
Kafe Owen terlihat berbeda. Ini pertama kalinya Frey datang berkunjung. Kedatangannya yang secara tiba-tiba membuat pemilik Kafe ikutan panik seperti baru saja menyembunyikan anak gadis orang.
Salah satu alasan Frey tidak menghubungi semua sahabatnya adalah ponselnya hilang ketika dia baru sampai di negara T. Orang pertama yang ditemuinya ketika berlibur di negara H adalah Owen. Sahabatnya itu mengatakan kalau dirinya sekarang sudah membuka Kafe, itulah sebabnya Frey meminta Owen untuk menghubungi sahabatnya yang lain.
Oh God, baru kemarin rasanya keributan antara Max dan Justin. Sekarang apalagi?
Owen semakin pusing. Bahkan ketiga sahabatnya menyukai gadis yang sama. Sepertinya dunia sangat sempit sampai tak ada lagi gadis lain yang bisa mereka perebutkan.
"Owen, apakah mereka bisa datang?" tanya Frey.
"Hemm, Darsh sudah menuju kemari. Mungkin Justin dan Max sebentar lagi datang. Aku heran, kenapa tiba-tiba kamu datang?" selidik Owen.
"Sudah kukatakan, aku sedang berlibur di sini. Apakah ini mengejutkanmu?"
"Tentu saja. Kamu tiba-tiba menghilang tanpa pesan, kemudian mendadak datang dan menghebohkan semua orang."
Frey menyikapinya biasa saja. Memang kenyataannya seperti itu. Berlibur di tempat kelahirannya, tidak ada masalah, bukan? Namun, sepertinya sahabatnya itu terlalu berlebihan menanggapi kehadirannya yang secara tiba-tiba.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku tidak di sini?" Frey mengambil minumannya kemudian menyedotnya perlahan.
Hampir saja Owen keceplosan mengenai Jillian. Untung saja Darsh dan Justin datang tepat pada waktunya, jika tidak, Owen bisa saja membuat kegaduhan di Kafenya sendiri.
"Halo, Brother! Apa kabar?" sapa Justin.
"Aku baik, Justin. Wow, kenapa mukamu lebam seperti ini? Bukankah seorang Justin anti dengan keributan?" Frey berdiri karena bergantian untuk memeluk sahabatnya.
"Biasa, ada keributan kecil." Justin tidak bisa menunjukkan alasannya sekarang. Max juga belum datang.
"Tumben, berapa lama di sini?" Darsh duduk tepat di samping Frey.
"Tiga hari, Darsh. Aku manfaatkan sebaik mungkin. Aku merindukan kalian. Max mana?"
"Sebentar lagi sampai. Aku sudah mengabarinya." Darsh memang meneleponnya ketika berada dalam perjalanan.
Owen menyediakan beberapa minuman dan makanan sebagai penyambutan kedatangan Frey yang mendadak itu. Bukan Owen yang mengantarkan, melainkan pelayan Kafenya. Dia sengaja menyiapkan untuk seluruh sahabatnya. Tak lama, Max datang. Dia memang masih terlihat memar di ujung bibirnya. Frey menyadarinya.
__ADS_1
"Max, apa kabar? Wah, sepertinya kalian habis mengalami kekerasan, ya? Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu dan Justin sama-sama memar seperti itu."
"Semalam pesta ulang tahunku, kami ribut dengan orang yang ingin mengganggu acaraku. Aku dan Justin melawan orang itu dan Darsh mengamankan istrinya dan Ji--"
"Iya, Frey. Kamu tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuk Max?" sahut Justin. Hampir saja lelaki itu keceplosan.
Formasi mereka lengkap. Namun, Frey hampir melupakan kalau kemarin adalah ulang tahun sahabatnya. Kedatangannya seperti kebetulan dengan acara itu.
"Wah, selamat, Max. Aku hampir lupa. Maafkan aku," ucapnya.
Max sudah menyadari kekeliruannya untuk mengejar Jillian. Semalam, Owen memarahinya habis-habisan. Max diminta untuk sadar diri bahwa Jillian sama sekali tidak akan tertarik padanya jika Max masih terus saja bertingkah seperti itu. Jangankan Jillian, wanita lain pun enggan mendekatinya jika masih berhubungan dengan wanita yang tidak jelas itu.
"Sudah, ngobrolnya tunda dulu. Nikmatilah minuman dan makanan paling spesial di Kafeku," ucap Owen.
Semenjak Owen membuka Kafe, kesibukan lelaki itu selalu saja berhubungan dengan Kafe. Hari-harinya juga berada di sana, sehingga beberapa sahabatnya selalu menjadikan Kafe itu sebagai base camp-nya.
