
Waktu berjalan begitu cepat. Setelah dua bulan lebih, Frey sudah meninggalkan sahabatnya untuk melanjutkan pendidikannya. Owen juga sudah memutuskan membuka Kafe. Berkat Frey, Justin kini sudah bekerja di perusahaan DD Corporation menggantikan Frey menjadi asisten Darsh Damarion.
Bangun tidur kali ini terasa aneh untuk Darsh. Dia sepertinya mengalami mabok yang lumayan parah. Dia seperti ingin secepatnya pergi ke kamar mandi. Glenda yang melihat perubahan aneh pada suaminya.
Keluar dari kamar mandi, Darsh tidak kuat lagi untuk membawa beban tubuhnya. Dia ambruk di ranjang.
"Darsh, kamu kenapa?"
"Entahlah, Glenda. Rasanya aku mual dan tidak kuat untuk berdiri."
"Aku buatkan teh hangat, ya," ucap Glenda.
Bergegas Glenda pergi ke dapur untuk mengambilkan teh hangat untuknya. Tak lama, dia kembali dengan membawa nampan berisi teh dan beberapa keping biskuit. Mungkin saja Darsh bisa memakannya.
"Minumlah!" Glenda membantu Darsh untuk duduk dan menurunkan teh hangat yang segar menurutnya. "Apa perlu ke rumah sakit?"
"Tidak, teleponlah mama. Mintalah untuk datang ke apartemen. Aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Sampaikan juga pada Justin untuk menghandel pekerjaanku."
"Baik, Darsh. Istirahatlah!"
...🍓🍓🍓...
"Darsh, kamu kenapa, Nak?" tanya Olivia ketika baru saja sampai di kamar putranya.
"Entahlah, Ma. Rasanya aku pusing, mual, dan aku sempat muntah. Apakah aku sedang mengalami suatu penyakit aneh?" tanya Darsh.
"Kamu itu lucu, Darsh. Mana ada penyakit aneh," jelas Olivia.
"Entahlah, Ma. Sejak pagi Darsh terus saja mual seperti orang hamil saja," sahut Glenda.
"Nah, terakhir kali kamu menstruasi kapan, Sayang?" tanya Olivia.
Deg!
Astaga, bagaimana aku bisa melupakan hal sekecil itu? Bukankah aku sudah terlambat seminggu lebih? Apakah aku akan hamil?
"Glenda, kenapa bingung seperti itu? Mama tanya padamu," ucap Olivia lagi.
__ADS_1
"Memangnya apa hubungan antara telat menstruasiku dengan mualnya Darsh, Ma?" tanya Glenda dengan polosnya membuat Olivia tersenyum melihat kelakuan menantunya itu.
"Turunlah ke apotek terdekat. Belilah tespek, nanti juga tahu maksudnya."
"Ma, mana mungkin Glenda hamil. Itu mustahil, Ma. Aku baru menye--" Darsh tidak melanjutkan ucapannya. Mana mungkin hal sangat privasi bisa sampai ke telinga mamanya.
"Sudahlah, Darsh. Mama ini dokter, jadi Mama tahu harus berbuat apa. Pergilah, Sayang!"
Glenda menurut. Namun, dalam pikirannya bukan masalah hamil atau tidak. Melainkan apa hubungannya mual suaminya dengan dirinya. Kalau dia hamil, seharusnya dia yang merasakan mual atau muntah di pagi hari.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran Mama!" protes Darsh. Jelas dia yang sakit, kenapa Glenda malah disuruh pergi ke apotek beli tespek?
"Repot kalau sudah berhubungan dengan CEO DD Corporation. Ribet, tidak papanya ataupun anaknya sama-sama ribet."
Olivia pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Semenjak datang, menantunya belum memberikannya minum karena masih sibuk dengan suaminya. Menikahkan kedua anaknya seperti merawat dua remaja yang masih butuh bimbingannya. Terasa sangat lucu juga di usia paruh baya harus membimbing anak dan menantunya lagi. Glenda sudah kembali. Dia membeli beberapa tespek dan menemui mama mertuanya.
"Sudah, Sayang?"
"Iya, Ma."
"Tahu cara menggunakannya, kan? Jangan bilang kamu tidak tahu!" ancam Olivia.
"Bisa dong, Ma!" ucapnya antusias.
Glenda segera ke kamar mandi dan mengambil beberapa tespek kemudian membacanya. Untung saja di apotek tadi disarankan untuk membeli cup urine sekalian, jadi tak perlu repot lagi mencari tempat untuk menampung urinenya.
