
Sepulang kantor, Darsh menyempatkan diri mampir ke toko Bunga untuk membelikan buket bunga istrinya. Dia sengaja membelikan buket bunga mawar merah. Selesai urusannya, dia meletakkan buket bunga di bangku penumpang tepat di belakangnya. Darsh berniat meminta maaf dengan bunga itu.
Sepakat jalan menuju apartemennya, banyak hal yang dipikirkan Darsh mengenai dua permintaan istrinya. Salah satu akan dituruti, namun tidak dengan yang lainnya. Ada banyak pertimbangan penting kenapa Darsh menolaknya.
...💝💝💝...
Apartemen terlihat sangat sepi. Sampai di unitnya, Darsh segera membukanya. Tak lupa, dia juga membawakan buket bunga mawar itu untuk istrinya.
"Glenda, Glenda," panggil Darsh.
Glenda yang berada di kamarnya mendadak harus keluar karena mendengar suara suaminya memanggil. Dia menuju ke ruang tamu dan melihat lelaki itu memegang buket bunga.
"Ada apa, Darsh?"
"Aku ingin meminta maaf padamu." Darsh menyerahkan buket bunga itu dan langsung diterima oleh istrinya.
"Untuk?"
"Kedua permintaanmu itu, aku akan menyetujui salah satunya."
Glenda senang sekaligus merasa was-was. Hanya ada satu kemungkinan. Kalau tidak untuk memiliki anak, tentu saja dia akan diizinkan untuk belajar mengemudi. Sama-sama dua permintaan yang menyesatkan diri sendiri. Padahal, tujuan Glenda hanya ingin membuat dirinya dekat dengan suaminya. Bagaimana kalau Darsh mengizinkannya untuk belajar mengemudi? Sampai kapan dirinya bisa dekat dengan suaminya?
"Mana yang harus aku lakukan, Darsh? Apakah perlu waktu selama ini untuk menentukan pilihanku?"
Darsh mengambil posisi duduk di kursi. Dia mengatur irama napasnya yang mulai tidak beraturan itu. Bukan karena sesak napas, namun untuk menyampaikan hal ini memerlukan kekuatan penuh untuk meyakinkan dirinya maupun sang istri.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk me--"
Deg!
Irama jantung Glenda mulai tidak beraturan karena Darsh menghentikan ucapannya. Sepertinya setelah mendapatkan jawabannya, Glenda akan semakin menjauh dari suaminya.
"Belajar mengemudi tidak diperkenankan, Glenda. Kita fokus saja untuk memiliki anak, tetapi--"
Glenda sedikit lega, namun masih mengganjal lagi di benaknya. Ingin rasanya menanyakan pada suaminya, lidahnya kelu. Tidak ingin ada keributan lagi setelah ini.
__ADS_1
"Tunggu satu bulan lagi, baru kita akan melakukannya."
Astaga. Rupanya hanya itu. Itu artinya, Glenda harus mempersiapkan dirinya lebih baik lagi. Dia akan pergi ke salon untuk merawat dirinya.
"Baiklah, tetapi bolehkah aku pergi ke salon selama masa tunggu?"
"Tentu saja. Berapa pun uang yang kamu butuhkan, aku akan menyiapkannya. Aku ke kamar dulu, lelah," pamitnya. Darsh segera membersihkan diri.
Glenda masih tersenyum manis di ruang tamunya. Memegang sebuah buket bunga pemberian suaminya dan membayangkan betapa dekatnya dia dan Darsh bulan depan. Mereka akan memulai program untuk memiliki anak. Pemikiran Glenda adalah berusaha secara mandiri dulu. Semisal bulan pertama gagal, maka selanjutnya mereka akan berkonsultasi ke dokter.
Rupanya buket bunga itu mampu menghipnotis dirinya sehingga Glenda tidak menyadari kedatangan suaminya. Darsh melihat tingkah yang tak biasa pada istrinya.
"Aku lapar!" sindirnya.
"Eh, Darsh, maafkan aku!" Glenda meletakkan buket bunga di meja makan. Suaminya juga duduk di sana.
"Begitu cintanya kamu sama bunga itu?"
"Ehm, tidak juga." Glenda bergegas ke dapur untuk menyiapkan pasta sederhana untuk suaminya. Itu yang paling cepat menurutnya. Selesai sepiring pasta, Glenda membawanya ke meja makan.
"Makanlah! Hanya pasta sederhana," jelas Glenda.