"Frey, sebelumnya aku meminta maaf. Aku terpaksa menanyakan ini padamu," ucap Owen. Dia berharap semua masalah sahabatnya itu tidak ada yang mengganjal.
"Kamu mau tanya apa?"
Dua pasang mata menatap tak percaya pada pertanyaan Owen. Sedari tadi, baik Justin maupun Darsh tidak ingin membahas masalah ini, malah Owen memulainya. Sementara Max, terlihat ogah menghadapi pertanyaan Owen. Semalam, dia juga sudah diperingatkan untuk tidak ikut campur dan ribut urusan orang lain jika persahabatannya ingin awet.
Frey yang entah melupakan atau sengaja menutup buku hubungannya dengan Jillian nampak mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya.
"Sebenarnya aku tidak benar-benar pergi darinya."
Deg!
"Apa maksudmu?" sahut Justin.
Justin merasa seperti dipermainkan tiga orang. Tidak hanya Jillian dan Darsh, tetapi juga Frey. Justin benar-benar bingung dengan jawaban Frey barusan.
Sementara Max tersenyum penuh kemenangan. Dia senang karena Justin sebentar lagi akan mendapatkan pukulan telak karena kedatangan Frey. Memang ada sedikit rasa kesal pada lelaki itu karena kejadian semalam.
"Aku sengaja pergi meninggalkannya untuk membuat diriku lebih layak bersanding dengannya. Orang tuaku sudah setuju mengenai itu. Sebenarnya aku ingin mengabarinya, namun ponselku keburu hilang. Makanya, ketika liburan ini, aku menyempatkan pulang dan berniat untuk meminta nomor ponselnya lagi dari Darsh," jelas Frey.
__ADS_1
Justin terluka. Darsh pun mengalami hal yang sama. Sepertinya ini harus dipertemukan langsung dengan Jillian supaya masalah mereka lekas selesai.
"Bagaimana ini, Darsh?" tanya Owen.
"Tak masalah. Mungkin Frey benar, namun ada satu hal yang perlu kamu tahu, Frey." Darsh sebagai kakak sepupunya itu harus membuat semua sahabatnya tetap berhubungan baik.
"Apa itu, Darsh?"
"Aku memang tidak tahu kisah kalian seperti apa, namun aku mau kalian berdua menyelesaikannya malam ini. Apa yang akan kalian berdua putuskan untuk kelanjutan hubungan kalian. Aku harap kamu dan Jillian bisa memutuskan hal yang tepat." Darsh tidak bisa ikut campur mengenai masalah ini.
"Baiklah, boleh aku meminta nomor ponsel Jillian. Aku akan meneleponnya." Frey terlihat senang. Sepertinya sebentar lagi semuanya akan berjalan mulus.
Justin sudah ketar-ketir melihat tingkah Frey. Bisa dipastikan dia akan mengalami kegagalan cinta untuk yang kedua kalinya. Namun, Justin sudah siap apapun yang akan terjadi padanya malam ini.
"Tunggu! Aku akan menelepon istriku dulu."
Darsh menjauh dari sahabatnya. Dia akan meminta Glenda untuk memesan taksi online supaya adik sepupunya itu datang ke Kafe milik Owen. Darsh lekas mendial nomor istrinya.
"Halo, Sayang," sapa Darsh.
"Iya, Darsh. Ada apa?"
"Aku minta tolong padamu, pesankan taksi online untuk Jillian, antarkan gadis itu ke Kafe Owen. Di sini ada Frey. Malam ini hubungan mereka harus jelas," terang Darsh.
"Wah, apa yang akan kukatakan padanya?"
"Sampaikan apa adanya, Sayang. Lagi pula Frey juga salah tidak memberikan kepastian sejak awal. Biar mereka menyelesaikan masalahnya. Kita tidak berhak ikut campur," jelas Darsh.
"Baiklah, aku akan segera memintanya untuk berangkat. Jangan lupa jemput aku di rumah mama!"
"Iya, setelah dari sini aku akan menjemputmu. Istirahatlah di kamar kita!"
"Hemm, baiklah."
Keputusannya untuk mendatangkan Jillian sudah sangat tepat. Darsh semakin gemas pada Frey karena selama ini telah membuat adiknya kebingungan. Kalau sudah seperti ini, Darsh pikir kalau Jillian pasti memilih Justin. Entah nanti apa yang akan mereka putuskan, Darsh belum tahu. Mungkin saja ada keributan lagi yang lebih dari semalam, ah semoga saja tidak.
__ADS_1