
"Ada apa, sayang?" tanya Zelene yang melihat kecemasan di wajah putrinya.
"Mom, Darsh baru saja telepon," ucapnya sendu.
"Hemm, anak Mommy ini kenapa? Harusnya senang dong ditelepon calon suaminya. Kenapa malah murung seperti itu?"
"Masalahnya ada sesuatu yang penting, Mom. Aku yakin, Mommy pasti terkejut."
"Duduklah!" Zelene mengajak putrinya duduk di sofa ruang tengah. Kebetulan gadis itu hendak ke dapur untuk menemui Mommynya.
"Ma, pernikahanku dipercepat menjadi 2 minggu saja," ucap Glenda.
"Apa? Apa Mommy tidak salah dengar? Yang benar saja, kita bahkan belum mempersiapkan apapun. Gaun pernikahanmu dan semuanya. Mommy belum siapkan." Zelene merasa kesal di sini. Sebagai Mommy-nya Glenda, tentu saja wanita itu menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Apalagi ini pernikahan sekali seumur hidup.
"Apa sebaiknya Mommy minta tolong Aunty Call. Dia pasti bisa bantu," usul Glenda.
"Tidak! Ini bukan urusan Mommy dengan Aunty Call, tetapi urusan Mommy dan calon mertuamu."
Kalau sudah begini urusannya, Glenda cuma bisa diam dan membeku di hadapan Mommynya. Dia takut kalau sampai Mommynya ribut dengan calon mertuanya.
"Kirim pesan pada calon suamimu. Tanyalah di mana alamatnya!"
Zelene terlihat kesal. Waktu satu bulan itu cukup untuk menyiapkan segalanya, tetapi kenapa sekarang menjadi dua minggu? Mana bisa melakukan persiapan secepat ini? Belum lagi gaun pengantin Glenda yang memang belum dipesan sama sekali. Rencananya lusa, Zelene mau mengajak Glenda pergi ke butik. Mereka akan memilih gaun pengantinnya. Walaupun pernikahan akan dilangsungkan di negara I, tetap saja Zelene harus menyiapkan semuanya. Mereka juga akan meminta kedatangan grandma kembar di hari pernikahannya.
"Mommy mau ke rumah Darsh?" selidik Glenda.
"Mau bagaimana lagi, Sayang. Ini harus diputuskan bersama dan bukan sepihak saja. Dua minggu, kita tidak akan siap, Nak," jelas Zelene.
"Baik, Mom. Aku kirim pesan dulu padanya."
Cukup mudah untuk mengirim pesan pada lelaki itu. Tak lama, pesan balasan diterima. Glenda langsung menyampaikan pesan itu pada Mommynya.
"Mommy berangkat sendiri ke sana?"
"Tidak, sayang. Kita tunggu daddy pulang. Kamu mau ikut atau di rumah saja?"
__ADS_1
"Memangnya aku boleh ikut, Mom?"
Zelene sedang berpikir. Sebenarnya melarang Glenda untuk ikut sangat baik, tetapi Zelene yakin kalau putrinya itu mulai penasaran dengan calon suaminya. Tanpa disadari gadis itu, rasa ingin bertemu dengan Darsh semakin tinggi. Bisa dibilang seandainya Zelene masih muda, tentu dia akan melakukan hal yang sama.
"Kalau kamu mau ikut, Mommy izinkan," jawab Zelene membuat wajah gadis itu terlihat semakin cerah.
"Wah, kalian di sini rupanya. Daddy pulang, kenapa tidak ada penyambutan?" tanya Vigor.
"Dad, bersihkan dirimu dulu. Setelah ini, kita pergi ke rumah Kak Olivia," ucap Zelene.
Rumah Olivia? Ada masalah apa ini? Kenapa aku tidak tahu sama sekali?
"Ada apa lagi, Mom?" tanya Vigor.
"Ada urusan sedikit. Sebaiknya kamu lekas bersiap. Takut kemalaman sampai sana."
Menjelaskan masalah seperti ini ketika Vigor baru pulang kerja akan menambah masalah baru. Itulah sebabnya, Zelene meminta pria itu untuk membersihkan diri dulu.
...🍒🍒🍒...
Rumah keluarga Dizon di sore hari terlihat sepi. Darsh baru saja masuk ke kamarnya. Mendapatkan pesan dari Glenda, dia masih berada di kamar. Setelah itu, Darsh pergi untuk membersihkan diri.
