CEO selanjutnya.


"Apa maksudmu, Darsh?" tanya Kayana.


"Begini, Tante. Jillian kan perempuan. Mungkin Om sudah punya pandangan untuk calon suami Jillian, misalnya. Supaya Jillian tidak terjun langsung ke perusahaan," jelas Darsh.


Kini Jillian yang mulai mengerti arah pembicaraan Kakak sepupunya itu.


"Hemm, Kak Darsh mau membalasku? Aku masih muda, Kak. Aku belum memikirkan tambatan hati seperti yang Kakak maksud. Bukankan masih perlu mempertimbangkan lagi jika harus mencari tambatan hati," balas Jillian.


Mereka semua yang berada di meja makan akhirnya memahami arah pembicaraan dua anak muda itu. Felix langsung ambil bagian untuk menjawabnya.


"Kalau soal itu, Om kembalikan lagi pada Jillian. Biarkan dia yang memilihnya. Om tidak berhak untuk melarangnya," balas Felix.


"Kamu jangan terlalu memberikan kebebasan pada Jillian, Felix. Suruh dia memilih lelaki dari kelas atas juga sepertimu. Jabatan CEO Damarion Corporation butuh orang yang selevel dengan kita," sahut Grandpa.


Mereka semua diam mendengarkan ucapan Grandpa. Pria tua itu masih saja memiliki pemikiran yang sangat kolot mengenai pasangan hidup. Padahal Felix tidak pernah mempermasalahkan pilihan putrinya.


Sejauh kita mengejar sesuatu yang sangat tinggi, jika bukan garis takdirnya. Semua akan terlepas begitu saja. Pemikiran Jillian maupun Darsh tidak sama seperti pemikiran Grandpa mereka.


🍓🍉🍓🍉🍓🍉🍓🍉🍓🍉🍓🍉🍓🍉

__ADS_1


__ADS_2