
Kabar meninggalnya grandma Jenica sampai juga pada menantunya, Callista. Wanita paruh baya itu bahkan ikut bersedih ketika dua orang tua yang disayangi suaminya dan juga dirinya itu telah pergi. Bingung? Callista yang saat ini sedang menjaga cucunya itu lantas memesan tiket keberangkatannya.
Sebelum itu, dia sangatlah kerepotan harus membawa serta cucunya, Gavino. Callista membawanya ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan cucunya. Dia juga meminta izin pada dokter untuk mengajak Gavino pergi ke negara T. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 12 jam. Beruntung Gavino diizinkan untuk pergi menggunakan pesawat.
...***...
Perjalanan panjang membuatnya sampai ke negara T. Di sana sampai pada siang hari. Terlambat memang. Pemakaman mama mertuanya sudah dilakukan pagi hari. Kedatangan Callista ke mari tanpa pemberitahuan. Lagi pula, tak ada salahnya sekalian membawa Gavino untuk bertemu mommynya.
"Semua tas Gavino dan beberapa koper sudah masuk ke mobil, kan?" tanya Callista pada baby sitter cucunya.
"Iya, Nyonya."
Ketika hendak masuk ke dalam taksi, seseorang menghentikannya.
"Tunggu!"
Callista menoleh sejenak. Sepertinya orang itu mengenali dirinya.
"Callista?" tanya wanita yang sengaja menghentikannya.
"Kay?" Callista langsung bisa mengenali bahwa wanita itu adalah Kayana. Entah sebuah kebetulan atau apa, mereka bertemu di bandara.
"Kamu mau ke mana? Ini bayi siapa?" Kayana memberondong beberapa pertanyaan karena Callista kebetulan sedang menggendong bayi yang diperkirakan usianya tiga bulan lebih.
"Aku mau pergi ke rumah mama mertuaku. Mama Jenica meninggal kemarin sore."
"Aku turut berdukacita, Callista. Oh ya, sebaiknya kamu ikut mobilku." Kerinduannya yang membuncah pada sahabat lamanya membuat Kayana melupakan bahwa Callista sudah memesan taksi.
"Bagaimana taksinya?"
"Baiklah, kamu naik taksi saja. Aku akan mengikuti taksi ini dari belakang. Kami akan langsung menuju ke rumah mama mertuamu."
Taksi yang diikuti oleh sebuah mobil dan berjalan beriringan. Sampailah mereka di rumah besar yang memang letaknya lumayan jauh dari bandara.
Callista turun bersama cucunya dan baby sitter-nya. Begitu juga dengan Kayana. Rupanya dia memboyong serta seluruh anggota keluarganya.
"Ayo masuk dulu. Ini rumah mertuaku," ajak Callista. Di belakang Kayana ada seorang perempuan yang sedang hamil, lelaki muda, dan pria paruh baya yang Callista tahu bahwa itu adalah Felix, suami Kayana.
"Mom?" Aquarabella terkejut melihat kedatangan mommy dan putranya, Gavino. "Gavino, sini ikut mommy." Aqurabella mengambil bayinya.
"Maaf, Sayang. Mom mendadak datang tanpa memberitahukan padamu maupun daddy. Di mana Daddy?" Callista perlu mencari suaminya karena mendadak dia bertemu dengan Kayana dan keluarganya. "Kay, ayo ajak semua keluargamu masuk dulu. Keponakanmu juga pasti ada di sini."
__ADS_1
"Benarkah? Apakah Darsh juga ada di sini? Bukankah dia harus merawat bayi kembarnya?" balas Kayana.
"Mungkin aunty Olivia sudah menjaganya, Mom."
"Kamu benar, Jill. Itu artinya seluruh keluarga besar Armstrong ada di sini," jelas Kayana yang saat ini sudah berada di ruang tamu. Callista sudah mempersilakan mereka untuk duduk, sementara dirinya masuk ke dalam untuk menemui suaminya.
Callista tak menyangka akan bertemu dengan Zelene dan Vigor. Di sana, Sean tengah terduduk lemas.
"Sayang," panggil Callista.
"Kamu datang?" Sean berdiri karena masih tidak percaya dengan kedatangan istrinya. "Kamu datang dengan Gavino dan baby sitter-nya?" Sean masih tidak percaya karena di hadapannya ada istrinya.
"Aku mendapat kabar dari Aquarabella. Kupikir tak ada salahnya aku datang. Namun, ternyata pemakaman mama sudah pagi tadi, ya?"
"Iya, maafkan aku. Kalau tahu kamu akan datang, aku bisa menunda pemakaman sore hari saja."
"Tak masalah, Sayang. Kurasa keputusanmu sudah benar."