Selepas membersihkan diri, Darsh merebahkan dirinya di kamar. Rasanya dia harus mengumpulkan kekuatan lebih untuk menjalani pernikahannya yang akan digelar dua minggu lagi.
"Bagaimana mungkin ini terjadi begitu cepat?" ucapnya.
Darsh seperti mendapatkan kejutan berulang. Sekarang, grandma malah mempercepat pernikahannya. Dia tidak bisa menolak karena grandma memang sudah sakit-sakitan.
Fokus di kamarnya seorang diri, Darsh tidak menyadari kalau orang tua Glenda datang bersama gadis itu. Darsh belum keluar karena tidak ada yang memberitahukan padanya. Sampai pada seorang pelayan yang memang diminta Olivia untuk memanggilnya.
Tok tok tok.
"Tuan," panggil pelayan.
Darsh turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa, Bi?"
"Tuan Darsh, Nyonya memintaku untuk memanggil Anda. Di depan ada tamu gadis cantik."
Gadis cantik? Aku merasa tidak ada janji dengan siapa-siapa.
"Apakah gadis itu mencariku?" tanya Darsh.
"Tidak tahu, Tuan. Nyonya hanya meminta Anda untuk keluar dan menemuinya." Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan Darsh dalam kebingungannya.
Darsh semakin penasaran. Bergegas menuju ke ruang tamu merupakan solusi yang tepat. Sebelum sampai di sana, Darsh mendengar pembicaraan orang yang dikenalnya.
"Maaf, Ma. Mama memanggilku?" tanya Darsh yang sudah melihat Glenda di sana. Perasaan Darsh tentu saja semakin tidak menentu.
Olivia menoleh dan meminta putranya untuk bergabung dalam forum rapat. "Kemarilah, Nak. Duduk di sini! Calon mertuamu ada yang ingin dibicarakan."
Darsh menurut. Tak ada pembicaraan lagi darinya. Dia lebih fokus mendengarkan pembicaraan kedua pasang orang tua.
"Kak, kami tidak bisa kalau pernikahan dimajukan menjadi dua minggu. Belum ada persiapan yang kami lakukan, Kak," keluh Zelene.
Rupanya ini yang menyebabkan kedatangan Glenda dan orang tuanya. Memang menurut Darsh itu terlalu cepat dan sangat mustahil menyelesaikan dalam waktu dua minggu. Belum lagi harus mengurus penerbangan ke negara I dan memboyong beberapa rekan dan sahabat. Itu sangat ribet sekali.
"Ze, kamu jangan khawatir. Mama mertuaku yang memintanya untuk mempercepat pernikahan ini. Mama mertuaku memang sedang sakit dan ini merupakan permintaan terakhirnya. Aku harap, kamu tidak khawatir mengenai urusan kelengkapan pernikahan putrimu," jelas Olivia.
"Maaf, sebelumnya kami merasa keberatan. Kami menyetujui pernikahan ini akan dilangsungkan satu bulan lagi, tetapi ketika aku mengetahui pernikahan ini dipercepat, rasanya kami kurang setuju," terang Vigor.
Ini sepenuhnya memang salah dipihak keluarga Darsh, tetapi di sini, grandmanya Darsh sudah meminta semua orang kepercayaannya untuk menyiapkan segalanya. Termasuk gaun pengantin yang didesain oleh Kayana, tantenya Darsh sendiri.
"Masalah itu semua, kalian tidak usah khawatir. Mama mertuaku sudah menyiapkan segalanya untuk mengantisipasi semua ini. Mengenai gaun pengantin, adik iparku, Kayana yang akan mendesainnya."
Mendengar nama itu, Zelene teringat sesuatu. Kayana dulunya sebagai pelayan restoran dan sekarang menjadi desainer gaun pengantin. Ini sangat mengejutkan.
"Benarkah itu, Kak? Kayana akan mendesainkan untuk putriku?" Zelene hanya membutuhkan kepastian. Semuanya akan berjalan lancar setelah mendapatkan kesepakatan sekali lagi.
"Tentu saja. Kalian jangan khawatir. Jadi, apakah disetujui untuk mengubah jadwal pernikahan mereka?" tanya Zelene.
__ADS_1
"Baiklah, Kak. Namun, kami ada persyaratan yang harus dipenuhi," ucap Zelene.
Tidak hanya Vigor yang menatap tidak percaya pada istrinya, tetapi juga Olivia, Dizon, Darsh, dan Glenda. Yang paling khawatir adalah Glenda. Gadis itu takut kalau Mommynya akan mengatakan sesuatu yang tidak penting.