Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Rencana Makan Siang


__ADS_3

Frey kembali pada sahabatnya. Sepertinya kepergiannya ke kamar mandi sempat menjadi masalah karena ada pergerakan aneh yang dilakukan Jillian. Gadis itu bahkan kembali dengan tangan kosong. Pesanan Max diabaikan begitu saja.


"Frey, kamu tidak mengambil kesempatan, kan?" sindir Justin.


"Apa maksudmu, Justin? Aku baru saja dari toilet," balas Frey.


"Kalian ini kenapa harus ribut, sih? Biarkan Jillian menentukan pilihannya. Jangan paksa gadis itu untuk memilih pada lelaki yang bukan pilihannya. Ingat, kalian bersaing secara sehat! Kalau kalian bertengkar, jangan salahkan aku akan bertindak kasar," ancam Owen.


"Nah, Owen benar. Pesona memang penting. Jangan berebut adikku. Dia bisa saja alergi pada kalian," cibir Darsh.


Rupanya mendapatkan gadis baik-baik tidaklah mudah. Apalagi model Max yang seorang playboy. Dia juga tipe lelaki berani yang sudah ke sana ke mari dengan gadis atau wanita malam. Tak heran, dia juga sudah paham betul dengan Helga. Max sudah pernah tidur dengannya. Dari kelima sahabat itu, hanya Max yang sudah rusak. Namun, mereka selalu menghormati Max karena yang paling tua usianya. Walaupun begitu, selain Max, mereka masih menjaga diri masing-masing. Max merupakan contoh buruk yang tidak bisa ditiru.


Frey terdiam. Walaupun dia sudah lebih dulu melangkah, tetapi lelaki itu berusaha untuk tidak membuat Justin dan Max salah paham padanya.


Jillian kembali lagi ke dapur untuk mengambil kopi dan camilan karena sejak tadi dia merasa tak enak dengan tatapan Max. Tatapan yang seolah membuat dirinya merasa tersudutkan.


Tak lama, Jillian kembali membawa satu nampan yang lebih besar lagi. Dia hendak membagikan masing-masing gelas itu, tetapi dihentikan oleh Darsh. Sahabatnya mulai tidak kondusif untuk mengenal adiknya. Bisa-bisa Frey ribut dengan Max ataupun Justin.


"Biarkan di situ, Jill! Kakak yang akan meletakkannya," ucap Darsh.


Jillian menatap mata Kakak sepupunya. Lelaki itu menyelamatkannya. Untung saja Darsh peka. Dia membiarkan Jillian pergi.


"Terima kasih, Kak. Aku masuk dulu, ya," pamitnya.


"Jill, tunggu! Kita belum bicara sama sekali," panggil Justin.


Deg!


Pilihannya untuk pergi dari sahabat Kakaknya nampaknya salah. Dia tertahan oleh sebuah suara yang menurutnya sangat memberatkan. Ingin pergi, dikira sombong. Tidak pergi, hubungan yang baru saja dibangun untuk dekat dengan Frey agaknya menjadi sia-sia. Terjadi pergolakan batin Jillian.


Ah, kenapa lelaki itu memanggilku?


"Justin, biarkan Jillian masuk. Dia mungkin mau membantu Mommynya berkemas. Malam ini mereka akan kembali," ucap Darsh.


"Tapi, Darsh. Aku belum berbicara sama sekali dengannya," protes Justin.


"Besok siang aku akan mengajak Jillian ke restoran ZA. Kita bisa bertemu sambil mengobrol," bujuk Darsh.


Jillian masih berada di tempatnya. Dia membelakangi Kakak sepupunya dan semua sahabatnya.


Ah, kenapa Kak Darsh menyarankan pertemuan itu? Aku tidak nyaman bersama mereka.

__ADS_1


"Baiklah, besok makan siang, ya. Aku tunggu!" Akhirnya Justin mengalah.


Max rupanya terdiam. Dia sudah bisa menebak kalau Jillian tidak tertarik padanya, tetapi mengenai Justin, lelaki itu masih berusaha untuk mengenalnya.


Hemm, sepertinya perjuangan Justin akan sia-sia. Jillian jelas memilih Frey daripada dirinya. Itu sudah terlihat jelas di wajahnya. Batin Max.


"Jill, pergilah!" perintah Darsh.


Jillian akhirnya melanjutkan langkahnya. Dia lolos dari lelaki yang membuatnya tidak nyaman.


"Besok jadi ke restoran ZA?" tanya Owen berusaha memastikan.