Pembicaraan suami istri yang saling merindukan itu akan terus berlanjut sampai pada kedatangan Darsh dan Glenda.
"Aunty?" panggil Glenda. Sudah lama dia tidak bertemu dengan tantenya. Bahkan, pada saat pernikahan mendadaknya hanya dihadiri Om Sean-nya saja.
"Baik, Aunty. Aunty yang sabar, ya? Grandma sudah tenang."
Callista tidak menanggapi ucapan keponakannya. Perhatiannya beralih pada suami Glenda. "Kamu suaminya Glenda? Tante dan Om-mu ada di ruang tamu." Callista ingat kalau Kayana masih berada di sana.
"Maksud Aunty, Om Felix?" balas Darsh.
"Iya."
Sean yang mendengar percakapan istrinya itu baru menyadari kalau ada tamu di rumah mamanya.
"Sayang, kenapa kamu tidak bilang?" sahut Sean.
"Maaf, Sayang. Mari kita temui mereka."
Sedih dan bahagia datang di saat yang bersamaan. Sedih karena kehilangan grandma kembar di waktu yang hampir bersamaan. Bahagia karena puluhan tahun baru bertemu lagi dengan sahabatnya, Kayana.
Darsh juga mendadak terkejut dengan kedatangan Om dan Tantenya yang menurutnya kebetulan itu.
"Darsh, kamu di sini? Bayi kembarmu bagaimana?" tanya Kayana.
__ADS_1
"Mereka diasuh mama, Tante. Kenapa mendadak kalian ada di sini? Justin, kenapa kamu tidak mengabariku?" ucap Darsh lebih dulu.
"Ayo semuanya duduk. Mari kita tunggu penjelasan Felix dan keluarganya," ajak Sean.
Felix maju untuk menceritakan bagaimana kronologi mereka bisa sampai di sini. Tujuannya rupanya hanya untuk berlibur. Walaupun di rumah ada papa Denzel. Namun, pria tua itu sudah membaik dan mengizinkan anak cucunya untuk pergi.
"Tak masalah, Felix. Apapun tujuan kalian, aku akhirnya bisa bertemu dengan sahabatku." Callista berdiri, begitu pun dengan Kayana. Kedua sahabat itu akhirnya berpelukan setelah puluhan tahun lamanya.
"Sabar ya, Call. Semoga semuanya baik-baik saja. Aku senang akhirnya kita bisa bertemu lagi. Rasanya aku masih tidak percaya ketika melihatmu di bandara tadi. Aku sempat ragu, namun suamiku memintanya untuk tetap mengejar. Siapa tahu kalau itu benar kamu? Ternyata benar." Kayana tak bisa membendung kerinduannya pada Callista.
"Aku juga sempat tidak mempercayai bahwa itu kamu. Berapa tahun kita tidak bertemu? Kamu sudah terlihat banyak berubah."
"Kamu juga."
Sahabat yang dipertemukan lagi setelah puluhan tahun itu akhirnya melepaskan pelukannya. Keduanya berkaca-kaca. Teringat tingkah konyolnya di masa lalu sehingga mencapai pencapaian yang luar biasa. Callista hanya ibu rumah tangga biasa, sedangkan Kayana adalah desainer yang mengelola butiknya sendiri.
"Apakah kalian akan terus seperti itu tanpa mengingatku?" ucap Zelene yang sejak tadi memandangi pertemuan yang mengharukan itu. Bagaimana pun juga, Zelene pernah menjadi orang terdekat dengan kedua sahabat itu.
"Kemarilah adik ipar. Aku hampir melupakanmu." Callista meminta Zelene mendekat. Mereka bertiga saling berpelukan.
"Apa kalian lupa dengan dosa masa lalu?" ucap Sean.
Deg!
Disaat mengharukan seperti ini, tiba-tiba Sean mengatakan sesuatu yang membuat ketiga wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu, Kak?" tanya Zelene. Walaupun sama-sama menua, tetap saja Zelene adalah adik kecil satu-satunya yang Sean miliki.
"Anakku sudah mendapatkan kutukan yang diucapkan kakaknya Felix, Dizon. Lalu, apakah kalian mau mengaku bahwa pernikahan Olivia dan Dizon adalah berkat ulah kalian juga?" jelas Sean.
Deg!
Darsh terkejut dengan ucapan Om dari pihak istrinya barusan. Jelas saja kalau orang tuanya yang saat ini disebut. Apakah ada suatu masalah yang tidak Darsh ketahui selain Willow?
"Dosa masa lalu apa yang kalian perbuat?" tanya Darsh dalam rasa penasarannya itu.
...🍃🍃🍃...
Yuk mampir karya keren teman Emak. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya ❤️🙏
__ADS_1