Sebelum mengetesnya, Glenda harap-harap cemas. Apa iya dia hamil? Ini memang impiannya, namun mendadak hamil di usia pernikahannya yang baru beberapa bulan akan terlihat sangat rumit.
"Semoga saja aku tidak hamil. Bisa runyam kalau menghadapi Darsh dalam kondisi hamil seperti ini," ucapnya seorang diri di toilet.
Setelah semua cara dilakukan, Glenda menutup matanya untuk menunggu perubahan tespek yang sudah dicobanya barusan.
Satu menit, tiga menit, lima menit, tujuh menit, sampai 10 menit, Glenda baru membuka matanya. Betapa terkejutnya melihat beberapa tespek menunjukkan garis dua. Pikirannya bercabang antara sedih dan bahagia. Sedih karena baru menikmati pernikahannya dengan sang suami. Bahagia karena pada akhirnya keinginannya terwujud dengan sangat cepat.
Glenda keluar dari kamar mandi. Di kamar, sudah ada Mama mertua dan suaminya. Dia menunduk seperti seorang anak kecil yang akan dimarahi oleh orang tuanya.
"Sayang, kenapa kamu seperti itu?" protes Olivia.
__ADS_1
Glenda terlihat lemas tak berdaya. Dia mulai dilanda kebingungan yang luar biasa. Kehamilannya dikhawatirkan mengganggu aktivitasnya yang harus menyelesaikan semua pekerjaan di apartemen. Dia memang enggan untuk menyewa pelayan karena apartemen yang tidak terlalu besar masih bisa diatasi seorang diri.
"Glenda hamil, Ma," ucapnya lirih.
Jeduar.
Darsh rasanya terkejut yang sangat luar biasa. Antara senang dan sedih juga. Namun, yang masih berada di pikirannya, apa hubungan dirinya mual muntah dan kehamilan istrinya?
"Wah, ini kabar yang luar biasa, Sayang. Sebentar lagi Mama akan menjadi Grandma. Wow, ini sangat membahagiakan, tetapi kenapa kamu seperti sedih seperti itu?"
"Glenda rasanya tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, Ma."
Menutupi keluhan Glenda, Darsh berusaha menanyakan hubungan mual muntahnya itu kepada mamanya.
"Ma, ini apa maksudnya?"
"Istrimu hamil dan yang akan merasakan kehamilannya adalah kamu, Sayang. Ini namanya kehamilan simpatik yang dirasakan oleh suami. Kamu akan merasa mual, muntah, selayaknya beberapa ibu hamil pada umumnya," jelas Olivia.
"Serius, Ma? Biasanya berapa lama?" tanya Darsh. Dia semakin penasaran dengan kondisi tubuhnya.
"Tergantung, Sayang. Ada yang cepat dan ada yang sampai istrinya melahirkan."
"Oh God, selama itu aku akan tersiksa seperti ini? Glenda, tahu begitu kita tidak harus melakukannya!" keluh Darsh.
Olivia tertawa mendengarnya. "Eh, tidak boleh begitu! Suami istri memang sudah seharusnya melanjutkan keturunan."
Sesaat hening. Banyak yang ingin diketahui tentang kehamilannya ini termasuk rasa mualnya yang tidak bisa ditahan.
"Ma, bisa tidak aku minta obat ke dokter untuk meredakan rasa mual?"
"Tentu saja, Darsh. Sekalian antar istrimu untuk mengecek kehamilannya. Nanti, kalian akan melihat bayi mungil yang mulai berkembang di perut istrimu. Duh, rasanya seperti mama waktu hamil dirimu, Sayang."
"Mana bisa, Ma. Aku saja sudah oleng seperti ini. Aku butuh sopir dan pelayan. Mama tidak kasihan padaku?"
Sepertinya Darsh harus pindah ke rumah. Dia tidak bisa terus-terusan berada di apartemen. Rumah akan menjadi tempat ternyaman untuknya dan beberapa pelayan yang akan membantu mereka.
"Nanti Mama bicarakan dulu dengan papamu. Sementara kalau kamu butuh makanan atau pergi ke manapun, gunakan taksi online."
__ADS_1
Darsh terpenjara dalam masalahnya. Kehamilan istrinya merupakan awal yang menyakitkan yang dirasakannya saat ini. Bagaimana kalau sampai sembilan bulan menjalani kondisi yang seperti ini?