"Iya, siang hari saja. Aku akan meminta izin Papa untuk liburan beberapa hari dulu sebelum masuk ke kantor. Frey, kamu juga ikut denganku, ya?" ucap Darsh.


"Hemm, oke," jawabnya.


Sebenarnya tujuan Darsh ke restoran ZA selain untuk membuat Jillian dan Justin mengobrol, dia ingin berpamitan pada Glenda. Beberapa bulan ke depan dia akan fokus bekerja. Sesekali jika ada waktu senggang, dia pasti akan mampir untuk menemuinya.


"Kalian sudah lapar? Kalau lapar, ayo kuantar ke meja makan. Mama menyiapkan banyak makanan di sana. Sepertinya Grandma dan lainnya sudah pergi," ucapnya.


"Ayolah, sebentar lagi aku harus bertemu klien," ucap Max.


"Ayo," jawab Justin dan Owen.


Frey ikut saja. Dia lebih banyak diam hari ini. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang?


Mereka sudah pindah ke meja makan. Di sana, Darsh meminta mereka untuk mengambil makanan sepuasnya.


"Makan saja apa yang kalian suka. Aku mau menemui Jillian dulu. Hanya sebentar saja," pamitnya.


Darsh membiarkan mereka berbuat rusuh di meja makan. Itu tak jadi masalah, tetapi mereka selalu tertib selama di sana. Jadi, aman untuk meninggakannya.


Tok tok tok.


Darsh mengetuk kamar gadis itu.


"Siapa?" tanya Jillian.


"Darsh," balasnya.


Ceklek!

__ADS_1


Jillian membuka pintunya. Dia sengaja menguncinya dari dalam takut kalau sahabat kakaknya akan mencarinya.


"Masuk, Kak."


"Hemm." Darsh menatap heran adik sepupunya. "Kamu tidak suka dengan Justin?"


Jillian membulatkan mata menatap kakak sepupunya. "Bukannya aku tidak suka, Kak. Aku merasa tidak nyaman saja padanya. Apalagi dengan Max itu. Dia lebih mengerikan dari yang lainnya," ucapnya.


Jillian bukan gadis bodoh. Tentunya dia bisa membaca situasi dengan baik. Tanpa diberitahukan pun, dia bisa memahami dengan baik semua sahabat kakak sepupunya.


"Besok kamu mau kan Kakak ajak untuk makan siang bersama mereka?" tanya Darsh.


Jillian berpikir terlebih dahulu. Ingin menolak kakak sepupunya malah dia sendiri yang tidak nyaman. Dia juga ingin jalan-jalan walaupun hanya ke restoran. Mungkin ini pilihan terbaik.


"Aku akan ikut, Kak."


Bagus, dengan begitu aku bisa dengan mudah menemui Glenda.


"Kak, kenapa Kakak malah melamun seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Jill. Besok aku akan bertemu dengan temanku juga di sana," ucapnya.


"Teman? Dia laki-laki atau perempuan?" selidik Jillian.


"Ah, itu tidak penting untukmu, Jill. Sudah, ya. Aku akan mengatakan pada mereka jika kamu bisa," ucap Darsh.


Tanpa mempedulikan Jillian lagi, Darsh kembali ke ruang makan. Di sana sahabatnya sedang menikmati makan bersama. Sedangkan Papa dan Mamanya bersama semua keluarga mungkin sedang bersantai di taman belakang dekat kolam renang. Suasananya di sana memang sangat sejuk.


"Dari mana, Darsh?" tanya Justin.


"Memastikan Jillian untuk makan siang besok. Dia bisa dan siapkan diri kalian," jawab Darsh. Dia mulai mengambil piring dan memasukkan beberapa makanan ke dalamnya.


"Baiklah, aku juga akan ikut. Aku belum puas untuk mengenal adikmu, Darsh," balas Max.


"Hemm, aku juga. Walaupun tujuanku hanya untuk makan siang saja," sahut Owen.


"Aku sepertinya akan datang sedikit terlambat, Darsh. Aku harus ke bengkel untuk memperbaiki mobilku dulu," ucap Frey.


"Oke. Tak masalah, yang penting kalian semua datang."


Darsh berusaha untuk memperbaiki hubungan sahabatnya. Dia tidak ingin keributan terjadi di antara mereka. Dia juga akan membawakan hadiah kecil untuk Glenda jika tidak lupa. Pamit dengan gadis itu untuk beberapa waktu akan membuatnya lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2