Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Pertemuan Jillian dan Justin


__ADS_3

Menghirup udara segar negara H bukanlah impian Jillian. Namun, bagaimana jadinya kalau dia harus mengejar cintanya sampai ke negara ini? Jillian dijemput langsung oleh Darsh. Lelaki itu sudah kembali lagi ke kantor.


"Kak, kabar Kak Frey bagaimana?" tanya Jillian ketika berada di dalam mobil.


Darsh terdiam. Rupanya kepergian Frey untuk menuntut ilmu tidak berpamitan pada Jillian. Itulah sebabnya gadis itu tidak tahu jika pujaan hatinya telah lama meninggalkan negara ini.


"Kamu tidak tahu atau pura-pura?"


"Maksud kakak apa? Aku sungguh tidak mengerti!"


Darsh mengehela napas panjang sembari tetap fokus mengemudi. "Frey sudah lama pergi."


"Maksud Kak Darsh, Kak Frey meninggal?" Hati Jillian rasanya runtuh seketika. Ini kabar yang sangat buruk untuknya. Air matanya hampir saja pecah jika Darsh tidak segera memberikan kabar terbarunya.


"Huft, ngomong apa kamu? Frey melanjutkan pendidikannya. Dia akan kembali lagi lima tahun mendatang."


Deg!


Jillian sudah kehilangan tujuan maupun cintanya. Niatnya pergi ke negara H untuk memastikan kelanjutan hubungannya dengan Frey. Kalau sudah seperti ini, Jillian rasanya menyerah.


"Kenapa kamu diam? Frey tidak pamit padamu?" selidik Darsh.


"Tidak, Kak," jawabnya lirih.


"Tujuanmu ke sini untuk apa?"


"A-aku ingin menanyakan hubunganku dengan Kak Frey. Daddy memintaku untuk masuk ke perusahaan. Aku tidak mau, Kak. Aku ingin bekerja seperti mommy. Dia bebas menentukan keinginannya dan bisa menjadi ibu rumah tangga."


Darsh sedang berpikir. Mungkin ini saatnya dia mengajukan dua nama yang sempat dibicarakan dengan orang tuanya. Darsh sebenarnya tak enak hati untuk mengatakannya, tetapi menunggu Frey selama lima tahun tanpa kejelasan itu akan lebih menyakitkan lagi.


"Jill, sebelumnya kakak minta maaf. Mungkin ini sangat menyakitkan untukmu. Mengharapkan Frey selama lima tahun tanpa kepastian akan membuat hidupmu tidak menentu. Bagaimana kalau kamu memilih salah satu sahabat kakak? Itu hanya sekadar saran, Jill. Aku tidak mengharuskan. Karena menurutku cinta bisa dibangun dari kebiasaan. Aku yakin, kamu pasti mau memilih salah satu dari mereka."


Mengingat sahabat kakak sepupunya, Jillian langsung teringat Max. Lelaki cukup umur yang paling mengerikan menurutnya. Kalau dengannya, Jillian tidak mungkin mau lagi. Dia sudah cukup ketakutan.


"Kalau dengan Max, aku tidak mau, Kak."


Darsh sudah tahu itu. Makanya, dia akan menawarkan dua sahabatnya yang sama-sama belum memiliki kekasih itu. Sepertinya ini harus segera diputuskan sebelum Max mengendus keberadaan Jillian.

__ADS_1


"Baiklah. Sekarang kakak tanya padamu. Dari dua nama ini, mana yang paling menarik untukmu. Justin atau Owen?"


Jillian tentu tidak bisa langsung menjawabnya. Ingatannya kembali pada ucapan mommynya tentang dua kata hebat yang akan menjadi patokan hidupnya. Mencintai atau dicintai. Pertama kali lelaki yang mengejarnya adalah Justin. Lelaki itu berusaha sekuat tenaga sampai akhirnya mundur teratur karena kedua sahabatnya maju dan memilih untuk memperebutkan dirinya.


"Justin, Kak."


Dugaan Darsh benar. Dia pasti akan menyebut nama itu karena Owen tidak pernah sedikit pun ada ketertarikan kepada Jillian. Entah karena merasa bukan seleranya atau memang Owen tidak suka tipe perempuan mandiri seperti adiknya itu.


"Baiklah. Kalau memang itu pilihanmu, kakak tidak akan mengajakmu bertemu Owen." Darsh sebenarnya ingin langsung mengantarkan Jillian pulang ke rumah. Namun, dia mempunyai rencana lain yang lebih aman dan tidak akan bisa terendus Max. Darsh membelokkan laju mobilnya menuju jalan ke arah kantornya.


