Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Apartemen Baru


__ADS_3

Frey mengembalikan laptop Jillian. Dia telah menyelesaikan pemesanan tiket pesawat untuk beberapa orang yang dimaksud. Dia hendak kembali ke kamarnya untuk bersiap, namun Jillian mencegahnya.


"Kak Frey yakin harus pulang besok?" tanya Jillian.


"Iya, Jill. Besok pagi aku berangkat. Kenapa memangnya?"


"Kakak tidak ingin jalan bersamaku? Kita pergi ke Cafe atau restoran sekadar nongkrong saja."


"Tidak, Jill. Maafkan aku." Frey langsung meninggalkan Jillian begitu saja. Dia harus konsisten dengan ucapannya. Biarkan Jillian bebas.


Masuk ke kamar rupanya Owen sudah menunggunya. Dia terlihat santai duduk di ranjang. Memang Frey dan Owen berada di kamar yang sama.


"Tiket penerbangan sudah siap. Aku balik besok pagi," ucap Frey.


"Hemm, Frey boleh aku tanya sesuatu padamu?"


"Katakan saja!" Frey mengemasi beberapa barangnya supaya besok pagi tidak terlambat untuk berangkat ke Bandara.


"Kamu menyukai Jillian?"


Frey menghentikan aktivitasnya sesaat dan memandang sahabatnya. Dia enggan membahas Jillian lagi. Lagi pula semuanya sudah berakhir. Andai saja tidak ada Max di antara mereka, tentu saja Frey dan Jillian sudah menjalin hubungan lebih dari sekadar teman.


"Frey, jawab aku!"


"Jawab apalagi, Owen? Semuanya sudah berakhir." Frey melipat beberapa bajunya yang sudah bersih.


"Apa maksudmu, Frey? Bukankah kamu akan melanjutkan hubungan setelah berbicara dengan orang tuamu?"


"Itu tidak akan pernah terjadi, Owen. Jillian sudah memutuskan untuk tidak memilihku maupun Max. Dia ingin fokus menyelesaikan pendidikannya dan masuk ke perusahaan daddynya."


Deg!


Max yang kebetulan hendak masuk ke kamar itu diurungkan karena mendengar pembicaraan antara Owen dan Frey. Dia harus segera menemui Jillian yang kebetulan sedang berada di kamarnya.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanya Jillian.


"Max," jawabnya.


Sebenarnya Jillian enggan berbicara dengan lelaki itu, tetapi ini rumah keluarganya. Dia harus menghormati tamunya.


Ceklek!


"Ada apa?"

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Silakan! Di dekat kolam renang kalau kamu mau." Jillian tidak mau kalau Max masuk ke kamarnya.


"Baiklah." Max lebih dulu menuju ke kolam renang. Sementara Jillian masih merapikan laptopnya dan meletakkan kembali ke atas meja belajarnya.


"Apalagi yang ingin dibicarakan denganku?" ucapnya.


Bergegas Jillian keluar kamar dan berpapasan dengan Darsh dan Glenda yang baru saja pulang dari pemakaman. Keduanya heran melihat Jillian yang sedang terburu-buru.


"Kamu mau ke mana, Jill?" tanya Darsh.


"Menemui Max, Kak. Dia ingin berbicara berdua denganku."


"Hemm, pergilah!"


Glenda dan Darsh ke ruang tengah. Jillian sudah sampai di kursi tepi kolam renang. Di sana memang ada gazebo, tetapi Jillian malas sekali duduk bersama Max.


"Ada apa?" tanya Jillian.


"Apa benar kalau kamu tidak akan memilih aku ataupun Frey?" selidik Max.


"Maaf, Kak. Bukannya aku tidak mau memilih salah satu dari kalian. Menurutku, persahabatan kalian jauh lebih penting. Kehadiranku akan membuat kehidupan kalian berantakan. Jadi, aku sudah memutuskannya. Maaf, Kak," jawab Jillian.


"Max, dari mana?" tanya Owen.


Di sana, Frey, Justin, dan Owen sudah duduk bersama keluarga Glenda maupun Max.


"Kolam renang, Owen. Mencari udara segar," ucapnya beralasan.


Jillian tidak hadir dalam forum itu. Dia masih berada di kamarnya dan enggan untuk keluar.


"Grandpa, kami mendapatkan penerbangan esok siang. Kuharap Om, Tante, dan yang lainnya bisa memaklumkan. Kesibukan kami di negara H sangat luar biasa. Kami tidak bisa meninggalkannya terlalu lama," ucap Darsh.


