Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Banyak Masalah


__ADS_3

Semalaman mempertimbangkan keinginan istrinya, pagi ini Darsh masuk ke kamarnya. Dia pikir Glenda akan marah pada dirinya. Namun, di dalam kamar tidak menemukan keberadaan istrinya. Setelah bersiap, rupanya istrinya berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Darsh, sudah rapi? Mau ke kantor?" tanya istrinya.


"Hemm, kamu masih marah, kah?" Darsh duduk di kursi. Glenda menyiapkan piring makan suaminya. Jawaban Glenda cukup simpel. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja. Percuma mengejar impian kalau tak sejalan. Glenda pun akhirnya memakluminya.


"Kenapa kamu tidak menjawabnya?" Darsh sedikit kesal pada Glenda.


"Aku sudah menggeleng, Darsh."


"Itu belum cukup untukku," protesnya.


"Sudahlah, Darsh. Pagi-pagi jangan ribut. Aku malas meladeni." Glenda kembali ke dapur hanya untuk mengambil secangkir kopi yang sudah dibuatnya. "Ini, aku biarkan kopi untukmu. Aku tidak tahu apakah kamu memulainya atau tidak. Dan, lupakan ucapanku semalam."


"Tidak, aku akan merencanakan bulan madu bersamamu. Namun, tidak dalam waktu dekat."


Satu bulan ini, prioritas Darsh adalah perusahaan dan rencana resepsi pernikahannya yang belum digelar. Mertuanya juga belum memberikan tanggal pasti kapan akan dilangsungkan.


"Jangan lupa tanyakan sama mommy, kapan pesta pernikahan kita akan dilangsungkan. Setelah itu, aku akan memikirkan kapan kita pergi berbulan madu," ucap Darsh lagi.


"Hemm," jawabnya.


Apa sebaiknya aku tidak perlu mengadakan resepsi pernikahan? Cukup makan malam bersama keluarga.


"Darsh, aku hari ini mau pergi ke rumah mommy. Apa kamu mengizinkannya?" Glenda perlu membahas rencana resepsi pernikahannya.


"Pergilah! Apa mau diantar?" Mumpung masih pagi, Darsh punya banyak waktu untuk mengantarkannya.


"Tidak, aku naik taksi online saja."


"Kalau uangmu habis, ambil saja di dompetku. Atau kamu bawa debit card-ku?"


"Tidak perlu, Darsh. Uangku masih ada."

__ADS_1


"Yasudah, kalau habis, jangan lupa minta. Aku tidak bisa terus menanyaimu setiap hari."


Oh God, dia terlihat sangat kesal sepertinya.


"Hemm," balas Glenda.


Darsh berangkat ke kantor. Glenda bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya. Tak lupa, dia memesan taksi online terlebih dahulu.


...💞💞💞...


"Honey, apa kamu yakin kalau Glenda akan baik-baik saja?" tanya Zelene pada suaminya. Keduanya sedang berada di meja makan sebelum Vigor pergi ke restoran.


"Tenang saja, Mom. Putrimu itu bisa mengendalikan semuanya. Dia gadis yang kuat. Kamu jangan terlalu khawatir. Biarkan itu menjadi urusannya. Ingat, jangan pernah ikut campur kalau dia tidak meminta pendapat."


Sarapan sedang berlangsung ketika bel rumahnya berbunyi. Zelene ingin membuka pintunya sendiri, namun melihat pelayannya lebih dulu ke depan, dibiarkan saja olehnya.


"Siapa yang datang sepagi ini?" tanya Zelene.


"Entahlah," jawab Vigor.


"Pagi, Sayang. Tumben kamu sudah sampai di rumah Mommy? Kamu tidak sedang bertengkar dengan suamimu, kan?" tanya Zelene.


"Tidak, Mom. Aku memang ke sini untuk sesuatu yang penting. Dia juga sudah mengizinkan." Glenda duduk di samping mommynya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Vigor.


"Ehm, begini Dad, kapan hari bukankah Mommy atau Daddy mengatakan kalau akan mengadakan resepsi pernikahan di restoran ZA. Nah, Darsh menanyakan hal itu padaku, kira-kira kapan akan dilangsungkan?"


Zelene dan Vigor hampir lupa. Putrinya memang belum mengadakan resepsi pernikahan. Begitu banyak kejadian yang terlalu cepat sehingga belum terpikirkan kapan acara itu akan dilangsungkan.