"Kak, kita mau ke mana?" Jillian sadar kalau Darsh membelokkan ke arah yang berbeda.


"Ke kantor."


"Mau ngapain, Kak? Aku lelah dan ingin beristirahat."


"Nanti kamu juga akan tahu, Jill."


Jillian diam. Dia tidak akan mungkin menanyakannya lagi. Biarlah kemana pun kakaknya membawa, asal kepalanya tidak pusing memikirkan permintaan daddynya.


Terpampang jelas nama DD Corporation di gedung yang didatanginya. Mungkin saja kakak sepupunya itu akan mengerjakan pekerjaan terlebih dahulu baru kemudian mengantarkannya pulang.


"Turunlah!"


"Hah? Jillian turun dan masuk ke kantor kakak dalam keadaan seperti ini? Ini memalukan, Kak!"


"Turun atau kamu akan menyesal," ancam Darsh.


Gadis itu menurut saja. Dia sampai masuk ke ruangan kakaknya yang terlihat selalu rapi karena kakak sepupunya itu tipikal lelaki disiplin juga. Dia tidak mau ribet sehingga ruangan tempat Darsh bekerja tidak terlalu banyak hiasan dinding melainkan lebih banyak buku yang terpajang di rak.


Jillian memutuskan untuk duduk di sofa sembari melihat kakaknya bekerja. Ini memang belum waktunya makan siang, jadi beberapa orang masih sibuk dengan pekerjaannya.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Darsh.


Ceklek!

__ADS_1


Justin masuk membawa beberapa berkas. Lelaki itu tidak tahu kalau Jillian berada di ruang atasannya.


"Darsh, ini ada beberapa berkas penting dari klien B. Mereka sudah menyetujui kontrak kerja yang kita ajukan. Bagaimana menurutmu?"


Deg!


Jillian terkejut. Rupanya setelah Frey, yang menjadi asisten kakaknya adalah Justin. Jillian bahkan baru tahu hari ini. Darsh tidak menjawabnya terlebih dahulu. Dia menunggu respon Jillian pada Justin.


"Kak Justin," panggil Jillian.


Deg!


Justin rasanya seperti mimpi mendengar suara gadis yang beberapa bulan lalu sedang berusaha untuk dilupakan. Dia tidak akan mungkin bisa mendapatkannya.


"Jill?" Justin menengok ke sumber suara.


"Apa kabar, Kak?"


"Aku baik. Bagaimana kabarmu?"


Uhuk. Darsh terbatuk.


"Kalian akan menjadikanku orang ketiga di sini, hah?" sindir Darsh.


"Maaf, Kak," ucap Jillian.


Justin fokus lagi ke pekerjaannya. Dalam hatinya sebenarnya ada rasa senang dan sedih yang bersamaan. Senang karena bisa bertemu lagi dengan Jillian. Sedih karena mendapatkan gadis itu sudah tidak mungkin untuknya. Walaupun sekarang dia sudah bekerja dan merasa pantas untuknya, namun Justin berusaha menepis pikiran itu untuk Jillian.


Lupakah saja, Justin! Jillian hanya akan memilih Frey atau Max. Kamu jangan terlalu kepedean untuk mendapatkannya. Dia ke sini bukan untukmu! Ingat, jangan terlalu menyakiti hatimu untuk memikirkannya.


"Justin, kamu baik-baik saja?" selidik Darsh. Semenjak kedatangan Jillian, Justin sedikit berubah. Dia lebih banyak melamun daripada biasanya. Darsh bisa memastikan kalau perasaan Justin pada adik sepupunya itu belum berubah.


Maafkan aku, Frey. Jillian sangat patah hati karena kepergianmu. Aku harap kamu tidak membenciku karena aku akan menjodohkannya dengan Justin. Om Felix tidak akan bisa menunggunya terlalu lama. Sekali lagi, maafkan aku Frey.


"Iya, Darsh. Aku baik-baik saja." Justin melanjutkan pekerjaannya. Dia memberikan beberapa proyek untuk dilihat lagi oleh atasannya. Padahal, Justin berusaha menutupi dirinya dari rasa gugup karena bertemu lagi dengan Jillian setelah beberapa bulan yang lalu.


Darsh tidak percaya begitu saja. Dia melihat Justin salah tingkah di hadapannya. Ini saatnya Darsh bertindak sebelum semuanya terlambat. Demi masa depan Jillian dan Damarion Corporation.

__ADS_1


__ADS_2