"Jangan terlalu gendut, Darsh! Aku tidak suka!" protes Glenda.
"Hemm, sepiring pasta tak akan membuatku gendut." Memang kenyataannya setiap menghirup aroma masakan Glenda, perutnya terusik untuk makan dan makan. Tidak biasanya dia seperti ini. Padahal pola makannya di rumah orang tuanya dulu stabil.
"Hemm, baiklah. Itu terserah kamu. Oh ya, bukankah kamu berjanji akan mengantarku ke tempat yang belum pernah aku kunjungi?"
Glenda penasaran satu tempat. Menurutnya tempat itu sangat menarik. Banyak cerita yang didengar dari beberapa teman kuliahnya dan Glenda memang ingin ke sana.
"Hemm, kamu mau ke mana?" tanya Darsh di sela-sela mengunyah pastanya.
"Club malam."
Uhuk!
__ADS_1
Glenda memang menginginkannya. Walaupun tujuannya ke sana hanya ingin tahu, namun nampaknya mimik muka suaminya berubah menjadi marah. Lelaki itu meletakkan makanannya dan tidak melanjutkan lagi.
"Darsh, kenapa?"
"Aku tidak suka keinginanmu itu!" Darsh meninggalkan meja makan setelah menghabiskan segelas air dan meletakkan setengah pasta yang belum dihabiskan. Suaminya terlihat sangat marah.
"Apa aku salah? Aku hanya ingin tahu Club malam itu seperti apa?" ucapnya sembari membereskan meja makan. Dia meletakkan di wastafel, niatnya akan dicucinya nanti setelah selesai menemui suaminya. Glenda mengambil buket bunga untuk dibawanya ke kamar.
Ceklek!
Glenda membuka pintu kamar. Dia melihat suaminya berada di atas ranjang dan termenung. Melihat kedatangan istrinya, Darsh tidak tinggal diam. Dia langsung mengomel pada istrinya.
"Apa kamu sadar kalau permintaanmu barusan membuatku kesal?" bentaknya.
Glenda terkejut. Ini untuk pertama kalinya lelaki itu mengucap kasar padanya. Glenda tahu mengenai desas-desus isi club malam itu seperti apa. Niatnya hanya ingin melihat saja dan setelah itu pulang.
"Darsh, aku hanya ingin masuk ke sana sebentar. Setelah itu, kita pulang. Aku berjanji," ucapnya memohon.
"Tidak. Aku tidak akan pernah mengantarkanmu ke sana. Itu sangat bertentangan dengan kedua orang tuamu."
Darsh belum menjelaskan permasalahan yang akan terjadi ketika Glenda dan dirinya masuk ke sana. Darsh khawatir kalau Helga, Aimee, dan Clianta akan menyakiti perasaannya. Apalagi, mereka seperti tidak mau menerima kenyataan kalau Darsh sudah menikah.
"Darsh, kumohon," rayunya.
"Tidak akan pernah terjadi. Jangan mimpi, Glenda! Aku tidak suka permintaanmu semakin aneh itu."
Glenda hanya ingin tahu alasan apa yang membuat Darsh melarangnya pergi ke sana. "Alasan apa yang membuat aku tidak boleh pergi ke sana?"
"Aku tidak bisa berbohong pada orang tuamu. Di sana, banyak wanita yang mengejarku. Apa kamu mau bertemu dengan mereka. Kamu cemburu padaku kemudian kamu marah-marah tidak jelas dengan dalih cemburu! Aku menghindari semua itu, Glenda. Tolong, bersikaplah yang wajar!"
Deg!
Rupanya ini alasannya. Sebenarnya Glenda hanya ingin tahu saja, namun suaminya sudah melarangnya dan dia tidak bisa mendebatnya lagi.
"Maafkan aku, Darsh."
__ADS_1
"Hemm, jangan minta yang aneh-aneh. Kalau kamu mau ke supermarket atau mal, aku akan mengabulkannya sekarang."
Glenda tidak menanggapinya. Dia lebih memilih untuk duduk di sofa dan memandang ke depan dengan tatapan kosong. Rupanya setelah menikah, Glenda semakin terpenjara. Dia tidak bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Walaupun bersama orang tuanya dulu juga seperti itu. Dia tidak mengenal tempat-tempat itu secara langsung melainkan dari cerita teman-temannya. Glenda pikir, Darsh akan mewujudkan semua keinginannya. Namun, malah semakin sulit.