"Hemm, hati-hati, Darsh. Jangan lupa sering-sering kunjungi Grandpa," ucap Denzel.


"Baik, Grandpa. Akan kami usahakan," jawab Darsh.


...🍓🍓🍓...


Beberapa hari yang lalu berada di rumah keluarga Damarion membuat semua orang kelelahan. Tak hanya Darsh, Glenda pun sama. Kali ini mereka pulang ke apartemen barunya yang sudah di hadiahkan oleh orang tua Glenda.


Setelah membuka akses masuknya dengan menggunakan kode, Darsh membantu Glenda menarik beberapa koper. Ada beberapa kamar di sana. Yang ukurannya paling luas, itu kamar utama. Glenda menarik kopernya dan memasukkannya ke kamar itu. Darsh masih tertahan di ruang tamu. Dia harus berbuat apa belum terpikirkan olehnya. Glenda kembali lagi. Dia melihat suaminya masih terduduk di sana.


"Darsh?" panggil Glenda.

__ADS_1


"Hemm."


"Kopernya lekas bawa ke kamar. Aku akan membantumu menatanya," jelas Glenda.


"Di mana kamarku?"


"Di sana." Tunjuk Glenda pada kamar utama.


"Bukannya itu kamarmu?" selidik Darsh.


"Oh ayolah, Darsh. Kita suami istri. Bagaimana mungkin kita akan tidur di kamar terpisah? Apa kamu tidak khawatir kalau mama papa atau dad dan mom-ku datang kemudian melihat kita berada di kamar yang berbeda?"


Deg!


Ini yang dikhawatirkan. Bukan karena Darsh tidak mau tinggal sekamar dengan istrinya, tetapi lelaki itu belum terbiasa untuk berbagi kamar dengannya.


"Darsh, sebaiknya kamu beristirahat di kamar. Aku akan turun untuk berbelanja," pamit Glenda. Di apartemen barunya masih kosong makanan.


Darsh beranjak setelah istrinya pamit pergi sebentar. Dia masuk ke kamar utama untuk melihat suasanya. Kamarnya cukup luas dan sangat menarik. Ukuran ranjangnya juga king size, Darsh tak perlu khawatir untuk berbagi ranjang dengan istrinya.


Lama menunggu istrinya yang tak kunjung kembali. Darsh tertidur di ranjang karena kelelahan. Dia tidak menyadari kalau istrinya sudah kembali. Glenda memperbaiki posisi tidur suaminya dan menyelimuti lelaki itu karena AC kamarnya sudah dinyalakan dan itu cukup dingin. Darsh yang terkejut malah menarik Glenda ke dalam pelukannya. Tentu saja lelaki itu juga sedikit terkejut.


"Glenda?" Darsh melepaskan pelukannya.


"Maaf. Aku hanya membenahi selimutmu, Darsh. Aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu."


"Aku yang minta maaf telah membuatmu terkejut juga." Glenda bangun dari ranjang. Dia hendak kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan, tetapi Darsh mencegahnya.


"Di sini saja sebentar. Aku ingin berbicara denganmu," ucap Darsh.


Glenda masih berada di atas ranjang dengan posisi Darsh masih terbaring di sana, sedangkan Glenda duduk di sampingnya.


"Apakah kamu menginginkan seorang bayi?" tanya Darsh.


Sesaat Glenda menatap wajah suaminya. Dia belum tahu harus mengatakan ingin atau tidak. Dia juga tidak akan memaksa Darsh untuk melakukan malam pertamanya yang sudah tertunda selama beberapa hari.


"Aku belum tahu, Darsh. Kita jalani saja kehidupan ini bersama. Setidaknya, kita harus terus bersama seperti permintaan terakhir grandma."


"Baiklah, aku akan melakukannya kalau kamu siap," ucap Darsh.


Glenda menghela napas panjangnya. Pernikahannya terasa sangat aneh. Bukan dia menuntut untuk meminta malam pertamanya, tetapi dia hanya berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap bisa bertahan bersama Darsh.


"Kapan pun kamu siap, aku juga akan siap, Darsh," balas Glenda.


Membayangkan pernikahan indah sangat jauh dari pemikiran Glenda. Dia mengharap Darsh bisa bersikap seperti lelaki pada umumnya, tetapi kenyataannya sulit menghadapinya. Glenda perlu belajar banyak hal untuk menaklukkan suaminya. Entah, dia harus belajar dari siapa.

__ADS_1


__ADS_2