"Maafkan Daddy, Sayang. Aku hampir lupa kapan akan mengadakan acaranya. Aku akan meminta staf restoran untuk menyediakan satu hari untuk melangsungkan acara itu."


"Dad, rasanya aku tidak ingin mengadakannya lagi."

__ADS_1


Seolah mendapatkan kejutan, Vigor dan Zelene saling pandang. Tumben sekali putrinya tidak merasa antusias untuk mengadakan acara tersebut. Padahal ini akan menunjukkan kalau Glenda adalah putri seorang pemilik restoran ZA.


"Kenapa, Sayang? Daddymu akan menyiapkan segalanya. Kamu juga akan diperkenalkan sebagai anak pemilik restoran," jelas Zelene.


"Darsh sangat sibuk, Mom. Asistennya mengundurkan diri karena harus melanjutkan pendidikan atas permintaan orang tuanya. Darsh harus mencari asisten baru juga. Kurasa, tanpa resepsi pernikahan pun tak masalah."


"Kami akan bicarakan dengan mertuamu dulu, Sayang. Rasanya harus melangsungkan resepsi untuk memperkenalkan kalau kamu adalah istri dari seorang CEO muda," jelas Zelene.


"Glenda, berbincanglah dengan Mommymu. Daddy berangkat ke restoran dulu," pamit Vigor.


"Ya, Dad. Hati-hati di jalan."


Zelene membereskan meja makan dibantu putrinya. Rasanya baru kemarin melahirkan gadis itu, sekarang sudah menjadi istri orang lain.


"Mom, kalau misalnya aku hamil, apa Mommy setuju?" Glenda berusaha mencari dukungan. Kalau dari suaminya belum dapat, maka dia harus meminta dukungan pada mommynya.


Zelene menghentikan aktivitasnya. Dia memandang lekat wajah putrinya. Sangat lucu memang mengizinkan gadis seusianya menikah lebih awal.


"Itu urusanmu dan Darsh, Sayang. Bukan Mommy yang berhak menentukan."


"Darsh masih enggan menerimanya, Mom. Entah alasannya apalagi. Rasanya Glenda hampir menyerah dengannya," ucapnya sendu.


"Sayang, lihat Mommy! Kamu hanya perlu memainkan trik cantik untuk mendapatkan lelaki itu seutuhnya. Cuma, Mommy tidak paham caranya harus bagaimana. Coba kamu tanya mama mertuamu. Suaminya dulu hampir sama seperti Darsh, namun sampai puluhan tahun tetap bertahan. Aku yakin, kalau Darsh sudah sangat mencintaimu, maka dia akan melakukan apapun untukmu."


Glenda sedikit setuju ucapan mommynya. Dia berharap bisa menaklukkan hati dan kekakuan sikap suaminya itu. Dia ingin menjadi wanita yang paling dicintai oleh suaminya. Banyak hal yang belum diketahui oleh Glenda. Perlahan, gadis itu akan menyelami sikap suaminya dan membuatnya bertekuk lutut padanya.


"Mom, kalau begitu, aku pulang dulu. Aku mau siapkan makan siang untuknya dan mengirim ke kantor. Aku hanya ingin tahu bagaimana pekerjaan suamiku," pamitnya.


"Iya, Sayang. Pergilah!"


...💞💞💞...


Ruangan CEO DD Corporation terlihat sepi. Hanya ada Darsh yang sedang termenung. Banyak masalah yang sedang menimpanya. Masalah Frey, dia harus segera menemui Justin. Dia butuh lelaki itu untuk menjadi asistennya. Sementara masalah dengan Glenda, sangat rumit sekali. Istrinya meminta anak darinya. Padahal Darsh pikir ingin menikmati masa mudanya dulu bersama dengannya. Dia khawatir kalau istrinya akan salah paham terhadap dirinya. Dia tidak menolak kapan pun untuk memilikinya, namun tidak saat ini juga.

__ADS_1


"Maafkan aku, Glenda. Bukan maksudku menolak semua keinginanmu. Aku masih ingin fokus dengan pekerjaan kantor dan berusaha membagi waktu untuk bisa mengajakmu ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Aku tidak ingin menyesal karena membuatmu belum bahagia sama sekali. Maafkan sikap kakuku itu."


Tentu saja Darsh hanya berani mengatakan jika tidak ada Glenda. Kalau ada gadis itu, sikapnya tiba-tiba berubah tidak menentu. Terkadang dingin dan malah enggan menanggapi ucapan istrinya. Darsh harap, Glenda bisa bersikap lebih sabar lagi menghadapi dirinya.


__ADS_2